2 Arya Penangsang dan Beban Darah

2 Duka Pangeran Benawa – Ketika Anak Bertanya

Malam semakin suram dan kelam, tiba-tiba dengan mengejutkan dengan wajah duka, Pangeran Benawa bertanya pada Arya Penangsang, “Paman, apakah benar Eyang Kakung seda ing palagan?”

Udara di ruangan itu mendadak beku saat suara kecil Pangeran Benawa memecah keheningan dengan pertanyaan yang tak kalahtajam dengan sayatan belati.

Darah Arya Penangsang mendesir cepat. Dia tersentak lalu secepat kilat menatap Ki Kebo Kenanga. Kurang dari sekejap, Ki Keno Kenanga menyambut dengan anggukan kepala. Sedangkan Ki Getas Pendawa yang duduk bersila di samping Pangeran Benawa mengeluarkan napas panjang dengan perlahan. Tiga orang dewasa itu terkejut meski cepat menguasai diri.

Ki Kebo Kenanga memberi tanda pada Arya Penangsang bahwa dirinyalah yang akan memberi jawaban. Adipati Jipang tersebut mengangguk.

Tanpa teguran, Ki Kebo Kenanga alias Ki Buyut Mimbasara pun bersuara lirih, “Kita sedang berduka, Wayah Pangeran. Kita berkumpul di sini untuk menunggu kepulangan Eyang Kakung dari palagan.”

Ki Kebo Kenanga menyamakan sebutan untuk Raden Trenggana dengan kebiasaan Pangeran Benawa. Sapaan yang dilontarkan Ki Kebo Kenanga kepada Raden Trenggana bukanlah sekadar nama, melainkan jangkar yang mengaitkan silsilah dan kehormatan. Dengan menyamakan panggilan, maka Ki Kebo Kenanga sedang melindungi buyutnya dari ketajaman kata ‘bunuh’. Meski dapat menutup kekhawatiran yang tampak jelas dari sorot matanya, tapi oleh Arya Penangsang dan Ki Getas Pendawa dapat merasakan nada getir dari suara putra Pangeran Handayaningrat tersebut.

Kekhawatiran yang masuk akal, demikian yang dipikir oleh Arya Penangsang dan Ki Getas Pendawa saat mencari jawaban persamaan sebutan itu. Tapi mereka berdua sedang menunggu tapi tidak berharap Ki Kebo Kenanga mengungkap peristiwa yang sebenarnya. Bukan karena Pangeran Benawa tidak dapat mencerna, mereka sudah sepakat dalam satu hal ; tidak ada pembalasan dendam atau sakit yang berkepanjangan dalam diri Pangeran Benawa.

“Lalu, kapankah Eyang Kakung datang?” lanjut Pangeran Benawa.

Kali ini Ki Kebo Kenangan berpaling pada Arya Penangsang yang menjadi orang paling mengetahui perkiraan kedatangan raja Demak itu.

“Mungkin dalam dua atau tiga hari ini,” jawab Arya Penangsang,”sebaiknya Pangeran tidur dan istirahat yang baik. Besok dan seterusnya, Pangeran mungkin akan kelelahan jika Eyang Kakung sudah datang.”

Mata Pangeran Benawa berbinar lalu meredup. Awalnya dia mengira ‘datang’ itu berarti dia akan bertemu dengan kakeknya, tapi kesadaran cepat mengingatkan bahwa kakeknya telah tiada.

Sandi yang Menggetarkan Udara

Suara kecil Pangeran Benawa seolah menjadi perintah agar sunyi datang  mencengkeram nyali tiga orang dewasa di sekitarnya. Ki Kebo Kenanga bangkit sambil mengajak cucunya masuk dalam bilik.

Ketika Pangeran Benawa dan Ki Kebo Kenanga berada di dalam ruangan, Ki Getas Pendawa menarik napas panjang, lalu berkata, “Pertanyaan yang sangat sulit.”

“Apakah Pangeran tidak diberitahu sedikit pun sebelum menuju Demak?” tanya Arya Penangsang.

“Tidak ada seorang pun yang mempunyai keberanian menyatakan itu di depan Jaka Wening,” jawab Ki Getas Pendawa sambil menggeleng. “Pada saat itu, kami berharap Penjenengan ada di dekat beliau.”

Arya Penangsang mengangguk dengan perasaan lega. Peralihan sebutan dari Jawa Wening ke sematan ‘beliau’ menjadi petunjuk baginya untuk membayangkan keseharian Pangeran Benawa di Pajang. Kemudian dia berkata, “Keadaan tidak memungkinkan saya menjadi dua orang pada waktu yang sama, Paman… Panarukan benar-benar kacau. Ketika Yang Maha Sempurna mengambil alih segalanya, maka keadaan dapat terkendali.”

Sejenak suasana mendingin lalu Ki Getas Pendawa berkata, “Pangeran Parikesit juga sudah berada di istana. Kami datang bersama-sama.”

Arya Penangsang segera dapat menyusun kepingan gambar di dalam benaknya. Di antaranya adalah jaminan keselamatan Pangeran Benawa dalam perjalanan dan selama berada di ibukota Demak. Sejujurnya, itu telah mengambil sebagian besar perhatian Adipati Jipang sepanjang perjalanan dari Panarukan menuju Demak.

“Marilah, saya ingin bertemu dengan beliau,” sahut Arya Penangsang. “Tapi keputusan akhir ada di tangan Paman.”

Ki Getas Pendawa mengangguk. Dia tengadahkan kepala, pergeseran bintang tampak jelas olehnya. Malam hampir mendekati wayah lingsir. “Sebenarnya saya tidak memerlukan izin masuk, tapi Paman Parikesit sudah cukup senja.”

“Masuklah.”

Tiba-tiba gelombang udara bergetar sangat halus di dalam ruang dengar Arya Penangsang dan Ki Getas Pendawa! Pangeran Parikesit mengirim pesan dengan tenaga dalam! Itu berarti hanya mereka berdua saja yang mendengar.

Ki Getas Pandawa segera memimpin langkah, diikuti Arya Penangsang, menuju sebuah ruangan yang letaknya agak menjorok ke bagian dalam istana. Ki Getas Pendawa memastikan mereka tidak melewati selasar yang sering dilalui para peronda. Dia sudah lebih dulu tiba di ibukota dua hari sebelum Arya Penangsang. Pengaturan efisien keberangkatan dan orang-orang yang berada di rombongan membuat perjalanan mereka menjadi lebih cepat tiba di kotaraja.

Jarak tempuh yang cukup jauh ternyata tidak menghalangi pergerakan prajurit tangguh Blambangan. Mereka tetap bekerja sesuai perintah meski baru saja Blambangan diserang oleh Demak.Mereka tahu hasil akhir peperangan. Mereka sadar Demak dalam bahaya besar dan Demak bukan lagi lawan tapi kawan yang limbung karena tikaman. Mereka datang ke Pajang dengan pesan khusus; sangat penting. Oleh sebab itu, Pangeran Benawa dan segenap keluarga Raden Trenggana dapat tiba lebih cepat dari keadaan biasa.

Di dalam ruang temaram, Pangeran Parikesit mengenakan pakaian sederhana yang justru menjadi bukti keagungan masa silam yang masih terang memancar. Pangeran Parikesit duduk tegak. Ki Getas Pendawa berdiri di sisi gelap ruangan. Arya Penangsang tidak mencari cahaya.

“Tidak perlu ada ketergesaan meskipun situasi Demak mengizinkan itu. Keberadaan Adipati Pajang sebagai pengganti sementara dapat menjaga keseimbangan walau tidak lama,” ujar Pangeran Parikesit pelan. Suaranya tidak menekan, justru membuat kata-kata bukan sekedar pesan. “Kekuasaan Demak bukan hanya soal keberanian, tapi tentang kesabaran dan kesadaran agar tidak ada kesalahan ketika melangkah.”

Ki Getas Pendawa mengangguk. “Kita berada di sini mengantar kepulangan Raden Trenggana. Yah, sebesar-besar dendam maupun sakit hati, tetaplah harus menjadi sesuatu yang wajib ditinggalkan. Saya kira Demak tidak perlu lagi melihat ke masa lalu. Banyak persoalan yang menuntut penyelesaian.”

Arya Penangsang maju setapak. “Saya dalam situasi yang mustahil untuk menyaksikan lalu mengingat pembunuhan ayah. Saya hanya mendengar dari kisah yang terus diulang. Dulu, saya anggap itu adalah kebenaran tunggal. Ketika di Sunda Kelapa, saya adalah orang yang paling mungkin untuk berbuat sesuatu yang berakhir dengan kematian Paman Trenggana. Tapi pada akhirnya, kita semua mengetahui Paman Trenggana tetap hidup sampai penaklukan Panarukan.”

Pangeran Parikesit mengangguk dalam lalu memandang ke bawah. Desisnya, “Orang tua menempati kedudukan yang masuk akal untuk mengarahkan seseorang.”

Ki Getas Pendawa kemudian berkata,”Tapi kita juga tidak dapat mengizinkan prasangka buruk terhadap Ki Patih Matahun. Mari, kita letakkan bingkai lalu memandangnya secara keseluruhan.”

Kisah Terkait

1 Duka Pangeran Benawa

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.