0%
Still working...

Penaklukan Panarukan – Pembangkangan Prajurit Demak (Kilas Balik Bab 2)

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Demak sedang berada di puncak kekuasaan, tetapi kemenangan ternyata tidak selalu melahirkan ketenangan. Di balik keberhasilan menundukkan wilayah-wilayah timur, Raden Trenggana mulai melihat sesuatu yang mengusik pikirannya—perlawanan yang terlalu mudah, kepatuhan yang terasa tidak wajar, dan para adipati yang seolah tunduk tanpa benar-benar menyerahkan diri. Ketika persiapan besar menuju Panarukan mulai digerakkan melalui Jepara, para petinggi Demak justru menemukan gejala yang lebih berbahaya daripada ancaman dari luar: keraguan yang tumbuh di dalam tubuh pasukan sendiri.

Laporan demi laporan datang dengan nada yang semakin mengkhawatirkan. Sejumlah prajurit mulai mempertanyakan alasan perang, sebagian lurah berani menolak perintah, dan beberapa barak bahkan nyaris berubah menjadi arena benturan sesama orang Demak. Di tengah keadaan yang dapat meruntuhkan sendi keprajuritan itu, Raden Trenggana mengambil langkah yang tidak biasa. Ia memanggil salah seorang kepercayaannya, Ki Tumenggung Suradilaga, lalu mengirimnya diam-diam menuju Pajang dengan membawa Sabuk Inten—pusaka yang bukan sekadar lambang kekuasaan, tetapi juga sebuah pesan yang tidak diucapkan secara terbuka.

Rahayu

Bagi para budiman dapat mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan”, dengan investasi Rp75.000.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Tata gerak perolehan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [Nomor WA Anda].

Matur nuwun

Namun perjalanan itu bukan sekadar mengantar undangan. Di Pajang, Adipati Hadiwijaya membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ajakan bergabung dalam perang. Sementara kapal-kapal dipersiapkan, senjata dikumpulkan, dan arah serangan mulai ditentukan, orang-orang yang bergerak dalam bayang-bayang juga mulai mengambil langkah mereka sendiri. Ketika Demak bersiap menaklukkan timur, mungkin justru ada pihak lain yang sedang menunggu saat terbaik untuk mengguncang pusat kekuasaan dari dalam.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.