Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 12 – Kelompok Asing Menantang Barak, Nama Ki Gede Diseret

Yang terjadi di dalam lingkungan istana bertolak belakang dengan yang sedang memanas di Tanah Perdikan Menoreh. Pada hari yang sama dengan masuknya Agung Sedayu bersama Ki Wira Sentanu di ruang dalam Keraton, barak pasukan khusus Menoreh menerima kedatangan sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka mencari Agung Sedayu, Pandan Wangi dan Ki Gede Menoreh. Orang-orang itu…

Yang terjadi di dalam lingkungan istana bertolak belakang dengan yang sedang memanas di Tanah Perdikan Menoreh.

Pada hari yang sama dengan masuknya Agung Sedayu bersama Ki Wira Sentanu di ruang dalam Keraton, barak pasukan khusus Menoreh menerima kedatangan sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka mencari Agung Sedayu, Pandan Wangi dan Ki Gede Menoreh.

Orang-orang itu berteriak-teriak seperti wilayah Tanah Perdikan itu adalah pekarangan rumah mereka sendiri. Tampang mereka bukan cerminan orang-orang yang kasar, sebaliknya malah tampak terawat hanya pakaian dan ikat kepala yang menunjukkan jarak yang mereka tempuh.

Dari balik regol. Ki Rangga Sanggabaya menatap tajam tanpa gusar pada kelompok asing itu.

“Apakah Kyai mengenali mereka?” tanya Ki Sanggabaya pada Ki Garu Wesi yang berdiri di sampingnya.

Orang yang ditanya mengangguk pelan, lalu menjawab, “Tidak semuanya. Hanya beberapa saja tapi itu pun saya tidak berani memastikan.”

Ki Sanggabaya menautkan alis.

Ki Garu Wesi menghembus napas sedikit saja kemudian berkata, “Mereka tidak ada di lereng Kendil . Saya juga tidak mengenali mereka di Watu Sumping. Seandainya ada yang mengingat saya, itu mungkin dari masa lalu.”

Ki Lurah Sora Sareh tampak berjalan mendekati Ki Sanggabaya dan Ki Garu Wesi. Dia berkata setelah berhenti dalam jarak selangkah, ”Ki Rangga. Berilah saya perintah keluar untuk bicara secara wajar dengan mereka?”

Ki Sanggabaya menatap lurus Ki Sora Sareh. “Ki Lurah sudah pertimbangkan?”

“Saya, Ki Rangga.”

“Mereka mencari Ki Tumenggung.”

“Kita bawahan Ki Tumenggung.”

“Saya paham,” ucap Ki Sanggabaya, “tetapi mereka begitu ngotot ingin bertemu Ki Tumenggung.”

“Ki Rangga,” kata Ki Sora Sareh rendah. “Jika kita terlalu lama membuka pintu, mereka dapat saja bergerak liar menuju kediaman Ki Gede. Mereka juga menyebut nama Ki Gede dan Nyi Pandan Wangi.”

Ki Sanggabaya berpikir sejenak, lalu tegasnya, “Baiklah. Ki Lurah dapat menemui mereka bersama dua atau tiga orang lagi.” Setelah mengucapkan itu, Ki Sanggabaya menyusulkan perintah bagi Ki Prana Aji agar membawa sekelompok prajurit untuk mengisi lambung dan lorong pedukuhan induk dengan cara senyap.

Wakil pemimpin barak pasukan khusus itu lantas membisikkan sesuatu pada prajurit muda yang berdiri di belakangnya. Prajurit muda segera melesat pergi, menyisir lorong menuju arah gudang senjata.

Ki Garu Wesi mengerutkan kening. “Apakah Ki Rangga berencana membekuk mereka?”

Ki Sanggabaya menggeleng, katanya, “Agar mereka tidak berusaha menerobos barak sementara Ki Lurah Sora Sareh sedang berjauhan dengan kami.”

“Beri pula saya perintah, Ki Rangga,” kata tegas Glagah Putih dari balik punggung Ki Garu Wesi. Sesaat kemudian dia sudah bergabung dalam percakapan itu. “Setidaknya Ki Sora Sareh tidak sendirian di depan.”

Ki Sanggabaya mengangguk cepat. “Silakan Ki Glagah Putih bersama Ki Sora Sareh.”

Glagah Putih melangkah mantap di sisi Ki Sora Sareh. Mereka berjalan tanpa pengawalan prajurit, hanya ditemani keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi serta wibawa sebagai prajurit Mataram.

Ketika mereka mencapai orang terdepan dari kelompok asing itu, langkah mereka terhenti.

Ki Sora Sareh menatap tajam, namun suaranya tetap tenang. “Siapa kalian, dan apa keperluan kalian datang sampai ke sini?”

Orang itu menatap balik dengan mata dingin, suaranya berat dan kasar. “Aku sudah menyebut keperluan kami berulang-ulang. Di mana orang yang bernama Agung Sedayu? Kami tidak butuh pertanyaan dari orang seperti kalian.”

Ki Sora Sareh tetap bernada tenang. “Baik, jika memang itu keinginan kalian, mari kita bicarakan lebih lanjut di dalam barak. Kami dapat menjamin keselamatan kalian. Tidak ada pengeroyokan atau perkelahian. Kalian tetap dapat keluar dengan aman dan bugar.”

Namun orang itu menggeleng cepat. Katanya, “Tidak. Kami tidak mempunyai keharusan tunduk pada perintah kalian. Kami akan tetap di sini sampai Agung Sedayu menampakkan diri, berani memandang wajah kami semua.”

Ki Sora Sareh menarik napas dalam, ucapnya kemudian, “Saya adalah Ki Sora Sareh, dan ini Ki Glagah Putih. Kami berdua adalah bawahan Ki Tumenggung Agung Sedayu. Semua keperluan Ki Sanak, kami akan penuhi sambil menunggu kedatangan Ki Tumenggung yang sedang tidak berada di tempat saat ini.”

Glagah Putih menyapu kerumunan orang-orang di depannya—yang mungkin berjumlah kurang dari dua puluh lima orang. Dia bergeser setapak lalu mengatakan, “Marilah, Ki Sanak sekalian. Karena ada maksud baik, kami juga ingin memberi penghormatan pada tamu Ki Tumenggung.”

Orang-orang asing itu saling pandang sejenak. Sikap dan cara bicara dua lurah Mataram itu sama sekali tidak goyah sehingga sedikit mempengaruhi sikap mereka.

Namun pemimpin mereka cepat menyahut, “Kami datang tidak sebagai tamu yang baik dengan mengetuk pintu lalu bermanis muka. Kami datang untuk menantang Agung Sedayu. Bila dia tidak ada, berikan Ki Gede Menoreh pada kami. Jika orang itu tidak bersedia, bawalah satu orang dari kalian untuk menerima hukuman dari kami.”

Suasana meningkat lebih tegang.

“Aku, Ki Kebo Surongudan, akan menunggu di sini, di depan kandang kalian hingga pertengahan hari,” dia tengadah sejenak. Kemudian memandang lurus dua lurah Mataram di depannya sambil berkata, “Dan itu sebentar lagi. Kalian cepat masuk, persiapkan orang karena kita akan bertemu lagi di rumah Ki Gede Menoreh.”

 Ki Lurah Sora Sareh dan Glagah Putih bertukar pandang tapi mereka tidak bergeser surut. Dua bawahan Agung Sedayu tersebut tetap berdiri di tempat mereka, diam dengan sorot mata beku.

Teriakan dan umpatan dari kelompok orang asing itu lambat-laun mereda tapi tidak benar-benar menghilang dari udara. Mereka bercakap dengan teman di samping, belakang maupun depan.

Di antara prajurit yang berjaga di lorong samping barak, terdengar percakapan tertahan. Sorot mata mereka beberapa kali mengarah ke halaman depan tempat Ki Kebo Surongudan berdiri menantang.

“Orang itu benar-benar nekat,” desis seorang prajurit muda. “Datang langsung ke barak lalu menantang Ki Tumenggung.”

Prajurit di sebelahnya menelan ludah. “Bukan hanya Ki Tumenggung. Dia bahkan berani membawa nama Ki Gede Menoreh.”

“Menurutmu, dia sungguh akan menyerbu?”

Yang ditanya menggeleng pelan dengan wajah tegang. “Aku tidak tahu. Tapi dia tidak tampak sedang menggertak.”

Punjung yang berada di situ kemudian menyahut lirih, “Kalian jangan tertipu oleh sikapnya. Orang seperti itu biasanya sudah siap mati sebelum datang kemari.”

Prajurit muda itu memandang ke arah regol. “Ki Sanggabaya juga belum memberi perintah menyerang.”

“Itulah yang membuat barak ini akan menjadi tempat penuh kenangan bagimu suatu saat,” jawab Punjung.

Tidak jauh dari mereka, seorang prajurit membawa tombak pendek berbisik pada kawannya, “Sebenarnya, ini persoalan tentang apa?”

Punjung menggeleng, katanya singkat, “Itu bukan urusan kita.”

Pandangan mereka beralih ke halaman depan.

 Pada waktu itu, Ki Kebo Surongudan melangkah maju hingga hanya berjarak selangkah dari dua orang yang menghadangnya. Meski begitu, orang itu tidak memperlihatkan sikap siap bertarung.

Di bawah sinar matahari yang mulai menggatalkan kepala dan udara yang semakin panas, tiga orang itu hampir serupa dengan patung seandainya dada tidak berdenyut dan mata tidak berkedip. Seolah ada pertempuran sengit yang terjadi di antara mereka tapi tidak tampak oleh mata.

Yah, Ki Kebo Surongudan sedang berusaha merontokkan jiwani dua orang yang berdiri seakan menantang kemauannya yang keras. Sebaliknya, Ki Lurah Sora Sareh dan Glagah Putih juga memperlihatkan cara dan sikap pasukan khusus mempertahankan wibawa dan harga diri Menoreh dan barak.

“Sesaat lagi, aku minta kalian jangan membuat penyesalan. Jika mau, menyesal saja sekarang dengan keputusan kalian itu,” desis Ki Kebo Surongudan.

 Ketika Ki Kebo Surongudan menyebut namanya, di belakang Ki Lurah Sora Sareh dan Glagah Putih, Ki Garu Wesi cepat menyentuh lengan Ki Sanggabaya. Katanya, “Nama itu, saya ingat sekarang. Tapi jika melihat wajah, yah, ada sedikit yang mirip dengan orang lain sehingga saya tidak benar-benar yakin. Ki Kebo Surongudan, jika benar nama itu, maka ini adalah tuntutan balas dendam.”

Ki Sanggabaya lurus memandang Ki Garu Wesi. Untuk sesaat, dia masih diam, mencoba membuat dugaan, lalu bertanya, “Apakah dia dari perguruan tertentu atau seseorang di masa lalu?”

“Tepat, orang itu dari perguruan dan juga masa lalu.”

“Siapakah?” tanya Ki Sanggabaya.

“Raden Atmandaru,” ucap Ki Garu Wesi dengan suara yang terdengar agak lain ketika menyebut nama itu.

Dia mengatur napas sebentar, lalu menambahkan, “Ki Kebo Surongudan bukan saudara seperguruan Raden Atmandaru karena Raden Atmandaru adalah murid tunggal. Hubungan mereka terbina pada tingkat yang lebih tua. Guru Ki Kebo Surongudan adalah kakak seperguruan dari guru Raden Atmandaru.”

“Jika demikian, alasan mereka hanya akan menemukan jawaban  saat Ki Tumenggung sudah berada di barak,” ucap Ki Sanggabaya.

Namun begitu, Ki Garu Wesi sadar bahwa ucapan itu berhenti karena maksud atau Ki Sanggabaya mempunyai tujuan lain yang tidak diungkapkan di depannya saat itu. Lantas dia mendesis perlahan, “Atau Ki Gede datang lalu menerima mereka.”

Ki Sanggabaya menggeleng. Katanya tajam, “Kami tidak akan biarkan mereka bertemu dengan Ki Gede.”

“Apakah itu berarti barak telah memutuskan untuk menahan mereka di sini sampai kedatangan Ki Tumenggung?” bertanya Ki Garu Wesi lalu mengingat-ingat kedalaman ilmu yang tersimpan di dalam diri Ki Kebo Surongudan lalu menakar orang per orang yang mengelilingi Agung Sedayu.

Dengan gerakan mantap, Ki Sanggabaya tetap menggeleng.

Di antara kening berkerut karena tanggapan Ki Sanggabaya yang menurutnya aneh, Ki Garu Wesi pun membandingkan ilmu sejumlah orang di barak dengan Ki Kebo Surongudan.

Yang paling mungkin meladeni kemarahan Ki Kebo Surongudan adalah Glagah Putih. Sedangkan yang lain seperti Ki Sanggabaya, Ki Prana Aji dan Ki Lurah Sora Sareh, Ki Garu Wesi belum pernah melihat atau mendengar tiga orang itu bertarung satu lawan satu.

“Salah satu keunggulan orang-orang di barak ini adalah kecakapan mereka saat menghadapi seseorang yang jauh lebih tinggi,” desis Ki Garu Wesi dalam hati. Itu benar, dia mengakui, karena dirinya pun diringkus oleh sekelompok prajurit yang berkemampuan merata melalui gelar yang sangat tangguh.

Berminat mendapatkan dan membaca semesta Kitab Kyai Gringsing? Tidak dikomersilkan, hubungi Ki Demang Brumbung di nomer ini

“Waktu sudah hampir habis,” seru Ki Kebo Surongudan dari halaman depan barak. “Serahkan Agung Sedayu atau kami akan serbu rumah Ki Gede Menoreh! Pilihan ada di tangan kalian.”

Ki Garu Wesi berpaling pada Ki Sanggabaya tapi wakil pemimpin itu tampak beku. “Sebenarnya apa rencana Ki Sanggabaya ini? Mungkinkah sedang menunggu kedatangan atau keputusan Pandan Wangi?” dia bertanya dalam hati.

Dan, memang benar Ki Sanggabaya sama sekali tidak menanggapi bentakan bernada ancaman dari Ki Surongudan. Sekejap kemudian, rangga Mataram itu maju selangkah demi selangkah, tidak terburu-buru dan juga tidak mengesankan sedang mengulur waktu. Dia berhenti tepat di belakang Glagah Putih dan Ki Sora Sareh yang berdiri berdampingan.

Ki Lurah Sora Sareh menoleh belakang sebentar—memastikan kedudukan Ki Sanggabaya, kemudian lurus menghadapkan wajahnya pada Ki Kebo Surongudan. Katanya, “Pilihan tidak pada kami, tapi pada Ki Sanak. Ki Sanak dapat memilih gelanggang di sini, di halaman barak atau seluruh bagian barak. Kami juga tidak keberatan Ki Sanak menyerbu kediaman Ki Gede Menoreh.”

Usai Ki Lurah Sora Sareh mengatupkan bibir, Glagah Putih bergeser ke samping seolah sedang membuka jalan bagi Ki Sanggabaya. Ki Lurah Sora Sareh pun melebarkan jaraknya dengan Glagah Putih.

“Silakan, Ki Sanak segera tentukan pilihan,” kata Ki Sanggabaya tenang sambil menggerakkan tangan sebagai tanda untuk Ki Kebo Surongudan menentukan sikap.

Sebenarnyalah Ki Kebo Surongudan tidak menggertak. Dia datang dengan tekad kuat untuk menghukum Agung Sedayu yang dianggapnya bersalah karena membunuh Raden Atmandaru. Sedangkan Raden Atmandaru sendiri adalah adik seperguruannya meski berlainan guru tapi masih satu jalur ilmu.

Bagi Ki Kebo Surongudan, kematian itu bukan sekadar persoalan pribadi. Raden Atmandaru terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian, orang-orang Menoreh tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari tanggung jawab, terlebih Agung Sedayu yang sudah pasti bergerak dengan izin dan juga perlindungan Ki Gede Menoreh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Easy WordPress Websites Builder: Versatile Demos for Blogs, News, eCommerce and More – One-Click Import, No Coding! 1000+ Ready-made Templates for Stunning Newspaper, Magazine, Blog, and Publishing Websites.

BlockSpare — News, Magazine and Blog Addons for (Gutenberg) Block Editor

Search the Archives

Access over the years of investigative journalism and breaking reports

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.