Di Kotaraja.
Ketika Ki Wira Sentanu masih tertawan dengan pikirannya sendiri, kereta kuda Pangeran Purbaya meluncur memasuki halaman istana. Beberapa pengawal dan abdi istana yang melihat kedatangan itu segera membuka jalan sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
Namun saat pintu kereta dibuka, Pangeran Purbaya turun seorang diri. Putra Panembahan Senapati itu melangkah tenang menaiki regol bagian dalam tanpa menoleh lagi ke belakang—meninggalkan Agung Sedayu di dalam kereta.
Di depan pintu pendapa bagian dalam, Pangeran Purbaya berhenti sejenak.
“Katakan kepada Sinuhun,” katanya pendek kepada seorang penjaga dalam, “aku mohon dapat menghadap sekarang juga.”
“Baik, Pangeran,” jawab penjaga itu sambil membungkuk dalam.
Pangeran Purbaya kemudian meneruskan langkah memasuki ruangan dalam istana, sedang kereta itu tetap berada di halaman, diam tanpa suara.
Saat sudah berada sendirian di dalam kereta, Agung Sedayu diam-diam mengerahkan kemampuan puncak menyerap bunyi sehingga setiap gerak, bahkan desah napasnya pun tak terdengar oleh seseorang yang sedang menempelkan telinga pada dinding kereta.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah perlahan dari arah ruangan dalam. Beberapa abdi segera menyingkir sambil menundukkan kepala lebih rendah ketika Sinuhun berjalan keluar diiringi seorang prajurit berpangkat rangga.
Wajah raja Mataram itu tampak tenang, meski ada pertanyaan muncul dalam pikirannya: Pangeran Purbaya sepagi ini di Keraton?
“Paman,” katanya pendek ketika telah dekat.
Pangeran Purbaya segera memberi hormat dalam-dalam.
“Marilah,” kata Sunan Agung sambil menggerakkan tangan, mengarahkan pertemuan pada ruang tertentu dan cukup jauh dari jangkauan prajurit maupun pelayan.
Dalam jarak yang cukup pendek itu, udara sekitar halaman cukup hening. Hanya burung-burung pagi dari puncak pohon saja yang berani bersuara meski samar terdengar.
“Sinuhun,” kata Pangeran Purbaya pertama kali setelah Sunan Agung memberi izin bicara. “Saya datang untuk mengabarkan kematian Ki Rangga Wedoro Anom yang sedang menjalankan tugas di Tanah Perdikan Menoreh.”
“Menoreh,” gumam Sunan Agung. “Apakah kabar itu datang bersama Paman Agung Sedayu atau dari jaringan sandi?”
“Ki Tumenggung yang mengatakan langsung pada saya, tadi malam,” jawab Pangeran Purbaya.
Raja Mataram tersebut merenung cukup lama mendengar ucapan Pangeran Purbaya. Kematian seorang rangga dapat saja dikabarkan oleh prajurit biasa, tapi Ki Tumenggung Agung Sedayu menghadap langsung pada Pangeran Purbaya dan pada malam hari? Itu bukan kematian biasa, tentu saja.
Walau demikian, Sinuhun tidak langsung mengungkapkan pemikiran itu. Beliau bertanya kemudian, “Di manakah Ki Tumenggung Agung Sedayu sekarang, Paman?”
Meski pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban atau keterangan yang sulit, tapi Pangeran Purbaya cenderung untuk tidak langsung menjawab. Yah, sudah hampir dapat dipastikan bahwa yang muncul dalam benak Sunan Agung adalah Ki Tumenggung Agung Sedayu bermalam di Kepatihan. Setelah menimbang jawaban untuk beberapa saat, Pangeran Purbaya berkata, “Ki Tumenggung bermalam di tempat saya, Sinuhun.’
Untuk sejenak waktu kemudian, ruang itu bergulir dalam keheningan. Bermalam di kediaman Pangeran Purbaya? Ini bukan jawaban semestinya dan jelas bukan kebiasaan Agung Sedayu.
Sunan Agung menatap lekat wajah pamannya tapi kemudian ototnya mengendur. “Yah, benar. Eyang Patih sudah tiada. Sekalipun yang menempati Kepatihan adalah putra beliau, tapi Paman Sedayu sudah tentu mempertimbangkan hal lain dengan lebih baik. Hanya saja, bermalam di kediaman Paman itu, sungguh, di luar dugaan saya.”
“Saya, Sinuhun,” ucap Pangeran Purbaya dengan kepala tunduk. “Ada pertimbangan khusus sehingga saya memberi perintah pada Ki Tumenggung agar bermalam di tempat saya.”
“Pertimbangan khusus?” ulang Sunan Agung lirih.
Sebenarnya pembahasan mereka tidak semata berkisar pada Agung Sedayu atau Menoreh, tapi seluruh persoalan Mataram sudah mempunyai waktu yang direncanakan. Selain itu, kedatangan Agung Sedayu pada malam hari di kediaman Pangeran Purbaya seolah memberi kabar: ada bahaya yang tersembunyi di balik kematian Ki Wedoro Anom.
Di luar bangunan utama, cahaya pagi mulai menyusup masuk melalui sela-sela tiang kayu dan kisi-kisi jendela. Kabut yang sejak dini hari menyelimuti halaman istana perlahan menipis, tapi hawa dingin justru terasa semakin merambat ke dalam ruangan.
Langkah-langkah pelan dan tertatih kemudian terdengar mendekat dari lorong samping pendapa dalam. Seorang prajurit berjalan lebih dahulu sambil menundukkan kepala dalam-dalam di depan perempuan sepuh yang mengarahkan tujuan ke bagian dalam.
Sinuhun segera bangkit setengah berdiri.
“Bibi,” desisnya lirih hampir tidak terdengar.
Pangeran Purbaya pun cepat bersikap hormat yang dalam.
Nyi Banyak Patra berjalan perlahan dengan sikap yang jauh dari penggambaran ketinggian ilmu kanuragannya. Sorot mata guru Kinasih itu jelas memperlihatkan wibawa darah keturunan Ki Ageng Pemanahan. Rambutnya yang telah memutih sebagian tersanggul rapi tanpa hiasan, sesederhana perempuan tua dari sebuah pedukuhan. Tetapi kesederhanaan itu mampu mempengaruhi suasana di dalam ruangan.
“Aku datang terlambat rupanya,” katanya tenang.
“Tidak, Bibi,” sahut Pangeran Purbaya cepat. “Justru saya yang datang terlalu cepat.”
Nyi Banyak Patra mengangguk kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Pandangannya lalu beralih perlahan dari Pangeran Purbaya kemudian Sinuhun.
Napasnya terhisap sedikit. “Angger Sedayu, di manakah dia sekarang?” tanyanya tiba-tiba.
Sunan Agung berpaling pada Pangeran Purbaya tapi tidak memberi isyarat atau semacam perintah. Hanya wajah dan tatap mata yang sulit diartikan. Sementara itu Pangeran Purbaya tampak menarik napas pendek sebelum mengangkat wajahnya sedikit.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Tidak ada orang yang berada di dekat tiga orang itu, tidak di dalam dan juga di luar. Semua prajurit dan pelayan sepertinya paham bahwa itu adalah perintah bagi mereka untuk menjauh, kecuali satu penjaga di balik daun pintu.
Nyi Banyak Patra memalingkan wajah. Tatapannya seolah menembus dinding dan ruangan berlapis-lapis di dalam istana.
“Ki Tumenggung Sedayu ada di sekitar kita, Bibi,” ucap Pangeran Purbaya kemudian, “dia meminta izin untuk tetap berada di luar tanpa memberitahu saya mengenai keperluannya.”
Dari pembicaraannya beberapa pekan yang lalu, saat Agung Sedayu bertugas sementara di Kepatihan, Nyi Banyak Patra dapat menduga bahwa senapati Mataram itu sedang mengumpulkan keterangan atau menunggu sesuatu yang penting menurutnya.
Dia mengangguk-angguk sebentar lalu berkata pelan, “Aku dan Angger Sedayu mempunyai kecurigaan. Jika aku dapat mudah mengatakan itu di depan kalian, tapi Angger Sedayu berada dalam kedudukan yang berbeda dengan kita.”
Baik Sunan Agung dan Pangeran Purbaya tampak sungguh-sungguh menunggu perkataan Nyi Banyak Patra selanjutnya.
“Ada perpanjangan tangan lama, jika kita tidak mengatakan sebuah sempalan yang dilahirkan kembali dalam rupa yang berbeda,” terang Nyi Banyak Patra. “Orang itu sudah berada di sini, di halaman dan di seluruh ruangan yang dapat terjangkau olehnya di dalam istana ini.”
“Apakah Bibi ada keberatan untuk menyebutkan nama?” tanya Pangeran Purbaya dengan nada penuh hormat. Dia tidak menempatkan bibinya sebagai saksi atau orang yang dianggap mengetahui tapi sebagai sesepuh Mataram.
“Untuk itulah dan dengan alasan itu pula, Angger Sedayu belum menampakkan diri di dalam ruangan ini, di depan kita bertiga,” jawab Nyi Banyak Patra.
Sunan Agung yang sudah mengetahui kedalaman hubungan eyang putrinya itu dengan Agung Sedayu tidak mengucapkan sepatah kata. Begitu pula dengan Pangeran Purbaya. Mereka berdua bukan tidak mempunyai wewenang untuk memaksa tapi kedudukan orang tua tetaplah berada di atas semua tingkatan. Apabila Nyi Banyak Patra sudah mengatakan seperti itu, maka tidak ada lagi yang dapat diperbuat selain menunggu.
“Jadi, aku kira kalian sudah mendengar, mengetahui bahkan hampir pasti menerima pengaduan atau laporan dari beberapa orang yang mengusulkan penggantian Angger Sedayu,” ucap Nyi Banyak Patra memecah keheningan yang sempat mencekam ruangan. “Tapi Angger Sedayu tidak tampak bergerak melawan atau menemui Sinuhun maupun Pangeran Purbaya untuk meminta dukungan maupun pembelaan. Dia mengikuti panggraita, perkembangan dan keadaan, lalu bergerak dengan perhitungan. Termasuk yang sedang dilakukannya saat ini, di sekitar kita.”
“Saya meninggalkan Ki Tumenggung di dalam kereta,” sahut Pangeran Purbaya.
“Dan kereta itu tidak dipindahkan ke halaman belakang. Kereta mungkin bergeser sedikit,” kata Nyi Banyak Patra.
Pangeran Purbaya mengangguk.
Sunan Agung mengikuti percakapan itu dengan lintasan yang sangat sibuk di dalam pikirannya. Lalu mengucapkan kata-kata yang ditujukan pada Pangeran Purbaya, “Paman Pangeran, apakah desakan mereka masih cukup kuat atau sedikit agak meningkat?”
Pangeran Purbaya menggerakkan kepala cukup dalam sambil berkata, “Semakin kuat, Sinuhun.”
Dia mengangkat kepala cepat seakan teringat dengan sesuatu yang pernah mengusiknya. Orang itu, apakah termasuk dalam kelompok orang yang meminta agar Agung Sedayu dipindahkan dari Menoreh?
Udara semakin terasa hangat di sekitar beranda samping dan halaman belakang, tapi kereta kuda itu sama sekali tidak bergerak. Sais kuda bahkan sudah tidak terlihat di bagian depan kereta. Dua ekor kuda penarik pun sudah bergeser tempat ke kandang.
Seorang lelaki setengah baya berjalan dari arah bangsal pelayan menuju beranda samping pendapa dalam. Wajahnya tampak tegang, meskipun beberapa kali dia berusaha mengatur napas dan menenangkan diri. Kakinya melangkah tetap, tapi gelisah jelas memancar dari tatap matanya.
Kereta kuda Pangeran Purbaya masih berada di halaman samping. Tetapi lelaki itu tidak menoleh ke arahnya. Dia berjalan melewati halaman dengan jarak cukup jauh dari kereta, kira-kira dua puluh langkah lebih, lalu mulai menaiki tangga beranda.
Pada saat itulah desir angin tipis menyentuh tengkuknya.
Lelaki itu berpaling cepat.
Agung Sedayu telah berjalan pula dengan jarak tidak lebih dari lima langkah di belakangnya.
Dia mengerutkan kening. Tidak terdengar suara langkah. Tidak terdengar suara pakaian bergesekan.
Agung Sedayu hanya memandangnya tenang lalu mengangguk hormat.
Sesaat wajah lelaki itu menegang. Namun ketegangan itu segera ditekan kuat-kuat sebelum dia menyapa singkat, “Ki Tumenggung.”
Agung Sedayu membalas dengan senyum mengembang lalu menyejajarkan langkah.
Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruang pertemuan. Tidak ada kata-kata.
Langkah mereka sama tenangnya, tetapi suasana di sepanjang beranda seketika berubah menjadi lebih tegang. Canggung dan gelisah berat bagi Ki Wira Sentanu.
Seorang prajurit jaga segera membuka pintu ruangan.
Sinuhun mengangkat wajahnya lebih dahulu.
Sesaat kemudian sorot mata Pangeran Purbaya bergerak cepat dari Agung Sedayu kepada lelaki di sampingnya. Sementara itu Nyi Banyak Patra tetap duduk tenang dengan kelegaan yang tidak tertangkap oleh seseorang, lalu mengangguk.
Agung Sedayu dan Ki Wira Sentanu masuk bersama-sama.













