Jalutama yang terlihat gembira dengan kehadiran Bondan berusaha menyembunyikan raut wajah penasaran.
Bondan mengetahuinya, lalu berkata, “Saya akan katakan semuanya, Kakang.”
“Aku menunggunya, tetapi biarlah, itu akan berjalan sendiri karena kau lebih membutuhkan obat untuk rasa lapar dan sedikit air untuk bersih-bersih,” ucap Jalutama dengan senyum mengembang. Dia memerintahkan sejumlah orang, termasuk Bagas, untuk menyiapkan pakaian bersih dan hidangan. Beberapa orang bertugas untuk merapikan gandok kanan, tempat yang disediakan untuk mereka beristirahat.
Setelah tubuh dan pakaian mereka bersih dan pantas, belasan orang tersebut melakukan makan pagi bersama.
Kepada para pengiringnya, Bondan meminta untuk memasuki bilik yang telah siap, kecuali Ra Baruna dan Lodranaya. Dua orang tersebut akan menemani Bondan bercakap di ruang tengah.
“Ki Buyut Argajalu,” Bondan membuka percakapan, “Kami, pada pagi ini, berada di sini karena satu peristiwa terjadi pada malam pernikahan saya.”
Bondan lantas meminta Lodranaya untuk bercerita segalanya. Sekali-kali Bondan atau Ra Baruna menambahkan satu dua masalah yang, menurut mereka, harus diketahui oleh Ki Buyut dan dua orang lainnya. Suasana begitu senyap dan hati setiap orang berbantahan keras, kegeraman mereka mencapai puncak ketika Lodranaya mengisahkan Sumba Sena.
Di balik raut wajah yang tenang, Ki Buyut Argajalu hampir tidak dapat menahan kegusaran yang bergolak dalam hatinya.
Pemimpin Menoreh itu kemudian berkata, “Dia tidak mendengarkan. Sama sekali tidak! Dan sekarang api akan merambat dan mencapai tanah ini hingga Merbabu. Hasratnya nyaris tidak dapat dikendalikan, lantas bagaimana aku dapat menerima alasan, bahkan jika aku sendiri yang menjadi dirinya, apa yang berada dalam pikiran dan perasaanku bila aku harus merusak kebahagiaan anakku? Sungguh! Ini adalah perbuatan biadab!”
Seruan penuh amarah terdengar dari bibir Jalutama. Dia meremas pegangan kursinya hingga tak berbentuk.
“Ayah, Paman sekalian dan kau, Bondan! Maaf, saya sulit menahan diri karena saya mengenal Sumba Sena. Bahkan saya begitu dekatnya selama beberapa bulan. Saya tidak mendapati watak keji selama bergaul dengannya. Tetapi saya, meski baru mengenal Bondan, dapat menilai yang terjadi sesungguhnya.
“Oh, apa yang akan menimpa saya bila ayah menerima permintaan itu?” Jalutama bangkit dan berjalan memutari tempat mereka bicara.
“Adalah dia sebagai orang yang datang, menawarkan satu kerja sama pada ayah. Bantuan besar juga telah disiapkan olehnya.” Tajam mata Jalutama memandang wajah Ki Buyut Argajalu.
Ki Buyut Argajalu memintanya untuk kembali duduk. Sekarang, pemimpin Menoreh itu mengambil alih ruangan.
“Ki Juru Manyuran telah bicara denganku. Tidak sekali, tetapi berulang kami bertemu dan bicara tentang itu.”
“Tentang apakah? Ki Buyut,” Lodranaya tidak dapat menahan diri. Ra Baruna memyentuh pundak kawannya itu agar tidak hanyut suasana yang mulai memanas.
“Tentang siasat, prajurit dan Pajang. Tentang kekayaan dan banyak hal. Lalu selanjutnya, menjadikan Majapahit sebagai sasaran akhir!” Pungkas Ki Buyut Argajalu.
Orang-orang berseru!
Mencuat kata-kata keberatan, umpatan dan segala perasaan pun ditumpahkan!
Ki Hanggapati adalah sosok dengan pembawaan kalem dan selalu terlihat tenang, tapi dia tidak lagi dapat menahan marah. Dia berteriak geram tertahan lalu menutup muka!
Antara terkejut dan kaget sudah tidak ada lagi batasan dengan marah maupun kecewa.
Bondan cepat mengungkap lintasan dalam benaknya, “Apakah kekacauan pada pernikahan saya telah menjadi bagian dari rencananya? Dan itu, sungguh! Benar-benar sulit dipercaya jika dia telah menata segala sesuatu begitu lama.”
“Ngger, kita tidak dapat membuat kesimpulan awal. Meski banyak kesaksian dan bukti yang tidak dapat dihindari olehnya. Namun, kau boleh saja berpendapat lain. Aku memintamu lebih berhati-hati. Karena saat ini dia adalah orang tuamu.” Suara lembut penuh ketegasan diucap oleh Ki Buyut Argajalu. Seorang lelaki dengan wajah yang belum banyak garis hidup di wajah dan rambut yang seluruhnya telah berwarna putih keperakan, Ki Buyut seolah menyembunyikan usia sebenarnya.
Bondan mengusap keningnya yang tidak berpeluh. Kemudian berkata, “Saya akan mengingat itu, Ki Buyut.”
Sudut mata Bondan melihat gerak gelisah Jalutama. Dia menghadapkan wajah secara penuh pada putra tunggal Ki Buyut Argajalu.
“Aku akan menyiapkan pengawal tanah ini. Jika engkau telah siap, kami berada di belakangmu,” tegas Jalutama. Tanpa meminta persetujuan ayahnya, Jalutama menyatakan Menoreh akan bersama Bondan.
Ki Hanggapati membatalkan niatnya untuk urun rembug, dia mendahulukan Ki Buyut yang telah bangkit berdiri.
Sekali lagi, sikap Ki Buyut Argajalu memang selalu mengundang rasa segan dan hormat dari orang-orang. Dia memandang Jalutama yang tajam mengedarkan pandangan, kemudian Ki Buyut mengatakan, “Serba sedikit aku telah mendengar perjalananmu bersama Bondan. Aku tidak dapat menerima sebuah alasan tentang balas budi. Persoalan ini bukan sebatas hutang nyawa.”
Setelah menarik napas sebentar, Ki Buyut lantas berpaling pada Jalutama. Dia berkata, “Angger Jalutama, persoalan ini berbeda dengan yang telah kau lewati bersama Bondan. Peristiwa di Grajegan bukan sekedar kejahatan biasa. Banyak segi yang harus kau pertimbangkan. Persiapan yang wajib secara penuh kau lakukan. Ramai orang akan bertanya jika kau hentak kegiatan para pengawal, sementara Pajang belum mengirim utusan kemari. Dan utusan Menoreh belum kembali dengan sebuah laporan yang tepat.”
Sebelum Bondan bertanya, Ki Hanggapati menyela, “Ki Buyut telah mengirim duta ke Pajang. Namun sebelum itu, mereka bertiga datang dan menjadi saksi pernikahanmu dengan diam-diam.”
“Kau mungkin belum sempat bertemu Ki Labu Tiyasa. Dia seorang bebahu kami.” Jalutama mendongak, menatap langit ruangan.
Setelah menarik napas panjang, tatap matanya lurus pada Bondan, ucapnya kemudian, “Dan beliau belum kembali.”
“Aku mengutus Ki Labu Tiyasa sebagai wakil resmi Menoreh, dan dua orang lain untuk mengamati keadaan. Aku lakukan karena perkembangan menuju arah yang berbeda,” kata Ki Buyut yang lekat menatap raut muka Bondan yang dilanda gempa linglung.
“Saya ingin mengurainya. Maafkan saya! Apakah ini berarti Sima Menoreh telah mengetahui peristiwa di Grajegan?” Bondan bertanya.
“Aku yang akan menjawabnya, Ayah!” Jalutama menoleh pada Ki Buyut. Kemudian dia menghadapi Bondan sepenuh hati.
“Seorang utusan Menoreh telah keluar dari Grajegan. Dia memberi kabar pada kami dengan cara yang khas. Kami mempunyai jalur yang berbeda untuk berita yang kami pandang penting. Dan berita itu kami terima sebelum fajar menyapa tanah Menoreh.”
“Dan?”
“Dan Ki Buyut menganggap penting kehadiranmu sebelum memutus ketetapan.” Jalutama menyandarkan punggungnya.
Bondan melihat wajah Ki Buyut Argajalu, pikirnya, “Bagaimana beliau tahu kalau aku akan menuju Menoreh?”
Ki Buyut mengangguk seolah mengerti arti sorot mata Bondan. Kata Ki Buyut kemudian, “Gurumu memberitahuku segalanya tentang Ki Juru Manyuran. Bahkan, Resi Gajahyana telah memintaku secara khusus untuk mengawasimu agar melanjutkan latihan terakhir. Wejang ilmu dari Resi Gajahyana yang terakhir kau terima sebelum hari pernikahanmu tiba.”
“Oh!” seru Bondan sambil menepuk dahinya. Kini, benderanglah semua pertanyaan yang berdesakan dalam dadanya.
Dia berpaling pada Jalutama, “Silahkan, Kakang!”
