Bab 9 Badai dari Grajegan

Badai dari Grajegan 4 – Persiapan di Kabuyutan Induk

“Kita semua akan bersiap dalam senyap. Sepekan ini harus mencukupi untuk segala persiapan,” sahut Jalutama setelah melihat ayahnya mengangguk. Maka, Jalutama segera membeberkan rancangan yang telah disetujui ayahnya saat berbicara singkat setelah berita dari Grajegan diterima.

Menjelang senja, atas perintah Jalutama, Bagas mendatangi satu demi satu para kepala dari banyak kelompok pengawal yang tersebar di pegunungan Menoreh. Mereka akan mendatangi kabuyutan induk untuk menerima penjelasan Jalutama.

Sepekan yang sangat sibuk di Menoreh. Semua orang mengulurkan tangan demi keutuhan Pajang. Demi penghormatan pada leluhur mereka yang membantu Dinasti Syailendra. Demi kejayaan Majapahit yang menghormati perjanjian terdahulu.

Dan di atas semua itu, mereka rela berkorban untuk seorang lelaki yang telah bertaruh demi martabat Menoreh di lereng Gunung Wilis.

Menginjak hari kedua kedatangan Bondan beserta pengiringnya di Menoreh, Nyi Kirana berhasil menyeberangi Kali Progo. Meski perkelahiannya dengan Ki Jaranggi berlangsung tidak lama, Nyi Kirana terus menerus berjalan cepat meninggalkan Kademangan Grajegan untuk mengejar ketertinggalannya. Sebenarnya jarak menuju Pajang itu lebih dekat dan mempunyai sedikit hambatan, tetapi dia tidak ingin bertaruh. Penjagaan dari orang-orang Sanca Dawala tentu ditingkatkan dan yang utama baginya adalah bertemu Ki Hanggapati!

Nyi Kirana telah menambatkan hati pada lelaki pengasuh Bondan. Dia memilih menyelamatkan diri dengan berada di dekat Ki Hanggapati. Di Pajang, Resi Gajahyana dan Bhre Pajang telah memberinya jaminan keamanan dan keselamatan. Namun Nyi Kirana merasa lebih nyaman jika dapat melihat Ki Hanggapati.

Untuk menghindari tatap mata penuh prasangka karena keadaannya yang lusuh dan kain yang terbakar, Nyi Kirana berjalan sedikit jauh dari jalan utama.

Pada malam ia meloloskan diri dari cengkeraman Ki Jaranggi, dua pedang Nyi Kirana menjadi bukti kehandalannya memainkan sepasang senjata. Ketika satu ujung pedang menjadi tumpuan, sebatang pedang terus menerus berputar menjadi perisai baginya. Walau pun mampu menghempas lidah api dengan cara yang luar biasa, tetapi panas yang membara sanggup menembus dinding ilmunya. Nyi Kirana mengalami luka bakar pada bagian siku dan punggungnya setelah pakaiannya tersentuh serpihan bambu yang runtuh.

Dan setelah menyeberangi panggung yang terbakar, Nyi Kirana melesat menuju arah selatan. Dia menjadikan Menoreh sebagai tempat berlindung dari kejaran orang-orang Sanca Dawala yang melihatnya keluar dari kademangan.

Maka pagi itu, dia tidak menampakkan diri di hadapan banyak orang. Nyi Kirana belum pernah mendatangi kabuyutan induk. Dia tidak tahu letak rumah Ki Buyut Argajalu.

“Aku harus menyamar. Terlalu berbahaya jika aku bertanya dalam keadaan luka-luka tanpa ada yang disembunyikan,” Nyi Kirana mengedarkan pandangan—mencari jalan yang diperkirakan dapat membawanya pada kerumunan orang.

Pasar! Dia akan menuju ke sana.

Dengan rambut tergerai, lumpur pada kedua lengan dan kaki tanpa alas, Nyi Kirana berjalan sedikit membungkuk. Kepada beberapa orang, dia bertanya letak rumah pemimpin Sima Menoreh.

“Maaf, Ki Sanak. Kepada siapakah saya menyatakan kehadiran di wilayah ini? Saya seorang pendatang,” Nyi Kirana menggetarkan suaranya agar terdengar parau dan sakit-sakitan.

Seorang lelaki menjawabnya dengan kasar, dia menyebut nama daerah yang sedang dilalui Nyi Kirana. Dengan cerdik, Nyi Kirana menggiring lelaki itu ke arah jawaban yang dibutuhkan. Walau sebenarnya lelaki itu berulang mengibaskan tangan agar Nyi Kirana menjauh, pada akhirnya, dia menunjukkan arah rumah Ki Buyut Argajalu.

Lega hati Nyi Kirana. “Satu kesulitan akan terlampaui. Setidaknya aku dapat mengobati luka bakar di bagian punggung. Dan satu kegembiraan lain dapat aku jumpai.”

Demikianlah ketika sinar matahari telah memaksa kulit mengeluarkan keringat, Nyi Kirana telah berada di sekitar rumah Ki Buyut Argajalu. Dia menyaksikan banyak kegiatan yang terjadi di hampir semua bagian halaman. Sejumlah orang seperti menata letak perbekalan, termasuk senjata. Sebagian yang lain tengah mengolah badan, mereka bergerak melemaskan kaki dan tangan. Dan masih ada banyak orang yang berkelompok untuk kegiatan yang berbeda.

Untuk apakah kegiatan itu semua? Apakah berita itu telah tiba di Menoreh? Dia memandang dirinya kembali lalu berkata dalam hati, “Dalam keadaan seperti ini, sulit untuk mendapatkan kepercayaan orang lain kecuali aku segera bertemu Ki Hanggapati. Lalu, bagaimana aku dapat menemuinya?”

Sepasang mata telah mengetahui keberadaan Nyi Kirana yang sebenarnya cukup tersembunyi. Sebatang pohon asem raksasa dapat menutup seluruh tubuh Nyi Kirana, tetapi orang ini tidak dapat dikelabui oleh tanaman perdu yang membayangkan di tepi jalan. Sinar matanya menunjukkan keraguan.

“Aku harus menunggu lebih lama untuk meyakinkan diriku sendiri.” Orang itu berkata dalam hatinya.

Sementara itu Nyi Kirana tengah mencari jalan untuk dapat memasuki halaman atau menggali keterangan tentang Ki Hanggapati.

Dari kejauhan serombongan orang berkuda terlihat menuju rumah Ki Buyut Argajalu. Nyi Kirana merasa seperti mengenali salah seorang penunggang kuda.

“Tidak salah! Aku memang mengenalinya!” Nyi Kirana keluar dari persembunyian dan berdiri menunggu para penunggang kuda itu berada lebih dekat lagi. Nyi Kirana melambaikan tangan.

Jalutama lekat memandang perempuan yang memang dikenalnya.

“Nyi Kirana?” Jalutama melompat turun.

Perempuan setengah baya itu sedikit membungkuk dengan wajah tunduk. “Akhirnya saya kemari, Ngger. Jika kau izinkan, saya ingin bermalam beberapa waktu untuk sembuhkan luka. Setelah itu, saya akan meninggalkan Menoreh dan kembali ke Pajang.”

“Tidak! Tidak semudah itu bagi Nyai untuk keluar dari tempat ini,” Jalutama meminta seorang pengawalnya untuk membawa kuda ke halaman belakang. Sementara dia mengajak Nyi Kirana ke dalam rumah agar dapat bertemu dengan Ki Buyut Argajalu. Tidak banyak yang mereka bicarakan, Jalutama berusaha menjaga perasaan Nyi Kirana yang diduga telah terlibat dalam peristiwa di Grajegan. Namun sebatas itu, Jalutama tidak ingin menilai lebih jauh.

“Semoga segalanya menjadi benderang di hadapan ayah,” bisik hati Jalutama.

“Baiklah, Angger Jalutama ternyata dapat mengendalikan dirinya. Aku tidak perlu lagi khawatir jika pertemuan mereka akan menyimpang dari arah seharusnya.” Lelaki itu menarik napas lega. Dia adalah Ki Hanggapati yang telah mengenali sosok Nyi Kirana dari kejauhan, sebelum Nyi Kirana bersembunyi di balik pohon asam.

Seorang wanita berusia sepantaran dengan Nyi Kirana melayani segala kebutuhan tamu Jalutama itu. Untuk beberapa saat, Nyi Kirana membutuhkan waktu untuk membenahi keadaannya. Usai semuanya dilakukan, Nyi Kirana memasuki ruang tengah. Ki Buyut Argajalu, Jalutama, Ki Hanggapati dan Bondan terlihat tengah duduk menantinya.

Ketika Bondan dan Nyi Kirana beradu mata, keduanya saling mengangguk. Lantas, sebagai jawaban atas permintaan Ki Buyut Argajalu, Nyi Kirana menceritakan segala yang dia ketahui pada hari pernikahan Bondan. Nyatalah bagi mereka, selain Bondan dan Nyi Kirana, bahwa keterangan tentang malam yang mencekam di Grajegan saling melengkapi.

Usai mendengar penuturan Nyi Kirana, Ki Buyut Argajalu menyerahkan kendali pembahasan pada Jalutama.

“Kami telah mengadakan persiapan sebelum Nyi Kirana datang,” kata Jalutama dengan wajah sepenuhnya menghadap Nyi Kirana. “Sekarang kita mendapat satu kekuatan lagi, terlepas dari luka bakar di punggung Nyi Kirana, wawasan dan pengetahuan yang ada dalam dirinya akan mewarnai siasat baru.”

Tidak ada yang menyatakan keberatan pada Jalutama. Bondan tampak mengangguk berulang-ulang.

“Adakah kau ingin berkata, Ngger? ” tanya Ki Buyut Argajalu.

“Tidak ada, Ki Buyut,” pendek jawaban Bondan.

Mereka kembali larut dalam rancangan Jalutama yang cepat tanggap untuk segera melakukan penyesuaian.

Kisah Terkait

Badai dari Grajegan 3 – Arah Nyala Api

kibanjarasman

Badai dari Grajegan 1 – Api telah Menyala

kibanjarasman

Badai dari Grajegan 2 – Di Pajang, Benih Makar pada Majapahit Dirapikan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.