Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 100 – Agung Sedayu Tidak Ada di Menoreh, Perondaan Ketiga Terancam Berakhir Tragis

Dalam perjalanannya kembali ke Kepatihan, Nyi Ageng Banyak Patra memikirkan ucapan cucunya, Sunan Agung.

“Ada rencana yang tetap mereka jalankan, dan itu berhubungan dengan kitab Kyai Gringsing. Tentu saja mereka tidak akan turun langsung tapi menggunakan orang lain,” ucapnya dalam hati. “Apakah pelayan itu yang akan menjadi perpanjangan rencana?”

Menimbang kemampuan Kinasih yang berlatih tanpa henti di bawah pengawasannya, Nyi Banyak Patra sebenarnya merasa berat jika meminta muridnya kemballi ke dunia yang sangat tidak bersahabat itu. Tapi dia sadar bahwa ada kemungkinan pelayan itu adalah orang juga membisikkan hal lain pada Sunan Agung—saran agar Mataram tidak membuat senjata sendiri dan beberapa hal yang lain.

“Kinasih tidak mengenali wajah pelayan itu, bagaimana dia membayanginya jika Angger Sedayu sudah memberi tanda khusus pada Pangeran Purbaya?’ dia bertanya dalam hati pada dirinya sendiri. Kemudian jalan paling aman dan mudah ditempuhnya adalah menyusulkan Kinasih  ke Sangkal Putung secepat mungkin.

Bertemu langsung dengan Ki Tumenggung tapi mereka tidak perlu berangkat ke Menoreh dalam waktu yang sama, pikir Nyi Banyak Patra setelah meneguhkan hati pada keputusannya itu.

Demikianlah ketika dia tiba di Kepatihan, Kinasih pun dipanggilnya untuk tugas baru.

Gadis itu cukup paham dengan perkembangan yang terjadi di sekitar hubungan Keraton dan Kepatihan. Segera saja dia menyiapkan diri setelah menerima pesan-pesan dari gurunya itu.

Lebih dari sepekan setelah perondaan kedua, suasana di barak pasukan khusus Menoreh terasa berbeda. Bahkan para prajurit yang baru bergabung pun dapat merasakannya. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak prajurit Mataram didatangkan setelah lolos ujian keprajuritan di kotaraja maupun sejumlah kademangan. Mereka datang untuk menjalani gemblengan agar memenuhi syarat sebagai pasukan khusus.

Namun hari-hari terakhir ini, mereka tidak lelah karena gemblengan raga, tapi jiwani yang sedang menyesuaikan diri pada sesuatu yang tidak diucapkan.

Semesta Kitab Kyai Gringsing akan berlanjut ke Buku 6 atau Bab 9 – Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Di halaman barak, suara benturan kayu dan besi tetap terdengar. Aba-aba masih berkumandang kencang. Latihan berjalan seperti biasa. Ketika latihan usai, percakapan menjadi lebih pendek. Tawa yang biasanya terdengar di antara istirahat kini jarang muncul. Bahkan beberapa prajurit lama terlihat lebih sering memperhatikan sekeliling daripada memperhatikan lawan latihnya.

Para prajurit yang baru bergabung tetap bergerak dengan semangat yang sama. Mereka berlari, berlatih, dan mencoba menggali batas luar dari kemampuan terbaik. Tapi di antara mereka, para prajurit inti dan pengawal Menoreh bergerak dengan suasana hati yang berbeda.

Di salah satu sudut halaman, seorang prajurit yang bersandar pada sebatang pohon gayam tampak bicara pada kawannya yang mengikat tali senjata.

“Barak ini sudah banyak diisi orang-orang baru,” kata yang bersandar pada pohon.

Kawannya mengangguk, ucapnya, “Suasana menjadi sedikit berbeda. Teman lama pun sudah bertugas di tempat-tempat baru. Teman baru datang untuk mengisi tempat yang ditinggalkan teman lama.”

Yang bersandar itu, Punjung—prajurit berpangkat lurah, bertanya lirih, “Apakah kau sudah mendengar rencana perondaan ketiga?”

Yang diajak bicara, Socah, menggeleng. “Seharusnya memang tidak terlampau lama dengan yang kedua.”

“Tapi orang itu begitu berisik,” lanjtu Punjung tanpa menyebut nama. “Dia membuat hari-hari di barak menjadi bising.”

Socah menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Mungkin juga kebisingan di sini berawal dari Dusun Benda.”

Punjung tertawa pendek, kemudian berkata, “Aku kira kau tidak tahu yang terjadi di sana. Tapi rupanya kita semua dilanda  kebisingan yang sama.”

Di bagian sayap selatan, Glagah Putih tampak memperhatikan jalannya latihan tanpa benar-benar terlibat. Dia sesekali meneriakkan perintah untuk membenahi gelar perang yang diperagakan sekitar delapan prajurit muda.

Sedangkan Ki Garu Wesi justru duduk tenang di samping pembaringan Ki Sor Dondong. Sambil bersandar pada punggung kursi, tangannya terlipat di dada. Pandang matanya tajam menatap mangkuk yang ramuannya sudah diserap habis oleh Ki Sor Dondong.

“Pada akhirnya, saya dan Kyai berada di sini, di tempat orang-orang yang mengalahkan kelompok Raden Atmandaru,” ucap lirih Ki Garu Wesi. “Saya tidak tahu, apakah harus membalaskan dendam karena Raden Atmandaru adalah kawan dekat saya? Atau membalas perlakuan manusiawi Agung Sedayu dan anak buahnya terhadap kita?”

Ki Sor Dondong hanya membalasnya dengan tatap mata. Dia belum memungkinkan untuk bersuara meski sedikit saja.

Ki Garu Wesi menghela napas perlahan seakan ingin melepaskan pilihan sulit yang bergantung di pundaknya.

“Pada masa lalu, pandangan Raden Atmandaru dapat pula dianggap sebagai satu-satunya kebenaran yang tersisa. Dalam keadaan ini, segala yang terlihat seakan menjadi kebenaran tunggal,” lanjut Ki Garu Wesi,”yang kemudian menempatkan segala pikiran dan tindakan kita di masa lalu adalah kesalahan yang mungkin tidak terampuni oleh Mataram. Tapi Ki Gede dan Agung Sedayu memutuskan sesuatu yang berbeda dengan yang sebagaimana mestinya.”

Waktu serasa berhenti bergerak.

Untuk pertama kali, Ki Garu Wesi tidak dapat menghindari dari rasa cemas. Perhatiannya penuh terpusat pada perondaan kedua.

“Di lereng Gunung Kendil, di bekas perkemahan yang pernah kita bangun, ada Ki Astaman, Ki Garjita dan sedikit orang yang mungkin juga Kyai kenal,” kata Ki Garu Wesi. “Saya melihat mereka pada saat mengiringi perondaan kedua pasukan khusus yang dipimpin Ki Demang Brumbung.”

Ki Sor Dondong kembali mengerjapkan mata. Mungkin tanda untuk mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Entahlah.

Sambil memegang lengan Ki Sor Dondong, Ki Garu Wesi berkata, “Dalam waktu dekat, pasukan khusus akan meronda lagi ke tempat itu. Besar kemungkinan saya turut serta dalam kegiatan tersebut.”

Sejenak dia menahan napas sebelum melanjutkan ucapannya.

“Perondaan ketiga, pasukan khusus, mungkin akan mengambil tindakan lebih keras. Kita sama-sama tahu tingkat ilmu Ki Astaman dan lainnya, apakah pasukan khusus dapat mengimbangi sedangkan Agung Sedayu dan perempuan muda yang kabarnya mampu mengimbangi Ki Astaman tidak ada di Menoreh,” ucap Ki Garu Wesi yang bersikap sungguh-sungguh sejak bicara banyak pada Ki Sor Dondong. Dia sama sekali tidak memperlihatkan anggapan bahwa kawannya itu sebuah patung.

Sekejap kemudian, Ki Sor Dondong tampak menggerakkan kepala.

“Oh, itu bagus sekali!” Ki Garu Wesi berseru tapi tetap ditahan. Dia tersenyum lebar.

Katanya lagi, ”Gerakkan itu, saya anggap Kyai setuju dengan  saya, apakah berada di samping atau berseberangan dengan pasukan khusus? Saya renungkan lagi tapi yang pasti Kyai mendukung segala  atau berseberangan dengan keputusan saya.”

Untuk beberapa lama, pandangan Ki Garu Wesi tampak berbinar-binar. Hari demi hari yang dia lihat hanya seonggok daging yang berbalut kain, tanpa gerakan selain dada dan kedipan mata. Pada hari itu, Ki Sor Dondong dapat menggerakkan kepala dan tentu saja itu adalah keadaan yang melegakan hatinya.

Ketika perhatiannya kembali teralih pada pokok persoalan, Ki Garu Wesi berkata, “Kita tahu di Tanah Perdikan Menoreh ini banyak pendekar yang mumpuni. Mungkin mereka tidak lebih unggul dari kemampuan orang-orang kepercayaan Raden Atmandaru, tapi kita dapat dikalahkan adalah bukti kehebatan mereka, baik secara kelompok maupun sendirian. Bila kita sebut Pandan Wangi, yah, perempuan itu mungkin berada di bawah tingkatan Ki Manikmaya atau Ki Astaman tapi Sedayu begitu cerdas menyusun siasat. Setiap orang mendapatkan ruang yang sesuai dengan kemampuan. Setiap orang memperoleh waktu yang terukur.”

Terdengar hela napas panjang dari Ki Garu Wesi.

“Bahkan ketika kita yakin dengan kemenangan Raden Atmandaru, Sedayu ternyata dapat berkawan dengan alam. Pertarungan itu, meski tanpa saksi, tapi orang-orang berani bersumpah bahwa lereng utara bukanlah medan yang ramah saat musim hujan. Tanah longsor, banjir lumpur dan kabut yang tebal dapat mengubah segala keyakinan serta menjungkir balik  kemampuan kanuragan. Walaupun begitu, hingga saat ini, saya masih sangat yakin kemampuan Raden Atmandaru masih berada di atas Agung Sedayu.”

Matahari tidak begitu terasa menyengat karena masih ada mendung menggelinding lebih pelan dari kelompok besarnya.

Program Donasi Pembaca

Kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dengan donasi minimal sebesar Rp 75.000, Anda akan mendapatkan akses penuh ke seluruh seri (Buku 1 hingga Buku 5 – pdf). Kontribusi Anda akan sangat berarti untuk pengembangan kelanjutan kisah. Konstribusi Anda sudah pasti sangat membantu agar bacaan tetap dapat dinikmati bebas biaya melalui blog Padepokan Witasem. Sekaligus sebagal bekal pengisian tenaga cadangan agar tenaga dan gagasan tetap mengalir.

Detail Donasi:

BCA 822 0522 297

BRI 31350 102162 4530

Roni Dwi Risdianto

Konfirmasi WA 081357609831 

Naskah pdf kami kirimkan melalui WA

Matur Nuwun

Di dalam lingkungan barak pasukan khusus.

Ki Rangga Sanggabaya berdiri menghadap halaman. Gerak matanya mengikuti olah kanuragan prajurit yang seluruhnya bersenjata tombak dengan panjang satu setengah kali dari pedang.

Dari belakang, pendengaran Ki Sanggabaya menangkap desir langkah yang cepat.

Ki Wedoro Anom muncul tanpa banyak basa-basi.

“Saya pikir sudah tiba waktunya untuk melakukan tindakan keras pada orang-orang di Kendil,” kata Ki Wedoro Anom setelah menyapa Ki Sanggabaya. “Kenapa belum ada perintah untuk itu?”

Ki Sanggabaya masih memandang halaman.

“Perondaan kedua baru saja kembali,” jawabnya tenang. “Mereka tidak menemukan gerakan mencolok.”

Ki Wedoro Anom mengambil tempat di samping Ki Sanggabaya. “Kita berpangkat sama dan menerima laporan susulan yang sama.”

Ki Sanggabaya mengangguk, kemudian berkata, “Benar, laporan susulan yang menyatakan bahwa orang-orang itu kembali menempati permukiman.”

“Berarti mereka menipu kita,” tukas Ki Wedoro Anom dengan suara terkendali, tetapi bernada lebih tajam. “Maka, tidak ada alasan untuk menunda perondaan.”

“Saya tidak dapat menggunakan kekuatan atas dasar sangkaan bahwa mereka menipu kita,” ucap Ki Sanggabaya sambil menoleh pelan.

Ki Wedoro Anom menggeleng sedikit seperti menahan pikirannya agar tidak semua terlontar keluar tapi melenceng dari sasaran. “Mereka sudah membuktikan satu hal,” katanya. “Mereka berani menipu. Itu artinya mereka meremehkan dan menghina martabat pasukan khusus. Tapi Anda memilih diam lebih lama dan tanpa alasan kuat.”

“Saya sadari itu,” kata Ki Sanggabaya. “Mereka kembali ke permukiman mungkin juga digerakkan dengan siasat di belakangnya. Pergerakan cepat dari kita dapat menjadi lubang kesalahan yang akan disesali banyak orang.”

Ki Wedoro Anom menatapnya lebih tajam. “Bagaimana barak dapat menjawab pertanyaan Keraton atau Pangeran Purbaya?”

Sedikit jengah hinggap di dalam hati Ki Sanggabaya. Nama itu kembali diulang dengan tekanan. Sejenak kemudian, dia mengangguk lalu berkata, “Sebentar lagi kita rundingkan itu.”

Ki Wedoro Anom melepaskan pandangan pada sekumpulan prajurit yang sedang berlatih gelar perang dari atas punggung kuda.

“Saya harap Ki Rangga tidak salah memilih ketua regu,” kata Ki Wedoro Anom.

Ki Sanggabaya menggeleng, lalu ucapnya, “Tidak. Ketua regu harus melalui usulan yang kemudian disepakati bersama. Ki Tumenggung sedang tidak berada di samping kita, saya tidak dapat gegabah menjadikan seseorang menjadi pemimpin perondaan.”

Ki Wedoro Anom mengangguk tanpa menyiratkan keraguan. “Itu jauh lebih baik. Saya tidak akan menyodorkan nama agar tidak ada anggapan sedang menjatuhkan seseorang di sini.”

“Saya dapat mengerti,” sahut Ki Sanggabaya pendek. Meski sudah tahu maksud Ki Wedoro Anom, tapi dia lebih memilih untuk menahannya. Ki Sanggabaya tetap akan mendengarkan masukan dari Ki Demang Brumbung, Glagah Putih dan sejumlah lurah berpengalaman lainnya.

Dalam waktu itu, Ki Rangga Sanggabaya sudah memutuskan bahwa dia akan menggali gagasan dari orang-orang kepercayaan Agung Sedayu, tapi tidak dengan cara yang biasa. Menurutnya, Ki Wedoro Anom tidak perlu tahu segala yang terkait dengan perondaan ketiga meski sedikit saja.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 83 – Pengembangan Barak dan Kewaspadaan Tanah Perdikan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 103 – Pandan Wangi Datang Membalikkan Keadaan!

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 22 – Dia Menantang Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.