Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 99 – Memanas! Nama Agung Sedayu Memecah Pusat Mataram

Matahari belum jauh tergelincir ketika Pangeran Purbaya menerima izin Sunan Agung agar datang menghadap. Beberapa persoalan sudah berada di dalam kepalanya termasuk urusan Agung Sedayu.

Hanya dua orang yang berada di ruang utama Keraton itu. Pembicaraan mengalir dengan pokok yang terhubung pada perluasan wilayah Mataram. Maka salah satu cabang bahasan:  penugasan baru pasukan khusus yang sebelumnya bertugas di barak Menoreh ke sejumlah tempat di wilayah Mataram.

“Dari laporan yang diterima Ki Tumenggung Singaranu, latihan yang digelar oleh barak pasukan Menoreh  sulit dibandingkan dengan Ganjur maupun Mangir,” jelas Pangeran Purbaya ketika Sunan Agung bertanya tentang perkembangan barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.

“Terangkan, Paman.”

“Ada beberapa cara latihan yang tidak umum, Sinuhun,” lanjut Pangeran Purbaya. Lantas dia menerangkan sedikit rinci tentang pendadaran yang dirancang Agung Sedayu dan dijalankan oleh bawahannya di barak pasukan khusus.

“Saya kira itu lebih mirip dengan padepokan kanuragan,” kata Pangeran Purbaya menutup penjelasan.

Sunan Agung memandang dinding, bergeser ke pintu lalu daun jendela yang terbuka. Katanya, “Yah, dan karena pelatihan semacam itulah maka kita menyebutnya pasukan khusus.”

Tanpa didahului oleh prajurit jaga atau pemberitahuan lainnya, Nyi Banyak Patra mengetuk pintu lalu melangkah masuk dengan jejak kaki yang tidak biasa. Tubuh Nyi Banyak Patra seakan melayang di atas lantai kayu karena hampir tidak berbunyi.

“Aku memenuhi undangan kalian,” ucap Nyi Banyak Patra setelah mengulurkan salam hormat. “Kita langsung saja karena aku pikir sudah tidak ada waktu untuk memberi napas pada beberapa orang yang sangat menginginkan.”

Pangeran Purbaya mengerutkan kening. Ini tidak seperti biasanya, pikirnya.

Begitu pula Sunan Agung yang merasakan kejanggalan dari nada dan pilihan kata bibinya itu. Dia mengangguk, lalu berkata, ”Paman Pangeran menerima banyak keluhan mengenai Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

“Bagaimana dengan Sinuhun?” tanya Nyi Banyak Patra.

Sunan Agung menata napas sesaat. Dia berkata kemudian, ‘Tidak jauh berbeda tapi dengan sedikit tambahan.”

Baik Pangeran Purbaya maupun Nyi Banyak Patra sama-sama memandang lekat wajah putra Panembahan Hanykrawati itu.

“Ada orang yang mengatakan agar Mataram tidak perlu lagi membuat persenjataan. Menurutnya, itu sudah tertinggal,” kata Sunan Agung.

Suasana percakapan sedikit bergeser.

Pangeran Purbaya bersedekap sambil berpikir keras untuk menduga orang yang mengatakan itu pada Sunan Agung. Tapi tidak demikian dengan Nyi Banyak Patra yang masih belum menampakkan perubahan pada wajahnya.

“Tapi itu dapat saya putuskan nanti setelah keterangan mulai menyatu sebagai laporan yang mudah dilihat,” kata Sunan Agung selanjutnya.

“Kembali ke Ki Tumenggung Agung Sedayu,” ucap Pangeran Purbaya beberapa lama kemudian. “Tiga orang bicara pada saya tentang kemungkinan diadakan pergeseran.”

Setelah menerangkan alasan-alasan yang diutarakan oleh tiga orang yang namanya juga disebutkan di depan Sunan Agung, Pangeran Purbaya berkata, “Secara pribadi, saya setuju pula dengan pertimbangan mereka.”

“Satu keputusan yang tidak didampingi secara langsung oleh seorang pemimpin belum dapat dianggap mewakili kehadirannya,” sela Nyi Banyak Patra. “Petugas sandi Kepatihan melaporkan bahwa pasukan khusus sudah dua kali mendatangi permukiman. Saya pikir itu bukan kelalaian tapi mereka memang berjalan di atas paugeran. Agung Sedayu tidak dapat dijadikan orang yang bersalah meski banyak yang mengatakan dia lemah.”

Pangeran Purbaya sedikit memandang tajam pada bibinya itu. “Kepatihan mempunyai petugas sandi itu memang tidak mengherankan. Tapi, apakah Ki Tumenggung Agung Sedayu sendiri yang memerintahkan pemeriksaan itu?”

“Bagaimana jika tidak? Bukankah seseorang bisa saja menempatkan diri sebagai pendorong?” tanya balik Nyi Banyak Patra.

Selanjutnya dengan nada lebih rendah, Nyi Banyak Patra mengatakan, “Keberadaan Mataram tidak terpisahkan dari Agung Sedayu di masa lalu. Saudaraku, Panembahan Senapati mengangkatnya sebagai lurah pasukan khusus tanpa pendadaran atau ujian-ujian, tapi kepercayaan. Panembahan Hanykrawati pun tidak pernah berpikir untuk menggesernya ke kotaraja atau tempat lain padahal Agung Sedayu memenuhi segala persyaratan. Lalu, kita pada hari ini, berdasarkan keberatan beberapa orang lalu melupakan semua yang pernah diberikannya demi kehendak Panembahan Senapati?”

Sekejap kemudian, dia menghadapkan segenap tubuhnya pada Sunan Agung. Lalu berkata dengan nada rendah, “Sinuhun. Saya berada di barak pasukan khusus selama beberapa waktu. Mungkin lebih dari dua bulan. Saya mengenal medan dan keadaan termasuk perlakuan barak pada seluruh tawanan perang.”

“Eyang Putri, seandainya saya berkata pendapat Panjenengan adalah pembelaan. Apakah itu karena kecenderungan karena hubungan dekat atau pengamatan lapangan?” Sunan Agung seakan ingin membuat batasan pada perbedaan pikiran yang berkembang di depannya.

“Tidak ada manusia yang bebas dari kecenderungan, Sinuhun,” jawab Nyi Banyak Patra.

Itu bukan penentangan atau menghindari pertanyaan. Sunan Agung paham pengamatan lapangan yang sesuai dengan kehendak Nyi Banyak Patra sendiri. Ditambah penilaian pada Agung Sedayu dan seluruh bawahannya. Itulah jawaban yang ada di dalam ucapan neneknya tersebut.

Di permukaan, perkataan Nyi Banyak Patra mungkin mengarah pada seseorang. Tapi dalam pikiran Pangeran Purbaya, keterangan saudara perempuannya itu justru menguatkan adanya hubungan yang tidak disadari oleh orang-orang yang menginginkan Agung Sedayu dimundurkan.

“Apakah Paman Pangeran sudah menyusun rencana atau mungkin akan mengusulkan Paman Sedayu diberhentikan dari kedudukannya sekarang?” Sunan Agung bertanya dengan nada yang sangat tajam.

Pangeran Purbaya menghela napas panjang. Penguasa Mataram itu seakan memberinya pertanyaan yang sangat sulit dihindari. Dia memang berencana akan membawa gagasan untuk menggeser Agung Sedayu, tapi kehadiran serta pendapat Nyi Banyak Patra telah melemahkan hampir seluruh alasan. Kali ini dia benar-benar ingin diam tapi mustahil dilakukan.

“Saya kira ada baiknya Sinuhun mendengarkan penjelasan dari Ki Tumenggung Sedayu secara langsung,” ucap Pangeran Purbaya.

“Yah, aku kira itu lebih baik,” timpal Nyi Banyak Patra.

“Baiklah,” ucap Sunan Agung lalu menimbang ukuran waktu pemanggilan.

Selanjutnya, Pangeran Purbaya memanggil seorang prajurit pengawal raja untuk menerima pesan yang harus diteruskan pada Agung Sedayu.

Sepeninggal prajurit tadi, suasana terasa sunyi hingga Nyi Banyak Patra berkata, “Sinuhun. Saya pikir sudah saatnya Ki Tumenggung Agung Sedayu dikembalikan ke barak. Tugas-tugas yang dulu belum terselesaikan oleh mendiang Ki Patih, kini berangsur-angsur mendekati akhir. Di samping itu, dua perondaan dari pasukan khusus sepertinya sudah cukup memberi waktu dan ruang bagi orang-orang di Kendil.”

Dalam waktu itu, Pangeran Purbaya teringat satu kalimat Sunan Agung: satu orang dari masa lalu akan datang sebagai pembeda. Jika pada mulanya dia berpikir orang yang dimaksud adalah Ki Patih Mandaraka, ternyata perkiraan itu keliru. Justru ketegasan itu datang dari bibinya, Nyi Ageng Banyak Patra.

Bayangan belum benar-benar sama dengan benda saat Agung Sedayu masuk dengan langkah tertata. Dia berhenti pada jarak yang pantas lalu menunduk dalam.

“Sinuhun, Pangeran, Nyi Ageng,” sapa Agung Sedayu dengan sikap tubuh menghadap pada setiap nama yang disebutnya.

Tidak ada basa-basi panjang, Sunan Agung memulai percakapan dengan sikap yang berbeda dengan biasanya. Jarak antara raja dengan abdi seperti nyaris tiada. Itu mengingatkan Agung Sedayu pada masa hidup Panembahan Senapati yang kadang-kadang juga mengubah tata cara sesuai kehendaknya.

“Paman Sedayu, keadaan di lereng Kendil telah sampai pada kami,” kata Sunan Agung kemudian dengan nada datar. “Beberapa tindakan telah diambil oleh barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.”

Agung Sedayu mendengarkan dengan kepala menunduk.

“Walau begitu, kegiatan di sana tetap belum berhenti,” lanjutnya.

“Saya, Sinuhun.”

“Menurut Paman,” kata Sultan Agung, “bagaimana mereka tetap membandel? Kira-kira apa yang sedang terjadi?”

“Saya perintahkan pada Ki Rangga Sanggabaya dan juga Ki Demang Brumbung untuk menjalankan pengawasan sesuai paugeran. Ketertiban dan keamanan seluruh wilayah Tanah Perdikan harus tegak di atas paugeran tanpa melangkahi wewenang Ki Gede Menoreh,” jawab Agung Sedayu tegas. “Laporan demi laporan juga datang dari barak melalui Glagah Putih yang kemudian diteruskan pada dua pengawal Tanah Perdikan hingga saya perintahkan mereka kembali ke wilayah.”

“Saya tidak akan bertanya isi laporan mereka pada Paman, tapi saya melihat perkembangan dan bagaimana perintah Mataram dijalankan,” ucap Sunan Agung. “Prajurit datang dan pergi. Mereka berlatih di barak yang sudah dikembangkan sesuai gambar serta fungsi-fungsi baru.”

Pangeran Purbaya memperhatikan percakapan dua arah itu dengan saksama. Meski dalam hatinya ada pertanyaan, tapi dia tahu Sunan Agung dan Agung Sedayu tidak berada dalam kedudukan yang sama meski bahasa mereka begitu lugas.

Untuk beberapa waktu, Sunan Agung berdiam diri. Kemudian pandangannya beralih pada Nyi Ageng Banyak Patra.

“Eyang Putri, adakah Panjenengan hendak mengatakan sesuatu?” tanya Sunan Agung pada Nyi Banyak Patra.

“Saya akan menegurnya bila mendapati kekeliruan dalam sikap atau keputusan Ki Tumenggung,” jawab Nyi Banyak Patra.

Pangeran Purbaya menarik napas pendek. “Ki Tumenggung, pada akhirnya saya harus mengatakan bahwa Anda telah membantu banyak di Kepatihan. Pekerjaan yang semula tersendat kini telah berjalan. Yang direncanakan juga dapat mengalir sesuai harapan.”

“Terima kasih, Pangeran,’ sahut Agung Sedayu.

“Barak telah bertindak sesuai kewenangan yang ada meski keadaan di lapangan tidak selalu dapat memberikan kenyataan yang pantas,” lanjut Pangeran Purbaya. “Perkembangan dan perubahan di Tanah Perdikan memerlukan perhatian yang lebih dekat. Saya pikir keadaan ini sudah menjadi perhatian Sinuhun.”

“Saya menerima segala keputusan,” ucap Agung Sedayu.

Sunan Agung memandang Agung Sedayu sedikit lama. “Saya izinkan Ki Tumenggung Agung Sedayu meninggalkan Kepatihan. Sebagai perhatian, saya ingin Ki Tumenggung dapat secepatnya tiba di Tanah Perdikan.”

Agung Sedayu tidak langsung mengatakan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang ingin diutarakan tapi dia masih ingin menahan.

Adalah Nyi Banyak Patra yang tampaknya mengerti maksud yang tersembunyi di balik sikap tenang Agung Sedayu.

“Sinuhun, Angger Pangeran,” ucap Nyi Banyak Patra kemudian, ”Angger Sedayu tidak akan dapat langsung menuju Menoreh sebelum bertemu keluarga di Sangkal Putung dan Ki Tumenggung Untara di Jati Anom.”

Sunan Agung tersenyum lalu mengangguk. “Ki Tumenggung tahu yang terbaik.”

Dalam waktu itu, Pangeran Purbaya tersentuh oleh kecurigaan sebelumnya. Dia lalu berkata pada Agung Sedayu, “Tinggalkan tanda untuk saya saat Ki Tumenggung bergerak menuju Menoreh.”

Sunan Agung cepat memandang pamannya itu dengan sinar mata bertanya.

“Sinuhun, saya mempunyai kecurigaan tapi masih belum mendapatkan jejak untuk membuktikan itu. Maka, saya pikir akan mengutus seseorang dengan pengaturan waktu yang beriringan tipis dengan perjalanan ki Tumenggung,” jelas Pangeran Purbaya.

“Paman Sedayu?”

“Dengan segala perintah, Sinuhun,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah,” ucap Sunan Agung kemudian berjalan turun pada arah Agung Sedayu. “Terima kasih atas segala yang telah Paman lakukan dari dulu, sekarang dan yang akan datang.”

Agung Sedayu menunduk dalam. “Dengan segala kepercayaan dari Sinuhun.”

Sunan Agung lantas memutar pandangan.

Pada Pangeran Purbaya dan Nyi Ageng Banyak Patra, dia berkata, “Dengan demikian, pertemuan ini berakhir dengan segala percakapan yang tidak dapat menembus dinding.”

“Sinuhun,” sambut dua tetua Mataram itu serentak.

Agung Sedayu berbalik dengan langkah tenang dan terukur. Namun di balik itu, dia sadar bahwa perondaan kedua pasti sudah dijalankan oleh Ki Rangga Sanggabaya. Dengan begitu, dia tidak dapat berlama-lama di Sangkal Putung maupun Jati Anom.

Selanjutnya, dia hanya singgah seperlunya di Kepatihan untuk menata keperluan yang mendesak, lalu ketika hari mulai condong ke senja, Agung Sedayu pun meninggalkan kotaraja, menuju Sangkal Putung sebelum melanjutkan perjalanan ke Jati Anom.

Sunan Agung, Pangeran Purbaya dan Nyi Ageng Banyak Patra masih berada di dalam ruangan, berbincang ringan mengenai persoalan yang lain.

Hingga dalam waktu yang diperkirakan Agung Sedayu sudah sampai di regol Keraton, Pangeran Purbaya mengalihkan pembicaraan pada persoalan yang cukup mengejutkan Nyi Banyak Patra.

“Beredar kabar dari orang-orang yang sempat turun dari Kendil bahwa kitab Kyai Gringsing berada di tangan pengikut Raden Atmandaru,” kata Pangeran Purbaya.

Nyi Banyak Patra langsung menatapnya tajam. “Apakah Angger Sedayu sudah mengetahui keadaan itu?”

Pangeran Purbaya menggeleng.

Sunan Agung kemudian bertanya, “Berapa atau sampai di mana tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kitab itu?”

“Jika isi kitab dapat dipahami oleh seperti Agung Sedayu, itu seperti Agung Sedayu memperoleh kekuasaan penuh dari Ki Gede  untuk mengerahkan segenap kekuatan Tanah Perdikan. Perpaduan kekuatan ilmu dan kecerdasan yang ditunjang daya tahan wilayah pasti berakibat sangat mengerikan,” jawab Pangeran Purbaya.

“Apakah itu ancaman, Pangeran?” tanya Nyi Banyak Patra.

“Ya, seandainya orang itu setara dengan Sedayu maka kita pantas untuk cemas,” ucap Pangeran Purbaya.

Sunan Agung mengerutkan kening, berpikir keras. Kemudian bertanya, “Bagaimana perkembangan dari rencana semula, Paman?”

“Tunggu,” potong Nyi Banyak Patra. “Apakah Keraton berencana turut dalam perburuan kitab?”

“Bukan berburu untuk menjadi puncak ilmu, Bibi,” tukas Sunan Agung yang juga mempunyai nama Raden Mas Jolang. Agaknya pada pembicaraan itu, Sunan Agung seperti sedang kembali ke masa lalu.

Nyi Ageng Banyak Patra merenung sesaat, lalu bertanya untuk memastikan, “Apakah untuk mengamankan agar tidak jatuh ke tangan yang salah? Sedangkan salah dan benar, itu adalah keputusan dan akibat yang baru diketahui pada saat terakhir.”

Sunan Agung dan Pangeran Purbaya merenung sejenak. Ada kebenaran di dalam ucapan Nyi Ageng Banyak Patra.

“Lalu, apa saran Bibi?” tanya Sunan Agung.

“Jika aku berada pada kedudukan yang berbeda, tentu saja akan bergerak di belakang Agung Sedayu tanpa bermaksud untuk mengambil meski dengan alasan keamanan,” tegas Nyi Banyak Patra.

“Tapi Sedayu tidak pernah dikabarkan bergerak untuk mencari kitab yang ditulis oleh gurunya,” sahut Pangeran Purbaya.

“”Sebagian pendahulu kita menulis kitab tanpa menyertakan penjelasan yang gamblang atau mudah dimengerti bahkan oleh muridnya sendiri,” Nyi Banyak Patra menerangkan sepintas. “Beliau, guru-guru kita memasang kunci atau gerendel ke dalam pengajaran langsung. Itu bisa saja menjadi keputusan Angger Sedayu dengan tidak susah payah mencari peninggalan gurunya.”

“Karena dia yakin kitab itu hanya berisi sekumpulan tulisan yang tidak berarti apa-apa tanpa pengajaran langsung?” Pangeran Purbaya memastikan.

“Benar,” kata Nyi Banyak patra disertai anggukan mantap.

“Tetapi bahaya masih menyertai kitab,” susul Sunan Agung. “Raden Atmandaru memberi pengajaran penting bahwa sebuah pengakuan pun dapat mengumpulkan banyak orang lalu menggerakkan mereka sekehendak hati.”

Nyi Banyak Patra dan Pangeran Purbaya bertukar pandang. Mereka tidak dapat mengabaikan kebenaran yang terdapat dalam kalimat Sunan Agung.

“Jadi?” tanya Pangeran Purbaya.

“Paman tetap dapat menjalankan sesuai rencana,” tegas Sunan Agung.

“Untuk kali ini, saya berada di tempat yang berlainan dengan keputusan Keraton,” ucap Nyi Banyak Patra—menegaskan sikap pribadinya.

Sunan Agung mengangguk pelan tapi cukup dalam.

“Saya pastikan Eyang Putri tetap mendapatkan ruang untuk membuat keputusan dan menentukan sikap,” kata Sunan Agung.

“Terima kasih, Sinuhun,” sahut Nyi Banyak Patra sedikit menunduk.

Pangeran Purbaya menerima ucapan saudarinya itu dengan makna yang berbeda. Baginya, keputusan Nyi Banyak Patra adalah  perlindungan dan jaminan bagi Agung Sedayu seandainya terjadi hal buruk yang berasal dari Keraton. Akhirnya, dia menyadari bahwa selalu ada orang yang bersedia menjadi perisai bagi Agung Sedayu. Bila sebelumnya ada Ki Patih Mandaraka, sekarang justru putri Ki Ageng Pemanahan sendiri.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 51 – Tahanan Bebas Berbuat di dalam Barak Pasukan Khusus

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 43 – Agung Sedayu: Kebenaran yang Datang Terlambat

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 66 – Jejak Latih Ki Tumenggung Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.