0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 29 – Perguruan Lawas Bermunculan, Menuntut Agung Sedayu

Dilihat 240 kali

 Di bawah tekanan orang-orang bersenjata tidak membuat ciut nyali orang-orang Sadapati. Sebaliknya mereka justru sanggup membuat hati lawan bergetar. Betapa tidak, mereka tampak begitu enteng menangkis senjata lawan dengan lengan telanjang seolah seluruh bagian tangan mereka telah berubah menjadi logam. Ditambah kemampuan lain yang tidak terduga, tandang orang-orang Sadapati menyimpan kejutan luar biasa. Jari-jari mereka mampu merobek pakaian lawan sekaligus melukai tubuh lawan.

Meskipun demikian, orang-orang dari jalur ilmu Empu Pinang Aring cepat menguasai diri, kemudian meningkatkan kemampuan selapis lebih tinggi.

Pada waktu itu, orang yang bernama Ki Dawar Blandong memang menempat kedudukan berbeda dari seluruh orang yang turun bertempur dari pihaknya. Penguasaan ilmunya cukup cepat mengembalikan keseimbangan dan perlahan-lahan tampak akan dapat menguasai medan.

Tapi itu tidak terjadi cukup cepat ketika seorang dari enam orang itu menerkamnya lalu cepat mengikat dalam pertarungan yang sangat seru.

“Agar kau tak menyesal, ingatlah namaku baik-baik, Sima Baya,” ucap keras orang itu.

Ki Dawar Blandong mendengus. Sekejap berikutnya, serangannya meningkat semakin cepat. Dua kakinya bergerak lincah dengan lompatan yang kadang panjang disertai ayunan tangan yang sangat kuat.

Tapi rupanya Sima Baya dapat memberikan perlawanan yang sangat keras. Dia masih berusaha mempertahankan tingkat kepandaiannya meski lawannya mampu menjaga jarak dengan serangan membadai.

Di bagian lain permukiman, lima orang dari Perguruan Sadapati ternyata gigih mempertahankan keseimbangan meski satu orang telah bergeser tempat.

Pada suatu susut, sepasang mata Ki Winih Jambe tajam mengawasi jalannya pertempuran. Berdiri sedikit dibelakangnya adalah anak muda yang dipecundangi Sukra beberapa malam sebelumnya, Pawening

Melihat pertempuran kecil tapi sangat menggetarkan itu, kemarahan Pawening semakin meluap-luap ketika wajah Sukra melintas dalam benaknya. Seandainya dia sudah mencapai tingkat yang sama dengan Ki Dawar Blandong, tekatnya adalah membuat perhitungan lagi sekalipun harus menghabiskan waktu yang sangat panjang.

Sementara tujuan yang berbeda sedang berayun-ayun di dalam pikiran Ki Winih Jambe. Dia datang untuk membuat perhitungan dengan Agung Sedayu. Jika bisa mendapatkan kitab Kyai Gringsing maka itu akan menjadi hadiah paling besar dalam hidupnya. Tapi, apakah kitab itu berada di tangan Agung Sedayu? Lalu pikirannya tertuju pada Pancuran Watu Item. Kabar itu bukan lagi milik orang-orang Tanah Perdikan tapi semua orang sudah mengetahuinya. Dan semua orang persilatan pun sudah tentu akan datang tapi bukan untuk menyaksikan tontonan.

“Tentu saja mereka datang untuk menakar kemampuan ilmu Agung Sedayu,” kata Ki Winih Jambe dalam hati. “Bagaimana Agung Sedayu bertarung, bagaimana adik seperguruannya mengerahkan semua kemampuan, maka ilmu yang ada di dalam kitab pun akhirnya dapat dibayangkan kedalamannya.”

Ki Winih Jambe melirik ke arah timur. Sebentar lagi dunia akan menjadi terang, pikirnya. Lalu tatap matanya beralih ke gelanggang pertempuran.

Ternyata orang yang menjadi lawan murid pertamanya, Ki Dwar Blandong, adalah seseorang yang tangguh. Dia berkelahi dengan tata gerak yang mengguncang sendi-sendi jantung. Walau begitu, dia pun dapat menduga bahwa orang itu bukanlah orang yang paling mumpuni dalam kelompoknya.

Sekali lagi, Ki Winih Jambe melirik ke arah timur. Dia harus menghentikan perkelahian tanpa perlu peduli dengan tuntutan mereka.

“Jika masih ngotot, aku selesaikan saja,” katanya dalam hati dengan wajah yang benar-benar dingin.

Samar-samar terdengar suara kuda berderap mendekati permukiman. Keadaan menjadi semakin gaduh ketika suara itu terdengar makin keras. Pekik perang menggema menantang semua orang, padahal laskar berkuda itu belum tiba di permukiman.

Ki Winih Jambe yang sudah mendengar kedatangan derap kuda sejak dari kejauhan segera bersuit nyaring.

“Hentikan. Semua orang mundur. Kita tinggalkan tempat ini. Segera.” Perintah-perintah itu diucapkan pendek—kata demi kata sambil menunjukkan arah tertentu.

Maka belasan anak muridnya pun cepat melepaskan diri dari ikatan perkelahian meski mereka sudah menguasai keadaan.

Sima Baya yang sadar dengan perkembangan dan juga mengetahui sumber kedatangan pun cepat menyuruh orang-orangnya meninggalkan permukiman. Mereka tidak akan kembali ke tempat bermalam karena Ki Ajar Ental Sewu sudah meninggalkan pesan sebelum mereka melabrak orang permukiman.

Beberapa langkah dari permukiman, Punjung keluar dari tempat pengintaian kemudian berlari kecil di depan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Glagah Putih. Kedatangan mereka yang semula dimaksudkan untuk meredakan keadaan justru hanya mendapati lingkungan yang sunyi tapi meninggalkan bekas perkelahian yang sengit.

Glagah Putih membalas santun Punjung yang menghormat padanya. “Mereka berkelahi?” tanya Glagah Putih memastikan.

“Benar, Ki Lurah,” jawab Punjung lalu menerangkan segala yang dilihat olehnya pada sepupu Agung Sedayu tersebut.

“Berilah kami perintah untuk mengejar, Ki Lurah,” kata seorang pengawal Tanah Perdikan yang berada di belakang Glagah Putih. Wajahnya menampakkan kegelisahan dan juga kegeraman yang nyaris meledak menjadi amarah. Demikian pula tiga kawannya yang berasal dari barisan pengawal Menoreh.

Glagah Putih menoleh padanya sekilas, mengangguk lalu berkata, “Saya dapat mengerti perasaan saudara-saudara sekalian. Kita dapat mengejar, memburu bahkan menghabiskan mereka yang membuat rusuh di tanah ini. Tapi kita bukan orang-orang yang sama dengan mereka.”

Seorang pengawal mendengus tapi Glagah Putih sudah membuat keputusan.

Dalam waktu itu, Glagah Putih juga memikirkan pilihan lain jika dia memerintahkan Punjung menyisir jejak orang-orang tadi. Namun, prajurit itu juga membutuhkan waktu istirahat. Kemudian terbitlah perintah darinya sebagian orang akan berjaga di sekitar permukiman. Satu ekor kuda disiapkan sebagai penghubung cepat dengan barak dan kediaman Ki Gede.

“Jika terpaksa untuk bersikap keras, tetaplah berusaha untuk menahan diri, mundur,” ucap Glagah Putih dengan nada rendah. “Kita semua tahu dan masih ingat pesan Ki Gede untuk mencegah tumpahnya darah secara percuma.”

“Kami mendengar, Ki Lurah,” sahut serempak gabungan prajurit dan pengawal yang ditugaskan berjaga di sekitar permukiman.

Selanjutnya, Glagah Putih mengatakan singkat bahwa barak dan kediaman akan menggilirkan penjagaan hingga keadaan terkendali seluruhnya.

Saat Tanah Perdikan perlahan-lahan diguncang sedikit demi sedikit kerusuhan kecil, menjelang malam, dua orang prajurit tinggi tampak bicara sungguh-sungguh di bangsal pasukan pengaman Kotaraja

Kabar keributan di pasar induk dan geger permukiman tak terurus di Pringtali rupanya sudah diketahui oleh Ki Panji Danutirta.

“Ini tidak biasa, bagaimana Ki Panji mengetahui kabar itu bahkan mungkin sama cepat dengan Pangeran Purbaya?” tanya Ki Panji Suralaga.

Ki Panji Danutirta mengangkat bahu dan tatapan matanya seakan memberi jawaban tidak tahu. Agak lama dia menjawab pertanyaan itu, lalu katanya, “Kita sudah sama-sama tahu kerapatan hubungan antarprajurit di barak pasukan khusus. Terutama orang-orang yang sudah lama menjadi anak buah Agung Sedayu. Tapi, berita itu tetap terbawa hingga Kotaraja oleh anak-anak baru yang sedang ditempa latihan keras sebagai syarat masuk menjadi bagian pasukan khusus. Mereka bicara banyak hal dengan suara penuh kebanggaan karena sebagian sudah diterjunkan tugas pengamanan wilayah.”

Setelah sedikit menarik napas pendek, kemudian Ki Panji Danutirta meneruskan, “Sinar mata mereka penuh kekaguman saat berkisah tentang pertarungan Agung Sedayu yang berakhir  dengan kematian seseorang yang bernama Ki Kebo Surongudan.”

Ki Panji Suralaga mengelus dagu dengan sorot mata menerawang dinding belakang Keraton. “Apakah itu dapat menjadi celah?”

Ki Panji Danutirta mengulang pelan, “Celah?”

Disertai anggukan kepala penuh keyakinan, Ki Panji Suralaga berkata, “Benar, bagaimana mungkin seorang tumenggung berkelahi satu lawan satu dengan seorang perusuh? Bukankah Tanah Perdikan dikenal sebagai gudang orang-orang sakti?”

“Tapi—,” ucap Ki Panji Danutirta.

Ki Panji Suralaga mengangkat tangan, mengangguk kemudian berkata, “Ya, saya paham itu dapat dianggap perang tanding untuk urusan yang tidak berkaitan dengan kepentingan Mataram. Tapi bukankah dia dapat menyuruh Glagah Putih atau orang lain untuk mewakilikinya? Meskipun benturan itu sebenarnya bukan murni perang tanding antara dirinya melawan Ki Kebo Surongudan, tapi pasukan Mataram menghadapi sekelompok orang liar. Pikirkan, bagaimana jika Agung Sedayu mati saat itu? Inilah kekuatan kita. Agung Sedayu tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi bodoh dengan tetap melayani orang-orang yang maju menantangnya.”

Ki Panji Danutirta menatap lurus Ki Suralaga lalu mengangguk-angguk. Saat dia teringat seseorang, dia bertanya, “Bagaimana dengan Ki Wira Sentanu? Bila dia dapat mengatur pertemuan dalam waktu dekat dan Pangeran Purbaya setuju untuk memanggil Agung Sedayu, bukankah Pancuran Watu Item dapat menjadi tempat terbaik untuk mengubur namanya?”

Langit Hitam Majapahit

Malam di Sumur Welut berubah menjadi lautan darah. Para penyamun memilih mati daripada menyerah, sementara dua pemimpin mereka lenyap di balik kobaran api. Di tengah kemenangan Majapahit, seorang pemuda bernama Bondan justru terbaring di ambang maut.

Siapakah Bondan hingga membuat para perwira terbaik Majapahit mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya? Ra Caksana bertanya. Kisah petualangan berlatar awal kejayaan Majapahit yang dipenuhi intrik, pengkhianatan, dan pertempuran yang mengguncang hati.

Harga PDF, 75 ribu

Versi cetak, pre order, 149 hal, 120 rb

Baca online -> Ikuti dari SINI

Dua malam sebelum perang tanding di Pancuran Watu Item, ketenangan Tanah Perdikan benar-benar mendapat ujian berat. Keributan demi keributan mulai terjadi di sejumlah pedukuhan dan tepi hutan.

Saat Glagah Putih kembali dari penertiban di sebelah utara Pringtali, Dusun Separang justru turut menyalakan api keributan yang baru.

Di lereng Gunung Kunir, kelompok Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik yang telah lama mendiami kawasan itu secara liar mulai merasa terancam oleh kedatangan rombongan orang-orang baru.

Berbekal keterangan dari seorang pedagang asal Pegunungan Sewu yang membawa kabar tentang Pancuran Watu Item dan Tanah Perdikan Menoreh, Ki Jabon Seta segera mengajak banyak orang dari perguruannya untuk menemui Agung Sedayu.

Setelah menempuh perjalanan berat selama tiga atau empat hari, rombongan Ki Jabon Seta akhirnya tiba di lereng barat Gunung Kunir. Namun mereka ternyata memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari permukiman kelompok Ki Kamejing.

Kedatangan rombongan itu segera menimbulkan kecurigaan. Kelompok Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik menganggap orang-orang baru tersebut bukan sekadar pedagang atau petani pembuka lahan seperti yang biasa datang ke kawasan itu.

Kedai kecil di Dusun Separang itu sedang ramai menjelang senja. Beberapa pedagang palawija dan hasil bumi lainnya terlihat duduk berselonjor sambil meneguk wedang panas. Bau nasi jagung yang baru diangkat dari kukusan menjadikan suasana tegang Tanah Perdikan menjadi tersisih, berganti suasana hangat dan akrab.

Tiga orang yang baru datang dari arah timur lereng Gunung Kunir memasuki kedai tanpa menarik perhatian. Pakaian mereka biasa saja meski tetapi sorot mata mereka menunjukkan keyakinan yang sulit disembunyikan. Mereka duduk di sudut dekat dinding bambu, memesan makanan, lalu berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekelilingnya.

“Jadi, mereka benar-benar dihalau begitu saja?” salah seorang bertanya sambil tertawa pendek.

“Aku dengar bahkan pemimpin mereka bahkan tidak berani turun tangan langsung menghadapi orang-orang Tanah Perdikan,” sahut kawannya. “Padahal orang-orang itu selama ini mempelajari ilmu kanuragan yang sedang menjadi tujuan kita di sini.”

Beberapa mata cepat menatap lingkaran percakapan itu sambil menggeleng pelan.

“Aku kira sumber ilmu yang mereka pelajari bukan sebab dan tidak pula dapat diterima sebagai alasan kekalahan. Tapi lebih pada ketidakmampuan mereka menghadapi pengawal Menoreh,” kata seorang lelaki yang pakaiannya berwarna terang. “Dan rupanya mereka begitu bodoh dengan menggunakan Gunung Kendil sebagai tempat untuk membangun perguruan. Mataram pasti memasang mata dan telinga lalu datang menghancurkan mereka dengan segala jalan dan kekuatan yang ada.”

“Menurut kabar, yang ada di sana tidak hanya pengawal Menoreh tapi ada juga prajurit dari pasukan khusus Mataram,” kata seseorang bertubuh gempal. “Yah, tapi bagaimanapun juga, sebuah perguruan seharusnya tidak boleh kalah dengan pengawal dan prajurit yang berkemampuan biasa.”

Sejenak kemudian, tiga orang tersebut bicara dengan nada lebih pelan dari sebelumnya. Mengalihkan pembicaraan pada perkembangan atau keadaan lainnya.

Tidak ada nada mengejek dalam ucapan mereka. Bahkan suara mereka terdengar datar. Tetapi kata-kata itu terdengar seperti kesengajaan untuk mempermalukan kelompok tertentu.

Bagi pemilik kedai dan sejumlah orang lainnya, pembicaraan itu jelas mengarah pada bentrokan keras yang melibatkan Swandaru dan kelompok pengawal serta barak pasukan khusus.

Di sudut lain kedai, tiga orang laki-laki yang sejak tadi makan tanpa banyak bicara perlahan menghentikan gerakan tangan mereka. Mata mereka saling beradu sekejap.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.