Dironda 79 kali
Wedaran sebelumnya: Kedatangan Ki Panji Danutirta di Kotaraja jelas membawa misi penting: melemahkan Agung Sedayu. Di sebuah kedai belakang Keraton, pembicaraannya dengan Ki Panji Suralaga dan Ki Wira Sentanu mulai mengarah pada perkembangan terakhir di Menoreh. Namun sebuah nama yang muncul dalam laporan Ki Panji Danutirta membuat mereka harus kembali memperhitungkan keadaan.
Ki Panji Danutirta merenung sesaat. Nyi Banyak Patra, dalam kedudukannya sudah tentu tidak dapat disandingkan dengan mendiang Ki Patih Mandaraka. Tetapi sebagai keturunan langsung Ki Gede Pemanahan tentu perempuan itu harus tetap dalam perhitungan, pikir Ki Danutirta.
“Ki Demang Brumbung,” jawabnya setelah menambah waktu lagi untuk berpikir.
Ki Wira Sentanu menegakkan punggung, Ki Panji Suralaga menyipitkan mata.
Ki Panji Danutirta mengangguk lalu berkata, “Orang itu selain mempunyai banyak kenalan di sejumlah barak, juga pernah menjadi anak buah langsung Pangeran Purbaya. Dua keadaan itu jelas menyimpang sesuatu yang dapat memaksa kita menggeser tujuan.”
“Mungkinkah Agung Sedayu juga mengirim orang ke Kotaraja?” tanya Ki Wira Sentanu lagi.
“Sudah tentu itu dilakukan olehnya, Kyai,” jawab Ki Suralaga lirih. Dia tidak menyalahkan pertanyaan itu karena serba sedikit Ki Wira Sentanu tidak begitu paham tata keprajuritan.
“Sudah tentu pula Pangeran Purbaya akan mendapatkan laporan perihal barak pasukan khusus,” tambah Ki Panji Danutirta. “Pemeriksaan dan penilaian ulang secara menyeluruh pasti akan diperintahkan oleh Sinuhun.”
Ki Panji Suralaga mengangkat tangan seperti sedang meminta dua teman bicaranya menahan gagasan. Katanya kemudian, “Saya tidak ingin kita terburu-buru menyampaikan kabar pada Pangeran Purbaya. Malam ini atau besok pagi sudah tentu bukan waktu yang tepat, saya pikir begitu. Jika ada pertanyaan, apakah sedang menunggu sesuatu? Saya jawab, benar. Saya ingin melihat tanggapan Pangeran maupun Sinuhun.”
“Bagaimana jika Nyi Banyak Patra justru mendahului kita?’ tanya Ki Danutirta.
“Justru itulah yang saya tunggu sebelum menentukan langkah selanjutnya,” tegas Ki Suralaga.
Pembicaraan beralih lebih mendalam. Salah satunya adalah akibat yang timbul dari perang tanding Pancuran Watu Item. Mereka bicara juga mengenai luka-luka Agung Sedayu yang ternyata dapat kembali menghadapi seorang lawan di pategalan selatan.
Hari menjelang gelap ketika nama Ki Tumenggung Adiyasa mulai disebut oleh Ki Panji Danutirta.
“Ada satu hal yang sebenarnya cukup melegakan,” katanya. “Orang-orang Ki Tumenggung Adiyasa tidak sekadar menjalankan bagian yang telah direncanakan. Setiap dari mereka bertempur dengan kesungguhan dan kecakapan seperti prajurit. Bahkan, saya sempat mengira mereka itu adalah pasukan khusus dari Mangir.”
Ki Panji Suralaga mengangguk perlahan.
“Dukungan Ki Tumenggung Adiyasa memudahkan kita,” lanjut Ki Panji Danutirta. “Orang akan melihat serangan ke barak sebagai pertempuran yang sebenarnya. Tidak ada alasan untuk menghubungkannya dengan kepentingan lain di belakang mereka.”
Ki Wira Sentanu lebih banyak mendengarkan hingga kemudian dia mengangkat wajah.
“Bagaimana dengan Ki Tumenggung Adiyasa sendiri?”
Ki Panji Danutirta memandangnya dengan alis berkerut. Sementara Ki Panji Suralaga tegak menegakkan punggung.
“Seandainya tidak seorang pun dari orang-orangnya kembali,” lanjut Ki Wira Sentanu, “apa yang paling mungkin dilakukan oleh Ki Tumenggung?”
Pertanyaan itu merambat perlahan dengan tekanan yang cukup dalam. Baik Ki Panji Suralaga maupun Ki Panji Danutirta, keduanya tidak segera menjawab. Mereka tampak berpikir keras mengikuti arah pertanyaan Ki Wira Sentanu.
Sebenarnyalah di antara mereka bertiga, Ki Panji Danutirta adalah orang yang lebih baik dalam mengenal Ki Tumenggung Adiyasa lebih baik.
“Mungkin beliau tidak sedang menunggu hail,” ucap Ki Panji Danutirta kemudian. “Maksud saya, Ki Tumenggung sudah jelas mengirim bala bantuan terbaik untuk kita. Saya tidak ragukan itu. Dan sejauh pemahaman saya tentang langkah dan cara berpikir beliau…”
Ki Wira Sentanu memandang Ki Danutirta dengan sorot mata sungguh-sungguh, terlebih ucapan itu masih melayang di udara.
“Adakah kemungkinan yang lain yang tidak dikatakan pada kita?” Ki Panji Suralaga menyusulkan pertanyaan cepat pada Ki Panji Danutirta.
“itulah,” sahut Ki Panji Danutirta. “Saya sedang berpikir kemungkinan Ki Tumenggung Adiyasa mengirim lebih dari dua kelompok ke Tanah Perdikan.”
Ki Panji Suralaga menatapnya lurus.
“Satu kelompok sudah jelas bergerak bersama kita di barak,” lanjut Ki Panji Danutirta. “Tetapi Ki Tumenggung Adiyasa tidak pernah mengatakan bahwa hanya orang-orang itulah yang dikirimnya ke Menoreh.”
Ki Wira Sentanu mengangguk kecil. “Jadi menurutmu masih ada yang lain?”
“Masih terbuka kemungkinan,” ucap Ki Danutirta sambil mengangguk-angguk sementara sinar matanya seperti sudah mendapatkan gambaran.
“Untuk apa?” lanjut Ki Wira Sentanu
Ki Panji Danutirta menggeleng. “Itulah yang tidak saya ketahui tapi Ki Tumenggung Adiyasa selalu seperti itu. Selalu menyertakan satu atau dua orang atau kelompok tanpa pernah memberitahu tujuan atau kepentingan di balik tambahan itu.”
Sejenak ketiganya terdiam.
“Saya pikir jika ada kelompok pelapis pun itu mungkin sedang menjalankan kepentingan Ki Tumenggung Adiyasa sendiri,” sahut Ki Panji Danutirta. “Atau hanya melapisi saja tanpa ada pergerakan hingga beliau menentukan lain.
“Apakah pernah terjadi benturan kepentingan atau apa saja dengan pengiriman lebih dari satu kelompok atau orang?” cecear Ki Wira Sentanu tanpa ada kesan cemas atau rasa takut yang tidak berdasar.
Ki Panji Suralaga menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, lalu berkata, “Tidak. Saya pikir…atau belum pernah orang-orang di dalam barak membicarakan itu. Selain itu, yah, kita tahu Ki Tumenggung lebih memilih orang-orang yang dilatihnya sendiri di luar barak. Lagipula, kebanyakan mereka berasal dari perguruan di sekitar lingkungan kediamannya jadi wajar jika pergerakannya tidak terdengar.”
Ki Wira Sentanu menyandarkan tubuhnya kemudian ucapnya, “Kita dapat mengirim seseorang untuk mencari tahu.”
Ki Panji Danutirta mengangguk. “Itu lebih baik daripada bertanya langsung kepadanya. Kita bisa mencari tahu di sekitar Menoreh.”
“Dan bila ternyata tidak ada?” tanya Ki Suralaga.
Sebelum Ki Panji Danutirta menjawab, Ki Wira Sentanu cepat memotongnya, “Berarti kita tidak perlu cemas. Bahkan, ada maupun tidak ada, keduanya sama saja.
“Tidak ada yang hilang dari kita,” jawab Ki Panji Danutirta. Kemudian setelah diam sejenak dia menambahkan, “Tetapi bila ada, setidaknya kita tidak terlambat mengetahui bahwa Ki Tumenggung Adiyasa sedang memainkan bagiannya sendiri.”
“Aku pikir kita tidak perlu terlalu besar membuat dugaan atau menyimpulkan sesuatu yang justru berbalik pada kita,” sahut Ki Wira Sentanu lalu memandang dua kawan bicaranya itu secara bergantian.
Mereka bertiga kembali diam, tapi benak masing-masing sudah mengungkapkan bahwa keberadaan Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik di Menoreh dapat menjadi penyeimbang. Jika keadaan berubah menjadi buruk dan tidak mendukung pergerakan di Menoreh, Ki Wira Sentanu dan Ki Panji Suralaga masih percaya diri dapat mengendalikan rencana yang mungkin sedikit bergeser dari tujuan.
Selagi tiga orang itu berada di dalam kedai, seorang prajurit sandi utusan Pangeran Purbaya terlihat melintasi gerbang Kotaraja tidak lama setelah Ki Panji Danutirta dan Ki Panji Suralaga memasuki kedai.
Orang itu langsung menuju tempat yang biasa digunakan Pangeran Purbaya untuk menerima laporan-laporan khusus.
Beberapa waktu kemudian, ketika matahari telah sedikit lingsir ke barat, seorang penunggang kuda lain memasuki Kotaraja.
Ki Demang Brumbung berkuda pelan mengikuti arus orang yang melewati gerbang. Pakaiannya biasa dan sederhana. Tidak ada sesuatu pada dirinya yang dapat menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya. Setelah melewati gerbang, dia mengambil jalan yang menuju ke kediaman Pangeran Purbaya.
Ki Demang Brumbung tidak menunggu lama. Beberapa orang di kediaman itu masih mengenalnya dengan baik. Bertahun-tahun sebelumnya, dia pernah berada cukup dekat dengan lingkungan kerja Pangeran Purbaya sehingga kedatangannya tidak menimbulkan banyak pertanyaan.
Waktu bergerak menuju malam ketika Pangeran Purbaya menerimanya di pendapa dalam.
Setelah bertukar kata singkat sambil menanyakan keadaan Sinuhun dan diri masing-masing, Pangeran Purbaya mempersilakan Ki Demang Brumbung untuk menikmati hidangan ringan.
Sepotong singkong rebus dan seteguk segera memasuki lambung Ki Demang, lalu Pangeran Purbaya berkata, “Silakan, Ki Demang. Saya tidak sedang terburu-buru.”
“Saya, Pangeran,” ucap Ki Demang Brumbung. Dia kemudian melaporkan peristiwa penyerangan barak pada Pangeran Purbaya hampir menyeluruh. Dalam penyampaian itu, Pangeran Purbaya sekali-kali memotong dengan pertanyaan yang kadang panjang dan butuh penjelasan. Kadang juga pendek yang hanya butuh anggukan.
- Dalam perjalanan menuju Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru bertemu Ki Prayoga, seorang pedagang yang membawa kabar tentang keributan di Mataram. Tapi belum juga keterangan itu didapatkan, keadaan seketika menjadi genting justru saat rakit masih mengapung di atas Kali Progo. Jati Anom Obong 2.
- Kegentingan yang berbeda watak yang dialami dua murid Kyai Gringsing itu bukan satu-satunya sebab Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Bab 9 ini (Kerusuhan) mempunyai penyebab yang agak lain.
- Adipati Hadiwijaya dan orang-orang yang berada bersamanya baru kemudian mengetahui bahwa kabar tersebut tidak semata-mata berhubungan dengan perkembangan di Demak tapi juga babak akhir Majapahit. Pangeran Parikesit menjelaskan siasat yang sudah dilakukannya di Lereng Merbabu 8.
