0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 77 – Bersama Ki Wira Sentanu di Sebuah Kedai

Dironda 60 kali

Wedaran sebelumnya: serangan demi serangan, gangguan demi gangguan akhirnya bakal tiba di Kotaraja. Sejumlah orang sedang menyiapkan gerakan untuk melemahkan Agung Sedayu, jika mungkin mencopotnya dari kedudukan pemimpn pasukan khusus Mataram.

Gerbang Kotaraja sudah terlihat. Ki Panji Danutirta segera memperlambat kudanya. Namun dia tidak mengarahkan tunggangannya menuju jalan yang akan membawanya melewati gerbang.

Beberapa puluh langkah sebelum jalan menjadi semakin ramai, dia berbelok ke selatan.

Jalan yang ditempuhnya kemudian sedikit memutar. Rumah-rumah semakin jarang dan kesibukan orang-orang yang menuju Kotaraja perlahan tertinggal di belakang. Ki Panji Danutirta terus berkuda hingga sampai pada sebuah jalan tanah yang menuju ke hamparan lapang agak jauh dari jalur utama.

Tempat itu sebenarnya bukan tempat yang tersembunyi. Dari kejauhan, orang yang kebetulan melintas masih dapat melihat sebagian tanah lapang tersebut. Tidak ada pagar tinggi, gerbang tertutup, ataupun penjagaan berlapis yang menandakan bahwa tempat itu terlarang untuk didatangi.

Namun tempat itu juga seperti bukan tujuan banyak orang. Sebagian sudah mengerti kegunaan dari tempat yang kerap didatangi oleh beberapa kelompok prajurit. Namun begitu, orang-orang pun tidak begitu menaruh perhatian jika berpapasan dengan orang-orang bertubuh tegap tapi berpakaian biasa saja. Yang sudah menjadi keadaan keseharian adalah tidak banyak orang mempunyai keinginan untuk mendekat atau melihat meski sebentar saja.

Suara benturan senjata terdengar berselang-seling dari tengah lapangan. Sesekali disusul aba-aba pendek yang diucapkan dengan keras. Beberapa kelompok prajurit bergerak dalam jarak tertentu antara satu dengan lainnya. Ada yang berlatih dengan senjata, sebagian lainnya bergerak dalam kelompok-kelompok kecil dengan susunan gelar yang telah ditentukan.

Ki Panji Danutirta terus mendekat, memintas jalan setapak. Sebentar kemudian, dia sudah berada di tepi tanah lapang.

Beberapa orang yang berada di sisi lapangan mulai memperhatikannya. Tidak seorang pun yang menghampir, tetapi dua prajurit menghentikan percakapan mereka, memandang penunggang kuda itu lalu mengangguk.

Ki Panji Danutirta membalas sapaan itu dengan sekali lambaian tangan. Untuk sesaat dia tampak seperti mengamati orang-orang yang sdang berlatih. Dia mengenal tempat tersebut. Lebih dari itu, dia mengenal baik orang yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan pasukan pengawal ibukota, Ki Tumenggung Adiyasa.

Berbekal keterangan yang didapatnya dari penghubung yang dikirim Ki Tumenggung Adiyasa, maka kedatangannya di tempat latihan itu adalah menemui Ki Panji Suralaga.

Sebelum dia mengarahkan kuda ke tempat pertemuan, ternyata Ki Panji Suralaga telah mengetahui kedatangannya. Saudara seperguran Ki Wira Sentanu ini melangkah cepat tapi tidak terkesan terburu-buru.

Melihat Ki Suralaga mendekat padanya, Ki Panji Danutirta melompat turun dari kudanya.

Usai bercakap singkat, mereka berdua berjalan menjauh dari lapangan. Tidak ada gerakan yang menarik perhatian. Ki Panji Suralaga sesekali memandang orang-orang yang sedang berlatih, sedangkan Ki Panji Danutirta berdiri di samping kudanya dengan kendali masih berada di tangan.

Beberapa saat kemudian Ki Panji Suralaga memanggil salah seorang prajurit. Dia memberikan beberapa pesan singkat mengenai latihan yang masih berlangsung, lalu meninggalkan tempat latihan bersama Ki Panji Danutirta.

Dua ekor kuda kemudian berjalan berdampingan menuju jalan yang tadi tidak dilewati Ki Panji Danutirta.

Mereka tidak mencongklang kuda dengan cepat. Justru segala hal tampaknya mengalir tenang dan seolah dalam kendali dua orang itu.

Semakin dekat dengan Kotaraja, semakin tampak pula kesibukan yang kian pada di dalam kota. Belasan pedati bergerak perlahan di antara orang-orang yang berjalan kaki. Beberapa penunggang kuda datang dari arah berlawanan, sementara di sisi jalan tampak orang-orang membawa barang dagangan maupun keperluan lain. Sebagian lagi seperti sedang tawar menawar barang dagangan di tepi jalan.

Ki Panji Suralaga dan Ki Panji Danutirta akhirnya melewati gerbang bersama arus orang yang keluar masuk Kotaraja. Tetapi mereka tidak menuju Keraton.

Setelah melewati beberapa persimpangan jalan, mereka mengambil arah yang membawa mereka memutar ke bagian belakang lingkungan keraton. Keramaian masih terasa, meskipun tidak serapat jalan-jalan yang menjadi jalur utama. Beberapa kedai berdiri berjajar tidak teratur di antara bangunan lain yang lebih kecil.

Dua orang ini mengarahkan kudanya menuju salah satunya.

Kedai itu tidak mempunyai sesuatu yang istimewa dibandingkan dengan kedai-kedai lain di sekitarnya. Bila ada yang harus dibandingkan hanyalah latar belakang pengunjung. Kedai itu lebih banyak disambangi oleh sebagian besar pelayan Keraton dan Kepatihan. Di luar itu, orang tetap datang untuk makan, minum, atau sekadar melepaskan penat sebelum melanjutkan urusan masing-masing. Letaknya yang berada di belakang lingkungan Keraton membuat beberapa orang yang bekerja atau mempunyai kepentingan di dalam Keraton kadang-kadang singgah di sana.

Ki Panji Suralaga dan Ki Panji Danutirta turun dari kuda.

Mereka memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan jalan, tetapi masih memungkinkan keduanya memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi. Minuman kemudian terhidang di hadapan mereka.

Tidak ada sesuatu yang perlu mereka lakukan selain menunggu.Tidak ada pula percakapan.

Baik Ki Panji Suralaga maupun Ki Panji Danutirta mengenal Ki Wira Sentanu yang pasti keluar dari lingkungan Keraton saat sore hari. Mungkin sekadar beristirahat setelah berada cukup lama di dalam, mungkin mencari makan atau minum, atau ada keperluan lain yang membawanya keluar. Maka dua orang ini pun tidak perlu mencarinya ke dalam.

Ki Panji Suralaga telah memesan minumannya, tatap matanya sesekali mengarah ke jalan. Di seberangnya, Ki Panji Danutirta menunggu dalam diam.

Agak lama dan benar-benar seperti yang mereka kenal dari kebiasaan Ki Wira Sentanu.

Pelayan dalam yang bertugas di sekitar Sunan Agung itu tampak keluar melalui sebuah pintu butulan di dinding halaman keraton. Tubuhnya sedikit merendah ketika melewati pintu kecil itu sebelum kembali tegak di sebelah luar.

Ki Wira Sentanu melanjutkan langkah dengan tenang menyusuri jalan di belakang keraton.

Ki Panji Suralaga melihatnya.

Namun dia tidak memberikan tanda apa pun kepada Ki Panji Danutirta. Tangannya tetap berada di dekat mangkuk minuman, sementara pandangannya segera beralih seolah kemunculan orang yang mereka tunggu bukan sesuatu yang perlu mendapat perhatian khusus.

Beberapa saat kemudian Ki Wira Sentanu telah berada di depan kedai. Langkahnya tidak berubah ketika memasuki tempat itu. Pandangannya menyapu bagian dalam kedai sekilas sebelum melihat Ki Panji Suralaga lalu Ki Panji Danutirta. Tidak tampak keterkejutan pada wajahnya lantas berjalan menuju tempat kedua orang itu berada. Seolah-olah dia sudah mengetahui bahwa hari itu adalah hari kedatangan Ki Panji Danutirta atau mungkin dia memang benar-benar tidak berprasangka macam-macam.

Untuk beberapa saat, ketiganya belum mengatakan sesuatu yang penting. Ki Wira Sentanu lantas bertukar pandang dengan saudara seperguruannya, Ki Panji Suralaga seakan sepakat untuk menunggu Ki Panji Danutirta memulai percakapan.

“Barak akhirnya dapat ditembus,” ucap Ki Panji Danutirta lalu memandang dua orang itu bergantian. Kemudian dia mengatakan rincian hampir semua rencana termasuk saat menyerbu kediaman Ki Gede Menoreh.

“Saya tidak dapat bergerak lebih ke dalam,” katanya sejenak sebelum menghela napas panjang. “Nyi Banyak Patra ternyata berada di sana. Mungkin dia sudah di Menoreh beberapa hari sebelumnya, tapi tepatnya, saya tidak mendapatkan laporan.”

“Perempuan tua yang licin,” sahut Ki Wira Sentanu sedikit gemas. Dia ingat betul kejadian saat dirinya masuk beriringan  bersama Agung Sedayu ke dalam bangsal pertemuan. Saat itu Sinuhun telah berada di dalam bersama Pangeran Purbaya dan Nyi Banyak Patra.

Kata Ki Wira Sentanu kemudian, “Perempuan tua itu tidak banyak berbicara, tetapi dari matanya, aku tahu bahwa dia sedang menunggu sesuatu.”

“Atau mungkin merasa berhasil menyingkap sesuatu?” tanya Ki Panji Danutirta.

Ki Wira Sentanu menggeleng. Dia sadar bahwa tidak mungkin untuk menceritakan yang terjadi sepanjang malam di kediaman Pangeran Purbaya. Dia tentu harus menahan keterangan tentang Agung Sedayu yang tiba-tiba sudah selangkah atau dua langkah di di belakangnya ketika menaiki tlundakan. Yah, tentu saja peristiwa itu akan membuatnya malu di depan dua panji Mataram tersebut.

Mereka berbincang lebih dalam lagi. Beberapa keadaan tidak lepas dari pengamatan mereka bertiga.

“Apakah ada seseorang yang mungkin menjadi penghalang selain Nyi Banyak Patra?’ tanya Ki Panji Suralaga.

  • “Apakah Toh Kuning memberi perintah pada kalian untuk menemuiku di sini?”tanya Gubah Baleman saat Penyelamatan 3.
  • Percakapan ringan antara Ki Prayoga dengan Agung Sedayu, jika Anda membaca Jati Anom Obong 2, apakah ada tanda-tanda mengarah ke perkelahian yang sulit dilupakan?
  • Miliki segera format PDF seluruh kisah Kitab Kyai Gringsing dengan keuntungan: tidak memakan tempat di perangkat Anda. Tersimpan rapi dalam google drive. Mahar? Itu penting supaya situs tetap terus berproduksi dan bertahan dengan segala kemerdekaan biaya bagi pembaca yang lain.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.