Dironda 49 kali
Wedaran sebelumnya: Tiga anak muda kepercayaan Agung Sedayu benar-benar mengubah keseimbangan gelanggang pertempuran pategalan selatan.
Lagi-lagi, orang-orang di sekitar arena pertarungan Agung Sedayu dan Ki Jabon Seta dikejutkan oleh perubahan yang luar biasa. Mereka benar-benar menyaksikan sebuah pertarungan yang jarang sekali terjadi dan sulit untuk terulang lagi.
Di antara kepulan debu yang mulai tebal dan bercampur dengan selaput kabut yang tipis, sebilah keris yang tergenggam di tangan Ki Jabon Seta dan mengeluarkan pendar biru tiba-tiba terlepas tapi benda itu tidak jatuh! Keris itu melayang di sisi tubuh pemiliknya, berputar cepat di dekat lengannya, kemudian bergerak mengitari tubuhnya dengan lintasan yang pendek dan tajam.
Ki Jabon Seta terus bergerak. Pergeserannya yang terus menerus seperti menjadi cara meniupkan debu atau kerikil atau daun kering untuk mengitari gelanggang mereka. Dan setiap kali dia berputar, dua keris tiba-tiba menyambar Agung Sedayu dengan kecepatan tidak terkira sementara pertarungan merka berlangsung dalam jarak yangcukup dekat. Bukan sepuluh atau tujuh langkah.
Dua bilah keris kedua melayang di udara tapi bukan untuk pertunjukkan anak-anak atau pasar malam. Dua bilah itu adalah alat tempur yang sangat mematikan!
Dua benda itu tidak berputar liar. Masing-masing bergerak dalam lintasan yang terkendali, mendekati lengan, menjauh beberapa jengkal, kemudian kembali melintas di sisi tubuhnya dan Ki Jabon Seta belum berhenti bergerak.
Tubuhnya menjadi pusat dari dua lintasan itu dengan sepasang lengan yang bergerak-gerak dengan rapi dan hampir seperti orang yang sedang mengendalikan layang-layang di tengah angin. Hanya saja tidak ada benang yang tampak di antara tangannya dan kedua keris itu.
Sepasang keris itu saling berpotongan menyilang, dari samping kiri dan kanan, dari depan dan belakang sedangkan Ki Jabon Seta tetap berusaha melibas Sedayu dengan serangan-serangan mematikan dari tenaga cadangan yang dilontarkan dari jarak yang cukup dekat.
Dua keris itu… seolah-olah ada tali panjang yang mengikat kedua bilah itu pada tangan yang berada jauh di luar medan pertempuran. Padahal jarak antara Ki Jabon Seta dan Agung Sedayu tidak sampai lima langkah. Jadi, tidak mungkin ada tangan lain yang mengendalikan sepasang benda tersebut tetapi gerak keduanya benar-benar menyerupai sesuatu yang ditarik dari kejauhan.
Ini pertarungan yang sulit dimengerti!
Maka yang tampak kemudian adalah Agung Sedayu berada di dalam kungkungan besar bola cahaya, sementara cambuknya terus bergerak, melingkarinya—menjadi perisai yang benar-benar sulit ditembus hantaman lawan.
Meski sebenarnya tubuh Agung Sedayu sendiri pun sudah tidak terlihat karena saking cepatnya dia bergerak, begitu pula cambuk dan juga lawannya.
Cambuk di tangannya berputar jauh lebih cepat daripada gasing yang berputar di atas tanah. Lingkarannya menjadi pagar yang terus bergerak di sekeliling tubuhnya.
Yang tampak oleh orang-orang yang melihat hanyalah pendar biru kedua keris yang saling menyilang dan berkas hijau cambuk Sedayu yang berpilin di antara keduanya. Semua itu bergerak begitu cepat sehingga mereka tidak lagi mampu melihat tubuh dua petarung itu dengan jelas. Yang mereka saksikan hanyalah pusaran gerak yang dipenuhi pendar biru dan putaran hijau yang silih berganti.
Ilmu yang menakutkan. Ilmu yang sangat langka. Ilmu yang sangat sulit dipahami tapi nyata sedang diungkapkan oleh dua petarung kelas tinggi tersebut.
‘Dalam pada itu’, Ki Jabon Seta benar-benar tidak menyisakan ruang maupun waktu bagi Agung Sedayu. Serangannya datang bertubi-tubi dari berbagai arah. Ki Jabon Seta bergerak ke kiri dan kanan, berpotongan dan tidak benar-benar berada di lintasan yang lurus. Waktu yang bersamaan, sepasang kerisnya meluncur dengan lintasan yang tidak mengenal batas arah. Satu melengkung dari kiri, yang lain menyusuri tanah lalu menanjak tajam. Kadang sebilah menyerang bagian kanan, satu lagi menukik dari atas. Keduanya bergerak seperti memiliki mata sendiri, dan selalu menemukan ruang yang terbuka di antara putaran cambuk Sedayu.
Debu tipis berhamburan mengikuti salah satu keris. Kabut terus melingkar-lingkar mengiringi arah putaran cambuk Sedayu.
Titik demi titik, ujung dari sepasang keris itu sanggup menggapai Agung Sedayu yang sudah mencapai puncak ilmu kebalnya. Tampak ada bercak merah yang bercampur keringat dan debu, tapi Agung Sedayu pun juga mampu menyusupkan cambuknya pada beberapa bagian tubuh Ki Jabon Seta. Namun begitu, ketika pertarungan makin menanjak menuju batas tertinggi, lecut cambuk Sedayu sudah tak lagi mengeluarkan suara.
Yang dirasakan Ki Jabon Seta tidak kalah menggetarkan. Pada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, terasa denyut nyeri yang dalam. Bukan sekadar perih pada kulit atau luka yang dapat diabaikan dengan mengatupkan gigi. Rasa sakit itu seperti menjalar dari bagian luar menembus daging dan merambat ke dalam tubuh, berdenyut mengikuti setiap tarikan napas dan setiap gerak yang dilakukannya.
Namun Ki Jabon Seta tidak memberi kesempatan kepada rasa sakit itu untuk mengambil alih kesadarannya.
Dia terus menyerang karena dia memahami satu hal yang jauh lebih penting. Dalam keadaan seperti itu, berhenti menyerang berarti memberikan ruang kepada lawannya. Dan ruang terkecil akan menjadi kesempatan bagi cambuk Sedayu untuk membidik sasaran dengan tepat.
Karena itu, Ki Jabon Seta terus mengerahkan segenap kemampuan tanpa ada yang tersisa.
Agung Sedayu pun memahami keadaan yang hampir serupa. Dia telah beberapa kali tersentuh ujung keris meski lapisan ilmu kebalnya sudah tidak main-main dan sulit dipercaya. Bercak merah mulai tampak di antara keringat yang membasahi tubuhnya. Sama pula kesadaran yang muncul dalam diri Agung Sedayu.
Menyerang adalah pertahanan terbaik.
Selama cambuknya terus mencari tubuh lawan, selama itu pula dia dapat memaksa Ki Jabon Seta harus menghindari atau menahan setiap serangan, maka selama itu pula tekanan kerisnya tidak dapat berkembang dengan leluasa.
Demikianlah kedua orang itu terus bertarung dalam keadaan sama-sama menanggung akibat dari benturan ilmu mereka.
Ki Jabon Seta menyerang karena berhenti berarti membuka celah. Agung Sedayu menyerang karena bertahan tanpa serangan berarti mati.
Maka pertempuran itu menjadi semakin hebat dan terus menghebat.
Dua ilmu yang telah mencapai tingkatan yang sulit dijangkau orang lain beradu tanpa memberikan kesempatan untuk bernapas. Keris dan cambuk terus bersilang, saling mencari ruang di antara gerak lawan, sementara nyawa seolah sudah berada di ujung rambut ketika tidak waktu meski hanya untuk berkedip dua kali.
Dan bagi keduanya, tidak ada pilihan lain: selangkah mundur berarti mati. Selangkah maju berarti tumbang.
Sedangkan dalam keadaan seperti itu, menyerang adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan.
Hingga pada suatu kesempatan, Agung Sedayu mengubah cara memegang cambuknya.
Di antara kemelut yang sulit dimengerti, tangan Agung Sedayu bergeser dan menangkap cambuk pada bagian tengahnya. Seketika cambuk yang semula bergerak sebagai satu kesatuan itu berubah.
Kini kedua ujungnya berada di sisi yang berbeda.
Agung Sedayu memegang bagian tengah cambuk itu dengan sebelah tangan, lalu menggerakkan tubuh dengan putaran yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Dua ujung cambuk melingkar dalam lintasan masing-masing. Yang satu menyambar dari samping, sementara ujung yang lain meluncur dari arah berbeda, kemudian keduanya dapat bertemu kembali dalam satu putaran yang sulit diduga.
Ki Jabon Seta terkejut bukan main!
Selama ini dia telah membaca gerak cambuk Sedayu sebagai satu lintasan. Dia mengenali arah putaran, memperhitungkan jarak, lalu mencari ruang di antara lecutan yang datang. Tetapi kini cambuk itu seperti telah berubah menjadi dua senjata yang bergerak bersamaan.
Satu gerakan melahirkan dua ancaman. Dia merasa seperti sedang bertarung dengan dirinya sendiri yang mengendalikan sepasang keris dengan kemampuan yang nyaris serupa.
Bahkan suara cambuk pun berubah.
Ki Jabon Seta segera pula tata geraknya tetapi penyesuaian itu tidaklah cukup.
Serangan Agung Sedayu telah benar-benar menjadi berbeda.
Kalau sebelumnya cambuknya bergerak seperti seekor ular yang mencari celah, sekarang dua ujung cambuk itu seolah menjadi sepasang ular yang luar biasa cepatnya berusaha mematuk pergelangan tangan Ki Jabon Seta.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan mencapai puncaknya, orang itu merasakan bahwa ruang geraknya semakin sempit. Dan Agung Sedayu tidak memberinya kesempatan membenahi diri atau kedudukan.
Pertarungan itu pun memasuki bentuk yang sama sekali baru ketika Agung Sedayu benar-benar secara penuh menggunakan tata gerak yang bersumber lurus dari Perguruan Windujati. Meskipun sepasang keris tetap meliuk-liuk dan menyambar-nyambar, namun permainan cambuk Sedayu makin sulit dimengerti oleh lawannya dan makin sulit dinalar oleh orang yang sedang melihatnya.
- Banyak pula orang yang melihat Kyai Rontek berseru, “Serahkan Pangeran Benawa!” Tapi para cantrik padepokan Ki Kebo Kenanga teguh pendirian. Mereka sedang Berhitung 8.
- Bukan bermaksud membandigkan tapi Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh sama sekali tidak punya nyali menculik seorang pangeran, buyut dari Raden Fatah, cucu Sultan Trenggana!
- Bayangkan ada peristiwa begini: seorang perwira militer berkata, “Kita tidak sedang melawan seorang Trenggana tetapi juga sekumpulan orang-orang yang berpengaruh padanya. Namun, kita tahu bahwa Arya Trenggana bukan orang bodoh.”…. Salah apa sebenarnya Sultan Trenggana hingga pasukannya pun keluar dari barisan? Lamun Parastra 32 menceritakan itu pada kita semua.
