Dironda 77 kali
Wedaran sebelumnya: Ilmu puncak Agung Sedayu masih terus menemui kebuntuan ketika akan dilontarkan. Sepasang keris terbang Ki Jabon Seta benar-benar menjadi hambatan yang sangat hebat!
Ah! Ternyata perubahan itu bukanlah puncak dari keseluruhan tata gerak Agung Sedayu. Tiba-tiba tangan Agung Sedayu tiba-tiba terbuka. Cambuk itu terlepas seluruhnya. Namun tidak sampai sekejap, cambuk panjang tersebut melayang dan berputar dahsyat di udara. Ujungnya mengarah kepada Ki Jabon Seta dan membentuk lingkaran yang semakin mengecil, seolah hendak membelit tubuhnya. Geraknya seperti jerat yang dilemparkan seorang penunggang untuk menangkap hewan yang berlari.
Ki Jabon Seta menggeser kedudukan tetapi Agung Sedayu seketika melesat.
Aliran puncak cambuk dengan luar biasa teralih dari senjata itu lalu mengaliri sepasang lengan Sedayu. Pendar ungu kebiruan terlhat menyelimuti telapak tangannya, tenaga cadangan dari Perguruan Windujati cepat menjalar di bawah kulit.
Ki Jabon Seta melihatnya.
Namun saat itu Agung Sedayu telah berada di hadapannya lalu menghantam dada Ki Jabon Seta dengan dua telapak tangannya yang memendar ungu.
Benturan terjadi.
Ki Jabon Seta terdorong surut. Kedua kakinya masih menjejak tanah. Tubuhnya bergeser beberapa langkah ke belakang, menahan dorongan yang datang begitu deras. Agung Sedayu seperti tertahan oleh kekuatan yang sama besar maka nyaris bersamaan dengan benturan itu, sebuah keris melesat dari belakang.
Ujungnya telah berada sangat dekat dengan punggung Sedayu ketika dorongan tubuhnya mendadak berkurang. Keris itu menancap pada bagian belakang lengan atasnya, di bawah bahu.
Tidak dalam karena Agung Sedayu belum sepenuhnya melepas ilmu kebalnya. Namun karena jarak dan perubahan kecepatan Agung Sedayu maka keris yang telah melesat begitu cepat tetap mampu menembus sebagian pertahanan itu.
Darah pun mengalir.
Dan tenaga cadangan yang mengalir deras dari telapak tangan Sedayu pun semakin kuat. Menekan—seperti sedang membenamkan Ki Jabon Seta dan itulah yang terjadi.
Mereka bergeser tapi sepasang kaki Ki Jabon Seta makin dalam tertanam. Mula-mula sebatas telapak, kemudian semakin dalam ketika Agung Sedayu menghentak kekuatan.
Ki Jabon Seta menggeram sambil mengatupkan gigi. Tubuhnya masih
berusaha bertahan, tetapi kedua kakinya telah tertanam sampai sebatas lutut.
Tubuhnya masih tegak, tetapi sudah tidak lagi mampu menahan kekuatan Agung Sedayu yang berlandaskan ilmu Perguruan Windujati.
Napas Ki Jabon Seta terputus. Tubuhnya kemudian tumbang, sementara kedua kakinya masih terbenam di dalam tanah sampai sebatas lutut. Debu berhamburan, kemudian semuanya menjadi sunyi.
Keris yang tadi menancap dangkal pada lengan Sedayu terlepas.
Agung Sedayu berdiri tepat di hadapan tubuh Ki Jabon Seta. Sorot matanya tegas memandang wajah lawannya yang telah tidak bergerak. Murid Ki Gringsing itu tidak ingin membiarkan pikirannya berkelana. Dia menduga barak telah ditembus pada beberapa bagian. Dalam segala keadaan di sebuah pertempuran, sejumlah orang pasti terluka dan sebagian lagi mungkin tidak akan dapat meneruskan hidup. Tetapi dia sudah menyerahkan kendali mengenai keadaan itu semua pada Ki Demang Brumbung dan seluruh lurah di barak pasukan khusus.
Pertarungan pategalan selatan telah selesai.
Sisa kemelut di dalam dan sekitar barak pun perlahan menyusut. Tidak ada lagi keadaan yang harus dicemaskan, termasuk kediaman Ki Gede Menoreh dan lingkungan sekitarnya. Keberadaan Nyi Banyak Patra telah pula diketahui Agung Sedayu melalui pengawal Tanah Perdikan, tapi pengamanan kediaman telah diserahkan sepenuhnya pada Mpu Wisanata yang kemudian dibantu Sayoga pada lapis pertama.
Namun untuk sementara waktu, Agung Sedayu masih berdiri dalam diam, dengan suatu rasa yang terhubung secara khusus kepada Yang Maha Agung.
Sukra dan Sayoga bertukar pandang. Mereka melihat yang berlangsung di depan mata, tapi pertanyaan yang tidak terucap oleh mereka adalah: bagaimana rangkaian gerak Agung Sedayu hingga pelepasan ilmunya sehingga tiba-tiba yang tampak hanyalah Ki Jabon Seta yang tumbang dengan kaki tertanam?
Kinasih memejamkam mata sejenak. Dia mempunyai pikiran dan perasaan yang berlainan dengan dua anak muda di sebelahnya. Serba sedikit dia dapat menyaksikan rangkaian gerak walau tetap kabur, tapi itu bukan pokok pikirannya pada pagi itu.
Sementara di dalam barak, perkelahian yang tersisa sudah tidak ada lagi dianggap mencemaskan. Ki Demang Brumbung yang dibantu Ki Lurah Prana Aji dan Ki Lurah Sora Sareh tanggap dan cekatan menyelesaikan bagian-bagian yang dianggap penting sebelum menyerahkan pada beberapa lurah muda.
Sedikit jauh dari kesibukan yang mulai padat, Sabungsari tampak duduk seorang diri di ambang pintu bilik rawat Swandaru.
Tidak banyak orang yang memberikan perhatian kepada mereka berdua. Namun Sabungsari paham bahwa Swandaru belum sepenuhnya pulih dan belum dapat diajak berbicara banyak. Ada pula sesuatu yang jauh lebih berat yang sedang dipikulnya.
Kekalahan dalam pertarungan melawan Agung Sedayu, kakak seperguruan yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan ilmunya, tentu belum mudah diterima. Di sisi lain, keadaan rumah tangganya dengan Pandan Wangi juga sedang tidak baik-baik saja.
Karena itu, Sabungsari tidak banyak membuka pembicaraan. Dia hanya mengatakan hal-hal yang perlu disampaikan, kemudian membiarkan Swandaru beristirahat dalam diam. Tidak ada gunanya memaksa percakapan ketika hati dan pikiran seseorang sedang dipenuhi terlalu banyak hal yang belum selesai.
Namun ada alasan lain yang membuat Sabungsari memilih tetap berada di sana.
Dalam segala keadaan, dia tidak dapat meninggalkan Swandaru seorang diri. Sabungsari sudah mendengar kabar Tanah Perdikan Menoreh banyak menerima kedatangan orang-orang atau perguruan yang ingin membalas dendam pada Agung Sedayu. Kecamuk perasaan mereka tentu tidak berhenti hanya pada kekalahan pada masa lalu.
Jalan yang lebih mudah dapat saja dicari, dan Swandaru adalah salah seorang yang mungkin berada dalam jangkauan pelampiasan itu. Karena itu, keberadaan Sabungsari di ambang bilik bukan semata-mata untuk menemani seorang kawan yang sedang sakit.
Dia sedang berjaga.
Tidak banyak yang dilakukannya selain memastikan keadaan Swandaru, sesekali memperhatikan keadaan di sekeliling, lalu kembali duduk dalam diam.
Bahkan ketika tidak ada sesuatu pun yang terjadi, Sabungsari tetap tidak beranjak.
Untuk sementara waktu, Swandaru tidak memerlukan banyak kata. Dalam pikirannya, dia merasa tidak memerlukan seseorang untuk berada di dekatnya. Tapi menyuruh Sabungsari pergi juga tidak mungkin. Swandaru sudah tentu menduga kehadiran Sabungsari di dekatnya adalah perintah dari Agung Sedayu.
Dia sendiri, Swandaru, tidak merasa gentar sekalipun mendengar sorak-sorai serta pekik perang di luar bilik rawat. Dia sudah menetapkan hatinya akan bertarung seandainya barak benar-benar dapat dikuasai lawan. Namun dalam hati kecilnya, Swandaru sempat pula merasa bangga bahwa tanpa kehadiran langsung kakak seperguruannya ternyata barak tetap kokoh.
Ketika langit timur telah penuh semburan merah, kuda yang ditunggangi Ki Panji Danutirta bergerak dalam kecepatan yang tetap. Tidak pelan, tetapi juga tidak dipacu. Derap kakinya menapak teratur di atas jalan yang menuju ke tepian Kali Progo.
Pagi telah berkembang semakin terang. Jalan yang dilaluinya mulai ramai oleh orang-orang yang keluar dari padukuhan. Dari balik halaman dan kebun, sejumlah orang telah mengisi hari lebih awal. Sesekali Ki Panji Danutirta berpapasan dengan pedati atau orang yang memikul barang. Beberapa menepi ketika melihatnya datang, kemudian kembali melanjutkan perjalanan setelah kuda itu lewat.
Ki Panji Danutirta tidak banyak memperhatikan mereka. Tubuhnya mengikuti ayunan punggung kuda, sedangkan pandangannya lebih sering lurus ke depan.
Menjelang tepian Kali Progo, jalan mulai menurun. Dari sela pepohonan tampak permukaan sungai yang lebar dengan aliran air yang berkilat ditimpa cahaya pagi. Dermaga penyeberangan berada tidak jauh dari tikungan ujung jalan.
Beberapa rakit siap mengantar orang-orang yang mempunyai keperluan di sisi timur sungai, dan Ki Panji Danutirta termasuk salah satunya.
Ki Panji Danutirta berjalan pelan di samping kuda, menanti giliran kemudian naik ke atas rakit. Dia tidak banyak bicara dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya tegur dan sapa seperlunya. Dalam keadaan itu, setiap mata pun memandang Ki Panji sebagai orang biasa hanya sedikit lebih dari kebanyakan karena pakaiannya. Tidak tampak dari cara maupun sikapnya yang memperlihatkan bahwa dia sebenarnya seorang petinggi Mataram
Di atas rakit terdapat beberapa pikulan, keranjang, serta perkakas yang agaknya akan dibawa menyeberang. Orang-orang itu bukan seperti akan menempuh perjalanan jauh. Dari pakaian dan peralatan yang dibawa, sebagian tampaknya petani atau orang-orang yang memperoleh pekerjaan di persawahan sebelah timur Kali Progo, atau berdagang.
Suara percakapan mereka terdengar bercampur dengan bunyi air yang menghantam lambung rakit.
Kehidupan pagi berjalan sebagaimana biasanya. Orang pergi ke sawah. Pedagang membawa barang. Rakit menunggu penumpang sebelum menyeberangi sungai.
Tidak seorang pun di tempat itu mempunyai alasan untuk mengetahui yang telah terjadi beberapa waktu sebelumnya di barak pasukan khusus Mataram.
Ki Panji Danutirta menarik napas panjang. Pikirannya bekerja sunyi, barak itu memang tidak jatuh ke tangannya. Kelompoknya memang tidak berniat merebut barak dari tangan Agung Sedayu, tapi yang lebih penting adalah mereka telah berhasil menjebolnya.Dan perkara itulah yang sedang dibawanya menuju Kotaraja.
Ki Panji Danutirta tiba di sisi timur Kali Progo ketika matahari sudah berada di ketinggian setengah tiang jemuran.
Kuda yang ditungganginya berjalan dalam kecepatan yang tetap. Tidak terlalu pelan, tetapi juga tidak dipacu. Jalan menuju dermaga mulai tampak ramai oleh orang-orang yang hendak menyeberang ataupun mereka yang baru datang dari Tanah Perdikan dan sekitarnya.
Di penghujung jalan inilah rencana berikutnya akan dimulai. Beberapa orang akan ditemuinya, termasuk Pangeran Purbaya dan Sunan Agung. seberang sungai itulah jalan menuju Kotaraja akan dilanjutkannya. Dalam pikirannya, dia tidak lagi mempunyai rencana lain selain membawa kabar itu pada dua orang terhormat di Mataram. Menjadi pemimpin pasukan khusus memang menjadi tujuannya meski bukan satu-satunya. Ki Panji Danutirta tahu persis yang diinginkan dan itu tidak perlu diungkap pada orang lain, termasuk Ki Wira Sentanu maupun Ki Panji Suralaga dan Ki Tumenggung Adiyasa.
Kabar itu harus sampai ke Kotaraja.
- Justru peristiwa sebaliknya terjadi di Panarukan ketika siasat Mpu Badandan berhadapan langsung dengan kecerdasan Raden Trenggana yang terwujud dalam pengaturan kapal perang dengan susunan tertentu Pertempuran Panarukan 2. Awalnya saya bertanya sendiri, mampukah Blambangan menahan hujan bola-bola api dari pucuk meriam armada Demak? Akhirnya saya pun harus membaca wedaran tersebut karena tidak ada pilihan lain.
- Sejujurnya, pelemahan Agung Sedayu secara politik dan sedang dilakukan Ki Panji Danutirta ini hampir membuat saya berhenti lalu istirahat dari meneruskan kisah Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Sekarang malah terpikir, apa lagi yang dapat mendorong saya terus melanjutkan hingga bab 10? Apakah harus duduk bersama Untara dan Agung Sedayu terlebih dulu? Saya menunggu Anda turut berembug di Membidik 4?
