0%
Still working...

Stasiun yang Menunggu Kereta

Dironda 56 kali

Cerita pendek — Kalisat, 1948

Malam turun di Kalisat bersama kabut tipis yang merayap dari kebun-kebun tembakau. Lampu-lampu minyak di sekitar stasiun menyala redup, sementara langit menggantung hitam di atas rel yang membelah tanah Jember.

Jaka berdiri di dekat tiang peron, memeluk sebuah buntalan kain lusuh. Dia sudah menunggu hampir satu jam.

Menurut kabar yang diterimanya di sebuah warung, kereta dari arah timur akan tiba sebelum tengah malam. Kereta itu akan membawanya ke tempat yang lebih aman. Setidaknya, begitulah harapannya sejak dirinya meninggalkan kampungnya tiga hari lalu, ketika suara tembakan dan teriakan membuat kampungnya tak lagi terasa seperti rumah.

Terlebih pada malam hari.

Jaka melirik jam tua di dinding stasiun. Jarumnya menunjukkan pukul sebelas lewat tujuh belas menit. Aneh, pikirnya. Sejak tadi jarum panjang itu seperti tidak bergerak. Lantas dia mengalihkan pandangan.

Peron semakin ramai.

Lelaki-lelaki berkopiah berdiri berkelompok. Seorang perempuan menggendong bayi sambil menggenggam tangan anak kecil. Dua serdadu berseragam kusam duduk di bangku kayu, senapan disandarkan pada lutut. Di dekat pintu ruang tunggu, seorang penjual kopi sibuk menuangkan minuman dari cerek seng.

Jaka menghela napas lega. Setidaknya, dia tidak sendirian.

Lalu terdengarlah dengung jauh dari balik bukit. Kemudian semakin jelas, semakin dekat.

Derit roda besi. Dentuman sambungan rel. Peluit panjang yang membelah malam.

Kereta datang.

Orang-orang di peron bergerak serentak. Para lelaki mengangkat bawaan masing-masing. Perempuan itu merapatkan gendongan bayinya. Kedua serdadu berdiri. Penjual kopi menurunkan ceretnya dan berteriak menawarkan dagangan.

Jaka ikut maju ke tepi peron.

Dari balik kabut, lampu lokomotif muncul seperti mata raksasa. Uap putih mengepul di atas rel. Rangkaian gerbong hitam meluncur perlahan, lalu mengerem dengan suara menggerus yang membuat gigi Jaka ngilu. Tak lama, kereta berhenti tepat di hadapannya.

Pintu-pintu terbuka.

Para penumpang turun dan naik. Ada yang tergesa-gesa, ada yang menggerutu, ada pula yang tertawa sambil menepuk bahu kawannya. Seorang lelaki membawa ayam dalam keranjang bambu. Seorang perempuan menyandang tas besar. Begitu banyak orang. Begitu banyak suara.

Namun, ketika Jaka menoleh kepada perempuan yang menggendong bayi, dia mendapati sesuatu yang ganjil—bibir perempuan itu memang bergerak, tetapi tidak terdengar sepatah kata pun.  Anak kecil di sampingnya berlari, mulutnya terbuka lebar seperti sedang tertawa. Tak ada suara tawa. Kedua serdadu itu berbicara sambil menggerakkan tangan.

Jaka melihat mulut mereka bergerak, bahkan melihat salah seorang menepuk bahu kawannya. Tetapi peron mendadak terasa seperti ruang yang kedap suara.

Jaka menoleh kepada penjual kopi. Lelaki itu masih berteriak menawarkan dagangannya tetapi tidak ada suara.

Jaka menelan ludah saat menyadari sesuatu yang lebih mengerikan: tak seorang pun menginjak bayangan.

Lampu-lampu minyak menerangi peron, tetapi kaki para penumpang berdiri tanpa bayang-bayang. Bahkan lokomotif yang begitu besar, dengan lampu menyala terang, tak meninggalkan bentuk hitam di atas tanah.

Jaka mundur satu langkah. Seseorang menyentuh bahunya lalu dia berbalik.

Seorang lelaki tua berdiri di belakangnya. Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian lurik gelap dan ikat kepala yang warnanya sudah pudar. Kumis putihnya menjuntai tipis. Di tangan kirinya tergenggam sebuah lentera.

“Jangan naik,” kata lelaki itu.

Jaka terperanjat. Suara itu terdengar begitu jelas. “Kenapa?”

Lelaki tua itu memandang kereta. “Karena kereta ini tidak membawa penumpang ke tempat yang mereka tuju.”

Jaka memandang gerbong-gerbong yang terbuka. Orang-orang masih bergerak. Mereka membawa barang, berpamitan, mencari tempat duduk. Semuanya tampak begitu biasa, kecuali ketiadaan suara dan bayangan.

“Kereta apa ini?” tanya Jaka kemudian.

Lelaki tua itu tidak segera menjawab. Sebaliknya, dia malah bertanya, “Kau datang dari mana?”

“Dari Sempolan.”

“Dan hendak ke mana?”

“Ke Surabaya.”

Lelaki tua itu mengangguk perlahan, lalu berkata, “Begitu pula mereka.”

Jaka menatap penumpang-penumpang itu lagi dan kereta mengeluarkan suara peluit. Lengkingan itu terdengar sangat jelas dan panjang.

Orang-orang di peron mulai naik. Satu demi satu menghilang ke dalam gerbong.

Jaka memperhatikan mereka dengan seksama. Tapi, mana barang bawaan mereka? Tak seorang pun membawa barang-barang yang tadi mereka bawa. Tak ada koper. Tak ada tas. Tak ada keranjang ayam. Mereka masuk dengan tangan kosong. Dan semua wajah yang semula beraneka rupa kini tampak sama pucatnya.

“Siapa mereka?” bisik Jaka.

Lelaki tua itu melepaskan lengannya. “Orang-orang yang pernah menunggu kereta.”

“Seperti saya?”

“Tidak.”

Lelaki tua itu memandangnya dengan mata yang mendadak tampak sangat letih. “Mereka menunggu kereta yang sudah lama berhenti beroperasi.”

Jaka menoleh ke arah lokomotif di seberang. Catnya mengelupas. Nomor di bagian depan hampir tak terbaca. Di bawah cahaya lampu, dia dapat melihat angka tahun yang tercetak pada pelat kuningan: 1917.

“Kereta ini datang setiap malam?” tanyanya.

Lelaki itu mengangguk. “Terutama jika ada seseorang yang merasa tak punya tempat untuk pulang.”

Jaka terdiam lalu teringat nasibnya. Rumahnya yang telah terbakar. Ibunya yang hilang. Ayahnya yang tak pernah kembali. Adiknya yang dikuburkan di belakang surau tanpa nisan.

Tiga hari ini dia berjalan tanpa tujuan yang pasti.

Mungkin benar, pikirnya. Dia memang tak punya tempat untuk pulang.

Lelaki tua itu mengangkat lentera. Cahaya kuningnya jatuh ke wajah Jaka.

“Kalau kau naik,” katanya, “besok pagi orang-orang akan menemukan buntalanmu di peron. Tapi mereka tidak akan menemukan dirimu.”

Jaka memandang tajam lelaki itu. “Siapa sebenarnya Kakek?”

Lelaki tua itu tersenyum lalu menggeleng, katanya, “Sama sepertimu.”

Sebelum Jaka sempat bertanya lagi, peluit kereta berbunyi untuk kedua kalinya. Pintu-pintu gerbong menutup. Kereta telah bergerak. Gerbong-gerbong hitam meluncur perlahan ke arah barat, semakin jauh, semakin kecil, sampai akhirnya lenyap ditelan kabut. Suara roda besi berangsur menghilang. Peluit terakhir terdengar dari kejauhan. Lalu malam kembali sunyi.

Benar-benar sunyi.

Jaka terduduk di bangku kayu. Kedua tangannya gemetar. Dia tidak menghitung waktu sampai terdengar suara orang berdeham di dekatnya.

Seorang petugas stasiun datang membawa lampu minyak. “He, Nak. Mengapa di sini?”

Jaka mendongak. “Kereta tadi, Pak. Kereta yang baru berangkat.”

Petugas itu mengernyit. “Kereta apa?”

“Yang menuju ke barat.”

Orang tua itu menatap rel yang kosong kemudian menatap Jaka seperti sedang menimbang pemuda di hadapannya, apakah masih waras?

“Sejak petang tidak ada kereta lewat sini. Jalur ini belum beroperasi normal sejak perang.”

Jaka merasakan darahnya surut dari wajah. “Tapi penumpangnya banyak, Pak.”

Petugas itu tidak menjawab lalu menunjuk jam tua di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul sebelas malam lewat tujuh belas menit.

Jaka berdiri perlahan. “Pak, tadi ada seorang lelaki tua. Pakai lurik, membawa lentera. Apa Bapak mengenalnya?”

Petugas itu terdiam. Lampu minyak di tangannya bergetar sedikit. “Lelaki tua yang kumisnya putih?”

Jaka mengangguk cepat.

Petugas itu menoleh ke arah ujung peron, tempat kabut mulai menebal. Katanya, “Entahlah, kami tidak mempunyai petugas dengan ciri tersebut. Mungkin dia yang bernama Sastro. Dahulu dia adalah warga sekitar lalu meninggal pada 1917, ketika sebuah kereta tergelincir tak jauh dari stasiun.”

Jaka diam.

“Orang-orang bilang,” lanjut petugas itu, “kadang-kadang dia masih muncul untuk menyapa orang selepas senja. Tapi saya katakan lagi, tidak ada kereta senja yang lewat stasiun ini dan itu sudah cukup lama.”

Jaka menatap rel kemudian berpaling pada petugas tadi tapi rupanya pertugas tadi telah pergi. Tanpa suara, tanpa bayangan seakan lenyap ditelan malam.

Peron kembali kosong.

Namun, saat Jaka berjalan menuju pintu keluar, terdengar olehnya suara dari pengeras suara tua di ruang tunggu. Suara perempuan, lirih dan berderak, seperti berasal dari rekaman yang telah berusia puluhan tahun.

“Kereta tujuan Surabaya akan segera diberangkatkan. Para penumpang dipersilakan naik.”

Jaka berhenti lalu menoleh pada jam tua, sebelas malam lewat tujuh belas menit.

Di ujung peron, di balik kabut, sebuah lampu kuning menyala. Kemudian terdengar suara roda besi dan peluit panjang.

Jaka berhenti lalu memandang stasiun tanpa suara.

Tamat

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.