0%
Still working...

Jati Anom Obong – Ledakan yang Dipaksakan (Kilas Kisah Jati Anom Obong 7)

Dironda 29 kali

Di balik ketenangan Jati Anom, sebuah perbincangan dingin di beranda prajurit menyingkap tabir kecurigaan yang selama ini tersembunyi. Kebakaran yang melalap Menoreh dan bergesernya Ki Rangga Agung Sedayu bukanlah deretan kebetulan belaka, melainkan bagian dari skenario besar yang digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat. Ketika nama sebuah pusaka bernilai tinggi mulai disebut, keraguan pun kian merebak—mengisyaratkan adanya bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar perkelahian biasa.

Kedatangan Ki Widura yang mendadak dengan raut kecemasan mendalam kian memperkeruh suasana di barak Mataram. Raut wajahnya tak mampu menyembunyikan rahasia berat yang baru saja ia dengar dari tepi sungai. Tanpa membuang waktu, sebuah komando dilepaskan untuk menyusul pertempuran yang kian tak menentu, membawa serta prajurit-prajurit terpilih menuju gelanggang pertempuran yang siap menelan korban berikutnya.

Di sudut lain, dentam benturan ilmu menggetarkan tanah Jati Anom saat pertarungan sengit tak terelakkan meletus. Di tengah gemuruh laga hidup-mati itu, terlintas kenangan kelam tentang rahasia darah bangsawan dan ambisi terselubung seorang tokoh besar yang berniat menggoyang Mataram. Janji kesetiaan tanpa batas dan tekad membara menjadi bahan bakar yang mendorong salah satu petarung untuk mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, demi sebuah kehormatan yang dipertaruhkan.

Pertarungan kian memuncak ketika batas antara hidup dan mati semakin tipis. Ki Panuju memaksa diri menghadapi Ki Garu Wesi.

  • Mengikuti babak seru fiksi sejarah, Jati Anom Obong, sebaiknya memang dari bab yang memuatnya. Kisah silat panjang yanag mengenangkan hampir sepanjang usia naskah.
  • Tetapi adakalanya ketika jenuh dan bosan itu berpaling, maka kita pun membuka bacaan kecil di serambi depan seperti Sisa Kontrak Rumah Tua yang mengisahkan ketegaran seorang wanita.
  • Setelah sepenuhnya Kiai Plered berada dalam genggamnya, Raden Atmandaru meneruskan kata-kata, “Setelah membaca itu, kembali ke sini, Kiai Plered 1. Aku akan katakan padamu semuanya.“
  • Kemudian kita mendengarkan ucapan Adipati Hadiwijaya, “Semoga tidak terjadi gangguan dalam perjalanan ini.” Yah, benar ucapan itu. Semoga tidak ada gangguan saat menuju Gerbang Demak 2.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.