Dironda 61 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Kamejing masih berusaha mencari tongkat Ki Jambuwok, sembari mempertimbangkan kemungkinan merebut Sangkal Putung melalui Sekar Mirah, yang dipandangnya sebagai pintu untuk mencapai tujuan tersebut. Sementara itu, Sekar Mirah yang hidup berjauhan dengan Agung Sedayu semakin berkembang menjadi perempuan yang matang dan tangguh. Selain mengurus keluarga, merawat kedua orang tuanya, dan memperhatikan Wangi Sriwedari, dia juga mulai memikul tanggung jawab dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Sangkal Putung.
Dia tidak lagi dapat sekadar mengandalkan kedudukannya sebagai putri Ki Demang. Orang-orang datang kepadanya bukan semata-mata karena kedudukan itu, tetapi penyelesaian.
Sekar Mirah pun belajar bahwa mendengarkan keluhan seseorang tidak selalu berarti harus membenarkan kehendaknya. Ada kalanya harus menolak permintaan yang tidak patut, sekalipun orang yang mengajukannya datang dengan membawa alasan yang panjang.
Di tengah semua itu, kerinduan kepada Agung Sedayu tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Ada persoalan-persoalan yang ingin diceritakannya kepada suaminya, ada keputusan yang ingin didengarnya pendapatnya, dan ada saat-saat ketika dia hanya ingin berbicara tanpa harus memikirkan urusan orang lain. Namun, jarak membuat keinginan sederhana itu tidak selalu dapat dipenuhi.
Sekar Mirah pun terbiasa menyimpan sebagian kegelisahannya sendiri. Bukan karena dia tidak membutuhkan Agung Sedayu, tetapi karena mulai memahami bahwa kehidupan suaminya pun dibebani tanggung jawab yang tidak ringan.
Maka, selama Agung Sedayu berada jauh darinya, Sekar Mirah berusaha menjaga agar kehidupan di Sangkal Putung tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Beberapa orang lama pun menjadi heran dan terkejut. Sekar Mirah yang mereka temui sekarang, sungguh, jauh berbeda dengan Sekar Mirah dahulu, Sekar Mirah muda. Gadis yang ditakuti dan disegani karena kedudukannya itu tiba-tiba berubah menjadi wanita yang matang dan memang pantas disegani.
Seorang perempuan yang agak kurus pernah berkata, “Apakah benar sampeyan ini Angger Sekar Mirah?”
Sekar Mirah tertawa ringan, lalu jawabnya, “Bukan, Bibi. Aku adalah anak Ki Demang. Bukan Sekar Mirah.”
Maka mereka pun tertawa renyah bersama.
Pada hari itu, dalam kesendiriannya karena Wangi Sriwedari pun telah pulas, dan Swandaru sedang berada di dalam biliknya, Sekar Mirah menarik napas dalam-dalam.
Sangkal Putung bukanlah kademangan atau wilayah tanpa cita-cita atau harapan. Sebagian orang memang berpikir sederhana bahwa kehidupan Sangkal Putung adalah tentang caranya memandang. Mereka tidak tahu menahu tentang yang pikirkan Ki Demang. Tidak tahu menahu tentang persoalan yang dihadapi Ki Demang Sangkal Putung.
Yang mereka tahu sebatas Sangkal Putung adalah tanah mereka dilahirkan, berkembang lalu dimatikan. Tidak lebih dan tidak kurang.
Sekar Mirah mengusap keningnya.
Dia melihat Sangkal Putung seharusnya lebih jauh dari yang dibayangkan orang.
Tiba-tiba kalimat darinya, “Kakang.”
Tentu saja yang dimaksudkan olehnya adalah Swandaru.
Di antara berbagai persoalan yang menyita perhatiannya, ada satu hal yang belakangan ini semakin sering mengusik pikiran Sekar Mirah.
Keadaan ayahnya.
Ki Demang Sangkal Putung telah memasuki usia lanjut. Sekalipun selama ini masih berusaha menjalankan kewajibannya, Sekar Mirah tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa tenaga dan ketahanan tubuh ayahnya tidak lagi seperti dahulu. Ada saat-saat ketika dia melihat lelaki tua itu lebih banyak berdiam diri seolah-olah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari berikutnya.
Sekar Mirah tidak ingin berpikir terlalu jauh. Ki Demang masih berada di tengah-tengah keluarganya. Namun, dia juga tidak dapat terus-menerus menghindari kenyataan bahwa pada suatu saat nanti, Sangkal Putung akan kehilangan orang yang selama ini menjadi tumpuan dan sandaran bagi banyak orang.
Lalu, siapa yang akan menggantikannya?
Pikiran Sekar Mirah pun beralih kepada Swandaru, kakaknya yang juga sekaligus adik seperguruan Agung Sedayu.
Swandaru semestinya memiliki tempat tersendiri dalam urusan Sangkal Putung. Secara keturunan, tidak ada alasan bagi orang-orang untuk mengabaikan kedudukannya. Namun, Sekar Mirah cukup tahu bahwa Swandaru bermasalah dengan kedudukannya itu, cukup tahu bahwa persoalannya tidak sesederhana menggantikan ayah mereka.
Setelah terseret Ki Ambara, lalu dengan Raden Atmandaru dan terakhir perang tanding Pancuran Watu Item. Sukra memang memberinya kabar bahwa Swandaru baik-baik saja dalam perawatan prajurit Mataram di barak pasukan khusus. Apakah sesederhana itu?
Tentu saja tidak.
Sekar Mirah mengenal Swandaru bukan hanya sebagai kakak, tetapi juga sebagai seseorang yang sejak dahulu memiliki kehendak kuat. Dia bukan orang yang mudah menyerah apabila menginginkan sesuatu. Sayangnya, kehendak yang kuat tidak selalu berjalan seiring dengan pertimbangan yang matang.
Persoalan dengan Ki Ambara telah menyeret Swandaru ke dalam bayang-bayang makar. Sesudah itu, Raden Atmandaru kembali membawanya berhadapan dengan persoalan yang tidak kalah berat. Kini, setelah perang tanding di Pancuran Watu Item, Swandaru justru harus menjalani perawatan di barak pasukan khusus Mataram.
Tiga kejadian itu tidak dapat dipisahkan begitu saja.
Sekar Mirah tidak mengetahui seluruh persoalan yang sedang berkecamuk di dalam pikiran kakaknya. Dia hanya mengetahui bahwa setiap kali Swandaru berhadapan dengan persoalan besar, jalan yang ditempuhnya pun semakin panjang, rumit dan berliku.
Namun, ada satu hal yang membuat Sekar Mirah lebih gelisah daripada semua persoalan itu. Agung Sedayu.
Hubungan kedua lelaki itu bukan hubungan antara dua orang yang baru saling mengenal. Agung Sedayu adalah adik ipar Swandaru sekaligus kakak seperguruannya. Mereka mempunyai ikatan keluarga, tetapi juga ikatan yang terbentuk melalui perjalanan panjang dalam dunia olah kanuragan.
Swandaru sedang berada di biliknya ketika Sekar Mirah membayangkan betapa sulitnya akibat perang tanding Pancuran watu Item bagi keduanya.
“Pulanglah ke Sangkal Putung,” ucap Swandaru pendek ketika memasuki rumah.
Sekar Mirah menerima ungkapan itu dengan dingin.
Dan sekarang, Pancuran Watu Item, persoalan itu tidak lagi dapat dianggap sebagai pertentangan sesaat yang pasti selesai setelah luka-luka Swandaru sembuh.
Ada sesuatu yang telah berubah di antara mereka. Sekar Mirah menghela napas panjang.
Bagaimana mungkin dia berharap Swandaru kelak mampu memikul tanggung jawab atas Sangkal Putung apabila dia sendiri masih harus menyelesaikan persoalannya dengan Agung Sedayu? Masalah itu harus selesai. Tidak perlu harus memaksa secepatnya tapi selesai, pikir Sekar Mirah.
Sekar Mirah tidak menganggap kakaknya telah kehilangan kesempatan. Dia masih berharap Swandaru dapat memperbaiki diri. Tetapi, harapan itu, apakah benar-benar ada?
Barangkali, sebelum memikirkan kedudukan yang kelak dapat dipegangnya di Sangkal Putung, Swandaru harus lebih dahulu menyelesaikan persoalan yang paling dekat dengannya sendiri. Agung Sedayu.
Persoalannya, apakah Swandaru telah benar-benar siap?
Bila tidak?
Hari itu, Swandaru berada di dalam biliknya saat Sekar Mirah memikirkan masa depannya.
Pertanyaan itu sendiri tidak mudah dijawab oleh Sekar Mirah. Dia tahu bahwa Swandaru masih memiliki jalan untuk memperbaiki diri. Tetapi dia juga paham bahwa kesempatan untuk membuktikan kesiapan itu mempunyai waktu dan ruang yang batas. Semakin bertambah usia Ki Demang, semakin dekat pula saat ketika orang-orang Sangkal Putung akan mulai memandang kepada sosok yang dianggap pantas menggantikannya.
Dan pada saat itu, bukan hanya kemampuan Swandaru yang akan diperhatikan. Sikapnya selama ini, hubungannya dengan para pemimpin pedukuhan, serta kepercayaan orang-orang kepadanya akan ikut menentukan dan masa lalunya akan turut diperhitungkan.
Sementara itu, Sekar Mirah belum ingin membicarakan kegelisahan itu kepada ayahnya. Dia tidak ingin atau masih belum ingin menambah beban pikiran seorang lelaki tua yang sepanjang hidupnya telah mengabdikan diri kepada Sangkal Putung.
Tetapi, semakin lama dia menyimpan pikiran itu, semakin jelas pula baginya bahwa persoalan Swandaru bukan lagi sekadar persoalan seseorang yang perlu dinasihati. Di hadapannya terbentang persoalan yang jauh lebih besar: masa depan Sangkal Putung setelah Ki Demang tidak lagi berada di tengah-tengah mereka.
Hari itu, Swandaru berada di dalam biliknya saat Sekar Mirah memikirkan masa depan Sangkal Putung.
- Pada saat senja turun menyapa lereng Merapi, perkemahan pengikut Raden Atmandaru tiba-tiba meningkat tajam. Puluhan orang berbaris dengan sikap tubuh menghadap ke wilayah Sangkal Putung. Apa tidak keliru ini? Membidik 59.
- Tiba-tiba di Berhitung 8, dia mengancam, “Serahkan anak Mas Karebet!”
- Tanpa didera kebingungan lagi setelah membaca Sisa Kontrak Rumah Tua, pembaca fiksi sejarah Kitab Kyai Gringsing menekuni kembali Waru Geni.
