“Tidak ada yang salah pada pilihan itu,” jawab Agung Sedayu, “Aku harus mengakui kau cukup berani mengatakan yang sebenarnya. Barangkali aku tidak mempunyai jawaban, Ki Tunggul Pitu. Bahkan, jika kau ...
Agung Sedayu tercenung. Tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang masih belum dapat dijawabnya. Perubahan air mukanya terlindung oleh gelap dan air hujan. Sejenak ia mengendapkan perasaannya, lalu b...
Selepas Ki Sentana meninggalkan pintu halaman, Agung Sedayu melesat deras mencapai sebuah pohon yang tidak begitu besar di utara rumah Ki Sentana. Sepasang jejak kaki, meski samar dan terlindung oleh ...
“Swandaru!” teriak Agung Sedayu. Ia mencoba mencari jejak yang dikiranya dapat memberi terang untuk menelusuri keadaan adik seperguruannya. Ia berloncatan, hilir mudik, ia kehilangan pegangan!...
Dua murid utama Kiai Gringsing dengan wajah tegang semakin jauh meninggalkan pedukuhan induk. Mereka berdua berharap bahwa kemungkinan buruk yang telah dipikirkan Agung Sedayu tidak akan terjadi di S...
“Kakang, pasukan khusus tentu mempunyai orang-orang yang cukup mapan dalam tugas sandi. Sementara para pengawal Tanah Perdikan telah berada dalam lapis yang sama dengan prajurit Mataram, lalu b...
Ketiganya pun berjalan menuju rumah Ki Gede, sementara itu para pengawal Tanah Perdikan mulai berdatangan dan gotong royong membersihkan puing-puing rumah Agung Sedayu. Beberapa di antara mereka mengu...
Serangan yang mendadak dan sangat berbahaya itu membuat sibuk Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Agung Sedayu segera mengurai cambuknya dan menahan lontaran benda-benda panas dengan putaran cambuk yang san...
Ki Gede memandang Agung Sedayu dari kejauhan lalu berkata pada dirinya sendiri, ”Tidak banyak yang dapat aku perbuat untukmu, Ngger. Pertarungan yang terjadi di antara mereka telah berada di luar kema...

