Membidik 17

Selepas Ki Sentana meninggalkan pintu halaman, Agung Sedayu melesat deras mencapai sebuah pohon yang tidak begitu besar di utara rumah Ki Sentana. Sepasang jejak kaki, meski samar dan terlindung oleh genangan air, dapat terlihat tangkap oleh kedua matanya. Sesaat ia menimbang. Setelah memperoleh kemungkinan tujuan si pengintai, Agung Sedayu segera menyusulnya. Walau sedikit menyimpang, senapati pilihan Mataram ini mendapati si pengintai tengah membayangi Ki Sentana yang bergerak ke rumah jagabaya. Sedikit menghentak kecepatannya, Agung Sedayu berhasil menempatkan diri di belakang pengintai dalam jarak yang tepat.
Tiba-tiba orang itu seolah menghilang. Pengejaran dilakukan Agung Sedayu. Kecepatan lari orang itu benar-benar merepotkan. Betapa ia terbang seperti burung ketika melintasi rerimbun semak dan dinding-dinding pembatas pekarangan. Sesekali ia lenyap dari pandang mata Agung Sedayu namun ketajaman pendengaran suami Sekar Mirah ini memang pantas berada di jajaran atas oleh kanuragan. Dengan jarak yang masih terjaga, meski orang yang dikejarnya sesekali terlihat menghilang, Agung Sedayu tidak dapat dikatakan tertinggal hingga mereka tiba di sebuah padang kecil. Permukaan tanah tidak begitu becek ketika kaki mereka telah menjejak di sana.
Ikat kepala Agung Sedayu mengalirkan air yang membasahi keningnya. Ia tenang berdiri sambil memperhatikan orang yang mengikuti Ki Sentana. Sekali-kali kilat menyambar, walau demikian, raut wajah lelaki itu masih tidak terlihat jelas oleh Agung Sedayu. Udara bertambah dingin saat angin memukul tubuh keduanya dengan kencang. Mereka berdiam diri cukup lama. Sepertinya kedua orang itu saling menunggu untuk bergerak.

“Mungkinkah aku pernah bertemu dengannya?” pikir Agung Sedayu. Ia tidak merasa susah meski belum mengetahui jati diri orang yang mematung belasan langkah di hadapannya. Agung Sedayu telah bersiap dengan segala kemungkinan.
“Senapati ini jelas bukan prajurit biasa. Ketahanan jiwani yang sedemikian tangguh hanya dimiliki oleh orang-orang yang telah menempuh jalan panjang kanuragan. Oh, bukan sekedar itu tetapi juga pasti telah melewati banyak pertarungan,” orang yang masih menutup ciri-ciri khususnya itu membatin. Ia masih ingin menunggu Agung Sedayu melakukan sesuatu terhadapnya sebelum ia membuat satu keputusan.
“Ki Sanak,” kata Agung Sedayu kemudian, “sebenarnya aku tidak ingin membuang waktu dengan menunggu seranganmu. Mungkin aku salah jika merasa engkau adalah musuhku. Tetapi suasana seperti ini, dalam keadaan hujan dan gelap, adalah mungkin seseorang akan berpikir bahwa kita sedang bermusuhan.”
Lelaki itu tertawa kecil lalu melangkah maju. Katanya, “Agung Sedayu, tentu aku tidak salah menduga itu adalah namamu. Benar bukan? Tapi aku tidak membutuhkan jawaban itu. Siapa saja akan paham bahwa Untara tidak akan meninggalkan barak dalam cuaca buruk, kecuali telah terjadi pertempuran.”
“Engkau adalah seorang tamu, Ki Sanak,” ucap pemimpin pasukan khusus. “Tidak sepatutnya aku membiarkanmu kehujanan dan terus menerus didera udara dingin. Marilah, singgah di tempatku.”
“Aku bukanlah tamu yang baik,” sahut lelaki itu. Sekalipun ia terkejut dengan sikap Agung Sedayu namun suaranya masih bernada datar. “Aku dapat membayangkan air dan hidangan hangat di tempatmu. Namun aku membawamu ke lapangan ini bukan tidak bertujuan.”
“Aku sedang mendengarkanmu, Ki Sanak.”
“Aku tahu bahwa kedatanganmu di Jati Anom sebenarnya bukan tujuan pertama,” sambil berkata demikian, lelaki itu bergeser maju. “Engkau sedang mengejar orang-orang yang mungkin dicurigai sebagai perusuh di Tanah Menoreh. Aku mendapat laporan dari sedikit orang bahwa Agung Sedayu tidak sendiri dalam pengejarannya. Swandaru. Ya, Swandaru Geni terlihat bersamamu ketika kalian meninggalkan Menoreh. Tetapi aku tidak ingin bertanya di mana adik seperguruanmu itu sekarang. Yang aku ketahui hanyalah Sangkal Putung tidak mempunyai pemimpin sekarang.”
“Barangkali ia telah berhasil menangkap perusuh-perusuh itu,” Agung Sedayu mencoba memancing lawan bicaranya. Jantung Agung Sedayu seolah berhenti berdetak ketika teringat nasib Swandaru Geni. Dua atau tiga hari telah bergulir semenjak Ki Prayoga menghadang perjalanan mereka berdua ke Sangkal Putung. Ia belum melakukan sedikit pun pekerjaan terkait menghilangnya Swandaru, dan itu benar-benar pilihan yang sama-sama sulit dengan persoalan yang tengah dihadapi Jati Anom.
“Barangkali. Ya, barangkali benar begitu atau mungkin ia sedang meratap sendiri,” tukas lelaki itu dengan meyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Agung Sedayu, apakah seorang lelaki telah bertempur denganmu di Menoreh? Lalu bagaimana dengan kitab gurumu sekarang?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *