Membidik 18

Agung Sedayu tercenung. Tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang masih belum dapat dijawabnya. Perubahan air mukanya terlindung oleh gelap dan air hujan. Sejenak ia mengendapkan perasaannya, lalu bertanya, “Mana yang harus saya jawab dahulu?”
Orang asing itu tertawa. “Sesukamu. Kamu dapat menjawab yang kamu suka.” Ia tiba-tiba bersuara dengan sungguh-sungguh, kemudian lelaki itu berkata, “Suaramu penuh kebencian. Apakah aku berkata benar? Mungkin engkau tengah merutuk hidupmu yang dekat dengan kebodohan. Agung Sedayu, bahkan engkau pun tidak bertanya mengapa aku dapat mengetahui namamu.”
“Itu tidak begitu penting, Ki Sanak,” Agung Sedayu mengeluarkan suara dan kali ini suaranya mengesankan jiwani seorang prajurit. Ia berpikir untuk mencari tahu di balik keadaan Menoreh. “Aku tidak ingat kejadian itu. Mungkin karena perkelahian itu telah membuat lawanku terbunuh.”
Gema tawa lelaki asing itu berusaha menembus riuh derap air hujan. Ia bergeser dua langkah ke samping kemudian berkata, “Lawanmu belum mati, Agung Sedayu.”
“Bisa jadi,” tukas senapati Mataram dengan kesan dingin. “Seandainya ia mati terbunuh, itu tidak mengubah peristiwa yang telah terjadi. Ki Sanak, aku tidak ingat apakah memang benar berada di Menoreh pada waktu itu.”
“Engkau tidak perlu berlagak gila.”
“Aku tidak perlu menjadi gila untuk sesuatu yang terlupa. Aku benar-benar tidak dapat mengingatnya,” kata Agung Sedayu.
Hujan telah merangkul malam ketika waktu berjalan serasa bergulir semakin lambat. Tidak ada bintang yang dapat dilihat meski mereka masih bergerak. Orang asing dan Agung Sedayu sama-sama merasakan kepenatan dalam suasana beku yang meliput kedua lelaki itu. Agung Sedayu tengah berpikir untuk menguak keberadaan kitab peninggalan gurunya. Sebenarnya ia cukup kagum dengan ketahanan jiwani lawan bicaranya. Ia masih dapat menjaga rahasia tentang dirinya, pikir Agung Sedayu. Sedikit dugaan namun memiliki bobot yang cukup untuk membuat satu kesimpulan. Agung Sedayu dapat meraba. Ia melihat sedikit penerangan dalam pikirannya.
“Orang yang menjadi lawanku akan membunuh agar ia tetap hidup,” kata Agung Sedayu yang masih belum bergeser dari tempatnya semula, “mungkin ia sedang melupakan peristiwa itu. Berkelahi melawanku, jika ia ingat, telah membuat lelaki itu terus bergerak. Berpindah-pindah. Ia mencariku dan itu akan berakhir bila telah bertemu denganku.”
Lelaki asing itu melangkah maju lebih dekat, kemudian ia berkata dengan kesan yang jauh berbeda dengan sebelumnya, “Aku memang sengaja mengikuti orang suruhanmu agar engkau keluar mengejarku. Lalu kita berada di sini sekarang.”
Agung Sedayu bergeming di tempatnya, hanya kedip mata dan napas yang menjadi tanda ia sedang menunggu kelanjutan perkataan lawan bicaranya.
“Aku memang sengaja melakuan itu,” lelaki itu berkata dan ia bergerak lebih dekat lagi. Mereka kini hanya terpisah jarak dua atau tiga langkah saja.
Senapati pasukan khusus itu tidak mengucap kata. Ia masih berdiri dengan kedua lengan bergantung di samping tubuhnya. Agung Sedayu menatap mata orang asing itu sekuat hujan yang terjun bebas dari langit. Lelaki itu membalas tatap mata dengan kekuatan yang sama dengan Agung Sedayu. Bahkan mungkin mereka telah berhasil menyatukan napas karena kewaspadaan yang sama-sama tinggi.
“Ki Tunggul Pitu,” desis Agung Sedayu.
Pemilik nama itu membalasnya dengan sorot mata hewan pemangsa. Tidak ada kehangatan atau keramahan di balik bola mata Ki Tunggul Pitu. Udara sekitar mereka semakin dingin dan terasa mengerikan walaupun tidak ada tenaga inti yang memancar dari keduanya. Pandang mata yang beradu sorot menebar suasana yang berlainan dengan kegembiraan tumbuhan dengan datangnya hujan.
“Apakah engkau tidak merasa telah melakukan kesalahan yang sangat besar, Ki Rangga? Engkau bersikap ceroboh dengan membiarkan kitab itu berada di tangan adik seperguruanmu,” kata Ki Tunggul Pitu, “dan sekarang ia tidak mempunyai kejelasan nasib. Senapati, tentu Anda bukan orang biasa yang dapat bersikap tenang setelah hilangnya kitab gurumu dan Swandaru. Jika orang lain yang menerima kenyataan seperti yang Anda jalani, sudah tentu atau mungkin akan kehilangan kendali diri. Namun, aku harus mengakui bahwa Anda benar-benar luar biasa.”

Agung Sedayu seolah kehabisan kata-kata. Ia sedikit terguncang ketika ingatannya melonjak ke masa lalu. Seakan-akan ia telah menyerah pada Ki Tunggul Pitu.

“Jika harus memilih, apakah kau akan menyelamatkan kitab gurumu atau Swandaru?” tanya Ki Tunggul Pitu dan terdengar seperti ledakan petir di dalam telinga Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *