Di saat yang sama, Ki Garjita masuk dari arah berlawanan. Ki Hariman sempat memutar tubuh, tahu ada gangguan tapi Ki Garjita sudah lebih dulu menutup ruang geraknya. Empat kekuatan bertemu. Sejenak. T...
Hari merambat lebih dalam ketika Agung Sedayu memasuki regol Kepatihan diiringi seorang prajurit dari Keraton. Beberapa obor sudah dipadamkan. Jejak terang tampak mulai membayang di halaman. Seorang p...
Dalam waktu itu, perubahan terjadi pada tata gerak Swandaru yang kini lebih cenderung berloncatan setiap kali berpindah tempat. Ledakkan cambuknya memang tapi ujungnya mampu melubangi tanah lapang hin...
Saat matahari mulai condong ke barat, keduanya telah berada di wilayah Dusun Benda. Dusun itu tampak lengang, seperti biasa. Orang-orang sudah berjalan kembali menuju rumah masing-masing. Ki Patra ber...
Swandaru sama sekali tidak menampakkan gelagat bahwa dia sedang mencari Ki Hariman. Seperti biasa, dia mengayun kaki menuju rumah kecil yang dibangun untuknya oleh orang-orang. Beberapa orang-orang ya...
Prastawa datang tidak lama berselang. Langkah kakinya agak terburu-buru seperti sedang menahan sesuatu di dalam perasaannya. “Apakah dua pengawal tadi membuka sedikit isi laporan?” tanya Ki Gede ketik...
Malam turun pelan di perkemahan Gunung Kendil. Api unggun menyala di beberapa titik, dan itu sudah cukup untuk menerangi tanah lapang dan jalan setapak yang menghubungkan bangunan-bangunan kecil yang ...
Dua hari agaknya sudah cukup bagi Ki Astaman untuk menahan diri. Itu berarti rencana yang disusun bersama Ki Garjita mulai menemukan jalan dan bentuk. Meski baru berupa gambar kasar, tapi tatanan suda...
Benih Perguruan – Lereng Gunung Kendil Hari-hari berjalan seperti biasa. Latihan tetap berlangsung. Aba-aba gerakan tetap terdengar. Orang-orang datang, bertegur sapa, saling bicara kemudian seb...








