Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 78 – Menembus Sisa-sisa Panas

Hari merambat lebih dalam ketika Agung Sedayu memasuki regol Kepatihan diiringi seorang prajurit dari Keraton.

Beberapa obor sudah dipadamkan. Jejak terang tampak mulai membayang di halaman.

Seorang pelayan segera menyongsongnya, lalu dengan sikap hormat mempersilakannya masuk tanpa banyak tanya. Nama dan kedudukannya telah lebih dahulu tiba daripada dirinya.

Di ruang dalam, Nyi Ageng Banyak Patra telah menunggu.

Perempuan itu duduk tegak dengan wajahnya yang memancarkan wibawa yang agung.

“Ki Tumenggung,” ucapnya pelan tapi getarannya mampu menembus dinding.

Agung Sedayu merendah dalam-dalam. “Saya, Nyi Ageng.”

Nyi Banyak Patra mengangguk kecil, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat agar orang-orang yang berada di sekitar mereka menyingkir.

“Mendekatlah,” katanya sambil menggerakkan lengan agar Agung Sedayu duduk lebih dekat padanya.

Ruangan itu tidak terlalu luas, tapi penataannya sangat rapi dan terasa lebih hangat dibandingkan bagian luar. Sebuah lampu minyak telah padam.

Beberapa saat mereka diam.

Agung Sedayu menunggu.

“Eyang Patih,” akhirnya Nyi Banyak Patra membuka suara, “harus lebih banyak didampingi dengan perhatian penuh. Saya tahu kemampuan Ki Tumenggung. Yah, Kyai Gringsing telah nyata menurunkan semua pengetahuannya pada Angger.”

Nada suaranya datar.

“Satu keadaan yang memang tidak dapat dilawan, usia,” lanjutnya  pelan, “yang dapat kita hanya dapat membantu Eyang merasa ringan dan tenang.”

Agung Sedayu mengangguk, sikapnya tetap hormat. “Mengerti, Nyi Ageng.”

Nyi Banyak Patra memandang Sedayu lebih dalam seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak diucapkan.

“Saya akan mengusahakan yang terbaik,” kata Agung Sedayu kemudian.

Nyi Banyak Patra mengalihkan pandangannya sejenak ke arah halaman. Beberapa orang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing di sana.

“Saya harap Angger tidak merasa berat karena keadaan ini bukanlah kehendak dari seseorang,” ucap Nyi Banyak Patra. “Tentu tanggung jawab sebagai tumenggung pasti mengharuskan Angger memberi perhatian lebih besar daripada sebelumnya. Rencana Sinuhun meminta penerapan yang mudah dipahami prajurit dan senapat. Saya dapat memahami itu.”

Sejenak Nyi Banyak Patra menarik napas. “Ketika Yang Maha Kuasa sudah menetapkan sesuatu, setiap orang akan terhisap lalu turut berputar di dalamnya dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan-Nya.”

Agung Sedayu menundukkan kepala.

“Karena itu,” lanjut Nyi Banyak Patra, “aku meminta perkenan agar Ki Tumenggung lebih banyak berada di Kepatihan.”

Dia menatap langsung ke mata Agung Sedayu.

“Kadang-kadang, saat kita melangkah, beban terasa lebih berat dari yang semestinya. Penglihatan dan pendengaran pun tidak lagi sama dengan sebelas atau dua puluh tahun yang lalu. Ada saat kita harus mengulang, mengingat meski sekadar saja agar hidup tetap terus berjalan.”

Nyi Banyak Patra mengangsurkan mangkuk wedang sereh hangat pada Agung Sedayu, kemudian mempersilakan.

“Ki Patih dan saya sudah dapat merasakan… bahwa waktu tidak lagi berjalan seperti dulu. Itu adalah keniscayaan. Kita merasa lambat sedangkan segala sesuatu justru bergerak lebih cepat. Kita ungkin merasa lelah untuk mengikutinya tapi mereka sebenarnya berjalan pun tidak. Tapi, itulah kita pada hari ini.”

Agung Sedayu mengangkat wajah perlahan. Sorot matanya  mengandung pengertian yang dalam.

“Dengan keberadaan Angger di Kepatihan untuk sementara waktu, beban Ki Patih dapat diemban bersama-sama,” lanjut Nyi Banyak Patra. Kemudian dia menatap Agung Sedayu lebih dalam.

“Kepatihan bukan hanya tempat untuk menjalankan perintah,” sambung Nyi Banyak Patra, “tetapi juga tempat untuk menyaring dan menilai keputusan-keputusan besar yang diambil para tumenggung dan yang lainnya. Sinuhun dan Pangeran Purbaya tentu dapat mengerti alasan saya yang meminta Angger dapat hadir menemani Ki Patih.”

Agung Sedayu mengangguk perlahan.

Percakapan itu merambah ke bagian-bagian penting permasalahan Mataram, tapi seluruhnya adalah wewenang Kepatihan. Agung Sedayu sadar bahwa dirinya bukan penentu tapi seseorang yang diizinkan untuk ikut memikirkan dan berpendapat.

Setangkup waktu pun berlalu, seorang pelayan masuk dengan langkah perlahan, membungkuk dalam-dalam, lalu berkata lirih kepada Nyi Ageng Banyak Patra.

“Ki Patih telah mengetahui kedatangan Ki Tumenggung.”

Nyi Banyak Patra mengangkat wajahnya sedikit lantas mengangguk. Dia tidak berkata-kata dan juga tidak bertanya.

“Ki Patih memanggil Ki Tumenggung,” lanjut pelayan itu dengan wajah menghadap Agung Sedayu.

Sejenak, suasana menjadi diam. Lalu Nyi Banyak Patra berdiri perlahan. “Marilah,” katanya. Agung Sedayu bangkit, mengikuti di belakangnya dengan langkah tertata.

Mereka memasuki bagian dalam yang lebih sepi. Udara terasa lebih hangat, tetapi juga lebih berat. Bau ramuan tanaman samar tercium, bercampur dengan keheningan sangat dalam.

Di depan bilik, seorang lelaki muda berdiri dengan wajah yang berusaha ditenangkan sementara kecemasan begitu jelas memancar dari gerak geriknya. Pangeran Juru Kiting, nama putra Ki Patih Mandaraka, memberi hormat singkat ketika melihat Nyi Banyak Patra dan Agung Sedayu.

“Silakan, ,” katanya pelan.

Nyi Banyak Patra lebih dahulu melangkah, diikuti Agung Sedayu.

“Saya tinggalkan Panjenengan sekalian untuk sebagian tugas Ki Patih,” ucap Pangeran Juru Kiting.

Nyi Banyak Patra dan Agung Sedayu mengangguk serempak.

Di dalam bilik, cahaya lampu minyak redup. Ki Patih Mandaraka duduk dengan napas terdengar pendek tapi teratur.

“Kemarilah, lebih dekat,” kata Ki Patih Mandaraka.

Agung Sedayu duduk bersimpuh di samping lutut Patih Mataram tersebut. Sedangkan Nyi Banyak Patra menempati kursi di samping kanan Ki Patih Mandaraka.

“Saya, Ki Patih.”

Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Disertai senyum yang mengembang, kata Ki Patih, “Cukup melegakan sat mengetahui Sinuhun akhirnya berkenan memberi anugerah, Sedayu. Tapi kau juga tahu bahwa itu tidak mudah.”

“Saya, Ki Patih.”

“Sebagai tumenggung,” lanjutnya, “tugasmu sudah jelas diarahkan untuk mendukung rencana besar Sinuhun. Aku kira Angger Pangeran Purbaya tidak keberatan. Dan, mungkin kau sudah bicara dengannya mengenai pengembangan barak?”

“Saya, Ki Patih,” sahut Agung Sedayu. “Luas barak, jumlah bangunan dan orang-orang yang akan berada di dalamnya akan berubah.”

“Berubah untuk bertambah atau berkurang?” tanya Ki Patih.

“Bertambah jumlah dan bertambah pula fungsinya,” jelas Agung Sedayu singkat.

Pembicaraan bergeser dan meluas. Pesan dan nasihat Ki Patih Mandaraka terselip pula dalam perbincangan itu. Agung Sedayu lebih banyak diam, mendengarkan dengan tekun tanpa pertanyaan maupun bantahan.

Ki Patih Mandaraka berhenti sejenak lantas menatap Nyi Banyak Patra. “Adakah Sedayu sudah mengetahui sebagian keadaan?”

“Garis ilmu itu, Angger Sedayu masih sangat tajam mengenalinya, Eyang,” jawab Nyi Banyak Patra. “Tapi kita masih membutuhkan waktu untuk memastikan dugaan. Kedekatan itu bukan sesuatu yang mudah dipecahkan.”

“Orang-orang dapat melemahkanmu, Sedayu, meski mereka tidak perlu mengatakan terus terang di depan Sinuhun atau Pangeran Purbaya,” ucap Ki Patih kemudian.

Agung Sedayu tetap diam, menyerap lalu mencerna setiap kata.

“Beberapa waktu yang lalu, Nyi Banyak Patra merombak susunan perondaan, sebagian lurah dan pelayan,” sambung Ki Patih. “Belakangan ini, sebagian mulai menampakkan diri di Keraton meski baru berupa bayang-bayang.”

Ki Patih kemudian memejamkan mata sejenak. “Tidak perlu tergesa-gesa menangani mereka. Yang harus kau yakini adalah Kepatihan tetap berada di belakangmu.”

Agung Sedayu menahan napas: sadar bahwa bahaya masih mengintai Mataram dalam rupa yang belum seluruhnya tampil ke permukaan.

“Beberapa orang… tidak menyerang dengan senjata,” lanjut Ki Patih. “Mereka menyerang… dengan kabar… dan keraguan.”

Ruangan itu terasa semakin sunyi.

Akhirnya, Ki Patih membuka mata lagi, menatap Sedayu lebih lama dari sebelumnya. “Kau bukan anakku, bukan pula muridku,” katanya pelan, “tapi kau berada di antara keduanya. Pahamilah itu, jalanilah dengan segenap hati.”

Nyi Banyak Patra mengangguk-angguk perlahan. Namun wajah Agung Sedayu justru tampak semakin tegang.

Agung Sedayu berkata lirih, “Saya akan mengingatnya, Ki Patih.”

Nyi Banyak Patra segera bangkit sedikit, memberi isyarat halus—permintaan izin bagi mereka berdua untuk meninggalkan ruangan.

Agung Sedayu mengerti. Dia mundur perlahan, tetap menjaga sikap hormat.

Ki Patih Mandaraka mengangguk.

Pertarungan Ketat di Lereng Gunung Kendil

Pertarungan Swandaru makin menggetarkan. Ketekunan dan semangat pantang menyerah benar-benar mampu mengubah segalanya. Dalam waktu yang tidak dapat dikatakan singkat, Swandaru berhasil mencapai kemajuan dalam kecepatan gerak. Tubuhnya terlihat begitu ringan hingga hanya tampak bayangan hitam yang sulit diikuti pandangan mata wadag.

Ki Hariman mengerti bahwa Swandaru tidak setengah hati dalam perkelahian itu. Betul, serangan demi serangan Swandaru menjadi semakin berbahaya. Ujung cambuknya kerap mengarah pada bagian-bagian tubuh penting. Itu bukan lagi serangan yang melumpuhkan atau mengurangi kemampuan tapi mematikan!

Namun Ki Hariman pun tidak mengendurkan tekanan. Cambuknya mengalir deras dengan lambaran tenaga cadangan yang nggrigisi. Kemampuannya memadukan ilmu dari jalur sebelumnya dengan isi kitab Kyai Gringsing seakan sudah larut dengan sangat baik. Sehingga kekuatannya makin memancar dengan cara yang luar biasa. Tebasan datar, ayunan ke samping dan sebagainya mengalir sederas hujan di utara Gunung Kendil.

Sepertinya Swandaru dan Ki Hariman benar-benar tidak ada tanda makin menurun. Justru ketika matahari semakin tinggi, lingkungan perkelahian semakin terasa seperti dikepung api yang menyala setinggi orang dewasa. Panas dan menghanguskan!

Ki Astaman menggamit Ki Garjita.

“Apakah sekarang?”

Keadaan memang semakin gawat. Siapa pun yang mendekat akan berisiko melepuh kulitnya. Bahkan kain basah tak akan mampu menahan semburan panas yang mencelat dari benturan dua kekuatan yang mengerikan itu.

Ki Garjita mengerutkan kening, menimbang kedudukan perkelahian sesaat.

Jarak dua petarung itu sudah tidak mungkin membuka jalan selamat.

Kerugian besar pasti menimpa semua orangbila terlambat melakukan sesuatu.

“Sekarang!” bentakan Ki Garjita dengan suara berlambar tenaga cadangan. Kesengajaan agar dua petarung itu sama-sama terpecah perhatian.

Dia melejit dengan kecepatan tidak terkira.

Ki Astaman tidak menunggu bentakan ulang.

Dua bayangan berkelebat sangat cepat, menembus sisa-sisa panas dan memecah tekanan tenaga cadangan yang bergetar di udara.

Swandaru baru saja mengayunkan cambuknya—pendek, padat—ketika Ki Astaman masuk dari samping. Tangannya menyambar pergelangan Swandaru dengan ketepatan yang tidak memberi kesempatan menolak.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 34 – Di Rumah Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 36 – Kabar Para Tahanan dan Jejak Samar

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 45 – Pelayan itu, Siapa Dia?

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.