Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 75 – Lemahkan lalu Tumbangkan Agung Sedayu di Kotaraja

Swandaru sama sekali tidak menampakkan gelagat bahwa dia sedang mencari Ki Hariman. Seperti biasa, dia mengayun kaki menuju rumah kecil yang dibangun untuknya oleh orang-orang.

Beberapa orang-orang yang sedang berlatih berhenti sejenak lalu memandang ke arahnya. Latihan kembali berlangsung atas perintah Ki Garjita.

Swandaru tampak duduk di atas batang pohon yang diletakkan melintang di samping bangunan. Wajahnya tampak tenang meski dadanya sedikit naik turun dengan cepat tapi itu sangat halus.

Tak lama kemudian, pada waktu yang seperti biasanya dia mengakhiri latihan, Ki Hariman melenggang memasuki halaman depan permukiman dari jalur selatan. Dia tidak tampak ingin berhenti utnuk sekadar melihat latihan. Dia terus menuju gubug yang berada di belakang bangunan besar yang menjadi tempat istirahat kebanyakan orang.

Swandaru berdiri, melangkah maju menuju tanah lapang lalu memberi tanda pada Ki Garjita agar latihan cepat dibubarkan.

“Ki Hariman!” seru Swandaru.

Ki Hariman berhenti lalu memutar tubuh. Dia segera tahu yang bakal terjadi saat melihat Swandaru tegak berdiri di tengah tanah lapang.

Tak lama kemudian, dua orang itu saling berhadapan.

Tidak ada lagi kata-kata yang dilontarkan sebagai tuduhan. Tidak ada pula ucapan pembelaan. Tidak ada penjelasan tentang kitab atau masa lalu.

Swandaru bergerak lebih dulu, melontarkan diri dengan kecepatan penuh berlambar kekuatan wadag. Dia ingin menjajagi dari hal yang paling mendasar.

Keyakinan dirinya meluap. Pada dirinya sendiri, Swandaru jujur mengakui bahwa sempat larut dan tenggelam dalam keadaan yang menyita perhatian sepenuhnya saat menjadi tahanan rumah di Sangkal Putung. Setiap geliat dan tubuhnya seakan tiba-tiba terasa tulang yang lunak. Gairahnya mendadak sirna.

Namun keadaan pun berubah ketika dia meninggalkan Sangkal Putung. Renungan demi renungan pun menggumpal lalu mengalirkan semangat baru hingga dia tiba di lereng Gunung Kendil.

Pengetahuan dan lambaran segenap ilmu yang sempat mengendap dan sulit dibangunkan pun mulai bergetar. Setiap yang dipelajarinya dari Kyai Gringsing mulai bangkit, menemukan kembali jalan lalu membuka simpul-simpul yang terikat sangat erat.

Berlatih sendirian lalu mesu diri di pematang, lerengn dan lembah yang agak dalam turut memberi warna sepak terjang Swandaru pada hari itu.

Sejauh itu, perkelahian belum meningkat pada pengeluaran ilmu simpanan dan tenaga cadangan. Swandaru tampaknya ingin mengeraskan kemampuannya pada tingkat dasar.

Tanpa sadar, Ki Garjita tiba-tiba mengepakan tangan. Hatinya berbunga-bunga.

“Sepanjang perjalanan mengikuti Swandaru, mungkin, inilah tandangnya yang terbaik,” desisnya pada Ki Astaman.

Orang yang berdiri di sampingnya, Ki Astaman, mengangguk. Sambil tersenyum dia berkata, “Pertarungan akan menjadi lebih menarik lalu menjadi kebanggan orang-orang yang berlatih di tempat ini.”

Ki Garjita kemudian memandang orang-orang yang melingkari perkelahian di tepi lapangan. Wajah mereka semula tampak cemas dan gelisah telah berubah sumringah. Ada garis kebanggaan di sana, tepat seperti yang dikatakan oleh Ki Astaman.

Dalam waktu itu, Ki Hariman cepat menyambut serangan, berupaya mengimbanginya dengan tandng yang tak kalah hebat.

Benturan pertama pun meningkat cepat, menanjak setingkat menjadi lebih terukur dan lebih liat.

Orang-orang tersentak, pada mulanya, tapi kemudian malah berdiri melingkat. Tanpa sorak dan tanpa teriakan penuh semangat.

Swandaru menyerang bertubi-tubi dengan tata gerak yang kuat dan matap. Tidak ada keraguan pada setiap rangkaian geraknya. Swandaru cukup cerdas memotong langkah dan menutup ruang bagi lawannya.

Tapi Ki Hariman tidak menjauh. Kadang dia berputar, bergeser lalu lalu membalas serangan dengan cara yang hampir sama dengan Swandaru.

”Oh, jadi memang benar yang diucapkan Ki Astaman,” ucap Swandaru dalam hati.

Dalam pandangan Ki Astaman, meski tata gerak mereka serupa. Cara bertahan dan menyerang yang hampir sama, tapi ada perbedaan yang sangat jelas: Swandaru jauh lebih matang dan setiap celah dapat ditutup begitu cepat serta rapi.

Meski demikian, Ki Astaman dan Ki Garjita tidak dapat menduga yang terjadi selanjutnya karena keluasan ilmu yang tersimpan di dalam diri Ki Hariman belum sepenuhnya terungkap. Begitu pula pengalaman Swandaru dan ketangguhannya menantang batas dirinya pun tampak di permukaan. Namun begitu, walau dalam tataran wadag, pertarungan itu tetaplah nggrigisi!

Lemahkan lalu Tumbangkan Agung Sedayu di Kotaraja!

Kehadiran sekelompok orang, termasuk Swandaru, di lereng Gunung Kendil bukan tidak diketahui oleh orang lain.

Ki Patra, salah seorang bebahu Dusun Benda, menjadi orang yang juga mengetahui secara langsung—sama dengan dua pengawal pedukuhan induk.

Ki Patra tidak datang bersama dua pengawal tersebut. Mereka datang dalam waktu yang berbeda, datang dari sisi yang berlainan. Tidak ada yang mengetahui pihak yang lebih dulu tahu, tapi Ki Patra sempat berbicara dengan Ki Wedoro Anom mengenai bekas tempat perkemahan Raden Atmandaru.

“Ki Rangga,” ucap Ki Patra pada Ki Wedoro Anom saat mereka bertemu di pematang yang membujur dari utara ke selatan di bagian barat Dusun Benda.

Ki Wedoro Anom mengangguk, memandang wajah orang itu sebentar lalu katanya ramah, “Ki Patra, sepertinya ada sesuatu yang cukup penting.”

Setelah mengatur napas karena dia hampir setengah berlari menemui Ki Wedoro Anom, Ki Patra menunjuk arah Gunung Kendil lalu berkata, “Kemarin petang, setelah mengumpulkan beberapa dahan untuk bahan meja dan lemari, saya sempat naik sedikit ke arah lereng, tidak terlalu jauh.”

Sikap Ki Wedoro Anom menjadi lebih sungguh-sungguh. “Kemudian?”

“Saya melihat sejumlah orang memotong kayu yang cukup banyak. Seperti orang yang sedang menyiapkan sesuatu.” Ki Patra berhenti sejenak, mengingat-ingat. “Sudah ada beberapa bangunan. Sederhana, seperti pondok-pondok. Tapi…” dia menarik napas pendek, “ada satu yang lebih besar dari yang lain. Tampaknya baru selesai atau hampir selesai.”

Ki Wedoro Anom mengerutkan kening tapi tidak cepat menanggapi. Pandangannya memandang jauh ke arah Gunung Kendil.

“Apakah mereka itu sedang membuka ladang baru?” dia bertanya.

Ki Patra menggeleng. “Bukan. Cara mereka berpakaian tidak seperti petani yang sedang berpindah tempat, dan juga tidak tampak pula seperti pedagang yang sedang singgah.”

“Lalu?”

“Cara mereka berbicara juga seperti orang-oarng yang tinggal di sekitar barak pasukan khusus. Ada nada tegas, kadang lebih seperti berteriak.” Ki Patra menatap Ki Wedoro Anom lebih dalam. “Yang membuat saya merasa aneh adalah tidak terlihat anak-anak dan juga perempuan.”

Ki Wedoro Anom mengangguk kecil, tapi sorot matanya berubah.

Beberapa saat mereka berdiri tanpa kata. Lalu Ki Wedoro Anom berkata pelan, “Saya sebagai prajurit Mataram dan Ki Patra sebagai bebahu dusun tentu tidak akan terburu-buru menyimpulkan apa pun. Tapi kita tidak dapat pula menganggap ini hal kecil.”

Ki Patra mengangguk.

“Besok, saya akan melihatnya sendiri,” lanjut Ki Wedoro Anom. “Ki Patra harap berkenan menunjukkan jalan. Tapi jangan beritahukan pada orang lain tentang rencana ini, termasuk keluarga Ki Patra sendiri.”

Sekali lagi, Ki Patra mengangguk.

Ki Wedoro Anom lantas meminta Ki Patra menemuinya di luar Dusun Benda, sesaat setelah fajar menyingsing. Mereka pun berpisah.

Tepat pada waktu yang dikehendaki Ki Wedoro Anom, Ki Patra sudah bersiap di samping batu yang menjadi tanda batas luar Dusun Benda. Dia menarik napas lega saat melihat kedatangan Ki Wedoro Adom.

“Mari, kita coba lihat dari sisi lain,” ucap Ki Wedoro Anom usai mereka bertegur sapa ringan. “Namun bila tidak memungkinkan, Ki Patra dapat membawa saya pada tempat yang sama dengan kemarin.”

Ki Patra mengangguk. “Mari, Ki Rangga.”

Mereka kemudian mengambil jalur pertama, berjalan di atas pematang lantas menyusur jalan setapak yang jarang dilalui orang.

Jalur yang dipilih Ki Patra lebih memutar agak jauh, menembus semak dan tanah berbatu. Itu sesuai dengan keinginan Ki Wedoro Anom agar perjalanan mereka tidak terpantau oleh orang-orang yang mungkin kebetulan mencari kayu atau keperluan lainnya.

Perjalanan itu berlangsung hampir tanpa percakapan. Sesekali Ki Patra berhenti untuk mengamati jejak dan patahan ranting. Ki Wedoro Anom mengikutinya sambil mengingat kembali pekan-pekan sebelumnya, ketika penumpasan gerakan Raden Atmandaru berlangsung tanpa keterlibatannya. Karena itu, dia merasa perlu mengajak Ki Patra, sebab jalur menuju Gunung Kendil memang tidak diketahuinya.

Dari kejauhan, mereka kadang-kadang sudah dapat bagian lereng yang agak gelap karena daun-daun tua. Meski demikian, asap tipis yang melayang diterpa angin dapat dijadikan tanda bahwa mereka sudah memasuki wilayah lereng Kendil.

“Cukup,” kata Ki Wedoro Anom pelan. Pikirnya, cukup rawan bila mereka berada lebih dekat sedangkan orang-orang yang berada di permukiman belum dapat diketahui jati diri mereka.

“Ki Patra, tunggulah di sini,” perintah Ki Wedoro Anom kemudian dia bergerak ringan, menembus tanaman perdu, kemudian menghilang di lembah dangkal.

Beberapa waktu lamanya, Ki Patra menunggu di tempat itu hingga Ki Wedoro Anom kembali lagi.

Mereka pun berbalik, menuruni lereng melalui jalur yang berbeda dari saat mereka datang.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 72 – Telah Ditetapkan sebagai Pemimpin Perguruan: Swandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 76 – Benih Perguruan Tandingan Orang Bercambuk

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 67 – Persiapan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.