Petir menggelegar dengan lidah menjulur panjang, membelah angkasa. Sukra mendongakkan wajah, menantang titik-titik air yang belum jenuh menghujani bumi. Yang berkelebat di dalam benaknya kemudian adal...
Sejenak ia menghentikan ucapannya lalu memandang wajah-wajah keras di sekelilingnya. “Hutan jati, pategalan dan sawah yang subur, begitu pun perempuan, dan semua itu dapat dijadikan ladang yang menyen...
Sesungguhnya, rancangan cerdas Ki Untara untuk menyampaikan berita antar pengintai sudah mumpuni sebagai penunjang keprajuritan, tetapi suramnya malam adalah penghalang terbesar untuk tetap dijalankan...
Pada senja ketika pasukan Raden Atmandaru bergerak mundur dari Karang Dawa, banyak pasang mata yang mengawasi dari balik rimbun semak yang dapat melindungi kuda dari pandangan mata. Beberapa kelompok ...
Untuk beberapa waktu, Swandaru merenungkan kalimat demi kalimat Pangeran Purbaya. Pikirnya, memang tidak patut ia memandang Untara dengan rasa iri maupun benci. Swandaru tahu bahwa dirinya tidak mempu...
“Rasanya aku salah orang ketika melontarkan ungkapan mengenai Kakang Untara. Adakah pintu keluar yang lain di rumah ini?” gumam Swandaru dalam hati dan wajahnya menampakkan pergulatan batin yang...
“Inilah peperangan,” ucap Pangeran Purbaya membuka percakapan. “Ini adalah bagian lain kehidupan yang harus kau terima sekalipun pahit untuk dijalani.” Pangeran Purbaya tajam memandang Swandaru....
“Apakah Ki Jayaraga akan rela jika melewatkan malam tanpamu, Kakang Agung Sedayu?” Prastawa bertanya sambil menutup mulutnya. Ki Gede pun tertawa kecil bersama Sekar Mirah. Dalam waktu sedikit lebih l...
Prastawa mengangguk-angguk. Ia menjawab kemudian, ”Sebenarnya saya akan melaporkan tentang adanya perkemahan di luar Tanah Perdikan, Paman. Tetapi laporan dari Sukra akhirnya membuatku merasa harus me...


