Dapat dianggap bahwa Wong Awulung dan Gita Nervati bermalam dengan selimut gelap. Api unggun itu sebenarnya tidak cukup hangat untuk menghadang udara dingin dan tak pula layah sebagai penerangan. Tapi...
Fajar datang menggantikan malam yang tahu diri untuk pergi. Kehadirannya hanya ditandai dengan perubahan warna langit yang perlahan memudar dari kelam menuju terang kebiruan. Udara masih dingin dan ba...
Aku berencana bermalam di ruang makan. Aku ungkapkan itu pada dayang muda yang mengiringi langkah kakiku. “Apakah Sang Hyang seorang diri?” dia bertanya. “Apakah engkau ingin menemani?” aku menjawab d...
Seakan ada sepasang mata yang memandangku dengan wajah yang bergaris kebengisan. Lantas pemilik wajah itu berkata, “Masa mudamu yang terhimpun di Kalingan bukanlah sebuah waktu yang tergenang tanpa ar...
Aku tidak dapat melihat Gita Nervati dan Wong Awulung. Seandainya wajah mereka memperlihatkan perubahan, aku tidak akan tahu. “Apa artinya, Sang Hyang?” Wong Awulung bertanya padaku. Aku tidak ingin m...
Aku melambaikan tangan padanya. Pemimpin pengawal rahasia itu kemudian berjalan dengan ayunan kaki yang mantap menuju tempat kami berada. Dia adalah wanita yang cukup lama tenggelam dalam pekerjaannya...
Setelah peristiwa aneh itu berlalu, aku dapat bernapas lega meski keterkejutan belum sepenuhnya melepaskan diri dariku. Aku ingin mengungkapkan sesuatu. “Sekarang, serangan kedua mereka justru membina...
Ra Gawa mengambil prakarsa untuk memanggil pelayan agar mayat-mayat dapat segera dikeluarkan dari bangunan yang aku tempati. Kami bertiga – aku, Gita Nirvati dan Anindita Rukmi – tidak menunggu lama. ...
Anindita Rukmi begitu perkasa dengan dua tusuk konde sebagai senjata. Keris panjang lawannya sama sekali tidak berdaya untuk membongkar pertahanan Anindita Rukmi....




