Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 9

“Kau melakukannya karena kau berharap aku memberi perasaan itu padamu!” potong Arum Sari. “Majapahit pasti menghukummu, prajurit busuk!”

Patraman tertawa kecil. “Sudah lebih dari beberapa malam ternyata pengawalmu belum kelihatan juga. Mereka dan prajurit Majapahit yang engkau banggakan itu sama sekali tidak berbuat apapun untuk keselamatan dirimu.

“Jadi, terimalah keadaan ini bahwa engkau akan aman bersamaku. Engkau akan dikenang sebagai istri seorang senopati besar yang pilih tanding dan berkepandaian tinggi.

“Arum Sari, para pengawalmu sebenarnya tak lebih dari sebuah kumpulan kerbau. Rajapaksi pun tak lebih dari anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Ia akan kebingungan mencarimu, terlebih lagi ia tak akan mampu bertahan hidup bila sudah berhadapan denganku.” Seringai Patraman dan tatap matanya semakin nanar menyala.

“Omong kosong!” sahut Arum Sari, “Mereka akan datang. Dan sebaiknya engkau menyesali waktu yang terbakar ketika keputusan ini menetap dalam hatimu.“ Dagu Arum Sari sedingkit terangkat, katanya, “Saat ini aku melihatmu tak lebih dari seorang prajurit rendahan yang takut pedang.”

“Diam!” tiba-tiba suara Ubandhana memasuki pertengkaran mereka. “Tidakkah kalian dapat berkata dengan pelan? Patraman, sebagai lelaki, tentu kau menjunjung tinggi sebuah janji. Aku hanya mengingatkan itu karena aku sedang menyaksikanmu sedang menjadi cecunguk dari satu kawanan.”

Patraman  memuncak marah, dorongan hatinya ingin menetakkan senjata pada muka Ubandhana, tetapi ia kemudian bernapas dengan tarikan panjang. Sedikit malu melanda wajah dan mengubah air mukanya, tetapi perubahan itu disembunyikan oleh bayang gelap ketika ia bergeser kakinya.

Laksa Jaya menahannya agar tak berbuat lebih jauh. Katanya, “Sudahlah Patraman. Malam masih panjang sedangkan perjalanan kita belumlah selesai.”

Patraman menyadari bahwa gadis yang berada di hadapannya itu serta Ubandhana dapat berbuat sesuatu yang di luar harapannya. Maka ia menarik diri dan kembali menginjakkan kaki lekat pada bumi. Aku harus cukup cerdas mengatasi keadaan ini, batinnya.

Arum Sari hampir saja melontarkan kata-kata tetapi ia urungkan ketika melihat Patraman bergeser menjauhi tempatnya.

“Tetaplah di situ sampai ada perubahan,” terdengar kata-kata dari Patraman.

Untuk sejumlah waktu Arum Sari terhempas dalam perasaan yang tidak menentu. Tetapi ia tidak ingin berteriak ataupun menangis. Ia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang lemah saat itu. Dadanya serasa sesak menahan gejolak perasaannya.

“Lebih baik aku mati daripada disentuh pengkhianat itu,” gumamnya  dalam hati. Matanya pun segera melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk bunuh diri. Namun ia harus takluk ketika menyadari keadaan kedua tangannya terikat kuat.

Malam berlalu semakin mencekam rawa-rawa di pesisir pantai, kesunyian kembali melanda sekitar mereka. Setiap orang terlarut dalam kenangan dan gelora masing-masing.

Arum Sari sedang menuju jurang gelap yang hampir tidak dapat dilampaui. Sekejap ia meratap penyesalan ketika menolak anjuran ayahnya untuk menyerap olah kanuragan. Ki Demang menginginkan anak tunggalnya itu dapat menjaga diri tetapi Arum Sari menolaknya. Satu alasan yang wajar karena keamanan Wringin Anom benar-benar terjaga.

Tetapi siapa mengira jika penjahat itu justru muncul dari kalangan prajurit? Patraman memang biadab! Arum Sari memaki dalam hatinya. Aku tak boleh kalah, ia membatin sambil membuat perkiraan buruk yang dapat menimpa dirinya.

Tiba-tiba dalam kegelapan malam itu sebuah bayangan berkelebat cepat mendekati Arum Sari.

Ubandhana bergerak cepat mendahului dan menghadang pergerakan bayangan itu.

“Jangan bergerak!” bentak Ubandhana.

“Menyingkirlah! Aku mengambil bagianku!” seru Patraman.

“Engkau belum mengeluarkan sepeserpun! Tidak ada bagianmu di sini!” sahut  Ubandhana.

“Pekerjaan ini belum selesai,” kata Patraman gusar.

“Ya, karena belum selesai maka engkau jangan bertingkah!”

Ubandhana dan Patraman saling bertatap mata dengan tajam.

Keduanya seperti pemangsa yang mencium daran dan siap berebut seonggok daging segar. Mereka saling berhadapan dalam diam. Tatapan mata telah sama-sama melekat. Keduanya telah merunduk dan  saling menunggu.

Mereka berdua sudah siap untuk saling bunuh.

“Tahan, Patraman! Engkau bisa lakukan itu esok hari. Simpan tenagamu, Ubandhana!” seru Laksa Jaya pada dua lelaki muda yang nyaris beradu nyawa..

Ubandhana meloncat surut sekitar tiga atau empat langkah namun sorot matanya belum melepaskan Patraman. Dalam waktu itu, Patraman perlahan meluruskan kedua kakinya, ia juga memandang wajah penculik Arum Sari dengan gusar. Perlahan, ketiganya mengambl jarak dari Arum Sari.

Related posts

Leave a Comment