Aku tengadah, menatap langit yang mulai dirambati suram. Aku tengok ke tempat api unggun, apakah seseorang telah menyalakan api? Ah ya, aku melihatnya. Lidah api tampak olehku seperti lentik jemari te...
Toh Kuning tercenung mendengar ucapan Ki Arumpaka yang selangkah maju mendekatinya. Namun Toh Kuning masih tetap waspada. Pada saat itu ia mendengar suara Pamekas, ”Jangan hiraukan orang itu, Ki Lurah...
Matahari terus menapak semakin tinggi. Kabut telah beranjak dan angkasa begitu cerah pada siang itu. Aku duduk berdua dengan ibuku di beranda. Beliau terlihat sangat cantik. Giginya berkilau dan sepe...
Aku memasuki sebuah ruang yang berhawa tetapi tidak mempunyai angkasa. Aku tidak melihat tempatku berpijak, tetapi aku tidak melayang. Sesuatu yang padat lagi kenyal menjadi alas untuk dua kakiku. Pad...
Tiba-tiba aku merasa lapar, dan tanpa tahu penyebabnya, perih dan gatal mendadak sirna. Mungkin karena aku terpana dengan yang terpampang di depan mataku. Bisa karena jembut yang sebagian telah memuti...
Rasa gatal semakin dalam memasuki tubuhku. Ia tidak lagi merambat permukaan kemaluan, tetapi menyusup ke bagian dalam. Di balik kulit perutku, di setiap pembuluh darahku, bahkan merayap hingga rongga ...
Tempat yang menjadi tujuan mereka adalah rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Toh Kuning sebelum menjadi murid Begawan Bidaran. Rumah itu sekarang dihuni oleh beberapa lelaki muda yang dikenal seb...
Ki Dali Ireng diam sesaat. Lalu katanya, ”Baiklah, Ki Srengganan. Anda dan para prajurit dapat segera bergabung di dalam barak bersama-sama prajurit yang lain. Tetapi saya akan laporkan keberadaan ana...
Oleh sebab perjalanan panjang itu dilakukan dengan tidak terburu-buru, maka pada hari keempat, rombongan prajurit pun tiba di depan regol barak pasukan khusus di Selakurung. Dua penjaga gerbang seger...

