Padepokan Witasem
bulan telanjang, sang maharani, novel indonesia, prosa liris
Bab 1 Bulan Telanjang

Bulan Telanjang 7

Tiba-tiba aku merasa lapar, dan tanpa tahu penyebabnya, perih dan gatal mendadak sirna. Mungkin karena aku terpana dengan yang terpampang di depan mataku. Bisa karena jembut yang sebagian telah memutih, bisa juga karena kulit perempuan itu yang seolah makin berkilau, atau karena payudaranya yang tiba-tiba merosot! Sungguh, aku benar-benar tidak dapat berpikir! Apa yang menjadi sebab payudara perempuan itu tiba-tiba memanjang atau melar? Barangkali ini hanya bayanganku saja atau angan-angan yang seolah terlihat nyata. Yang pasti adalah sebuah pertanyaan timbul menggeliat dalam benakku, apakah aku dalam bahaya?

Suara sungai mengalir pelan ketika memasuki rongga telingaku. Aku tidak lagi dapat memperhatikan liuk sungai saat melewati bebatuan, saat membuat pusaran kecil, dan saat air melahirkan buih-buih yang segera hilang dalam riak. Perempuan itu mendekat. Tidak ada lagi jarak antara aku dengannya!

Mulutku terbuka ketika menyaksikan bola-bola kecil berputar di bawah kemaluannya. Ia mengangkang. Aku seperti melihat bintang-bintang berjalan di atas garis lingkaran. Aku serasa menyaksikan purnama menghilang ditelan mendung raksasa. Aku seperti dalam cengkeraman.

Aku terhisap tenaga gaib!

Aku sedang telanjang dan aku tidak terikat oleh sesuatu pun. Aku melihat tubuhku sedang bersandar dengan dengan mata lekat menatap kemaluan perempuan itu. Ketika aku menggerakkan kepala, memandang sekeliling, aku berkubang cahaya. Waktu tidak lagi dapat menyentuhku, itu keyakinan dan perasaanku.

Tidak ada jalan keluar.

Aku dapat merasakan bahwa perempuan itu beralih kedudukan. Ia kembali duduk seperti semula. Namun aku masih dapat melihat jelas dari dalam kemaluannya. Aku melihat tubuhku sedang bersandar dengan menatap payudara perempuan itu. Aku memandang wajahku yang kesulitan mengalihkan pusat  pandangan.

Siksa ini masih berkepanjangan ketika waktu tidak lagi mengapung untukku, itu keyakinan dan perasaanku.

Tenaga asing mengguncang tubuhku sementara kesadaranku masih berada di dalam kemaluan perempuan itu. Sebenarnya, siapakah perempuan itu? Han Rudhapaksa tidak memberitahuku sedikit pun tentang ini. Maka aku hanya dapat menduga, apakah perempuan ini adalah wujud lain dari sang hyang tirta? Lalu, apa yang tengah diperbuat untukku?

Kekuatan gaib semakin mengguncang tubuhku sementara perih dan gatal kembali menyentuhku. Kesadaranku masih menyisakan ruang untuk bertanya, bagaimana aku dapat merasakan gatal sedangkan tubuhku berada di luar kemaluan perempuan itu?

Aku mengingat ucapannya, “Malam ini menjadi milikmu.”

Tiba-tiba segalanya menjadi gelap. Kesadaranku hilang.

“Engkau dalam keadaan lemah ketika aku membawamu keluar dari sungai,” kata Han Rudhapaksa.

Pandanganku beredar. Aku mengenali setiap benda dan bagian yang ada di dalam ruangan ini. Oh, pasti karena ruangan ini adalah kamarku.

Sambil memejamkan mata, aku berkata pada kakekku, “Ya, saya dapat merasakan ketika tangan kakek menyentuh tubuhku. Saya bertegur sapa dengan udara dingin yang kerap menyapa dalam perjalanan ke rumah. Kakek, siapakah perempuan yang berada di depanu semasa saya masih di sungai?”

Han Rudhapaksa membuang mata. Seolah ia tengah berpikir untuk itu. Benarkah? Aku tidak tahu.

“Engkau bicara tentang perempuan? Bagaimana aku tahu sedangkan kedudukanku berada jauh darimu, Dyah Murti.”

Oh, Dyah Murti. Aku baru ingat bahwa ibu memanggilku  dengan nama itu. Baiklah, namaku Dyah Murti. Putri dari penguasa Mataram, Dyah Pancapana. Rakai Panangkaran adalah sebutan masyhur bagi ayahku.

“Dyah Murti.” Kakek menyebut namaku dengan raut wajah yang berusaha keras menautkan alis.

“Oh,” kataku dengan setapak tangan menutup mulut. “Seorang perempuan berdada besar, berkulit terang dengan kemaluan yang berkilauan. Siapakah ia, Kakek?”

“Kakek tidak dapat memastikan. Apakah ia mengucap sesuatu padamu?”

Aku mengangguk dan lega bahwa siksaan telah berakhir. Semakin longgar bagiku ketika waktu kembali melayang dan berputar di sekitarku.

“Kau akan beritahu kakek?”

Aku tidak dapat berkata sesuatu. Tiba-tiba aku terlempar dan tenggelam ke dasar sungai. Tiba-tiba segalanya menjadi gelap. Kesadaranku tidak menghilang. Aku terhisap tenaga gaib!

Related posts

Sang Maharani

kibanjarasman

Bulan Telanjang 9

kibanjarasman

Bulan Telanjang 8

kibanjarasman

Bulan Telanjang 6

kibanjarasman

1 comment

Dua Utusan 5 - Padepokan Witasem 01/07/2021 at 09:31

[…] Mulutku terbuka ketika menyaksikan bola-bola kecil berputar di bawah kemaluannya. Ia mengangkang. Aku seperti melihat bintang-bintang berjalan di atas garis lingkaran. Aku serasa menyaksikan purnama menghilang ditelan mendung raksasa. Aku seperti dalam cengkeraman. Aku terhisap tenaga gaib! Bulan Telanjang 7 […]

Reply

Leave a Comment