Padepokan Witasem
bulan telanjang, sang maharani, novel indonesia, prosa liris
Bab 1 Bulan Telanjang

Bulan Telanjang 6

Rasa gatal semakin dalam memasuki tubuhku. Ia tidak lagi merambat permukaan kemaluan, tetapi menyusup ke bagian dalam. Di balik kulit perutku, di setiap pembuluh darahku, bahkan merayap hingga rongga dadaku. Tidak mungkin bagiku untuk tahu akhir dari derita ini. Aku menenggelamkan seluruh tubuh, lalu menggeliat di atas pasir dasar sungai. Aku mengusap bagian yang gatal dengan pasir yang dapat aku raih. Kerikil, batu dan lumut pun menyentuhku.

Aku ingin berbaring di dasar sungai. Aku ingin bernapas di dalam air. Aku ingin mati tenggelam lalu dilupakan oleh kakekku! Tidak, aku ingin mati. Bukan itu maksudku, aku ingin hidup abadi dengan derita ini.  Ah, Sang Penguasa memang tidak tahu cara menghormati mainan-Nya.

Aku tersiksa!

Sebentar kemudian aku menyembulkan kepala tanpa tergesa-gesa. Aku begitu tenang setelah puas memaki Yang Tak Terbantahkan. Usiaku dua tahun setelah angka kembar tetapi orang-orang memandangku sebagai perempuan dewasa.

Kembali aku menatap wajah perempuan yang berada di depanku. Ia begitu rupawan dengan tubuh yang tidak dapat dikatakan berdaging banyak. Ia tersenyum padaku. Bila ingat penuturan ibuku, boleh jadi wanita itu akan menjadi wanita lain dalam kehidupan bangsawan.

Rasa gatal mulai berkurang. Jantungku berdetak dengan wajar. Namun aku merasakan keganjilan lain, aku berkeringat di dalam air! Tubuhku seolah memancarkan panas dari dalam. Kemaluanku serasa terbakar!

Aku tersiksa!

Aku ingin mengintip bagian dalam selangkanganku, ada apa di sana? Sedang terjadi apakah hingga bibir kemaluanku seperti terpanggang? Aku paksakan itu. Aku ingin melihatnya!

Di dalam air, aku tidak melihat sesuatu yang bersinar seperti nyala obor. Aku tidak melihat besi yang membara di dalam kemaluanku. Mataku begitu pedih sewaktu butiran pasir menerobos kelopak mataku. Ketika aku menggosok punggung tanganku pada dua mata, aku menyaksikan altar persembahan berada di atas api. Aku menjadi penonton ketika tempat pemujaan tengah membara di dalam pejam mataku.

Aku berada di dalam siksa yang tidak dimengerti.

Apakah aku harus melompat ke altar lalu membiarkan diri terbakar? Atau aku menyeruak memasuki tempat pemujaan lalu menyucikan diri dengan api yang telah dimantrai? Adakah sang hyang tirta menyiapkan rencana khusus untukku? Gejolak perasaanku belum mereda meski aku hampir mati kehabisan napas. Tapi, memang, pada dasarnya aku ingin mati tenggelam.

Aku masih terpejam ketika cahaya menyilaukan menembus kelopak mataku.

Dalam pikiran, aku mendapatkan penjelasan bahwa satu-satunya ciptaan di depanku adalah wanita berdada besar itu. Tapi, bagaimana mungkin seberkas cahaya dapat menerobos tabir kelopak mata? Apakah ini kuasa sang hyang tirta?

Aku kehabisan napas, aku harus keluar dari kedalaman sungai ini, pikirku. Sesaat aku terpana menyaksikan perempuan itu. Ia tersenyum ketika melihatku terburu-buru berkejaran dengan napas.

“Tak perlu tergesa-gesa,” katanya padaku. Ia menggeser tubuh lebih dekat denganku. “Jangan memaksa diri untuk menahan napas lebih lama karena kematian bukanlah tujuan akhir hidupmu. Kamu harus menguasai keadaan. Mungkin kau bertanya dalam hatimu, sinar apakah yang menembus mata wadagmu?”

“Benar, Nyai. Nyai sepertinya tahu yang saya alami di bawha permukaan air.”

“Ada dua keadaan yang dapat terjadi padamu, Dyah Murti.”

“Bagaimana ia tahu namaku?” pikirku. “Ah, aku terlalu bodoh untuk mengerti. Sudah pasti ia tahu karena nama setiap orang disebutkan satu demi satu oleh sang rama.”

Perempuan itu, perempuan yang belum aku ketahui namanya, terpisah dua langkah dari tempatku. Aku melihat semakin jelas bentuk payudaranya. Lalu, tiba-tiba, seberkas cahaya terpancar lagi dan keluar dari tempat yang aku perkirakan sama dengan yang aku lihat di kedalaman.

Siapa sebenarnya perempuan itu?

Perih dan gatal tak lagi dapat aku rasakan. Segenap perasaan dan pikiran terserap oleh kejanggalan yang dua kali terjadi.

“Nyai, bolehkah saya bertanya?”

“Silahkan.”

“Apakah cahaya itu benar-benar keluar dari kemaluan Nyai?”

Permukaan langit penuh bertabur bintang yang tampak pudar karena purnama bulat bersinar. Daun-daun pisang yang kering berayun seperti selendang keperakan para penghuni khayangan. Ia tidak segera menjawabku. Perempuan itu memainkan air dan memijat dua buah dadanya dengan bibir yang terus menerus bergetar. Untuk sekian lama, aku pikir memang terasa lama karena aku menunggu jawaban darinya. Namun kemudian aku melihatnya menengadah. Ia berdiri dengan rambut kemaluannya tepat di depan wajahku.

Perempuan itu berkata lirih, “Malam ini menjadi milikmu selamanya.”

Related posts

Sang Maharani

kibanjarasman

Bulan Telanjang 9

kibanjarasman

Bulan Telanjang 8

kibanjarasman

Bulan Telanjang 7

kibanjarasman

Leave a Comment