Ki Tumenggung Lembu Pitungan manggut-manggut sebentar. Lalu ia memutuskan, ”Baiklah, Ki Rangga, kau dapat bermalam disini atau mungkin kau akan kembali ke barak pasukanmu jika itu kau rasa perlu. Dan ...
Murid Begawan Bidaran itu kemudian melihat sosok bayangan berdiri dalam keremangan senja. Ketika ia semakin dekat dengan bayangan itu, tiba-tiba bayangan itu berlari menjauh dengan cepat seolah-olah i...
“Apakah kau melihat Ken Arok?” Ki Branjangan Putih bertanya. “Tidak,” singkat petugas penghubung itu menjawab. Maka dengan jawaban yang sebenarnya tidak diharapkan olehnya, Ki Branjangan Putih memutus...
“Senjata dengan ciri yang sama telah melukai seorang pangeran,” desis Gubah Baleman. Ia mengangkat tinggi anak panah itu lalu berseru lantang, ”Aku perintahkan kalian untuk menyerah! Anak panah sejeni...
Kini ia melihat tubuh Begawan Bidaran melayang perlahan sejengkal demi sejengkal. Tiba-tiba suara menggelegar terdengar dan menghantam dada Toh Kuning hingga ia terjengkang. Suara itu mengandung kekua...
Toh Kuning mengangguk dan ia dapat menerima penjelasan gurunya yang ternyata memang sengaja menyembunyikan keadaan Ken Arok. Meski ia belum mampu meredakan guncangan perasaan tetapi Toh Kuning memaksa...
Pada saat itu, Toh Kuning telah mencapai batas tertinggi tenaga intinya tetapi ia tidak mampu melepaskan diri dari kekuatan Begawan Bidaran. Begawan Bidaran kemudian berkata, ”Aku tidak akan membiarka...
“Saya mohon ampun, Guru,” desah pelan Toh Kuning dengan rasa sesal. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ngger!” ucapan Begawan Bidaran ini mengejutkan perasaan Toh Kuning. Kemudian kata Begawan Bidaran s...
Aku berada di belakang Ken Arok ketika ia melepaskan burung sebagai tanda rombongan Angger Mahendra telah melewati batas Alas Kawitan.”...
