Padepokan Witasem
Bab 3 Bergabung

Bergabung 5

Murid Begawan Bidaran itu kemudian melihat sosok bayangan berdiri dalam keremangan senja. Ketika ia semakin dekat dengan bayangan itu, tiba-tiba bayangan itu berlari menjauh dengan cepat seolah-olah ia sedang terbang di atas rerumputan. Toh Kuning yang tidak mengenali hutan di sebelah padepokan itu mengalami kesulitan untuk mengejarnya. Mereka berdua semakin jauh dari padepokan. Namun Toh Kuning telah memperhitungkan kemungkinan adanya jebakan untuknya, maka ia mengurangi kecepatannya lalu bersikap waspada.
Tiba-tiba lengking panjang memecah kesunyian.
Dengan kecepatan yang sukar diterima akal sehat, seseorang menyerang Toh Kuning dengan ilmu yang luar biasa. Keris yang terjulur dari penyerang asing itu menebas dengan cepat, Toh Kuning yang terkejut kecepatan yang datang seperti kilat. Kecepatan tinggi yang ada dalam dirinya dapat menghindarkan Toh Kuning dari bahaya tetapi keris itu masih datang seperti pusaran gelombang lautan.
Toh Kuning masih dapat menahan diri untuk membalas tanpa di-sertai nalar. Ia mencoba mengenali olah gerak lawannya yang seperti tidak asing baginya. Keraguan membayang dalam hatinya ketika mengingat suara yang telah dikenalnya.

“Kau harus tetap hidup atau akan mati dalam derita,” kata penyerang itu.

Gembira bukan kepalang hati Toh Kuning saat benar-benar yakin mengenal suara yang lama dirindukan. Kini Toh Kuning tanpa ragu membalas serangan penyerang yang berkelahi nyaris tanpa mengangkat wajahnya.

“Ken Arok!” bercampur rasa gembira dan bingung dalam hati Toh Kuning. Namun Ken Arok semakin garang mengurungnya dalam serangan yang mengalir sangat deras. Menyadari jika orang yang diyakininya sebagai Ken Arok berusaha membunuhnya, maka Toh Kuning tidak membiarkan kegelisahan menguasai dirinya lebih lama. Ketika keris penyerang itu menyengat dari bawah lambung, Toh Kuning menjatuhkan diri dan berguling cepat lalu menebas bagian kaki lawannya.

Seketika itu lawan Toh Kuning melompat jungkir balik sambil menusukkan kerisnya kea rah dada Toh Kuning. Tetapi Toh Kuning telah berkembang dengan banyak pengalaman, maka ia memukul urat nadi penyerangnya. Benturan terjadi dan keduanya bergeser saling menjauh.

“Toh Kuning,“ kata penyerang asing itu sambil mengangkat wajahnya.

Toh Kuning memandangnya dengan kening berkerut. Lalu ia tersenyum dan katanya, ”Ken Arok! Kau semakin lincah dan makin hebat.”
“Kau tidak pernah meninggalkan guru terlalu lama,” kata Ken Arok.
Kemudian mereka duduk berdekatan dibalik sebongkah batu cadas berwarna hitam.
“Bagaimana keadaan guru?” bertanya Ken Arok.
Toh Kuning menundukkan wajah.
Dalam gelap, Ken Arok dapat melihat mendung bergelayut di wajah Toh Kuning. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang menghilangkan sesak dalam dadanya, Ken Arok menggerakkan bibirnya, ”Aku telah mendengar kabar tentang guru. Aku merasa bersalah karena tidak melihatnya untuk saat terakhir. Aku tidak dapat datang mengikuti upacara itu dan perbuatanku itu akan menjadi penyesalan sepanjang usiaku.”

“Tidak,” sahut Toh Kuning lirih, ”kau tidak bersalah karena memang itulah kehendak guru. Aku juga tidak menduga jika guru tiba-tiba meninggalkan kita semua dalam keadaan semuanya belum mapan dan siap.”

“Kau tidak dapat berkata seperti itu,” Ken Arok memotong kalimat Toh Kuning. ”Aku merasakan marah ketika guru meninggalkanku dalam keadaan terluka, meski kemudian Ki Branjangan Putih datang menolong dan merawatku hingga sembuh. Namun sejak itu aku memendam amarah pada guru. Aku juga marah padamu karena tidak pernah berusaha mencariku. Kemarahanku pada kalian berdua telah membuatku tidak dapat melihat dalam terang. Beberapa kali aku mencoba meninggalkan padepokan Waringin Kelabang untuk membunuh kalian berdua, tetapi Ki Branjangan selalu berhasil mencegahku. Kesalahanku adalah gagal menghabisi kalian berdua! Kau harus tahu itu!”

Toh Kuning menarik napas dalam-dalam saat merasakan dadanya sedikit sesak mendengar Ken Arok mendengus marah.

“Dan ketika aku mendengar berita tentang guru, maka aku dapat melihat segala sesuatu menjadi terang seperti purnama. Ia sengaja meninggalkanku di Alas Kawitan agar aku dapat belajar mencari cara lain dalam mencintai kehidupan. Ketika itu aku dapat menghargai kematian, hingga akhirnya, aku berada di samping Ki Branjangan sepanjang hari. Meski demikian, aku masih dihinggapi rasa bersalah. Antara marah karena gagal membalas perbuatan itu atau bahagia karena masih melanjutkan kehidupan. Namun, apapun itu, kecewa daa bersalah belum beranjak dari hatiku hingga kini.”

Related posts

Leave a Comment