Padepokan Witasem
Bab 3 Bergabung

Bergabung 4

“Apakah kau melihat Ken Arok?” Ki Branjangan Putih bertanya.

“Tidak,” singkat petugas penghubung itu menjawab.

Maka dengan jawaban yang sebenarnya tidak diharapkan olehnya, Ki Branjangan Putih memutuskan untuk bertahan penuh di bangunan utama. Suaranya melengking meneriakkan perintah untuk mundur.

Seiring dengan suaranya yang mampu merobek gendang telinga,  Ki Branjangan Putih menyerang Gubah Baleman dengan terjangan dahsyat. Namun Gubah Baleman telah meningkatkan ilmunya setingkat lebih kuat dari sebelumnya. Ki Brajangan Putih dengan hebat berusaha mendesak Gubah Baleman, tetapi ia kesulitan menutup ruang gerak pemimpin prajurit yang bertempur sangat tenang.

Suara prajurit Kediri yang bersorak seperti gemuruh saat memasuki halaman depan padepokan membuat hati lawannya menjadi kecut. Dengan cepat pasukan Kediri menyebar dan bersatu dengan kawannya yang datang dari halaman belakang. Meski jumlah pasukan Kediri tidak sampai empat puluh orang, namun perbuatan mereka mengensankan seolah berhasil merebut padepokan dari pengikut Ki Branjangan Putih.

Tandang Toh Kuning yang menggila agaknya membuat jerih pengikut Ki Branjangan Putih. Sebagian di antara mereka sudah mengalami kesulitan untuk memusatkan pikiran. Tubuh Toh Kuning yang berkelebat sangat cepat dan tongkat bambu yang mematuk dada lawannya telah berhasil  mengurangi jumlah orang-orang padepokan.

Sepasang mata dengan tajam mengawasi Toh Kuning dari sebuah pohon kedondong yang tumbuh lebat di tengah-tengah halaman padepokan. Orang ini terlepas dari penglihatan orang-orang yang bertempur dengan sengitnya.

Perintah Ki Branjangan Putih telah sampai pada pendengaran para pengikutnya. Mereka kemudian serentak mundur dan berkumpul di bangunan induk. Para pemimpin kelompok berteriak keras memberi perintah orang-orang padepokan untuk menyusun barisan pertahanan. Namun ketika mereka melihat Ki Branjangan Putih masih terikat dalam pertarungan melawan Gubah Baleman, orang-orang padepokan berhamburan keluar dari barisan menuju lingkar perkelahian pemimpinnya.

Mereka sadar bahwa kematian Ki Branjangan Putih akan membuat mereka kehilangan kendali. Mereka akan kehilangan pusat perintah yang kuat dan hebat. Maka demikianlah orang-orang padepokan justru melakukan perlawanan lebih hebat kala mereka bertempur berdekatan dengan pemimpin mereka.

Mereka telah banyak melihat kematian demi kematian merenggut kawan-kawannya, sahabatnya, keluarga bahkan orang tua mereka sendiri. Mereka telah melewati banyak kesengsaraan yang timbul karena kematian. Maka kemudian mereka bertempur semakin garang dan telah melupakan dirinya sendiri demi keselamatan Ki Branjang Putih.

Meskipun keadaan belum sepenuhnya dalam penguasaan prajurit Kediri, orang-orang padepokan satu demi satu mulai tumbang. Ki Branjangan Putih pun tidak lagi dapat memberikan perlawanan sengit pada Gubah Baleman namun ia belum menyerah. Tetapi ketika ia melihat pengikutnya sudah tidak mampu melawan sepenuh tenaga, tiba-tiba Ki Branjangan Putih menghentak ilmu melebihi daya tahannya. Dan kemudian yang terjadi adalah Ki Branjangan Putih roboh bermandi darah tatkala kedua telapak tangannya serentak beradu tenaga dengan Gubah Baleman.

Dalam waktu yang cukup singkat, pasukan Kediri telah menguasai keadaan di padepokan. Para lurah prajurit mulai memeriksa mereka yang menjadi tawanan. Sementara Gubah Baleman memasuki setiap ruangan yang tersebar di dalam bangunan-bangunan yang ada di lingkungan padepokan. Gubah Baleman mendapati begitu banyak senjata yang ada di beberapa ruangan. Seakan-akan senjata telah cukup untuk merebut kerajaan.

Beberapa orang telah bersimbah darah dengan napas keluar satu per satu dari hidungnya. Ada yang tidak dapat tertolong lagi. Para korban segera dikumpulkan pada satu tempat atas perintah Gubah Baleman.

Suasana kacau yang terjadi ketika orang-orang berhamburan dari barisan dimanfaatkan pemilik sepasang mata itu untuk mendekati Toh Kuning.

“Toh Kuning!“ orang yang mendekati Toh Kuning berseru pelan. Toh Kuning meloncat surut dan mengamati orang yang menegurnya. Meskipun wajah orang itu tidak terlihat begitu jelas olehnya, Toh Kuning masih mengenal suara orang itu. tiba-tiba orang itu menempatkan telunjuknya di depan bibirnya lalu mengajak Toh Kuning keluar dari pertempuran.

Namun Toh Kuning tidak segera mengikuti kepergian orang itu, ia masih berusaha menuntaskan tugas yang diberikan oleh Ki Rangga Gubah Baleman.

Lalu ketika pertempuran mulai berkurang dan pasukan Kediri telah tenggelam dalam kewajiban masing-masing, diam-diam Toh Kuning meluncur mengikuti arah orang asing itu pergi. Tubuh Toh Kuning melesat sangat ringan dan tidak ada orang yang menyadari apabila Toh Kuning sudah menghilang sebelum pertempuran benar-benar usai.

Related posts

Leave a Comment