Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora
Bab I - Dua Utusan

Dua Utusan 5

Ia mendesah pelan bersama kenangan itu. ”Eyang memang sudah berusia lanjut tetapi masih mempunyai ingatan setajam belati yang biasa digunakan di ladang. Atau aku yang memang sengaja melupakannya tanpa aku sadari sepenuhnya? Sebenarnya aku tidak dapat berkata ‘belum siap’ tetapi rasanya setiap orang seperti mendesakku untuk menerima permintaan Bhatara Pajang.

“Ah, bagaimanapun dan dalam keadaan apa saja tidak akan merubah kedudukan dua paman sebagai pengganti orang tuaku!”

Bondan membuka telapak tangannya, lalu mengalihkan pandangan, menatap lekat kedua telapak tangannya. ”Sejauh ini aku tidak berhenti untuk meningkatkan kemampuan. Meski demikian, aku tidak merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku masih berada dalam tataran yang belum seperti kehendak Eyang Gajahyana.”

Bondan menarik napas dalam-dalam seoalh kembali terhisap dalam pikiran yang belum rela melepasnya.  “Sedikit sekali aku dapat mengingatnya. Mengingat bagian-bagian yang menarik darinya. Bahkan, aku tidak mengerti kekurangan yang ada dalam dirinya. Tetapi, semua telah berlalu dan beberapa hal penting segera terjadi. Dan ketika peristiwa penting itu terjadi, aku harus melupakan bagian lain yang tidak mungkin dapat aku kubur selamanya!” Malam mengapung lebih lambat dari gerakan siput. Bondan terhempas tak menentu oleh  pikiran dan bayangan-bayangan yang sulit dikendalikannya.

Mulutku terbuka ketika menyaksikan bola-bola kecil berputar di bawah kemaluannya. Ia mengangkang. Aku seperti melihat bintang-bintang berjalan di atas garis lingkaran. Aku serasa menyaksikan purnama menghilang ditelan mendung raksasa. Aku seperti dalam cengkeraman.

Aku terhisap tenaga gaib!

Bulan Telanjang 7

Pada malam itu, untuk sekian kali, ia menyadari kemampuan besar yang ada dalam dirinya. Ia mengingat pesan Resi Gajahyana bahwa tidak seorang pun di bumi ini yang tidak tertandingi, tetapi setiap orang akan dapat mencapai puncak tertinggi yang dapat ia kuasai. Luka-luka yang pernah ia dapatkan ketika melawan Ki Cendhala Geni agaknya menorehkan kesan mendalam dalam hatinya. Betapa ia hampir saja menemui kematian jika saja pasukan Ken  Banawa dan Gumilang tidak datang tepat pada waktunya. Saat itu, ketika pertarungan terjadi, Bondan merasakan telah berada di lapis tertinggi dalam olah kanuragan. Tetapi perkelahian yang nyaris merenggut nyawanya telah mengubah Bondan dalam banyak hal.

Sejenak Bondan merebahkan diri dan mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia akhirnya tenggelam dalam tidurnya.

Ketika matahari didahului rona merah di ufuk timur, orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu telah berada dalam kegiatan sehari-hari. Sela Anggara telah berada di dekat sumur untuk mengisi jambangan, Bondan berjalan hilir mudik memberi makan kuda dan membersihkan kandangnya. Seorang lagi terlihat membersihkan halaman dan beberapa perempuan sudah bercanda akrab dengan asap di dapur.

Pada pagi yang cerah meski kabut belum sepenuhnya bergeser tempat, Ki Swandanu dan Ki Hanggapati telah berada di bawah regol halaman. Agaknya kedua tamu dari Pajang itu terbiasa bangun di awal hari. Kedua-nya terlihat sedikit banyak mengeluarkan keringat ketika membantu membersihkan halaman.

“Silahkan Paman berdua membersihkan diri terlebih dahulu. Segala sesuatu telah kami siapkan bagi Paman berdua. Sementara waktu ke depan, saya tidak dapat menemani Paman sekalian untuk makan pagi karena sesuatu yang cukup penting harus saya kerjakan di sebelah utara istana,” berkata Sela Anggara kepada dua tamu yang saat itu sedang duduk di atas tlundakan pendapa.

“Terima kasih, Ngger. Kami telah merasa seperti berada di rumah sendiri,” berkata Ki Hanggapati dengan senyum di bibirnya. Keduanya bangkit dan beranjak mengikuti Sela Anggara menuju halaman belakang.

Embun di dedaunan berkilau ketika matahari menanjak di kaki langit. Iringan mendung terlihat mendekati langit kotaraja. Dalam waktu itu, Ken Banawa memasuki regol halaman dengan langkah yang ringan dan tenang. Rambutnya yang panjang tergelung rapi di bagian belakang kepala. Sejenak ia berhenti untuk bercakap barang sedikit dengan orang yang sedang mencabut rumput halaman.

“Apakah ada kabar dari Gumilang, Ki Narto?” bertanya Ken Banawa setelah memberi salam kepada orang yang bernama Ki Narto.

“Sepanjang sejarah, British belum pernah membatalkan sebuah ultimatum militer. Kini terserah sepenuhnya kepada tuan-tuan, bersedia memenuhinya atau menolaknya. . .,”

Pertempuran 10 Nopember Surabaya

 

“Belum, Ki Banawa. Agaknya Angger Gumilang akan berada dalam tugasnya untuk waktu yang cukup lama,” jawab Ki Narto menganggukkan kepala.

“Ya, semoga ia dapat menambah keluasan wawasan selama berada di Watu Golong,” kata Ken Banawa sambil mohon diri untuk menemui kedua tamu dari Pajang. Ki Narto menjawabnya dengan senyum dan anggukan kepala.

Dua orang dari Pajang segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Ki Ken Banawa di pendapa. Setelah bertukar salam dan saling bertanya keadaan masing-masing, Ki Banawa menyilahkan keduanya untuk menikmati sedikit hidangan yang tersedia untuk pagi itu.

Related posts

Dua Utusan 8

kibanjarasman

Dua Utusan 7

kibanjarasman

Dua Utusan 6

kibanjarasman

Dua Utusan 4

kibanjarasman

Leave a Comment