Padepokan Witasem
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok! Uncategorized

Sampai Jumpa, Ken Arok! 19

“Saya mohon ampun, Guru,” desah pelan Toh Kuning dengan rasa sesal.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ngger!” ucapan Begawan Bidaran ini mengejutkan perasaan Toh Kuning. Kemudian kata Begawan Bidaran selanjutnya,”Kalian membuatku kecewa saat berbuat yang tidak pantas, tetapi kalian juga membuatku bangga ketika kalian mengunjungi orang kelaparan. Aku ingin sekali untuk dapat membenci kalian tetapi ternyata benih kebencian itu tidak dapat berkembang. Keinginanku melihatmu dan Ken Arok menjadi lebih baik ternyata mampu memusnahkan setiap benih kebencian yang ada dalam hatiku.”

“Dan,” Begawan diam untuk sesaat. Lanjutnya kemudian, ”hari ini adalah perjumpaan kita untuk terakhir kalinya. Aku kira kau telah tuntas sepenuhnya menyerap semua pengetahuan dan wawasan yang diajarkan di padepokan ini. Kau dapat melihat puncak Arjuna.” Begawan menunjuk apa yang ia maksudkan. Ia meneruskan penjelasannya,” Puncak yang menjulang hingga menembus awan itu bukan sekedar tempat bersemayam para dewa. Ia mampu mencapai batas tertinggi yang mampu ia gapai ketika ia telah meyakini jika ia telah menyentuh bagian paling dalam.”

Toh Kuning mengerutkan kening dan  mencoba memahami penjelasan Bengawan Bidaran. Sorot mata Toh Kuning menampakkan kebingungana untuk mencerna wejangan gurunya. Ia memotong penjelasan gurunya, ”Guru, apakah itu saya aku tidak akan berjumpa guru setelah hari ini?”

“Aku belum selesai bicara, Ngger,” suara lembut beriring dengan senyum Begawan yang mengembang. Ia memejamkan mata. Wajah teduh Begawan teduh menjadi penghibur yang istimewa bagi Toh , ketika ia merasa seperti akan menjalani hidup seorang diri. Ken Arok, teman dekat yang dianggapnya sebagai saudara, telah hilang tanpa kabar. Toh Kuning telah mencoba mencari tahu dan bertanya pada gurunya, tetapi Begawan Bidaran selalu menjawab dengan gelengan kepala.

Masih dengan mata terpejam, Begawan melanjutkan penuturannya, ”Mungkin saja kita tidak akan pernah berjumpa lagi. Tetapi dalam hatimu, kau menyadari apabila tunas akan tumbuh dan berkembang hingga masa yang ditentukan baginya. Dan masa itu ,usia untuk berbakti telah tuntas. Setiap bagian tunas yang menjadi akar akan terus menerus menyerap sari pati kehidupan. Itu semua bertujuan agar ia dapat menunjang cikal bakal kehidupan yang tersimpan dalam tunas tadi. Begitu pula sebuah gunung dengan puncaknya yang menembus awan, ia akan terus berusaha mencapai ketinggian sesuai dengan akar yang dapat ia tancapkan di bagian dalam dari bumi.”

Toh Kuning merasa sedikit lebih jelas memahami keterangan gurunya. Namun sebuah pertanyaan besar yang telah berbulan-bulan lamanya ia pendam dalam hati kini seakan mendapatkan sedikit lubang untuk keluar. Meski begitu, Toh Kuning masih berusaha untuk menahan diri sampai gurunya selesai memberi wejangan padanya.

“Kekuatan akar dari sebuah tunas dapat menentukan akhir dari tunas itu sendiri,” kata Begawan lalu membuka mata dan memandang Toh Kuning penuh kelembutan. Tetapi Toh Kuning justru merasakan dirinya bagaikan dihisap oleh pusaran air yang dahsyat di tengah lautan. Ia tidak dapat lagi menahan gelisah dalam hatinya. Rasa kehilangan itu kemudian menguasai diri Toh Kuning.

Seolah tanpa sadar, Toh Kuning bertanya, ”Guru, di manakah Ken Arok?”

Tiba-tiba ia meloncat bangun dari duduknya. Tangan Toh Kuning terkepal, dadanya berdesir kencang dan tubuhnya bergetar hebat. Ia berkata geram, ”Aku harus menuntut balas kematian Ken Arok. Aku melihatnya terkapar di tangan Mahesa Wunelang.”

“Guru!” Toh Kuning membungkukkan badan lalu melangkah lebar meninggalkan Begawan Purna Bidaran.

“Aku tidak dapat membiarkanmu pergi, Ngger!” lirih Begawan berkata. Lalu ia mengangkat tangan dan melepaskan tenaga inti yang sangat besar untuk membetot Toh Kuning yang hampir saja melewati pintu. Tiba-tiba Toh Kuning merasa ia sedang ditarik ke belakang. Ia merendahkan badannya dan mencoba melawan kekuatan besar yang sedang merengkuhnya kembali ke tempat duduk semula.

Sekuat tenaga Toh Kuning mencoba lepas dari pengaruh tenaga inti Begawan Purna Bidaran. Keringatnya mengucur deras, kedua kakinya pun bergetar hebat saat ia mencoba bergeser maju setapak. Namun yang menjadi lawan adalah gurunya sendiri. Seorang brahmana yang telah menjadi perbincangan orang-orang Kediri sebagai titisan penguasa semesta.

Related posts

Leave a Comment