Padepokan Witasem
Bab 3 Bergabung

Bergabung 9

Ki Tumenggung Lembu Pitungan manggut-manggut sebentar. Lalu ia memutuskan, ”Baiklah, Ki Rangga, kau dapat bermalam disini atau mungkin kau akan kembali ke barak pasukanmu jika itu kau rasa perlu. Dan Toh Kuning, kau harus bersiap karena menjelang siang ini, aku akan mengumpulkan semua peserta yang ingin menjalani berbagai tahapan untuk menjadi prajurit. Kau akan bergabung bersama mereka.”

Gubah Baleman menganggukkan kepala, berpaling pada saudara seperguruan Ken Arok,  lalu berkata padanya, ”Toh Kuning, tidak ada perlakuan istimewa bagi orang yang mempunyai kemampuan khusus. Kau harus menjalani setiap tahapan. Langkah demi langkah.”

Ki Tumenggung Lembu Pitungan memandang keduanya bergantian. Lalu ia berkata, ”Baiklah, kita akhiri pertemuan ini. Pelaksanaan segera aku mulai dan Toh Kuning dapat beristirahat sebentar di ruang dalam sebelah sanggar tertutup.”

Demikianlah kemudian Gubah Baleman beranjak menuju bilik yang disediakan khusus bagi perwira, sementara Toh Kuning menuju ruangan dalam untuk bergabung dengan para pemuda Kediri yang ingin menjadi prajurit.Di dalam ruangan, Toh Kuning melihat banyak orang yang sebagian tidak dapat lagi dikatakan sebagai anak muda. Beberapa di antara mereka tidak dapat menyembunyikan rasa tegang dari raut wajah.. Sebagian orang berbuat sesuatu untuk mengalihkan ketegangan yang mereka alami. Lalu tingkah laku mereka itu kadang mengundang rasa geli dan tawa.

“Kau berkeinginan menjadi prajurit?” bertanya seorang lelaki yang duduk di samping Toh Kuning.

“Ya, aku ingin menjadi prajurit,” jawab Toh Kuning singkat.

“Dari mana asalmu?”

“Aku berasal dari Tumapel.”

“Kau bukan orang Tumapel,” kata lelaki itu dengan mata menyelidik.

“Aku lahir di Tumapel, lalu merantau ke kotaraja dan baru beberapa bulan terakhir aku kembali ke Tumapel,” jawab Toh Kuning.

“Oh, aku mengerti,” lelaki itu menganggukkan kepala.

Kemudian seorang prajurit memasuki ruangan itu dan memberi-tahukan bahwa persiapan kecil akan dilakukan.

“Kita akan mencobanya, Ki Sanak. Seandainya kita menemui kegagalan, setidaknya kita telah berhasil mengenali diri kita sendiri,” berkata Toh Kuning pada orang di sampingnya sambil bangkit berdiri. Lelaki itu mengangguk lalu mereka berdua berjalan bersama-sama peserta lainnya menuju bagian tengah halaman yang berada di tengah-tengah barak.

Matahari telah condong dan ia sedang melangkah turun dari puncak langit. Ki Lembu Pitungan berdiri di atas panggung kecil dan berkata, ”Kalian akan meninggalkan barak ini lantas berjalan kaki mengikuti tanda-tanda yang diberikan petugas. Selanjutnya kalian akan berjalan melintasi hutan, sungai dan mungkin akan bertemu hewan buas. Waktu yang ditetapkan bagi kalian untuk kembali ke barak adalah besok siang saat matahari berada di puncak. Salah seorang dari kalian mungkin akan terluka, tetapi tidak akan ada yang mati sia-sia selama kalian mengikuti petunjuk petugas kami.”

Maka kemudian Lembu Pitungan melepaskan para peserta ujian keprajuritan. Tidak ada bekal dalam pendadaran itu, Ki Lembu Pitungan hanya mengizinkan mereka membawa sebilah belati dan sebuah kantung kulit agar dapat bertahan sekedarnya.

Hari menuju gelap.

Bagian hutan yang menjadi tempat pendadaran itu merupakan wilayah yang sulit dilewati. Bebatuan dengan ujung yang runcing, jurang yang gelap serta akar pohon yang menyembul ke permukaan menjadikan beberapa peserta terjatuh, sebagian berjalan tertatih-tatih namun mereka masih bersemangat untuk menuntaskan pendadaran pada malam itu.

Sebagian dari mereka telah berada di barisan depan tapi mereka tidak berada dalam satu kelompok. Mereka menyebar dan mencari jalan yang sesuai dengan petunjuk para petugas. Jauh di belakang mereka ada sejumlah petugas yang bergantian mengawasi jalannya pendadaran.

Toh Kuning dengan teliti mengamati setiap tanda di perjalanan sesuai petunjuk petugas. Ia tidak mengalami kesulitan menerobos pekatnya malam dan rintangan yang ia hadapi. Tetapi ia tidak ingin tampak menonjol dibandingkan peserta yang lain sehingga sekali-kali ia sengaja menjatuhkan diri dan terguling-guling. Namun secara keseluruhan para peserta benar-benar merasakan sendiri kesulitan yang mereka hadapi.

Udara dingin dan angin kencang yang menyapu lereng Arjuna membawa hambatan tersendiri bagi peserta ujian. Rasa lapar dan tenggorokan kering terasa menyiksa mereka.

Related posts

Leave a Comment