0%
Still working...

Teror Rumah Pak Sardin 3 – Sosok Misterius pada Tengah Malam

Dironda 93 kali

Pada hari ke empat.

Keesokan harinya, sejumlah orang tampak berbincang ramai di depan warung Pak Sunar. Mereka ramai membicarakan tentang peristiwa yang menimpa Mbok Wat semalam.

“ Eh, anu kasihan Mbok Wat ya. Wajahnya masih tampak pucat waktu ketemu saya di sebelah pasar Karang Ploso pagi tadi,” kata Mbak Hesty.

“Iya, wajarlah mbak. Mungkin saja dia tidak tidur semalam. Kan bagaimanapun juga yang namanya orang ketakutan pastilah masih terbayang. Apalagi dia bilang ada sepasang cahaya keluar dari bungkusan itu…..iiiiihhhh..ngeri ah,” kata Ning Susy menimpali.

“Itu katanya rumah Pak Sardin dulu bekas ditempati orang Belanda, ya?” tanya Mbak Hesty ingin tahu.

“Kata siapa, Mbak?” Ning Susy bertanya karena penasaran.

“Lho.. Ning Susy belum tahu ya? Itu kabar sudah sejak dari saya pindah kemari, Ning. Saya pindah ke Desa Sukodadi kan sejak 1987 dan kabar itu sudah saya dengar sejak SMP,” Mbak Hesty menerangkan.

“Ah, masa sih? Saya dengar malah dulunya itu lapangan kosong, Mbak. Saya kan tinggal di desa ini sejak 1980 tapi karena ikut bapak ke Surabaya ya jadi memang gak tahu sebenarnya seperti apa” Ning Susy mencoba menjelaskan.

“Dulu kakek saya pernah cerita ya, tanah yang sekarang jadi rumah Pak Sardin memang awalnya kosong. Dari sejak ayah saya masih kecil tanah itu memang kosong. Tapi seingat saya kalau tak salah..mmmmmm…itu dulu sempat ada sepetak sawah kok. Sebelum kembali jadi lapangan. Saya masih ingat kok itu dulu sempat menjadi lapangan sepak bola. Kadang kalau malam ada pasar malam yang keliling kampung. Begitu sih, Mbak Hesty, ya kalau saya tak salah ingat,” kata Pak Sunar yang sedari tadi hanya menyimak dengan serius.

“Tapi kok aneh ya. Rumah ini kan tidak pernah kosong tanpa penghuni kan? Kok tiba-tiba jadi seperti hiiiiiiii..angker,” Mbak Hesty menutup muka sambil berkata begitu.

“Ah ingat saya. Dulu pernah loh sekali saya mencium bau wangi..wangi yang gimana gitu..ya seperti bau hio atau dupa dari rumah Pak Sardin setiap subuh,” kata Ning Susy.

“Ah, masa sih Pak Sardin piara dedemit eh makhluk halus?” tanya Mbak Hesty yang masih penasaran.

“Lho, Mbak tidak boleh ada prasangka seperti itu. Tapi ada benarnya juga ya?” kata Ning Susy, ”mungkin juga orang ini punya semacam apa sih namanya yang buat pesugihan-pesugihan?”

“Aduh, Ning Susy ini kok makin tak terarah sih omongannya. Yang namanya bau wangi kan tak selalu karena ada pesugihan, Mbak. Tetapi mungkin saja orang ini memang gemar benda antik. Seperti keris atau tombak yang namanya aneh-aneh. Keris Setan Kober, Tombak Samber Nyawa, Keris Kencana Wungu, Keris Pragola. Pokoknya yang namanya seperti itu. Kan bisa saja toh!” Pak Sunar berlagak tahu tentang nama benda antik.

Siang datang menjelang. Orang-orang pun membubarkan diri. Suasana jalan utama desa pun menjadi lengang. Sedikit orang yang berlalu lalang. Sesekali menjadi ramai ketika anak-anak pulang dari sekolah dan bercanda di jalan itu.

Desa Sukodadi mendadak menjadi seperti desa tak berpenghuni setiap kali menjelang senja. Mushola yang biasanya ramai dipenuhi jamaah Maghrib pun kini menjadi lengang. Sebagian orang memilih untuk sholat di rumah untuk menghindari resiko jika melewati rumah Pak Sardin. Jalan tercepat menuju mushola memang harus melewati rumah itu. Sedangkan jalan yang lain memang ada tetapi harus melewati beberapa kebun dan jarak tempuhnya lumayan jauh. Sayup-sayup masih terdengar suara beberapa anak mengaji namun keadaan tidak seperti biasanya. Sedikit gelak tawa dan canda di antara anak-anak ini.

Malam itu Pak Lurah memutuskan untuk membagi warga yang bertugas menjaga keamanan menjadi dua regu. Pak Lurah bermaksud agar tidak ada kekosongan pengawas di ruas jalan depan rumah pak Sardin.

Menjelang subuh, Kriwul beserta beberapa pemuda yang tergabung dalam regunya berjalan melewati rumah itu. Mereka hendak bergabung dengan regu lainnya di sebelah barat rumah Pak Sardin. Kabut mulai turun dan kali ini lebih tebal dari biasanya. Kriwul pun terpaksa menyalakan lampu senter. Angin berhembus pelan dan menembus tulang sumsum para peronda malam. Dari sekitar jarak yang begitu dekat. Ketika mereka hampir saja mencapai depan rumah Pak Sardin. Kriwul beserta seluruh pemuda dalam regunya melihat dengan jelas. Sosok ini bukan lagi tampak seperti bayangan yang sekilas. Tetapi secara utuh terlihat bentuknya, hanya saja mereka ini berada di belakang sosok itu.

Karena kabut yang tebal dan penerangan yang tidak memadai, mereka terkejut dengan penglihatan di depan mereka. Entah darimana datangnya sosok yang tiba-tiba berada di depan mereka. Sosok itu seperti berjalan menjauhi mereka. Dan karena sangat ingin menangkap sosok itu, segera saja mereka berlima bergegas hendak mengejarnya.

“Hei… hei … kamu berhenti!” seru Kriwul beserta tiga orang temannya.

Mereka berteriak-teriak bergantian dan bersahutan. Kemudian teriakan mereka terhenti. Sesaat mereka saling menoleh penuh keheranan. Mereka tidak mendengar suara mereka sendiri. Mereka hanya membuka mulut namun tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.

Bahkan mereka merasakan tubuh mereka juga tidak dapat bergerak sedikit pun. Mereka seperti terpaku di tempat masing-masing. Hanya mata dan kepala saja yang bisa digerakkan.

Sosok itu pun berhenti.

Waktu berjalan seolah lebih lambat.

Lampu senter yang dipegang Kriwul juga terjatuh. Mereka hanya mengandalkan penerangan dari temaram senter yang sudah tak begitu terang karena terselimuti kabut. Sosok itu terlihat seperti menenteng sesuatu yang bulat. Kriwul menduga bahwa sosok itulah yang diceritakan oleh Mbok Wat kemarin malam. Dan sekarang mereka berada begitu dekat dengannya. Sosok itu berada di antara jarak empat sampai lima meter dari tempat Kriwul berdiri. Bau amis pun mulai menyebar. Seolah memberi kabar buruk bagi setiap orang yang menciumnya.

  • Bukan janji tapi bila memungkinkan ya padepokan akan menoba tampilkan pula cerita pendek horor atau misteri sebagai selingan Tentang Karya.
  • Jadi, Anda siap dengan segala teror sampai menjadi mimpi buruk? Bila tidak, Padepokan Witasem tetap menghadirkan kisah serial silat fiksi sejarah.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.