0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 102 – Kerusuhan Dusun Separang

Agung Sedayu dan Swandaru kembali berhadapan di Pancuran Watu Item. Pertarungan dua murid utama Kyai Gringsing dibuka dengan benturan tenaga cadangan Perguruan Orang Bercambuk yang mengguncang sungai dan mengejutkan dunia persilatan.

Dironda 57 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Gede memberikan pangestu dengan kesadaran bahwa keputusan itu membawa akibat yang harus dihadapi bersama. Tanpa meninggalkan pesan atau membuka ruang bagi keterlibatan orang lain, Agung Sedayu pun pergi, meninggalkan Pandan Wangi dan Kinasih yang memahami bahwa dia telah memisahkan persoalan tersebut dari urusan mereka.

“Bakar kandangnya!”

Teriakan itu disusul suara gedoran dan jeritan ternak. Pintu-pintu kandang dijebol. Kambing berhamburan ke jalan, ayam beterbangan dari halaman, sementara beberapa ekor sapi ditarik paksa keluar oleh orang-orang Ki Wira Sentanu. Penduduk yang mencoba merebut kembali ternaknya langsung dipukul dan dilempar ke tanah.

“Jangan! Itu milikku!”

Seorang lelaki menerjang tapi seketika gagang tombak menghantam wajahnya. Dia jatuh dengan darah mengucur dari pelipis.

Di sebelahnya, seekor kambing mengembik keras sebelum tebasan menghentikan suaranya. Bangkainya dilempar begitu saja ke depan rumah pemiliknya.

Lumbung padi dibongkar. Karung-karung beras dilempar ke tanah dan diinjak-injak. Seekor sapi yang berusaha kabur ditarik kembali ke tengah jalan.

Tangis perempuan pecah. Anak-anak berlari mencari perlindungan. Pintu-pintu rumah dibanting hingga tertutup.

Orang-orang Ki Wira Sentanu memenuhi jalan dengan senjata teracu tinggi-tinggi. Mereka tetap menebas hewan ternak yang terlambat masuk, yang melintasi jalan dan menakuti penduduk.

“Jangan melawan!”

“Semua keluar!”

Dalam hitungan saat, jalan utama Separang penuh manusia. Para lelaki berdiri dengan wajah tegang, sebagian menggenggam golok atau batang kayu, tetapi tidak seorang pun berani maju. Di hadapan mereka berdiri belasan orang bersenjata.

Seorang pemuda Separang maju dari kerumunan. Dia bertanya tegas, “Kenapa kalian membunuh ternak kami?”

“Diamlah!” bentak seseorang dari kelompok Ki Wira Sentanu.

Pemuda itu mengepalkan tangan. “Ini kampung kami.”

“Lalu, ada apa jika ini kampung kalian?” orang itu bertanya sambil menerjang maju.

Kerumunan bergolak.

Pemuda Separang itu meladeni serangan demi serangan dengan cara yang tangkas. Ini mengejutkan orang-orang Ki Wira Sentanu.

Dari arah belakang mereka, tiba-tiba terdengar seruan’”Angkat kepala kalian. Kita tidak perlu takut dengan mereka. Marilah bersama-sama menghalau mereka!”

Ternyata itu adalah suara Ki Sanggabaya yang baru saja tiba di Dusun Separang. Ssejak kepergiannya. Dia singgah terlebih dahulu di Dusun Benda baru kemudian meneruskan perjalanan.

Oleh seruan itu, orang-orang Separang pun bangkit mengadakan perlawanan. Beberapa orang di antara mereka segera maju dengan senjata seadanya. Bambu, ranting, kayu atau bahkan bertangan kosong memenuhi panggilan Ki Sanggabaya yang cepat meneriakkan aba-aba perang.

Kerumunan meledak.

“Kurang ajar!”

Benturan terjadi seketika. Kayu beradu dengan besi. Teriakan memenuhi jalan. Orang-orang Ki Wira Sentanu tiba-tiba menghadapai selapis tembok Dusun Separang yang kini mulai berani memukul setiap orang yang mendekat.

Darah, debu, pecahan kayu, tangis dan teriakan bercampur menjadi satu.

Kelompok Ki Wira Sentanu segera menyebar. Memenuhi bagian dusun yang belum terjangkau. Namun Ki Sanggabaya cukup tenang mengendalikan keadaan. Dia pun membagi lelaki dewasa dan juga setiap orang yang dapat mengangkat senjata menjadi beberapa kelompok

Benthik yang baru saja kembai dari hutan karena mendengar teriakan gaduh dari arah dusun pun segera bergabung.

“Beri saya pekerjaan, Ki Rangga,” katanya.

Ki Sanggabaya mengangguk lalu mengatakan sejumlah pesan untuk Benthik. Tidak lama kemudian, Benthik bersama kawan-kawannya menghamburkan diri ke beberapa sudut dusun. Sedangkan dua lagi segera diberangkatkan menuju barak pasukan khusus Mataram di pedukuhan induk.

Benthik dan kawan-kawannya tidak bertugas untuk menyerang dan mematikan pergerakan lawan. Tetapi mereka menyebar sebagai penyeimbang: supaya penduduk tidak tercerai-berai dan kembali bersatu dalam satu kendali.

Demikianlah mereka terus menerus bergerak dan berpindah dengan satu suara yang sama dari Ki Sanggabaya.

Sementara Ki Sanggabaya sendiri tidak menetap dalam satu keadaan. Dia bertempur juga berkeliling, menghalau lawan dan kadang-kadang mempersatukan kembali orang-orang.

Matahari sore mulai condong.

Debu masih menggantung di udara tapi Dusun Separang sudah lebih terkendali. Itu pun bukan karena pihak Perguruan Saripati mengundurkan diri atau kalah dalam sejumlah gelanggang tapi karena memang seperti itulah rencana Ki Ajar Poh Kecik.

Beberapa waktu sebelumnya, sebelum semua itu terjadi, kemarahan Ki Wira Sentanu telah sampai pada puncaknya.

Perangkap Pangeran Purbaya telah membuatnya kehilangan muka. Lebih dari itu, setelah dicermatinya kembali setiap langkah yang membawa dirinya sampai ke keadaan itu, ada yang benar-benar mengganggu pikirannya. Agung Sedayu.

Saran itu. Cara itu. Ketenangan yang membuat perangkap tersebut dapat bekerja dengan sempurna. Bahkan sejak awal, sejak dia mengintai kediaman Pangeran Purbaya, dia sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya itu semua adalah perangkap.

Tetapi pada hari ini, kenyataan telah terungkap. Kebenaran sesungguhnya memang tidak berpihak padanya. Ki Wira Sentanu mendengus marah.

“Ki Ajar Poh Kecik.”

“Saya, Kyai.”

“Bawalah lima belas atau dua puluh orang untuk membuat kerusuhan di Separang. Jangan hanya mengacaukan tapi bunuh bila perlu,” pesan tegas Ki Wira Sentanu.

Demikianlah yang terjadi kemudian di Dusun Separang yang tiba-tiba berubah menjadi kacau dan merusak segalanya. Namun mereka belum sampai pada membunuh orang tak bersalah  hingga kedatangan Ki Sanggabaya.

Barak pasukan khusus.

Agung Sedayu hanya meninggalkan beberapa pesan saja kepada Ki Lurah Prana Aji. Dari seluruh lurah atau orang yang tersedia saat itu, hanya Glagah Putih seorang yang dibawanya serta. Selebihnya adalah para cantrik dari Perguruan Orang Bercambuk.

“Saya tidak membawa pasukan khusus atau prajurit Mataram,” kata Agung Sedayu. “Tugas kalian di barak tidak kalah berat. Lagipula, orang yang kita hadapi di Dusun Separang itu penuh ketidakpastian.”

Agung Sedayu lantas menjelaskan dengan keterangan yang tidak berbeda dengan yang disampaikannya pada Ki Gede Menoreh. Bahwa mereka akan menyeret pembunuh Ki Wedoro Anom tapi tidak dengan keadaan sepenuhnya sebagai prajurit Mataram.

“Kita tidak tahu siapa yang berada di Dusun Benda meski mereka telah terhalau keluar. Kita juga belum tahu siapa yang masih mengincar barak sebagai sasaran, untuk itu, saya akan membaca Perguruan Orang Bercambuk dan Glagah Putih,” ucap Agung Sedayu lagi. “Saya harap tidak ada keberatan di sini.”

Dia terdiam sejenak seolah teringat sesuatu, lalu berkata lagi, “Dan Ki Garu Wesi.”

“Tidak bisa begitu,” terdengar tiba-tiba suara orang yang menyahut dan seakan tidak ada rasa hormat.

Muncullah Ki Sor Dondong kemudian berkata, “Jika Ki Garu Wesi turut serta ke Dusun Separang, apakah perbedaannya dengan saya di sini? Kami adalah tahanan yang sama. Jika dia ikut serta, saya pun demikian.”

Agung Sedayu tidak berkata-kata. Pikirnya, jika Ki Garu Wesi ditinggalkan sedangkan di barak tidak ada Glagah Putih atau Nyi Banyak Patra, lalu siapa yang dapat menahannya jika dia ingin melarikan diri? Seorang Ki Garu Wesi sudah lebih dari cukup untuk menghabisi seisi barak.

Pikirannya kemudian beralih kepada Ki Sor Dondong. Jika orang itu memaksa diri untuk ikut serta, padahal dia tidak mungkin berkuda seorang diri, keadaan tentu akan menjadi semakin sulit. Ki Garu Wesi harus membawanya di atas punggung kuda yang sama. Dan jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan….

Agung Sedayu tidak melanjutkan pikirannya. Dia hanya menarik napas dan berkata kepada setiap orang agar segera bersiap.

Demikianlah kemudian Agung Sedayu, Glagah Putih dan belasan cantrik Perguruan Orang Bercambuk berkuda pada sore itu juga menuju Dusun Separang. Sedangkan Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong berada di atas punggung kuda yang sama.

Hari belum benar-benar gelap saat mereka berpapasan dengan dua utusan Ki Sanggabaya.

Keduanya segera menghentikan kuda dan menyampaikan pesan yang mereka bawa. Agung Sedayu mendengarkan seluruhnya tanpa menyela. Dari keterangan itu dia dapat menangkap keadaan di Dusun Separang dan perkembangan kerusuhan yang masih berlangsung.

Setelah mendengarnya sampai selesai, Agung Sedayu tetap meminta keduanya meneruskan perjalanan menuju barak pasukan khusus Mataram di pedukuhan induk. Pesan yang mereka bawa harus sampai kepada orang-orang di sana, dan barak itu harus mengetahui keadaan Separang tanpa menunggu kedatangan Agung Sedayu.

Kedua utusan itu pun segera meneruskan perjalanan.

Tidak lama kemudian mereka tiba di barak. Pesan dari Ki Sanggabaya didengar oleh salah seorang yang berada di sana. Dia kemudian keluar dan menyampaikan yang didengarnya kepada salah seorang warga.

Tidak lama setelah itu, orang tersebut meninggalkan pedukuhan secara diam-diam, menuju Kotaraja. Dan dari sanalah kabar tentang yang sedang terjadi di Dusun Separang akhirnya sampai kepada Pangeran Purbaya.

  • Oleh sebab itu, ketika datang bayangan tidak berhenti di ambang. Dia melayang rendah, lalu menghantam tepat ke arah sekelompok orang yang sedang berusaha membentuk barisan pada Hari Bising di Bukit Menoreh 103.
  • Apa yang menjadi jawaban Anda jika ada pertanyaan: ”Apakah engkau setuju jika aku katakan, Ki Nagapati datang ke Pajang untuk membalas sakit hatinya?” Penolakan di Kaki Merbabu 5.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.