0%
Still working...

Teror Rumah Pak Sardin 5 – Teror Sosok Pembawa Tombak

Dironda 97 kali

Di tempat lain. Dari jarak yang lebih dekat, Kriwul melihat tubuh yang terbalut dalam kain berwarna coklat ketika sosok itu semakin mendekat. Tercium bau busuk yang sangat menyengat. Bau ini seolah sanggup membuat pepohonan menjadi kering lalu mati.  Kain itu tidak berbentuk seperti baju atau daster. Hanya sebuah kain yang diselimutkan pada tubuhnya.

Sementara itu, kedua rekan Kriwul yang roboh dan sedang kejang makin merasakan kepedihan. Tubuh yang meronta itu semakin lemah kekuatannya. Hanya napas yang tersengal menjadi tanda bila keduanya masih hidup.

Hardi yang makin tercekik melihat hewan kecil merayap  perlahan dari belakang lehernya.

Hewan dengan jumlah tak begitu banyak sedang perlahan menuju setiap lubang yang ada di kepalanya. Telinga, hidung dan mulut Hardi terancam dimasuki oleh hewan-hewan kecil ini. Hewan ini mempunyai duri di atas punggungnya. Benda yang nampak seperti tali hitam itu perlahan mengendurkan belitannya. Binatang kecil yang berduri mulai mendekati lubang hidung Hardi. Hardi mencoba untuk mengusirnya dengan hembusan napas dari mulut. Seketika belitan mencekik lehernya. Hardi menggoyangkan kepala untuk mencegah binatang kecil yang hendak memasuki hidungnya.  

Namun binatang itu tetap merangsek maju. Hardi merasakan benda itu terangkat ke atas, menyentuh telinganya tetapi lehernya masih dalam belitan. Hardi mendengar suara parau yang seolah berada di dalam telinganya. Suara parau itu mirip tangis seorang bayi.

Hardi mendengar dengan sangat jelas.

Ketika Hardi menoleh ke sebelah kanan asal suara itu, dia melihat kepala yang tak terlihat wajahnya. Kepala tanpa leher itu perlahan menoleh berhadapan dengan wajah Hardi. Semakin dekat dan kini membuka mulutnya. Semakin lebar mulut itu terbuka, kemudian dari rongga mulut itu keluarlah sebuah wajah yang mengerikan. Wajah dengan lubang hidung yang diapit kedua mata berwarna putih. Wajah itu keluar dari mulut si kepala tanpa leher, dengan cepat dia melesat hendak menggigit urat leher Hardi.

Kriwul yang berjarak cukup dekat dengan sosok ini dapat melihat bentuk benda yang dipegang olehnya. Sebuah benda panjang yang ujung bawahnya tampak berbentuk lancip. Sebuah tombak. Tombak yang berkarat pada sebagian sisinya. Jarak itu masih belum cukup jelas untuk bagian depan dari sosok itu. Kriwul merasakan seperti ada yang memegang telapak tangannya. Padahal jarak di antara mereka masih terlalu jauh untuk dijangkau oleh lengan orang dewasa.

Dia merasakan bulu yang kasar pada telapak tangannya. Sebuah tangan yang telapaknya berbulu sedang merayap naik. Merambat pelan menyusuri tiap pori-pori lengan Kriwul. Dia merasakan gatal di bawah kulitnya. Rasa gatal ini menjalar dari telapak tangan hingga pangkal lengan. Kriwul menahan rasa sakit itu tanpa mampu menarik tangannya. Rasa gatal itu menuju ke urat lehernya.

Tidak ada nama Tuhan yang terlintas dalam benak Kriwul dan tiga rekannya. Terkejut dan rasa ngeri telah membungkam seluruh indra mereka. Mereka sudah melupakan arti kematian karena rasa sakit yang luar biasa. Waktu yang seolah berjalan lambat semakin menyiksa mereka. Kriwul melihat tangan yang menggenggam tombak itu terangkat dan diayunkan ke wajah Kriwul.

Sesaat sebelum Kriwul tiba di depan rumah Pak Sardin, sepasang mata menatap lekat bagian belakang rumah Pak Sardin. Terlihat nyala lampu di bagian tengah dan belakang rumah. Derit besi yang saling bergeser jelas terdengar.

Seseorang sedang mengambil air namun sepasang mata ini tidak melihat sesuatu di sekitar sumur. Dia beringsut mengubah posisi supaya makin jelas mengamati. Di balik korden rumah, dia melihat seseorang memukuli sesuatu yang tak tampak olehnya.

Rumah Pak Sardin menjadi gelap gulita kembali dan terdengar suara menjerit kesakitan. Suara ini mengerang panjang. Dari balik korden tempat sepasang mata ini melihat kejadian demi kejadian di rumah Pak Sardin, muncul sebuah wajah jelita berlumuran darah.

Sepasang mata itu terkejut dan segera berlari menuju bagian dalam rumah. Wajah berdarah menembus jendela kaca dan mengejarnya. Sepasang mata ini segera bersembunyi di dalam sebuah lemari di bagian dalam rumah.

Sosok berlumuran darah itu lantas berhenti di depan ruang yang tampaknya seperti ruang makan. Memutar kepala tanpa menggerakkan tubuhnya. Mengamati setiap inci di setiap ruangan. Desis halus keluar dari mulutnya. Tubuh ini berjalan mengitari ruang makan. Dan berhenti tepat di samping kanan lemari makan. Kemudian mengalirlah cairan berwarna sedikit gelap dari dalam lemari. Tidak ada penghuni selain sepasang mata ini di dalam rumah itu. Tidak ada teriakan atau suara lainnya dari dalam lemari. Begitu senyap.

Kriwul yang baru saja siuman dari pingsannya kelihatan masih belum menguasai diri. Dia beserta teman-temannya sudah berada di sebuah kamar di Puskesmas Sukodadi.

Lurah Sulis yang duduk di sebelah atas dekat kepalanya mengusap kening Kriwul.

“Kejadian itu memang sangat menakutkan siapa saja, Wul. Saya sudah bicarakan dengan Pak Kyai. Keputusan untuk melakukan ronda itu tidak sepenuhnya salah tetapi karena yang kita hadapi juga bukan manusia atau binatang. Entah siluman apa yang mempunyai wujud seperti itu.”

”Iya, Pak Lurah. Baru kali ini bertemu makhluk seperti itu. Sebelumnya juga saya tidak ada firasat apa pun. Sungguh tak menyangka ada makhluk yang berbeda seperti yang dibicarakan orang selama ini.”

Kriwul diizinkan untuk pulang siang itu, namun ketiga temannya masih memerlukan perawatan lebih lanjut.

Sesampainya di padepokan, Kriwul segera menemui Kyai Sogol untuk menceritakan semua tentang peristiwa semalam. Kyai Sogol lantas menyuruh Kriwul untuk segera beristirahat hingga kondisi fisik dan mentalnya benar-benar pulih seperti sedia kala.

  • Bungkusan Itu.. ini menjadi sebuah judul karena saya sendiri tidak tahu isi bungkusan itu sewaktu menulisnya. Tidak ada di dalam benak saya mengenai isinya. Apakah kepala manusia, kepala kambing atau justru bangkai seekor ayam. Entahlah…
  • Dan sewaktu menulis horor ini, saya benar-benar diliputi “kehantuan”. Artinya tiap hari itu berasa ngeri saja sampai akhirnya tidak dapat terselesaikan. Berbeda dengan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh atau Lamun Parastra ing Pungkasan yang benar-benar membawa saya menjelajahi zaman yang menjadi latar belakang sejarah penulisan. Yah, cukup menantang untuk diselesaikan karena tidak ada tulisan tanpa penyelesaian.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.