Dironda 33 kali
Terlihat oleh Kriwul ada semacam cairan yang menetes keluar dari bungkusan yang dibawa sosok itu. Kriwul tidak dapat memastikan cairan itu benar keluar dari bungkusan atau menetes dari tangannya. Sosok itu juga masih berdiri dan belum bergerak.
Kriwul memaksakan diri untuk bergerak namun gagal. Dia merasakan seperti ada kekuatan yang memaksanya untuk duduk. Kriwul pun melawannya karena pada saat yang bersamaan, dia juga melihat ada seperti tali hitam membelit leher Hardi.
Hardi, yang berada di sebelah kiri Kriwul, merasakan lehernya tercekik. Napasnya tersengal-sengal, Kriwul mengetahui hal itu tetapi dia tidak dapat melakukan sesuatu untuk menolong temannya itu.
Hardi merasakan ada sesuatu yang membelai belakang telinganya dan menghembuskan napas yang beraroma wangi. Hardi makin merasa seperti dicekik. Dia ingin meronta, dia ingin berteriak tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Suaranya pun tak dapat dikeluarkan. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang seperti benang atau apapun mulai membelit lehernya. Mata Hardi seolah-olah hampir saja keluar. Lidahnya terjulur keluar.
Sosok itu kelihatan bergerak. Entah bergerak maju atau mundur karena keadaan begitu gelap dan akibatnya sulit melihat sosok itu berdiri berhadapan atau membelakangi mereka.
Sosok itu makin mendekat, dan Hardi makin tersiksa karena lehernya makin tercekik.
Dua orang lainnya pun mengalami hal yang sama dengan Hardi. Kini Kriwul merasakan tetesan seperti cairan pada mukanya. Rambutnya juga terasa seperti dialiri cairan. Kriwul tak bisa melihat cairan ini adalah air ataukah darah karena yang dirasakannya hanyalah sedikit gatal pada kulit yang terkena tetesan itu. Hampir saja Kriwul tak mampu bernafas karena bau yang ditimbulkan cairan itu sangat menyengat hidung.
Dua orang yang berada di belakangnya telah roboh, mereka berkelojotan sambil memegangi leher.
Sosok itu makin dekat dengan mereka. Bungkusan yang ada di tangannya telah lenyap. Berganti dengan sebuah benda yang sedikit berkilau oleh terpaan temaram lampu senter.
Sementara itu, regu Pak Sunar telah sampai di gardu tempat dua regu peronda berencana untuk berkumpul. Mereka menanti kedatangan regu ronda yang dipimpin oleh Kriwul sambil berbincang.
“ Kriwul sama Hardi kok belum datang ya, Pak?” tanya Eki pada Pak Sunar.
Pak Sunar menjawab, “Kita tunggu saja dulu sampai adzan Subuh. Mungkin mereka sedang berkeliling lebih lambat karena kabutnya tebal seperti ini”.
“Iya, betul juga pak. Oh ya, omong-omong sekarang tak ada siaran langsung Liga Champion ya?” Eki berkata sambil mengalihkan perhatian dan juga memberi sedikit hiburan.
“Belum ada. Baru saja juga diadakan undian antar pemenang. Barcelona hebat juga ya, sekalipun ada sedikit curiga tapi membalikkan keadaan dari hampir tak mungkin lolos akhirnya menjadi lolos,” jawab Agung dengan senyum merekah karena klub kesayangannya dapat lolos ke babak selanjutnya.
Sayup-sayup namun jelas di telinga, suara seorang lelaki mendendangkan sebuah tembang ;
Aku lagi bang wingo wingo (aku sedang gelisah)
Jin setan kang tak utusi (Jin setan aku perintahkan)
Jin setan kang tak utusi (Jin setan aku perintahkan)
Dadyo sebarang (Jadilah apapun juga)
Wojo lelayu sebet (Asal bukan membawa kematian)
Mendengar lagu itu, sontak Eki dan Agung pun merasakan ngeri. Karena, konon, mereka mendengar kabar bahwa lagu ini adalah lagu untuk mengundang kuntilanak. Mereka mengatakan itu pada pak Sunar. Namun pak Sunar pun menjelaskan bahwa menurut penuturan Kyai Sogol, lagu ini awalnya bukan lagu untuk setan. Tetapi seperti curahan hati seorang manusia kepada Tuhannya. Pak Sunar pun mengulang penjelasan yang diperolehnya dari Kyai Sogol. Bahwa syair lagu ini mungkin saja diubah tujuannya hingga akhirnya terkesan menyeramkan. Namun penjelasan pak Sunar ini tidak menghilangkan rasa ngeri pada kedua anak muda ini.
Dan suara lelaki yang menembang itu juga semakin dekat.
Pak Sunar mencoba menenangkan kedua anak muda yang sedang dilanda rasa takut nan hebat.
Bersamaan dengan itu terdengar ringkik kuda yang diiringi gemerincing lonceng. Derap langkah kuda jelas terdengar oleh mereka bertiga.
Eki dan Agung segera melarikan diri ke arah utara.
Pak Sunar yang terkejut dengan suara-suara itu berusaha tenang. Dia mencoba tak menghiraukan dengus napas kuda yang seolah sudah berada di depannya. Gemerincing lonceng dan langkah kuda sudah terdengar. Kini hanya dengus nafas kuda yang dirasakan menerpa wajah Pak Sunar. Dia merasakan hawa dingin segera menyelimuti tubuhnya dan anehnya hanya bagian bibirnya yang terasa sedikit panas.
Dia mengalihkan pikirannya untuk memikirkan kembali wejangan Kyai Sogol tentang Lingsir Wingi.
Dia mencoba mengingat kembali.
Ana kidung rumekso ing wengi (Ada senandung yang tulus di tengah malam)
Teguh hayu luputa ing lara (Untuk anak lelaki dan perempuan semoga bebas dari penyakit)
luputa bilahi kabeh (Terbebas semuanya dari segala petaka)
jim setan datan purun (Jin dan setan pun tidak mau mendekati)
paneluhan tan ana wani (Segala jenis sihir/teluh tidak berani mendekati.)
niwah panggawe ala (Apalagi perbuatan jahat.)
gunaning wong luput (kiriman orang lain (santet/teluh/guna-guna) meleset)
koyo geni atemahan tirta (seperti api bertemu dengan air)
maling adoh tan ana ngarah mringtami (maling menjauh tanpa ada yang merintangi)
Kudu nduduk lan sirna (harus tunduk dan sirna/musnah)
Seperti itulah bait syair Lingsir Wengi yang diingat Pak Sunar.
Pak Sunar mendendangkan dengan perlahan dan nyaris seperti bergumam.
Namun, dengus kuda pun tak kunjung beranjak dari wajahnya. Aroma harus semerbak menebar memenuhi gardu.
Langkah kaki yang diseret menimbulkan jejak di tanah basah di dekat kaki Sunar. Langkah ini terhenti.
Dalam remang cahaya lampu gardu, tampaklah ada sesuatu yang membasahi papan kering di dekat Pak Sunar. Pak Sunar merasakan belaian di punggungnya. Dia melihat bawah papan yang basah itu kini berubah warna.
Kabut yang seolah memberikan gambaran tentang sosok yang kini hadir di dekat Pak Sunar. Wajah itu semakin jelas memperlihatkan dirinya.
Pak Sunar dengan gugup mencoba memaksakan diri untuk melihat wajah itu.
Separuh wajah yang dilihat olehnya. Begitu mengerikan, dan wajah itu mendekati sambil menjulurkan lidahnya yang bercabang tiga. Bau busuk segera memasuki rongga hidung Pak Sunar. Pak Sunar sudah merasa tak mampu melihat kengerian yang dialaminya dan kemudian bangkit lalu berlari menuju ke mushola.
- Selamat! Kesabaran Anda membuahkan hasil. Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 102 pun tampil.
- Dalam pada itu, saya mengundang kengerian untuk hadir secara terang benderang di tempat Anda, kamar Anda atau segala tempat ketika Anda teringat tulisan ini, Malam yang Panjang menghantui Anda hingga titik yang tidak terpikirkan.
- Tetapi Anda masih dapat mengabaikannya. Ini hanya sebuah kisah fiksi yang kebetulan bertema horor. Silat fiksi sejarah masih ada di Tentang Karya.
