0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 103 – Agung Sedayu Menyapa Dusun Separang

Agung Sedayu dan Swandaru kembali berhadapan di Pancuran Watu Item. Pertarungan dua murid utama Kyai Gringsing dibuka dengan benturan tenaga cadangan Perguruan Orang Bercambuk yang mengguncang sungai dan mengejutkan dunia persilatan.

Dironda 51 kali

Wedaran sebelumnya: Agung Sedayu sudah memutuskan berangkat menuju Dusun Separang demi mengejar pembunuh Ki Wedoro Anom tanpa membawa prajurit Mataram. Saat berpapasan dengan utusan Ki Sanggabaya, Agung Sedayu meminta kedua utusan tetap melanjutkan perjalanan ke barak agar pesan sampai, hingga akhirnya informasi mengenai situasi Dusun Separang diteruskan oleh seseorang secara diam-diam menuju Kotaraja dan sampai ke tangan Pangeran Purbaya.

Sesampainya di Dusun Separang pada waktu malam semakin dalam, Agung Sedayu tidak segera membagi tugas pada kelompoknya.

Beberapa orang berjalan hilir mudik dari gardu ke gardu yang lain. Sejumlah orang mungkin berkeliling mengawasi batas-batas dusun yang bersinggungan dengan arah yang diperkirakan menjadi asal para penyerang siang tadi.

Agung Sedayu masih duduk di atas kudanya demikian pula orang-orang yang mengiringinya.

“Masuklah beberapa dari kalian. Tentukan keberadaan Ki Sanggabaya,” kata Agung Sedayu kemudian ke cantrik perguruan.

Tiga orang melesat pergi tetapi mereka tidak dapat begitu saja dapat masuk. Yah, mengingat keadaan dusun siang tadi yang mencekam maka sewajarnya para pengawal dusun harus memasang kesiagaan tinggi.

“Kalian tiba-tiba menyebut nama Ki Sanggabaya,” kata Benthik. “Adakah seseorang yang berada di belakang kalian?”

Salah satu dari tiga cantrik yang sudah turun dari kuda itu  lantas menjawab dengan terus terang, “Kami bersama Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

Tapi Benthik tidak mudah percaya. Dia merasa harus menyebut beberapa hal lagi yang hanya diketahui pengawal Tanah Perdikan atau prajurit Mataram.

“Kami tidak mempunyai waktu untuk itu, Ki Sanak,” tukas seorang lagi. “Kami bukan pengawal Tanah Perdikan atau orang dari barak pasukan khusus. Kami bukan prajurit Mataram tetapi kami datang bersama Ki Tumenggung Agung Sedayu.”

Agung Sedayu dapat menilai kematangan pengawal Dusun Separang dari perbantahan itu meski dia tidak mendekat. Dia dapat mendengar percakapan itu dan segera memaklumi tingkat kewaspadaan pengawal dusun.

“Terima kasih, Ki Sanak sekalian,” ucap Agung Sedayu dari balik gelapnya malam.

Kudanya merangkak perlahan, rombongannya turut bergerak dan terus mendekati kerumunan orang-orang itu.

Benthik yang juga mengenal Agung Sedayu segera berkata, “Maaf, Ki Rangga. Kami sama sekali tidak—…”

Agung Sedayu mengangkat tangan. “Sudahlah, kita dalam keadaan yang tidak biasa.”

Benthik pun lantas mengiringi Agung Sedayu dan rombongan menuju tempat Ki Sanggabaya.

Sesampainya di tempat Ki Sanggabaya, rombongan itu segera dipersilakan duduk sekadarnya. Tidak ada penyambutan yang berlebihan. Keadaan dusun masih belum sepenuhnya tenang dan setiap orang memahami bahwa waktu tidak banyak untuk beristirahat.

Ki Sanggabaya kemudian langsung menyampaikan keadaan Separang kepada Agung Sedayu. Dia menjelaskan urutan perkembangan kerusuhan sejak awal, tentang cara para perusuh itu bergerak lalu menyebar ke beberapa bagian dusun. Terakhir, dia berkata pula tentang yang dialami penduduk hingga pengaturan diri untuk bertahan.

Agung Sedayu mendengarkan dengan ketelitian yang terukur. Sesekali pandangannya bergerak kepada orang-orang Separang yang berada di sekitar mereka. Dia tidak banyak menyela. Namun dari caranya mendengarkan, Ki Sanggabaya dapat memahami bahwa setiap keterangan sedang diperhitungkan.

Percakapan itu berlangsung singkat tetapi padat. Mereka membicarakan keadaan yang sedang dihadapi, orang-orang yang terlibat, serta langkah yang telah ditempuh sampai saat itu.

Setelah semuanya disampaikan, Agung Sedayu memandang Ki Sanggabaya dengan tenang lalu bergantian pada Benthik, Glagah Putih dan juga Ki Garu Wesi serta Ki Sor Dondong.

Kepada Benthik, Agung Sedayu bertanya, “Berapa orang yang dapat ditinggalkan untuk menjaga dusun?”

Benthik cepat menghitung beberapa orang, membaginya ke beberapa kelompok lalu mengatakan itu pada Sedayu.

“Apakah Ki Rangga sudah cukup dengan jumlah yang ditinggalkan untuk dusun?” tanya Sedayu pada Ki Sanggabaya.

“Saya kira sudah terlalu memadai, Ki Tumenggung,” jawab Ki Sanggabaya. “Jika Ki Tumenggung bergerak ke sana, dengan sednirinya satu pintu telah tertutup sehingga saya dapat memalingkan pandangan ke arah yang lain. Ada kelompok perguruan pula yang ada di sekitar sini tetapi mereka masih belum bergerak. Tapi dengan jumlah yang ditinggalkan. Ki Tumenggung tak perlu merasa khawatir.”

Dia berpaling pada Glagah Putih, lalu bertanya, “Apakah aku dapat menempatkanmu sebagai jangkar?”

“Saya, Ki Tumenggung,” ucap Glagah Putih singkat. Bagaimana dia tidak percaya pada kakak sepupunya itu?

“Jika perkembangan meledak dan tidak terarah, tugasmu sangatlah berat. Apakah kau putuskan untuk tetap sendirian atau mengambil seorang kawan?”

Glagah Putih atas pengamatannya selama ini pada Ki Sor Dondong kemudian berkata, “Tinggalkan untuk saya, Ki Sor Dondong dan seorang pengawal dusun.”

Agung Sedayu mengangguk. Dia berpikir cepat  bahwa permintaan adik sepupunya itu cukup masuk akal. Pembacaan arah adalah kemampuan khusus Ki Sor Dondong dan seorang pengawal dusun untuk menguasai medan.

“Tinggallah Kyai sekarang bersama saya,” kata Agung Sedayu pada Ki Garu Wesi.

“Saya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik lagi, Ki Tumenggung,” sahut Ki Garu Wesi.

Agung Sedayu lantas mengatur penempatan beberapa kelompok kemudian menyerahkan seluruhnya di Dusun Separang pada kendali Ki Sanggabaya.

Selanjutnya, rombongan Agung Sedayu bergerak menuju Gunung Kunir yang tidak jauh letaknya dari Separang. Mereka akan menghabiskan sisa waktu malam di dekat perkemahan Ki Wira Sentanu dan kawan-kawan.

Malam telah turun sepenuhnya di atas Dusun Separang.

“Bila dia datang, biarkanlah datang,” kata Ki Wira Sentanu pada awal malam ketika Ki Ajar Poh Kecik mencoba mengingatkannya.

“Tapi, apakah Sedayu bisa secepat itu datang ke Dusun Separang? Kita tidak tahu, saya tidak tahu di mana keberadaannya siang tadi,” kata Ki Wira Sentanu lagi lalu merenung sesaat.

“Semuanya itu mungkin, Kyai,” jawab Ki Ajar Poh Kecik. “Kita tahu dari pengalaman perondaan pertama di lereng Kendil.”

Pada akhir malam itu, Ki Wira Sentanu bukan tidak mengetahui keberadaan banyak orang di sekitar perkemahan mereka. Tapi, menurutnya, tidak perlu ada persiapan atau semacamnya.

Ki Ajar Poh Kecik memandang Ki Wira Sentanu barang sejenak. Seolah-olah bertanya, benarkah tidak ada persiapan bagi mereka? Sedangkan yang dilakukan siang tadi sudah cukup bagi Menoreh atau Mataram untuk datang menghalau mereka. Tetapi Ki Wira Sentanu tidak memberikan tanggapan sedikit pun. Bahkan dia seperti sudah menghitung segalanya dalam pemikirannya sendiri.

Tiadanya Ki Kamejing akhirnya memberi arti mendalam bagi Ki Ajar Poh Kecik. Meski mereka mempunyai perbedaan, tapi Ki Kamejing dapat memberinya pertimbangan yang masuk akal.

“Kita sudah berada di sini sekarang,” kata Ki wira Sentanu tak lama kemudian. “Setelah usaha kita untuk melepaskan Sedayu dari tanggung jawab maka sebenarnya tujuan utama kita tidak teralihkan.”

Ki Ajar Poh Kecik menarik napas panjang lalu mengangguk perlahan.

“Pencopotan Sedayu hanyalah salah satu jalan,” lanjut Ki Wira Sentanu. “Mengubah pendirian Sunan Agung pun adalah hal yang berbeda. Kita bisa lakukan itu karena kita berada di dekatnya. Kita dapat membujuknya agar tetap di Mataram menerima kekuasaan dari ayahnya dan tidak beranjak dari situ. Kita pernah hampir melakukannya, tapi karena dia mempunyai kepribadian yang kuat, maka rencana kita untuk memasungnya pun gagal.”

Ki Wira Sentanu beranjak berdiri lalu memandang sisi luar yang dihiasi kegelapan.

“Dan kini, segalanya menjadi berbeda karena Agung Sedayu,” ucapnya lirih. “Dia, tentu saja, dapat menghasut Sunan Agung atau Pangeran Purbaya mengenai keadaan lain di luar dinding kota. Pembunuhan seorang rangga, misalnya. Agung Sedayu memutarbalik kenyataan dengan melontarkan tuduhan pada saya.”

Dia memandang Ki Ajar Poh Kecik dengan tajam, lalu berkata, “Seandainya kita dapat bertahan lebih lama pada kedudukan itu, kita pun masih bisa menghukum Agung Sedayu melalui tangan Sunan Agung. Kalau jalan itu tidak dapat kita tempuh, bukan berarti kita harus menghentikan langkah.”

Setelah diam beberapa saat lamanya, Ki Wira Sentanu berkata lagi, “Perguruan Saripati tenggelam karena guru Sedayu. Kita tidak bisa membiarkan keadaan itu menjadi cerita yang kelak akan didengar oleh anak cucu kita.”

“Lalu kita akan tetap melakukan apa yang sudah direncanakan?”

“Ya.”

Ki Wira Sentanu memandang ke arah kegelapan yang menyelimuti Dusun Separang.

“Justru karena Sedayu belum mengetahui semuanya, kita masih mempunyai waktu. Bila dia datang malam ini, kita akan menghadapinya sebagaimana mestinya. Bila dia tidak datang, kita pun tidak perlu menunggunya.”

Ki Ajar Poh Kecik diam. Sekarang dia dapat memahami alasan Ki Wira Sentanu yang sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan meskipun kemungkinan kedatangan Sedayu semakin besar.

  • Perhatikan ucapan Agung Sedayu kali ini: Kemudian Agung Sedayu melanjutkan kata-katanya, ”Justru apa yang mereka perbuat hari ini tidak lebih dari usaha yang memperdaya kita semua.” Lihat, saya sudah katakan baik bila membaca Agung Sedayu Terperdaya 39 karena itulah letak judulnya.
  • Mereka kemudian sadar bahwa menemui Agung Sedayu pun juga tidak mudah karena kesibukan yang sudah dipahami bersama. Tapi, berapa lama mereka harus berdiam diri? Mereka itu adalah para cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Mungkin bagi mereka, bertempur satu medan dengan Sedayu adalah keinginan yang terpendam. Tapi mungkin juga tidak dan sebaiknya kita lihat sendiri keadaan mereka di Hari Bising Bukit Menoreh 90. Lalu, kita tunggu pengarangnya akan memberi mimpi itu menjadi nyata atau tidak.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.