0%
Still working...

Waru Geni 10 – Rencana Ki Kamejing untuk Merebut Kembali Tongkat Ki Jambuwok

Dironda 55 kali

Wedaran sebelumnya: Setelah kekalahan dalam perang tanding yang menewaskan Ki Wira Sentanu dan tercerai-berainya para pengikutnya, Ki Ajar Poh Kecik meninggalkan Tanah Perdikan dengan luka dan kehinaan. Enggan pulang ke Perguruan Saripati dengan membawa aib, dia memilih mencari Ki Kamejing untuk bergabung dengannya, sekaligus menyimpan dendam terhadap Sekar Mirah yang dianggapnya dapat menjadi sasaran pembalasan.

Ki Ajar Poh Kecik dan sisa pengikutnya mencari Ki Kamejing dengan sangat berhati-hati. Mereka sama sekali tidak dapat meremehkan Sangkal Putung, pengalaman di Tanah Perdikan telah mengajarkan padanya banyak hal. Selain itu dan menjadi persoalan yang sangat penting adalah dia tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang setempat.

Pada hari-hari pertama kedatangannya, Ki Ajar Poh Kecik lebih banyak berjalan menyusuri jalan-jalan pedukuhan. Beberapa kali dia berhenti di kedai dan pasar, lalu bertanya tanpa membuka maksud sesungguhnya.

Hingga kemudian dia mendengar adanya pendatang yang menyewa sebuah rumah dan lahan di daerah Randulanang. Jumlah pengikut dan beberapa tanda rupanya agak mendekati ciri-ciri Ki Kamejing dan pengikutnya.

Mungkinkah orang yang mereka bicarakan itu adalah orang yang dicarinya?

Meskipun demikian, Ki Ajar Poh Kecik merasa telah menemukan jalan untuk melanjutkan pencariannya, mempunyai alasan untuk memusatkan perhatian di sekitar Randulanang.

Sementara itu, di bagian lain Randulanang, Ki Kamejing sama sekali belum mengetahui bahwa seseorang mulai mencari dirinya.

Perhatiannya justru tertuju pada perkembangan Sangkal Putung, terutama mengenai orang-orang yang diperhitungkan untuk menggantikan Ki Demang.

Swandaru, berdasarkan pengamatannya, nama ini seperti tidak lagi masuk dalam perhitungan. Berikutnya ada Ki Jaya Binangun dan Ki Suradipura, keduanya adalah paman Swandaru hanya berbeda kedudukan.

Ki Suradipura berada di Randulanang, sedangkan Ki Jaya Binangun bertempat di Pedukuhan Jati.

Dengan kemampuannya memperkirakan arah, Ki Kaemjing pun bergaul dengan banyak orang. Walau dia dikenal sebagai orang baru dan tidak akan bertahan lama di sana, orang-orang ternyata menerimanya dengan sangat baik.

Karena itu, ketika datang berita ada orang yang mungkin mencarinya, seorang penduduk pun cepat mengabarkan itu pada Ki Kamejing.

Penduduk tersebut berkata, “Saya tidak mengenalnya. Dia hanya bertanya tentang beberapa orang yang datang dari luar daerah. Tetapi dari caranya berbicara, saya merasa dia memang sudahh mengenal Anda dengan baik.”

Ki Kamejing terdiam. Ada sesuatu dalam keterangan itu yang membuatnya mulai berpikir dan dia mulai menduga.

“Apakah dia itu Ki Ajar Poh Kecik? Jika benar, mungkinkah Ki Wira Sentanu akhirnya tumbang di tangan Agung Sedayu?” Pertanyaan itu jelas tidak mudah karena dia tidak berada di Tanah Perdikan saat benturan terjadi.

Ki Kamejing memandang orang yang berdiri di hadapannya sambil berpikir, jika benar Ki Ajar Poh Kecik maka itu adalah kawan terbaik.

“Apakah dia menyebutkan nama orang yang dicarinya?” tanya Ki Kamejing.

“Tidak, Ki.”

“Baiklah, Ki,” kata Ki Kamejing kemudian. “Sepertinya saya memang mengenalnya. Marilah, Anda antarkan saya ke tempatnya.”

Ki Kamejing segera mengikuti orang itu menuju tempat Ki Ajar Poh Kecik berada. Tidak banyak yang mereka bicarakan sepanjang jalan. Ki Kamejing lebih memilih menyimpan dugaannya sampai berhadapan langsung dengan orang yang mungkin telah lama dikenalnya itu.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kedai sederhana di pinggir Randulanang. Orang yang mengantarnya berhenti di depan pintu, lalu mempersilakan Ki Kamejing masuk.

Di dalam ruangan itu, seorang lelaki segera mengangkat wajahnya.

Ki Kamejing melangkah mendekat. Sejenak keduanya saling pandang sebelum Ki Ajar Poh Kecik bangkit dari tempat duduknya.

“Ki Kamejing,” kata Ki Ajar Poh Kecik.

“Ki Ajar Poh Kecik,” jawab Ki Kamejing sambil mengangguk. “Rupanya dugaan saya tidak keliru.”

Keduanya berjabat tangan, kemudian duduk berhadapan. Ki Kamejing memandang kawannya dengan sorot mata penuh pertanyaan.

“Jadi, bagaimana keadaan di Tanah Perdikan setelah pertempuran itu?” tanyanya. “Apakah benar Ki Wira Sentanu telah tumbang di tangan Agung Sedayu?”

Ki Ajar Poh Kecik mengangguk, lalu diam cukup lama.

“Sayangnya, saya tidak melihat sendiri perkelahian itu, “ katanya. “tapi sepertinya memang telah terjadi pula pertarungan yang sangat seru.Kemudian dia mengungkapkan pula pertemuannya dengan Ki Garu Wesi”

Orang ini lantas mengungkapkan segala yang diketahuinya pada hari pertarungan Ki Wira Sentanu saat menghadapi Agung Sedayu.

Ki Kamejing mengangguk berulang tanpa menyela perkataan. Dari penuturan Ki Ajar Poh Kecik, Ki Kamejing semakin kuat menduga bahwa kemampuan Agung Sedayu nyaris tidak tersentuh dengan satu pertanyaan yang tetap ada: ilmu apa lagi yang belum dia ungkapkan?

Usai mengatakan seluruhnya dan merasa yakin hampir tidak ada yang terlewat, Ki Ajar Poh Kecik kemudian bertanya mengenai rencana Ki Kamejing selanjutnya.

”Saya rasa hampir tidak mungkin untuk merebut langsung pusaka itu dari tangan Sekar Mirah tanpa jalan kekerasan,” ucap Ki Kamejing. “Selain memang Agung Sedayu yang masih sulit diraba, orang-orang sini ternyata juga sama tangguhnya dengan Tanah Perdikan.”

“Begitukan?”

Ki Kamejing mengangguk, katanya kemudian, “Memang belum dapat dikatakan pasti, tetapi saya pikir mereka mempunyai kekuatan yang merata. Dengan sedikit atau beberapa perbedaan, tentu saja.”

Sejenak dia merenung, lalu berkata lagi, “Teapi selalu ada jalan untuk itu, Kyai.”

“Hmm, bagaimana? Karena saya sendiri belum dapat melihat atau merasakan sebuah kesempatan sejak di wilayah ini,” ucap Ki Ajar Poh Kecik.

“Sekar Mirah ini,” sahut Ki Kamejing,”tidak selalu berdampingan dengan Agung Sedayu. Jika pusaka itu berada di dalam rumahnya, kita membutuhkan waktu dan orang untuk memastikan sebelum mencari. Sementara, kita tahu, cukup sulit untuk mendekati mereka.”

Ki Ajar Poh Kecik mengerutkan keningnya.

“Tetapi seperti yang saya katakan bahwa tetap ada satu jalan untuk ke sana,” tambah Ki Kamejing. “Kita bisa berangkat dari kekuasaan. Maksud saya, kita masuk melalui jalan kekuasaan secara resmi dan terukur.”

“Saya belum paham arah Kyai,” sahut Ki Ajar Poh Kecik.

“Kyai,” ucap Ki Kamejing, ”hari-hari belakangan ini adalah hari yang menentukan Sangkal Putung. Kita tahu bahwa Swandaru bermasalah dalam hal ini. Bukan dia tidak mampu, bahkan Swandaru sebenarnya mempunyai kecakapan lebih jika hanya untuk Sangkal Putung. Tetapi dia tersandung dengan masa lalu.”

Lantas Ki Kamejing mengutarakan seluruh yang diketahuinya di depan Ki Ajar Poh Kecik.

“Jadi, maksud Kyai adalah kita ikut serta dalam atau ambil bagian dalam tata kelola Swandaru?” tanya Ki Ajar.

Ki Kamejing merenung sejenak sebelum menjawabnya dengan cara meyakinkan.

“Saya tidak melihat cara lain yang lebih baik, Kyai,” jawabnya. “Sekar Mirah jelas tidak dapat didekati dengan cara-cara biasa. Saya pikir kita harus masuk ke dalam, setidaknya untuk mempengaruhi. Jadi kita tidak merebut kekuasaan, tapi mengendalikan saja. Dan jika tongkat Ki Jambuwok sudah berada di tangan, saya kira kita dapat pergi dari sini. Selamanya.”

Cukup lama Ki Ajar Poh Kecik mengolah uraian Ki Kamejing dalam pikirannya. Menurutnya, cara itu memang masuk akal dan sepenuhnya benar-benar dapat menghindari dari kerugian yang nyata seperti kehilangan orang atau yang lain. Tapi juga cukup lama untuk ukuran merebut kembali tongkat perguruannya.

Setelah menimbang, Ki Ajar bertanya, “Dari dua orang yang ramai dibicarakan orang, dari mana kita dapat menyusup?”

  • Waru Geni ini benar-benar lambat alurnya. Saya sendiri tidak begitu sabar menulisnya. Pelan dan sulit hahaha
  • Para prajurit yang berada di atas punggung gajah melontarkan anak panah. Dan mengalahkan mereka yang diperkuat pasukan gajah jelas menjadi tantangan menari juga bagi orang-orang Sumur Welut pada zaman Majapahit. Saat itu terjadi Pertempuran Hari Pertama 3 di sana.
  • Mengalahkan senapati Mataram ini adalah puncak bukit kenikmatan. Ini adalah pendapat menarik dari sala seorang lawan Agung Sedayu. Jati Anom Obong 48 tapi saya tidak menceritakan lengkapnya di sini.
  • Anda dapat berdonasi untuk secangkir kopi untuk semua karya yang dapat dinikmati gratis di Padepokan Witasem ini. Atau kita bertukar dengan enam Kitab Kyai Gringsing? Empat karya Padepokan Witasem (Toh Kuning, Penaklukan Panarukan, Langit Hitam Majapahit dan Bara di Borobudur 1)? Silakan, bebas saja dan tetap bergembira dengan segala bacaan yang ada.
  • Rekening donasi BCA 822 0522 297 Roni Dwi Risdianto
  • BRI 3135 0102 1624 530 atas nama sama.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.