0%
Still working...

Jati Anom Obong – Tantangan Gelanggang Jati Anom (Kilas Kisah Jati Anom Obong 8)

Dironda 18 kali

Malam di Jati Anom berubah menjadi gelanggang pertarungan yang semakin mencekam ketika Ki Panuju menghadapi Ki Garu Wesi, orang kepercayaan Raden Atmandaru yang menyimpan ilmu kanuragan luar biasa. Kedatangan Sabungsari dan Ki Widura sempat mengubah keadaan, tetapi keunggulan ilmu para pendatang segera membuat pertempuran kembali berat sebelah.

Di tengah benturan cambuk dan prahara pukulan, Ki Panuju mulai menyadari bahwa lawannya bukan sekadar tangguh, melainkan juga mampu membaca dan membatasi setiap geraknya. Meski pundaknya semakin tersiksa dan serangannya kian kehilangan daya, Ki Panuju menolak menyerah. Ia bahkan mencoba membuka jalan damai, menganggap Ki Garu Wesi sebagai saudara dalam naungan ilmu kanuragan. Namun, tawaran itu justru disambut tawa. Bagi Ki Garu Wesi, pertarungan belum selesai, sementara hari yang ditentukan oleh Panembahan disebutnya semakin dekat. Ada sesuatu yang tengah ditunggunya, sesuatu yang tampaknya jauh lebih besar daripada perkelahian malam itu.

Sementara itu, Sabungsari masih terikat dalam pertarungan sengit melawan Ki Tunggul Pitu. Ia menyadari bahwa kemampuan lawannya berada pada tingkatan yang berbahaya, terlebih setelah Ki Garu Wesi mengungkap dugaan tentang hubungan ilmu Sabungsari dengan Agung Sedayu.

Apakah penghormatan itu berarti tantangan yang lebih dahsyat, atau justru sebuah siasat untuk menguji rahasia ilmu keturunan Ki Gede Telengan? Dan jika hari yang ditentukan Panembahan Tanpa Bayangan benar-benar tinggal hitungan hari, mungkinkah pertempuran di Jati Anom hanyalah awal dari ancaman yang lebih besar?

  • Termasuk Jalur Banengan 5 ketika lengkingan nyaring mengawali Ki Jawani menyerang Ken Arok.
  • Tiba-tiba dengan gerakan aneh dan mengejutkan, Sayoga melejit tinggi, lalu menukik dengan pedang lurus mengarah ubun-ubun Ki Sudira di Kiai Plered 43. Sangar, Saudara!

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.