Dironda 33 kali
Wedaran sebelumnya; Keberadaan Pandan Wangi di pondokan belakang rumah Sekar Mirah menjadi persoalan tersendiri di tengah kebutuhan masyarakat akan kepemimpinan dan nasihatnya. Sementara itu, Ki Kamejing mulai berusaha mencari jalan untuk mengetahui keadaan di dalam kediaman Ki Demang, dengan harapan dapat memanfaatkan perubahan kekuasaan setelah kematian pemimpin Sangkal Putung itu. Namun, usahanya berulang kali menemui jalan buntu karena para pengawal tetap waspada dan Agung Sedayu kerap terlihat di sekitar halaman.
Pandan Wangi menggeleng kemudian mengulang yang menjadi pemikirannya, “Tidak ada kata untuk seandainya, Kakang. Salah atau benar, semua sudah menjadi sebab dan akibat. Dengan kata lain, saya sudah bersedia menanggung segala akibatnya.”
“Bila demikian, aku minta kalian tetap bersikap wajar. Maksudku, tidak perlu menampakkan permusuhan karena kalian sendiri bukanlah musuh satu sama lain. Perbedaan pendapat bukan berarti ada kebenaran di dalamnya dengan memusuhi Swandaru, misalnya,” kata Agung Sedayu. “Wajar jika ada pertanyaan dari orang lain, tetapi sekali lagi, aku minta jangan ada permusuhan di antara kalian.”
Pandan Wangi menganggukkan kepalanya tanpa tangisan atau kata-kata yang mengiba.
Sejenak Agung Sedayu memandang wajah yang masih tampak ayu itu sesekali. Dia rupanya masih menimbang juga di dalam hati. Lantas tangannya bergerak, menuangkan isi kendi ke dalam mangkuknya.
Dalam pada itu, Pandan Wangi juga merasa ada hal lain yang perlu diketahui Agung Sedayu dalam kaitannya dengan keamanan Tanah Perdikan. Tanpa sedikit pun menyebut nama Ki Adiyasa, Pandan Wangi membuka percakapan kembali.
“Dusun Benda,” katanya’ “tetap menarik perhatian saya, Kakang.”
Agung Sedayu tetap menyelesaikan satu tegukan lagi kemudian menjawab, “Bagaimana itu?”
“Orang-orang yang dicurigai memang kemudian keluar dari sana,” lanjut Pandan Wangi. “Namun setelah benturan dengan Ki Wira Sentanu, mereka rupanya kembali masuk ke Dusun Benda. Hanya saja caranya memang berbeda.”
Agung Sedayu duduk mendengarkan.
“Mereka tidak datang bergerombol atau dalam kelompok yang rapi, tetapi mereka datang satu per satu, sedikit demi sedikit,” sambung Pandan Wangi.
“Lanjutkan,” kata Agung Sedayu.
“Saya belum belum dapat memastikan apa-apa,” kata Pandan Wangi. “Tetapi, saya merasakan keanehan karena mereka tidak tinggal lagi di perkemahan sebelumnya. Mereka justru mulai menyewa rumah-rumah sekitar.”
Pandan Wangi berhenti sebentar. Mungkin dia sedang mengingat jumlah rumah yang disewa atau mungkin nama pemilik rumah yang disewa.
Sejenak kemudian, Pandan Wangi menggeleng perlahan.
Kemudian mengatakan, “Laporan dari para pengawal Tanah Perdikan memang menyebutkan bahwa beberapa rumah di sekitar Dusun Benda telah disewa oleh orang-orang pendatang itu. Namun, saya belum mengetahui berapa banyak rumah yang telah mereka sewa. Laporan yang sampai kepada saya belum menyebutkan jumlahnya dengan pasti.”
Agung Sedayu mengusap dagunya. Pandangannya sesaat beralih ke arah halaman sebelum kembali tertuju kepada Pandan Wangi.
“Jika mereka tidak lagi bertahan di tempat-tempat yang telah kita tentukan maka besar kemungkinan memang mereka menyebar atau keluar dari Dusun Benda,” katanya perlahan. “Dari laporan yang terdekat, aku kira mereka memang punya pilihan dan untuk mengamankan kepentingan itu, yah, benar jika mereka akan berusaha menyamar.”
Senapati Mataram ini lantas menarik napas panjang, katanya, “Gunung Kunir dan Gunung Kendil sudah bukan lagi tempat yang menarik bagi mereka. Dua kejadian atau lebih dan secara berturut-turt tentu memaksa mereka menghitung ulang.”
Pandan Wangi mengangguk lalu membenahi kedudukannya.
“Wangi,” kata Agung Sedayu kemudian, “apakah mungkin mereka bakal menyerang barak atau rumah Ki Gede Menoreh? Mengingat mereka pasti tahu keadaan di Sangkal Putung dan kita yang tidak berada di Tanah Perdikan.”
Pandan Wangi segera menggeleng. “Saya kira tidak, Kakang. Mereka juga tahu bahwa barak pun mulai kembali terisi oleh prajurit-prajurit baru. Jika mereka punya latar belakang dan sedikit pertimbangan, saya tidak begitu yakin mereka akan berbuat seperti yang Kakang cemaskan.”
“Tapi pengalaman kita mengajarkan juga hal yang tidak serupa, Wangi,” sahut Agung Sedayu.
“Benar tapi menurut saya, kemungkinan itu tipis sekali, Kakang.”
Agung Sedayu mengangkat alisnya, lalu berkata lagi, “Kekuatan mereka sudah tentu berkurang jika kita anggap sisa-sisa orang-orang perguruan yang masih ada. Kelompok terakhir, Ki Winih Jambe dan Ki Wira Sentanu, kita tidak sepenuhnya tahu, apakah mereka masih bercokol di Tanah Perdikan atau tidak? Tetapi memang, mereka juga tidak lagi leluasa bergerak seperti sebelumnya. Para pengawal Tanah Perdikan dan pasukan yang ditempatkan di sekitar Dusun Benda serta beberapa unsur dari kita telah mempersempit ruang gerak mereka.”
Pandan Wangi mengangguk perlahan. “Begitulah, saya sependapat. Serangan terbuka akan sangat merugikan mereka dalam keadaan sekarang.”
Tetapi sejenak kemudian dia berkata dengan sedikit cemas pula, “Hanya saja, mereka memang akhirnya tahu bahwa kekuatan kita berkurang dalam batasan Kakang dan beberapa orang tidak ada di tempat…”
Agung Sedayu bergumam sebentar lalu diam. Dia memang hanya seorang diri, sedangkan di barak masih ada Glagah Putih dan Sabungsari yang mungkin dan pasti memberikan perlawanan. Tetapi, kemampuan Ki Ajar Poh Kecik dan yang lain, apakah sebanding dengan Sabungsari dan juga Glagah Putih?
Dia merenung sejenak tapi keyakinannya pada saudara sepupunya, Sabungsari, cantrik Perguruan Orang Bercambuk kemudian tumbuh lalu berkatalah Agung Sedayu, “Kita sudah rencanakan dengan siasat terbaik. Dan hanya pada Yang Maha Agung kemudian kita berharap.”
“Mungkin kekuatan kita memang berkurang tetapi kita tidak kehilangan kepercayaan pada orang-orang di Tanah Perdikan. Mudah-mudahan ada jalan bila kemudian terjadi hal yang paling buruk sekalipun,” lanjut Agung Sedayu.
Pandan Wangi memandang Agung Sedayu dengan saksama lalu mengangguk. Dia memahami arah pikiran murid Kyai Gringsing tersebut. Putri Ki Gede Menoreh ini akhirnya juga turut berani memastikan bahwa segala perubahan akan diikuti dengan cara orang-orang Tanah Perdikan menyesuaikan diri. Itu saja.
Setelah agak lama berdiam diri, Agung Sedayu kemudian berkata, “Karena itu, kita tidak perlu menunggu berkabung ini usai. Aku akan mengirim dua orang kembali ke Tanah Perdikan dan beberapa orang lagi untuk menggantikan mereka. Kita harus segera memastikan keadaan mereka yang terakhir. Ada perubahan dalam cara mereka bergerak, aku kira begitu. Dan mudah-mudahan Ki Jayaraga juga mengetahuinya.”
Usai perang tanding Agung Sedayu yang berakhir dengan kematian Ki Wira Sentanu, Ki Ajar Poh Kecik meninggalkan Tanah Perdikan dengan perasaan yang sangat sulit.
Bagaimana tidak? Ki Wira Sentanu mati dalam laga dan sejumlah pengikutnya tercerai berai karena kekalahan itu. Dengan kurang dari sepuluh yang tersisa, Ki Ajar Poh Kecik pun keluar dari Tanah Perdikan sambil membawa luka yang pastinya sulit untuk disembuhkan.
Namun dia teringat kemudian Ki Kamejing. Pikirnya, jika dia pulang ke Perguruan Saripati maka hanya aib yang didapatnya. Untuk sejenak, dia menimbang dan merenung sebelum kemudian menggabungkan diri dengan Ki Kamejing.
Baginya, Agung Sedayu mungkin tidak tersentuh tapi Sekar Mirah adalah orang pertama yang dapat menerima pembalasan. Menurut Ki Ajar Poh Kecik, Ki Kamejing berurusan sepenuhnya dengan tongkat Ki Jambuwok, tapi Sekar Mirah adalah urusan yang berbeda. Maka besarlah harapannya bahwa Ki Kamejing tidak akan mempermasalahkan itu bila mereka bertemu.
Saat tiba di Kademangan Sangkal Putung, berita pertama yang didengarnya adalah kabar kematian Ki Demang. Namun demikian, Ki Ajar Poh Kecik tidaklah terburu-buru menerapkan langkah.
Ada beberapa hal yang membuatnya menahan langkah.
Pertama, Ki Ajar Poh Kecik tidak mengenal Sangkal Putung dengan baik. Jika lewat dan tinggal sambil lalu, yah, dia pernah melakukannya. Tapi bukan untuk tinggal dengan pengamatan dan pengenalan wilayah.
Kedua, dia harus mencari jejak Ki Kamejing terlebih dahulu.
Karena sudah menduga bahwa Agung Sedayu juga berada di Sangkal Putung, maka Ki Ajar Poh Kecik pun menjauh dari pedukuhan induk. Dia mencari dan menebar berita di padesan dan pedukuhan yang mengitari pedukuhan induk.
- Kalau boleh membuat dugaan, maka kita ini masih di tahap awal Buku 7, Waru Geni
- Gajah sungguhankah yang ada di Pertempuran Hari Pertama 1? Pada belalai gajah-gajah itu telah terpasang rantai kecil yang mempunyai bandul duri tajam pada setiap ujungnya.
- Tapi di sini, Ki Tumenggung Agung Sedayu sedang tidak melihat adegan perang gajah. Itu adalah bagian kisah yang lain karena sebenarnya dia ada pekerjaan berat di Kyai Plered 58 . Jadi kita biarkan saja bacaan tetap sesuai dengan urutan untuk menjelaskan itu.
