Dironda 47 kali
Wedaran sebelumnya: Dalam rombongan kecil itu turut serta Ki Garu Wesi atas keputusan Agung Sedayu sendiri, yang merasa lebih tenang bila orang itu berada di dekatnya meskipun masih berstatus tahanan. Ki Sor Dondong kemudian ikut karena merasa mempunyai kedudukan dan alasan yang sama dengan Ki Garu Wesi.
Pandan Wangi dan Kinasih berangkat kemudian setelah iring-iringan Agung Sedayu singgah sejenak di kediaman Ki Gede Menoreh. Pandan Wangi tidak dapat serta-merta menggabungkan diri karena beberapa urusan yang harus diselesaikan.
Di dalam rombongan Pandan Wangi, ada Ki Jayaraga dan juga Sabungsari serta empat pengawal Tanah Perdikan, selain Kinasih tentu saja.
Sementara para cantrik Perguruan Orang Bercambuk dan prajurit Jati Anom akan menyusul beberapa hari kemudian. Untuk sementara waktu, keberadaan mereka masih dibutuhkan, baik oleh barak maupun Tanah Perdikan.
Mereka baru dapat meninggalkan tugas setelah rombongan prajurit dari Kotaraja tiba. Para prajurit yang baru datang itu akan menjalani pendidikan khusus di barak pasukan khusus, sehingga kehadiran mereka sekaligus menandai berakhirnya tugas para cantrik dan prajurit Jati Anom.
Demikianlah pesan yang telah disampaikan Agung Sedayu kepada Ki Sanggabaya, Sabungsari, dan para pemimpin barak lainnya. Mereka harus memastikan bahwa pergantian orang dan penyambutan prajurit baru itu dapat berlangsung dengan baik, sehingga kebutuhan pengamanan dan kegiatan di barak tetap terpenuhi sebelum para cantrik dan prajurit Jati Anom meninggalkan tempat tugas mereka.
Sekarang, pada hari ini, orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa masa depan Sangkal Putung telah memasuki babak yang berbeda.
Hari-hari berikutnya di Sangkal Putung berjalan dalam suasana berkabung.
Agung Sedayu dan rombongannya turut berada di tengah mereka, dan juga berbaur dengan penghuni rumah untuk menyiapkan segala keperluan. Selama itu, urusan rumah tangga dan pemerintahan Sangkal Putung perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan kehilangan yang tidak kecil itu.
Dalam waktu itu, Pandan Wangi berbuat sesuatu yang agak di luar dugaan kebanyakan orang. Dia tidak tinggal di dalam rumah Ki Demang Sangkal Putung, tetapi di pondokan bagian belakang, di rumah Sekar Mirah. Tentu saja hal itu bukan keputusan yang mendadak darinya. Pandan Wangi telah memikirkannya sejak di Tanah Perdikan bahwa nantinya di Sangkal Putung dia tidak akan di bawahatap yang sama dengan Swandaru.
Keputusan tersebut memang tidak banyak dibicarakannya. Pandan Wangi sadar bahwa kedatangannya ke Sangkal Putung bukan sekadar menghadiri upacara penghormatan terakhir kepada Ki Demang tetapi ada urusan keluarga yang harus diselesaikan. Namun demikian, semua itu tidak berarti dia dapat berbuat semaunya sendiri.
Sekar Mirah menerima kehadiran Pandan Wangi tanpa banyak pertanyaan. Dia sudah mengerti akar permasalahan masalah rumah tangga kakaknya itu.
Dalam waktu itu, Sekar Mirah tetap bersikap seperti biasanya pada Pandan Wangi. Hanya satu hal yang tidak mereka sentuh dan seolah sudah ada kesepakatan antara keduanya: tidak ada pembicaraan mengenai Swandaru.
Demikianlah maka pergaulan sehari-hari pun menang tidak ada masalah karena setiap orang sudah mengerti batas masing-masing.
Hingga genap tujuh hari sejak Ki Demang meninggal dunia, berbagai urusan yang berkaitan dengan penghormatan terakhir kepadanya pun selesai dilaksanakan.
Sementara itu, Kinasih yang tinggal juga serumah dengan Pandan Wangi mulai memikirkan perjalanan lain. Sebelum mereka tiba di Kademagan Sangkal Putung, Pandan Wangi memberinya tugas khusus di Kotaraja: selidiki latar belakang Ki Adiyasa.
Sebenarnyalah memang Pandan Wangi menangkap banyak kejanggalan. Selain nama yang tidak biasa, lalu pergerakan Ki Adiyasa yang lebih banyak berputar-putar antara Dusun Benda dan pedukuhan induk.
Adakah hubungan dengan orang-orang yang dicurigai Ki Jayaraga di Dusun Benda?
Ada pula hal lain yang mengusik pikiran Pandan Wangi. Jika benar Ki Adiyasa seorang pedagang, sebagaimana pengakuannya ketika pertama kali mereka bertemu, maka luas lahan yang disewanya terasa tidak sesuai dengan keperluan seorang pedagang pada umumnya. Lahan itu lebih menyerupai pategalan atau tanah pertanian yang membutuhkan pengelolaan tersendiri.
Kejanggalan itu semakin terasa ketika Pandan Wangi mengetahui bahwa Ki Adiyasa telah menambahkan beberapa bangunan di sekitar rumah sewaannya. Rumah itu sendiri berdiri di atas pekarangan yang luas. Dengan adanya bangunan-bangunan baru tersebut, tempat itu tidak lagi tampak sekadar sebagai rumah tinggal seorang pedagang yang kebetulan memiliki halaman lapang.
“Meskipun dia adalah pedagang besar,” ucap hati Pandan Wangi ketika itu.
Maka Pandan Wangi dengan pengalaman dan keluasaan wawasannya, tentu tidak gegabah membuat kesimpulan hanya berdasarkan yang dilihatnya.
Ki Adiyasa mungkin mempunyai usaha lain yang belum pernah diceritakannya. Namun, jika demikian, mengapa hanya memperkenalkan diri sebagai pedagang? Apa yang sebenarnya dikerjakannya di lahan seluas itu, dan untuk keperluan apakah bangunan-bangunan tambahan tersebut didirikan?
Selain tidak tampak banyak orang keluar masuk seperti lazimnya para pedagang, Pandan Wangi semakin mengernyitkan kening dengan laporan-laporan dari pengawal Tanah Perdikan.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong Pandan Wangi menugasi Kinasih untuk menyelidiki latar belakang Ki Adiyasa di Kotaraja. Dia ingin mengetahui jati diri sesungguhnya dari orang itu dan mencari bukti bahwa pengakuannya selama ini sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.
Kinasih dan Kotaraja tentu bukan lagi hubungan yang asing. Dia memang tidak berasal dari sana, tetapi Kepatihan adalah tempat yang tepat untuk mengawali sebuah tujuan.
Keberadaan Nyi Banyak Patra tentu sangat membantunya. Meski bukan seorang pejabat pemerintahan, tapi apa yang dapat disembunyikan dari orang itu?
Maka dengan demikian, Kinasih pun meninggalkan Sangkal Putung setelah berbicara sedikit panjang dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah.
Ketika meninggalkan kediaman Ki Demang, Kinasih segera mengarahkan langkahnya menuju jalan utama. Walau demikian, dalam penyamaran, dia masih sempat singgah ke beberapa tempat yang dikenalnya. Saat itulah pandangannya menangkap sosok yang terasa dikenalnya.
Ki Kamejing.
Orang itu berada tidak terlalu jauh dari kediaman seolah-olah sedang mengamati keadaan di sekitarnya. Kinasih mengenalinya, tetapi tidak menunjukkan perubahan sikap. Dia hanya menyimpan pengenalan itu dalam ingatan, tanpa merasa perlu mendekat atau mencari tahu yang sedang dilakukan Ki Kamejing
Ki Kamejing tentu mempunyai maksud tertentu dengan keberadaannya di tempat itu. Namun, Kinasih tidak melihat alasan untuk mencemaskannya.
Salah satu alasannya adalah Sangkal Putung sedang berada dalam masa berkabung. Banyak orang datang dan pergi untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada Ki Demang. Lagi pula, Agung Sedayu dan beberapa orang kepercayaannya masih berada di sana.
Dalam keadaan seperti itu, Ki Kamejing tentu tidak akan bertindak macam-macam, setidaknya untuk saat ini. Begitulah pikiran sederhana Kinasih yang kemudian bergegas meninggalkan pedukuhan induk. Dia tidak ingin perjalanannya ke Kotaraja tertunda hanya karena kehadiran seseorang yang belum tentu akan menjadi persoalan. Ki Kamejing cukup dicatat dalam ingatannya.
Namun, berakhirnya masa berkabung itu tidak berarti semua persoalan telah menemukan jalan keluar. Pandan Wangi masih tinggal di pondokan belakang rumah Sekar Mirah adalah permasalahan baru ketika Sangkal Putung harus mulai menghadapi hari-hari tanpa Ki Demang. Kepemimpinan atau setidaknya saran dari Pandan Wangi memang dibutuhkan banyak orang, selain dari Swandaru sendiri. Tetapi, kehidupan di balik kediaman sangatlah dingin.
Dalam tujuh hari berkabung itu dan beberapa hari setelahnya, Ki Kamejing ternyata tidak tinggal diam. Dia perlahan mulai mencari jalan untuk mengetahui keadaan di dalam kediaman Ki Demang, terutama setelah menyadari bahwa kematian pemimpin Sangkal Putung tersebut dapat membawa perubahan pada susunan kekuasaan di kademangan.
- Pertarungan hidup mati. Ki Arumbaya mengelak dengan berjungkir balik ke belakang. Ia mengusap jari tangan kanan yang robek karena serangan balik yang luar biasa dalam Benturan Lereng Gunung Wilis 8.
- “Oh,” desah Agung Sedayu yang seperti tersadar dari keadaan dirinya. “Aku akan menunggumu di pringgitan. Kita perlu bicara barang sebentar.” Dan itulah yang terjadi saat Kyai Plered 53 ketika kelahiran anak Agung Sedayu juga terancam bahaya.
