Dironda 86 kali
Wedaran sebelumnya: Sekali lagi Ki Demang menggeleng. “Sakitku bukanlah penyakit tetapi karena usia maka semuanya menurun. Biarlah, biarkan saja aku menunggu dengan segala kedamaian yang mungkin datang.”
“Katakanlah, Swandaru. Aku tetap menganggapmu bahwa, kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Mungkin sikap kita sekarang ada yang berbeda. Maksudku, aku ingin kalian tetap bersatu dan bersama. Tentu saja itu adalah keinginan ayah yang wajar, karena seperti itulah ayah dan ibu yang tetap manunggal sampai sekarang,” kata Ki Demang.
Sesaat dia berhenti, mengatur napas lalu mengambil seteguk air.
Dia berkata lagi, “Aku dan kau adalah dua pribadi yang terpisah. Dua keinginan yang berbeda dengan dua pengalaman yang tentu saja berlainan. Jika sampai saat ini di antara kau dan aku memandang Pandan Wangi lalu sepakat satu hal, itu bukan berarti tidak ada perbedaan antara kita. Justru karena kau adalah anakku kemudian aku mengalah dalam satu sisi. Seandainya aku tidak ingin mengalah, maksudku, sudah barang tentu akan memintamu mempertahankan Pandan Wangi. Tapi, Anakku, aku ingin sumeleh, membiarkan segalanya berjalan di atas arus yang dijehendaki-Nya. Maksudku, urusan Pandan Wangi sepenuhnya berada padamu. Bila kau berpisah, maka itu baik. Jika kau tetap putuskan bersama-sama lagi, itu juga baik. Aku hanya mengingatkan bahwa Tanah Perdikan itu berada di luar keadaanmu yang sesungguhnya.”
Swandaru, putra Demang Sangkal Putung yang terombang-ambing masalah rumah tangga tidak menjawab dan masih membisu.
“Swandaru,” Ki Demang melanjutkan, “namun begitu, tidak ada yang pasti bila kau tetap bersama Pandan Wangi atau tidak. Hal ini sudah aku usahakan untuk meletakkan. Itu bukan tanggung jawabku lagi karena umur juga mempengaruhi. Tapi masalah ini akan selesai karena aku tidak hidup selamanya.”
Swandaru masih diam membeku.
“Nah, sekarang kau dapat menyatakan pendapatmu pula nila kau mau.bila tidak, aku juga tidak dapat memaksamu.”
Swandaru berpikir sejenak. Yang dikatakan oleh ayahnya memang seluruhnya benar dan dia hampir tidak ada jalan untuk membantah atau melihat dari sisi yang berlainan. Namun dengan pertimbangan keadaan, maka Swandaru pun memutuskan untuk mengurangi pembicaraan meski hatinya berdebar-debar.
Kemudian dia mengatakan pula beberapa hal yang dirasakan perlu seperti kemungkinan kembali ke Tanah Perdikan.
“Ayah,” ucap Swandaru. “Saya mengerti bahwa saya tidak mempunyai hak atas Tanah Perdikan. Kedudukan saya hanyalah pendamping, jadi, saya akan tetap diam bilamana Pandan Wangi menghendaki lain. Sekalipun saya tetap bersama Pandan Wangi, saya tidak mempunyai hak atas tanah itu. Kedudukan saya tidak serta-merta memberiku hak untuk ikut menentukan segala sesuatu yang menyangkut Tanah Perdikan.”
Ki Demang memandang Swandaru lalu Sekar Mirah.
“Tetap ada batas itu. Pandan Wangi adalah putri Ki Gede Menoreh. Dia mempunyai kedudukan dan tanggung jawabnya sendiri. Saya tidak dapat datang ke sana lalu menganggap bahwa segala sesuatu harus berjalan menurut keinginan saya. Saya tahu bagaimana orang-orang Tanah Perdikan memandang saya, jadi mudah-mudahan kehadiranku bukan bagi kedudukan Pandan Wangi.”
Swandaru berhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa berat ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ada keterpaksaan tetapi memang harus dikatakan olehnya.
“Dan itu akan menjadi lebih berat setelah semua yang terjadi,” ucap Sekar Mirah tanpa merinci atau menerangkan ulang peristiwa yang dimaksud olehnya.
Swandaru mengangguk, memandang adiknya barang sejenak kemudian katanya, “Benar, aku tahu itu.”
Swandaru kembali terdiam. Ada hal lain yang sejak tadi mengendap dalam pikirannya, sesuatu yang justru lebih dekat dengan dirinya daripada Tanah Perdikan Menoreh.
“Namun, Ayah,” lanjutnya dengan suara lebih rendah, “aku tidak dapat memberikan jaminan bahwa aku akan bersikap sama seperti ketika berbicara tentang Tanah Perdikan Menoreh.”
Ki Demang mengerutkan kening. “Apakah maksudmu kau akan tetap menuntut hak kepemimpinan?”
Swandaru menghela napas, kemudian berkata, ““Bukan begitu, Ayah. Saya tidak mengatakan bahwa akan menuntut atau menentang atau mengganggu orang yang mungkin terpilih. Saya hanya tidak ingin memberikan janji yang belum tentu sanggup terpenuhi.”
Sejenak dia berhenti ketika hatinya makin berdebar-debar. Lalu katanya lagi, “Saya tahu bagaimana Sangkal Putung melihat diri saya tapi saya tidak dapat diam bila ada sesuatu yang buruk terjadi kelak.”
Swandaru menarik napas. “Tanah Perdikan Menoreh bukan hak. Saya memahami itu sejak awal. Tetapi Sangkal Putung berbeda. Saya lahir dan tumbuh di sini. Saya mengenal orang-orang dan mengenal setiap jengkal tanahnya. Selama ini menganggap bahwa pada suatu saat saya akan memikul tanggung jawab yang sekarang berada di pundak Ayah.”
Dia menunduk sesaat sebelum kembali menatap ayahnya. “Tetapi keadaan sedang tidak berpihak pada saya, yah, saya sadari itu. Namun, yang pasti adalah saya tidak ingin berpura-pura bahwa hal itu tidak akan memengaruhiku. Apalagi jika orang tersebut ternyata kemudian salah jalan atau keliru, saya tidak mungkin dapat diam.”
Ki Demang menghela napas panjang. Dia melihat putranya dengan pandangan yang sulit dibaca. Barangkali, itulah saat untuk pertama kali Swandaru mengakui batas kemampuannya sendiri.
“Saya tidak akan meminta Ayah memilih hanya karena aku anak Ayah,” ucap Swandaru. “Tetapi saya juga tidak dapat mengatakan bahwa saya tidak mempunyai keinginan untuk menggantikan Ayah. Saya tentu menginginkannya. Hanya saja, keinginan itu tidak boleh menjadi alasan bagi Ayah untuk mengambil keputusan yang keliru.”
Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara.
Ki Demang mengangguk perlahan. Dia tidak memperoleh jaminan bahwa Swandaru akan menerima segala sesuatu dengan lapang dada. Namun, setidaknya putranya telah mengatakan sesuatu yang lebih jujur daripada sekadar menyatakan kesanggupan untuk tunduk pada setiap keputusan.
Demikianlah dan mungkin itu adalah percakapan terakhir mereka bertiga.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam suasana yang berbeda. Hingga pada akhirnya, Ki Demang meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Berita duka itu pun sampai kepada orang-orang yang selama ini menjalin hubungan dengan Sangkal Putung.
Berita lelayu kemudian tiba di Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu segera berangkat disertai Ki Demang Brumbung dan tiga prajurit pengiring. Tapi dalam rombongan kecil itu terlihat pula Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong.
Kehadiran kedua orang itu tentu bukan karena mereka mempunyai hubungan dengan Sangkal Putung. Agung Sedayu sendiri yang memutuskan untuk mengajak mereka. Ada pertimbangan tersendiri di balik keputusan itu, meskipun ia tidak merasa perlu menjelaskannya panjang lebar.
“Aku ajak serta Ki Garu Wesi,” katanya ketika keputusan itu sempat dipertanyakan Ki Sanggabaya, “meskipun aku lemah, setidaknya dia tidak melarikan diri dari barak.”
“Bukankah di barak ada Ki Glagah Putih, Ki Tumenggung?” tanya Ki Sanggabaya lebih jauh.
Agung Sedayu menggeleng. “Benar, dan Glagah Putih memang dapat menghadapinya tetapi, entahlah, saya lebih tenang bila dia berada di dekat saya.”
Alasan yang sederhana, bahkan terdengar seperti pengakuan atas kelemahan dirinya sendiri. Namun, bagi Agung Sedayu, ada kalanya kepercayaan justru perlu diberikan dalam keadaan seseorang belum sepenuhnya layak menerimanya. Lagi pula, selama berada di bawah pengawasan, Ki Garu Wesi belum menunjukkan keinginan untuk melarikan diri.
Sedangkan Ki Sor Dondong mempunyai alasan yang jauh lebih sederhana.
Melihat Ki Garu Wesi berbenah dan ada tanda-tanda akan turut ke Kademangan Sangkal Putung, dia pun berkata, “Dia tahanan. Aku juga tahanan. Maka aku ikut.”
Tidak ada penjelasan lain yang menyertai ucapannya. Sepertinya masalah itu sudah cukup terang dan tidak memerlukan pertimbangan lebih lanjut. Ki Sor Dondong tidak sedang mencari alasan untuk membebaskan diri dari kedudukannya sebagai tahanan. Dia hanya merasa bahwa apabila Ki Garu Wesi diperbolehkan ikut, dirinya pun mempunyai alasan yang sama.
Dia ikut karena Ki Garu Wesi turut serta, hanya itu.
Agung Sedayu pun tidak memperpanjang persoalan. Maka berangkatlah mereka menuju Sangkal Putung dalam satu perjalanan.
- Mereka berangkat, kita pun berangkat menuju Waru Geni.
- Mereka berjalan sambil mengamati pemuda yang tertancap tiga sujen pada dahinya. Sesekali mereka menatap ke Bulan Telanjang 17, bukan ke arah yang lain.
- Tapi ternyata Swandaru membawa perintah baru yang bertolak belakang dengan Bara di Bukit Menoreh 30.
