0%
Still working...

Waru Geni 8 – Ketika Pandan Wangi Tak Ingin Kembali

Dironda 25 kali

Wedaran sebelumnya: Berbagai kejanggalan menimbulkan kecurigaan, mulai dari nama yang tidak lazim, pergerakannya antara Dusun Benda dan pedukuhan induk, luas lahan yang disewa, hingga penambahan bangunan yang tidak sesuai dengan pengakuannya sebagai pedagang. Pandan Wangi ingin mengetahui jati diri Ki Adiyasa serta kemungkinan hubungannya dengan orang-orang yang dicurigai Ki Jayaraga. Dengan memanfaatkan hubungan Kinasih di Kotaraja dan bantuan Nyi Banyak Patra, penyelidikan itu diharapkan dapat menemukan jawaban.

Pada mulanya, dia mengira keadaan akan lebih mudah dikendalikan. Suasana berkabung, kedatangan para pelayat, dan kesibukan orang-orang di sekitar kediaman Ki Demang semestinya membuka celah tapi perkiraannya meleset.

Beberapa kali dia mencoba mencari jalan untuk menerobos masuk tanpa keonaran, tetapi selalu menemui kesulitan. Para pengawal kademangan ternyata jauh lebih cermat daripada yang dibayangkannya. Mereka tidak hanya berjaga di pintu masuk, tetapi juga memperhatikan orang-orang yang keluar masuk, termasuk mereka yang berusaha mendekati kediaman dengan alasan yang tidak jelas. Agung Sedayu juga sering tampak pula di beberapa sudut halaman.

Tentu saja Ki Kamejing tidak ingin ada masalah datang. Mengapa tidak kendur sedikit pun? Seperti itulah isi pikirannya dalam beberapa hari itu.

Ki Kamejing semula menganggap bahwa kematian Ki Demang akan membuat pengawasan mengendur, setidaknya untuk sementara waktu. Kenyataannya justru berbeda. Para pengawal itu tetap menjalankan tugas dengan tertib karena mereka sadar bahwa masa berkabung bukan alasan untuk mengabaikan kewaspadaan.

Akhirnya orang ini pun sadar bahwa dia tidak dapat memaksakan kehendak. Terlalu terbuka dan pastinya dapat mengundang perhatian Agung Sedayu sementara dia sendiri pun belum siap dengan kenyataan itu.

Tujuh hari berkabung baru saja berakhir, tetapi Ki Kamejing mulai menyadari bahwa jalan yang dibayangkannya mudah ternyata jauh lebih sulit ditempuh.

Sementara itu, di dalam rumah, Sekar Mirah, Pandan Wangi, dan Agung Sedayu duduk bertiga. Ada beberapa hal yang ingin mereka bicarakan sebelum hari semakin siang. Namun, sebelum percakapan itu beranjak pada persoalan lain, Agung Sedayu lebih dahulu memandang Pandan Wangi.

“Apakah kau masih menghindari Swandaru?”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Dia hanya mengangkat tapi tidak menatap Agung Sedayu, lalu kembali menunduk.

“Itu jelas bukan sesuatu yang dapat diterima, Wangi,” lanjut Agung Sedayu. “Aku rasa engkau tahu itu. Bagaimanapun juga, dia sekarang adalah pemimpin Kademangan Sangkal Putung. Aku tahu hubungan kalian secara pribadi tidak lagi seperti dahulu. Tetapi, kedudukannya sebagai pemimpin tidak dapat kau abaikan begitu saja.”

Pandan Wangi tidak membantah perkataan itu. Bahkan, jauh di dalam hatinya, dia membenarkan ucapan Agung Sedayu. Hanya saja, dia masih merasa berat untuk melakukannya.

“Kakang,” ucap Pandan Wangi kemudian,” masalah dengan Kakang Swandaru sebenarnya cukup sederhana. Terlebih Ki Gede sendiri telah membuat sebuah keputusan yang menjadikan saya agak leluasa sekarang.”

Agung Sedayu berdiam diri sambil memandang perempuan yang sudahh puluhan tahun bersamanya di Tanah Perdikan itu. Dalam keadaan seperti itu pula Agung Sedayu tidak dapat serta-merta menyalahkan Pandan Wangi atau mengatakan sesuatu yang memang berat, tapi dia memang mengerti sepenuhnya. Maka dia pun membiarkan Pandan Wangi menimbang perkataan itu sendiri.

Setelah bergumam sebentar, Agung Sedayu berkata, “Setidaknya kau dapat memperlihatkan keadaan berdua di depan banyak orang, meski—“

“Untuk apa? Bukankah yang seperti itu adalah kebohongan bagi Mbokayu?” potong Sekar Mirah.

Sebenarnya Sekar Mirah yang duduk di dekat mereka memilih tidak ingin ikut berbicara. Tetapi karena nada Agung Sedayu yang menurutnya sedikit mendesak Pandan Wangi, maka dia pun merasa harus turun tangan.

Sekar Mirah pun semenjak awal memahami bahwa dalam berbagai keadaan, hubungan di antara Pandan Wangi dan Swandaru, sudah tidak dapat lagi dicampuri.

Orang tua dari kedua belah pihak sudah membuat keputusan, maka apa lagi yang harus dilanjutkan?

Sekar Mirah kemudian bangkit sambil menggendong Wangi Sriwedari.

“Kakang dapat selesaikan ini,” katanya. “Aku akan mengajak Wangi Sriwedari keluar sebentar.”

Agung Sedayu menarik napas panjang lalu memandangi istrinya tanpa kata-kata.

Setelah Sekar Mirah menjauh, tinggal Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang duduk berhadapan dalam suasana lebih lengang.

Semenjak hari kedatangannya di Sangkal Putung, atas saran Sekar Mirah dan Kyai Bagaswara, Pandan Wangi memang telah berusaha untuk bersikap dan berbuat wajar. Dia tetap mengambil pekerjaan rumah, pergi ke pasar bersama Kinasih dan sekali-kali juga turun di Jagaprayan atau pedukuhan lain dan Swnadaru mengetahui semuanya. Namun demikian, mereka tetap memasang jarak dan membiarkan bentangan itu terpasang di antara mereka.

Maka dalam waktu itu, Agung Sedayu lantas memandangi Pandan Wangi ketika mulai berbicara. Dari beberapa patah kata yang sempat didengarnya sebelum Sekar Mirah pergi, dia dapat mengetahui bahwa keduanya telah berbincang cukup panjang. Namun, dalam waktu itu, Agung Sedayu belum mengetahui batas percakapan mereka.

Karena itu, Agung Sedayu memilih untuk tidak mendahului dengan pertanyaan. Dia memilih untuk menunggu Pandan Wangi menyelesaikan percakapannya.

“Saya sudah berbicara cukup banyak dengan Mbokayu Sekar Mirah, Kakang,” kata Pandan Wangi kemudian. “Ada beberapa hal yang membuat saya harus berpikir memang ada persamaan, tapi juga sedikit perbedaan. Tapi saya dapat mengerti karena, bagaimanapun, Mbokayu Sekar Mirah tetap adik kandung Kakang Swandaru. Satu kenyataanya yang jelas bukan sebuah kebetulan.”

Agung Sedayu mengangguk.

Pandan Wangi terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke halaman dengan pikiran yang sepertinya belum semua diungkapkan pada Agung Sedayu.

“Kakang,” ucap lirih Pandan Wangi. ” Hari-hari kami berikutnya di Tanah Perdikan, pada awalnya, adalah hari-hari yang tenang dan bahagia. Tidak ada perasaan iri atau kecemburuan sekalipun itu kadang disinggung tapi kemajuan kami berdua dalam kanuragan sudah melampaui kehendak sendiri. Hingga kemudian datanglah Ki Ambara…”

Pandan Wangi berhenti sejenak kemudian berkata lagi, “Saya masih dapat menahan diri. Masih berusaha tegar setiap kali melihat Kakang Swandaru meski selalu juga terbayang wajah gadis itu.”

Agung Sedayu menahan napas.

“Itu adalah bayangan yang selalu memberikan sesuatu yang mengerikan. Saya pikir setiap bayangan itu muncul, maka kehancuran akan menimpa rumah tangga kami. Gadis itu telah lama tewas tapi bayangan wajah tetap sering menampakkan diri. Dia seolah berkata bahwa suamiku akan mengulang lagi, mengulang kesalahan yang sama. Tapi, Kakang tahu, saya bukan orang yang mudah dipatahkan oleh bayangan.”

“Wangi,” ucap Agung Sedayu. “Sekalipun Swandaru adalah kakak ipar dan juga adik seperguruanku, bukan berarti aku akan membelanya tanpa perhitungan. Bahkan, kau mungkin juga sudah mendengar aku membatasi kemampuannya kanuragan. Yah, ada penyesalan ketika melakukannya, tapi, setidaknya dia dapat memiliki rasa hormat.”

Pandan Wangi menghela napas. Dia sadar bahwa saat bersama Agung Sedayu itu bukanlah waktu untuk berandai-andai. Seandainya saja Swandaru tidak mengenal atau bertemu Ki Ambara. Seandainya saja dia tidak menantang kakak seperguruannya dalam perang tanding. Seandainya dan seandainya yang lain. Tidak, menurutnya, itu sudah bukan lagi masa bagi mereka berdua.

“Tetapi dengan cara seperti itu, aku sedikit yakin Kakang Swandaru dapat berubah,” ucap Pandan Wangi kemudian.

“Walau begitu,” tambahnya,” itu juga bukan berarti kami akan kembali bersama-sama.”

Dia menoleh pada Agung Sedayu seakan ingin memastikan tanggapan murid pertama Kyai Gringsing tersebut. Lalu berucap lagi, ”Segala sesuatunya telah mendapatkan kepastian. Aku harap Kakang dapat mengerti.” Agung Sedayu mengusap wajahnya kemudian berkata pula, ”Wangi, apakah kau merasa bersalah seandainya kembali bersama?”

  • Agung Sedayu menahan gejolak dalam hatinya yang mendesak untuk segera bertanya keadaan terakhir perkelahian sebelum Bunija menjauh dari gelanggang ketika terjadi Kiai Plered 60.
  • Tapi dia tidak berdaya ketika dinding api tampak seperti berlubang dan menjadi celah sebagai jalan masuk pasukan Ki Sentot untuk menerobos barisan Sumur Welut pada Pertempuran Hari Pertama.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.