0%
Still working...

Badai dari Grajegan 7 – Perkemahan Ki Nagapati Seperti Kuburan … Puluhan Anak Panah Turun Seketika

Dilihat 119 kali

“Tuan, apakah kita akan menunggu fajar untuk memasuki perkampungan Ki Nagapati?” bertanya pengawal Ki Banyak Abang.

Mereka berdua duduk di atas punggung kuda sambil mengamati keadaan perkampungan Ki Nagapati. Kerlip cahaya terlihat di antara rumah penduduk, beberapa obor masih terang menyala di kedua sisi jalan masuk utama yang cukup lebar.

Sekali-kali terdengar nyalak anjing hutan yang mungkin tengah berburu mangsa. Tak jarang, pada hari yang lain, aum harimau menggelegar memecah udara rimba. Tetapi saat itu, para penghuni belantara lebih memilih diam.  Suasana terasa aneh bagi kedua orang yang terbiasa dengan kehidupan di tengah belantara.

“Apakah binatang malam telah mengamankan diri, Tuan?” lirih pengawal Ki Banyak Abang bertanya.

Dengan senyum kecil, Ki Banyak Abang memberi jawaban, “Mungkin mereka melangsungkan sebuah kegiatan.”

“Apakah Tuan dapat menebaknya?”

“Tentu saja!”

“Apakah itu?”

“Agar kamu bertanya padaku.”

Bincang ringan yang menjadi pemecah kesunyian di tepi luar batas pemukiman.

Sebenarnya memang ada yang aneh dalam waktu itu, di perkampungan prajurit Ki Nagapati tidak terlihat pengawal jaga. Gardu-gardu terlihat lengang. Lorong-lorong begitu sepi. Kedua prajurit Pajang ini tidak mendapati seseorang yang dapat diajak bicara.

Seolah telah terjadi kesepakatan antara binatang malam dan penghuni perkampungan Ki Nagapati.

Kesepakatan untuk diam!

“Bahkan kesunyian di dekat hutan juga terjadi di pemukiman ini,” Ki Banyak Abang mendesis. Seluruh panca indra dan kekuatan ilmu mereka telah bersiaga.

“Aku tidak mendengar dengus napas orang terjaga. Setiap rumah hanya mengeluarkan dengkur yang menggema,” bisik Ki Banyak Abang pada dirinya. “Perintah apakah yang diberikan Ki Nagapati? Jika sesuatu yang buruk terjadi di tempat ini, aku adalah orang pertama yang tahu. Tetapi, apa arti dari keadaan ini? Meski perintah pengosongan itu telah aku ketahui, tetapi keadaan ini benar-benar di luar dugaan.”

Mereka berdua telah masuk ke dalam, dan tidak menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan keadaan itu. Bahkan tanah lapang yang menjadi tempat para prajurit berkumpul setiap malam pun tidak meninggalkan bekas pembakaran. Sementara para prajurit Ki Nagapati selalu membuat api unggun.

Tetapi, perkampungan itu mendadak seperti kuburan!

Sunyi!

“Ke mana kita akan mencari?” pelan pengawal Ki Banyak Abang sambil melompat turun dari kuda.

“Kita tidak ke mana-mana!” tegas Ki Banyak Abang dengan perintah untuk diam. Ia memukul pantat dua ekor kuda agar menjauh dari tanah lapang.

“Tuan?” pengawal Ki Banyak Abang mencari tahu.

Telunjuk Ki Banyak Abang mengarah pada sebuah tempat. Pada sebuah pohon!

Untuk sesaat ia menyerap semua gerakan, bahkan desir angin, dengan segenap ilmunya. Ki Banyak Abang mengindra ke banyak penjuru.

Ia tersentak!

Betapa mereka ternyata berada di bawah mata banyak orang.

“Luar biasa! Senapati pilih tanding dan sangat mumpuni sebagai seorang ahli!” kata pujian mengalir dari kedalaman hati Ki Banyak Abang.

Sekejap kemudian, setelah memastikan mereka berdua telah aman, Ki Banyak Abang melompat berdiri diikuti pengawalnya. Senapati Pajang ini lantas memutar tubuhnya, mengedarkan mata mengelilingi tempat sekitar mereka.

“Saya, Ki Banyak Abang, harus mengakui kehebatan seseorang yang bernama Ki Nagapati!” lantang Ki Banyak Abang menggelar suara. Keperkasaan pun memancar dari sikap tubuh senapati Pajang itu, keperkasaan yang berpadu indah dengan kerendahan hati. Perawakan tinggi besar Ki Banyak Abang tidak mampu memaksa hatinya mencari tempat yang tinggi.

Satu suitan nyaring membelah perkampungan!

Di luar dugaannya, belasan atau puluhan anak panah turun menyambar dua prajurit Pajang yang sangat empuk sebagai sasaran. Mereka berdiri tegak seolah menantang meski senjata mereka telah dikesampingkan.

“Ikuti aku!” perintah Ki Banyak Abang. Pengawalnya menggulingkan tubuh, mengikuti pergerakan pemimpinnya. Mereka berhasil menjauhi titik bidik, namun Ki Banyak Abang masih bergulingan. Ia membuat sebuah gambar melalui gerakannya. Gambar yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang khusus prajurit Majapahit. Gambar yang tidak terlihat, tetapi jika setetes tinta digoreskan dan mengikuti simpul perpindahan, maka akan menghasilkan goresan khusus. Bentuk yang pasti dikenali oleh Ki Nagapati!

Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun berlari kecil menghampiri Ki Banyak Abang.

“Hentikan!” lelaki yang masih tampak gesit dengan sorot mata penuh wibawa itu berseru.

“Ki Nagapati!” Sedikit membungkuk Ki Banyak Abang memberi hormat.

“Harap dimaafkan! Saya sengaja memberi perintah menyerang karena nama Ki Banyak Abang. Satu nama yang pernah digembleng dalam pasukan inti mendiang Lembu Sora.”

“Masa indah yang telah berlalu.” Ki Banyak Abang menerawang jauh.

“Benar.”

Kedua senapati pun berjalan beriringan. Dalam kesempatan itu, Ki Nagapati mengutarakan alasan pengosongan pemukiman. Ki Banyak Abang banyak mendengar dengan kekaguman yang belum berhenti mengalir untuk Ki Nagapati.

“Tentang cara yang ditempuhnya dalam pengosongan ini, itu luar biasa! Dalam waktu singkat, seluruh penghuni pemukiman, termasuk wanita dan anak-anak, dapat bekerja sama untuk menjadikan sekitar tempat ini menjadi senyap.

“Ini menjadi bukti tersendiri, betapa para pengikut Ki Nagapati seolah dilahirkan untuk bertempur dan bertahan hidup. Sebuah hasil yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh dicintai oleh pengikutnya seperti Lembu Sora. Apakah Maharatu Majapahit juga dicintai seperti Ki Nagapati oleh pengikutnya? Aku tidak dapat menjawabnya karena itu pertanyaan bodoh! Karena, tentu saja, mereka berbeda keadaan. ” Ki Banyak Abang tersenyum dalam hati tentang pertanyaan terakhirnya.

Satu hidangan yang menjadi penghangat malam telah tersaji di hadapan mereka berdua, ketika telah berada dalam sebuah bangunan kecil yang tidak mempunyai perabotan di dalamnya. Sebuah ruangan segi empat yang tidak memiliki hiasan dengan segala bentuk. Hanya dinding bambu. Seperangkat kursi dan meja diletakkan di bagian tengah ruangan.

Sebuah ruangan yang lebih tepat dikatakan sebagai tempat pertemuan khusus. Itu dapat dirasakan oleh Ki Banyak Abang saat memasuki ruangan. Wibawa dan kerendahan hati serta kehebatan pasukan berkuda Ki Nagapati seolah tertulis di setiap penjuru ruang itu. Meski tidak ada sebuah benda yang dapat menjelaskan itu semua!

“Keheningan yang aku rasakan di ruangan ini adalah tanda dari kekuatan hebat. Sangat hebat!” desis Ki Banyak Abang sambil meresapi segala ketiadaan di dalam ruangan.

Sambutan hangat Ki Nagapati menjadi pembuka persoalan. Mereka lantas beranjak menuju permasalahan inti.

Siasat perang!

Kesediaan Ki Nagapati untuk berada di garis depan mengundang decak kagum Ki Banyak Abang, bahkan ia merasa malu! Ia tidak dapat membayangkan jika dirinya yang mendapat perlakuan semacam itu dari kerajaan.

“Sungguh! Ki Nagapati adalah orang besar sebenarnya. Ia dihukum tanpa pengadilan seperti yang dialami oleh dua pendahulunya, Gajah Biru dan Lembu Sora. Keinginan untuk bertemu dengan raja pun tidak mendapat pengabulan. Bahkan ia menjadi orang terusir dari kampung halamannya.

“Namun itu semua tidak mengurangi kesetiaannya. Tidak menggugurkan rasa cintanya. Aku menjadi saksi dari sebuah rasa cinta yang begitu dahsyat!” kata Ki Banyak Abang dalam hati sambil menatap sekilas wajah Ki Nagapati.

Luar biasa! Hanya itu yang dapat diungkap oleh pikirannya.

Dalam benak Ki Banyak Abang menggores satu pendapat, jika Ki Nagapati menghendaki untuk memukul Pajang maka itu akan mudah dilakukan olehnya. Tetapi Ki Nagapati mematuhi perintah Bhatara Pajang untuk tetap berada di luar kota dengan segala persediaan serba sedikit.

Jangan Tinggalkan – Menjelang Duel Pancuran Watu Item

Meski begitu, Ki Banyak Abang juga mengagumi keberanian Bhre Pajang. Paman Bondan ini secara halus telah menyingkirkan harapan orang-orang semacam Pang Randu. Membiarkan Ki Nagapati berada di sekitar Pajang adalah cara yang tidak disukai Pang Randu.

“Apakah Bhre Pajang sengaja mengatur ini karena ia telah mengetahui rangkaian kejadian sebenarnya di kotaraja? Entahlah. Aku tidak mempunyai keberanian untuk bertanya padanya,” kata Ki Banyak Abang dalam hatinya.

Segala rancangan telah mereka hamparkan di atas meja, dua senapati pilih tanding ini beradu pendapat. Saling bertanya, saling mencari kelemahan setiap gelar dan kemungkinan yang mereka lihat dalam banyak rancangan perang banyak mewarnai pembahasan mereka.

Dalam hati mereka masing-masing, keduanya saling mengagumi dan memuji kecakapan yang ada dalam diri lawan bicara.

Ki Nagapati berbisik pada dirinya, “Sungguh beruntung Pajang mempunyai seorang senapati sehebat Ki Banyak Abang. Ia akan dapat menumpas seluruh pasukanku jika ia mendapat perintah untuk itu. Seorang perwira yang mengagumkan.”

Ketika bintang fajar telah bersinar kuat, keduanya sepakat mengakhiri pembicaraan. beberapa siasat telah mereka sepakat. Ki Banyak Abang akan kembali ke Pajang dan melaporkan segalanya pada Bhatara Pajang. Sementara itu, sesuai hasil musyawarah mereka berdua, Ki Nagapati akan menempatkan pasukannya di sekitar Grajegan secara bertahap.

Ketika matahari belum mencapai ujung anak panah, sebelum jalanan dipenuhi oleh para pedagang menuju pasar, Bhatara Pajang telah mengeluarkan perintah yang dinanti oleh seluruh prajuritnya. Dentang jantung para prajurit Pajang memukul keras rongga dada saat menerima putusan akhir senapati tertinggi Pajang. Mereka telah mendengar, bahkan sebagian menjadi saksi, latihan perang yang giat dilangsungkan di sisi timur Merbabu. Keresahan yang selama ini mendera hati mereka telah dijawab oleh Bhatara Pajang.

Dan yang terjadi kemudian adalah hiruk pikuk senapati menyiapkan barisan masing-masing. Mereka mengadakan penyesuaian dan pengaturan antar kelompok pasukan. Dalam waktu singkat, jalanan kota telah penuh dengan pedati dan gerobak bermuatan senjata.

Kesibukan puncak terjadi di barak pasukan yang menjaga perbekalan senjata, itu dapat dilihat dengan kehadiran Keling Juwana. Meskipun ia bukan seorang prajurit tetapi Bhre Pajang tahu tentang kecakapan Keling Juwana dalam mengatur lalu lintas gudang perbekalan.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Donasi Panjenengan adalah alasan blog Padepokan Witasem dapat terus berkarya, terus mengwedar, dan terus menjaga tradisi kisah silat agar tidak hilang ditelan zaman. Tanpa dukungan pembaca setia seperti Panjenengan, perjalanan kami tentu akan jauh lebih berat.

Matur nuwun telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan cerita silat.

Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI] untuk keterangan lanjut.

Matur nuwun

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.