0%
Still working...

Badai dari Grajegan 6 – Pang Randu Menjadi Bayangan, Perintah Perang Dilepaskan

Dilihat 161 kali

Di bilik khusus yang berada di sisi kanan ruang tengah namun mempunyai dinding dari bahan yang berbeda, tiga orang penting Pajang duduk memutar. Tidak terlihat benda istimewa selain kain bergambar matahari dan pohon kelapa. Tidak tampak anyaman bambu karena telah diganti dengan bebatuan persegi yang disusun rapi. Hanya nyala sebuah oncor yang terletak di sudut ruang dengan api sebesar ibu jari.

“Eyang, sejauh ini dan selama waktu yang kita tempuh, kita menyaksikan satu keberanian,” Bhre Pajang menggelar permasalahan, “Tidak ada laporan sandi yang saya abaikan. Kekhawatiran Eyang pun menjadi satu pertimbangan khusus.”

Paman Bondan itu kemudian berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Dan saya mohon maaf, Eyang. Selama ini Pajang terlihat tenang dan seolah diam, itu benar karena itu yang saya inginkan. Para saudagar dan utusan dari wilayah lain tidak boleh melihat Pajang menggeliat karena resah. Keresahan tidak dapat ditunjukkan, kegiatan prajurit harus disembunyikan. Satu-satunya alasan saya untuk menyamarkan keadaan hingga seperti itu adalah Pang Randu!”

Resi Gajahyana lekat memandang wajah pemimpin Pajang di bawah remang cahaya. Katanya,” Aku dapat menerima pertimbangan darimu, Ngger. Tetapi nama itu, aku belum mengetahui sama sekali.”

“Pang Randu hanya muncul sekali di Pajang,” ucap kata Bhre Pajang seraya menyandarkan punggung.

“Sedikit orang pernah melihat wajahnya. Hanya namanya yang beredar,” desis Resi Gajahyana. “Aku termasuk orang yang tidak pernah bertemu dengannya.”

Bhre Pajang menghela napas, menunduk sesaat kemudian katanya, “Ki Nagapati adalah orang yang mengatakan kedatangan Pang Randu.”

Suasana dalam ruangan menjadi senyap.

“Kejutan yang benar-benar mengguncang jantung!” desah Ki Banyak Abang dalam hatinya. Dia terkejut karena Ki Nagapati ternyata mampu menembus penjagaan ketat istana dan menemui Bhre Pajang.

Resi Gajahyana masih terlihat tenang meski dadanya sedikit meletupkan perasaan.

“Kita telah mendengar nama Pang Randu, tetapi sedikit dari kita yang pernah melihat wajahnya. Bahkan untuk mengenalnya? Sangat sedikit. Ki Nagapati adalah berkah meski tidak diizinkan memasuki Pajang.” Suara Bhre Pajang bergetar.

Dia mendesah lirih,” Sejujurnya, saya merasa bersalah. Mungkin juga dosa yang tak terampuni karena tetap memerintahkan padanya berdiri di luar kota Pajang. Perlakuan yang tidak sepantasnya diterima oleh orang seusianya. Seseorang yang pantas untuk menjadi orang tua saya. Dan kesalahan itu berlipat ganda dengan kehadiran para perempuan serta anak-anak dari pengikutnya. Apakah Sang Hyang akan mengampuni saya? Apakah karma akan menuntut balas pada saya? Entahlah, saya tidak mampu menduga atau memikirkannya.”

Bhre Pajang menarik napas panjang. Dia bukan orang yang mudah terbawa perasaan, tetapi pada saat itu ingin mengatakan sebenarnya di depan Resi Gajahyana dan Ki Banyak Abang.

Dalam waktu itu, meski Bhatara Pajang tidak mengutarakan secara terang, tetapi kedua orang kepercayaan itu paham apabila Bhre Pajang tidak ingin berseteru dengan penguasa Majapahit. Dia tidak ingin ada permusuhan antara dirinya dengan Sri Jayanegara karena orang ketiga.

Dan naluri Bhre Pajang ternyata benar, bahwa Pang Randu berada di sekitar mereka.

Pemimpin Pajang itu melanjutkan kemudian, “Kembali ke pokok persoalan, keputusan untuk menempatkan Ki Nagapati di luar kota ternyata juga berada di luar perkiraan Pang Randu.”

“Bagaimana kau dapat mengatakan itu?” tanya Resi Gajahyana.

“Ki Nagapati mengatakan padaku bahwa dia telah memerintahkan pada prajuritnya untuk segera menyebar.

‘Aku akan meminta mereka memenuhi seluruh tanah Pajang dan berkeliling. Orang per orang atau berkelompok. Senapati kami telah mengatur segala rencana untuk para prajurit agar kehadiran kami tidak menyolok mata.’ Ketika bertemu dengannya, Ki Nagapati berkata seperti itu pada saya.” Bhre Pajang menceritakan kembali segala yang dibicarakannya dengan Ki Nagapati.

Lalu, “Kapankah mereka kembali berkumpul dalam satu perintah Ki Nagapati?” Ki Banyak Abang dengan dahi berkerut mengajukan tanya pada pemimpinnya.

“Dia mengatakan tiga hari setelah hari pernikahan Bondan, mereka akan kembali menuju pemukiman asal. Mereka akan segera melebur menjadi bagian Pajang ketika perintah saya telah sampai pada mereka.”

“Dan hari ini adalah hari kedua,” Resi Gajahyana berkata sambil menatap wajah Ki Banyak Abang.

Ki Banyak Abang mengangguk lalu tanggapannya, “Kami akan melebur dengan persiapan terbaik dengan perintah Bhatara Pajang.”

“Ki Banyak Abang dapat segera menemui Ki Nagapati malam ini. Apabila Ki Nagapati memang berkata benar, maka Anda tidak akan menemui banyak orang seperti malam-malam sebelum pernikahan Bondan. Ki Nagapati telah menyebar pasukannya. Mereka telah membaur di banyak pedukuhan yang mengelilingi Pajang. Ki Nagapati mengeluarkan perintah itu ketika dia melihat Pang Randu berada di Pajang,” berkata Bhre Pajang.

“Baik, Bhatara.”

“Aku perintahkan, selaku panglima perang Pajang, pada semua prajurit untuk membekali diri sebaik-baiknya. Kita akan menuju Grajegan tiga hari lagi. Saat matahari belum menyapa permukaan bumi, kalian harus berada dalam perjalanan.”

“Saya temui Ki Nagapati malam ini dan perintah dari Bhatara akan saya pastikan diterimanya dengan baik!” tegas Ki Banyak Abang. Raut wajahnya sedikit tegang. Sejujurnya, ia masih belum dapat mengerti tentang kejadian di Grajegan. Bukan tidak mengerti tentang pokok persoalan, tetapi tentang latar belakang yang menyulut api kekacauan.

Resi Gajahyana memandang kedua orang itu bergantian. Dari sinar matanya, seolah ada yang ingin dikatakan olehnya. Tetapi Resi Gajahyana masih menimbang kepantasan untuk menyatakan.

“Adakah Eyang ingin memberi satu dua pesan?” bertanya Bhre Pajang saat melihat bahasa tubuh Resi Gajahyana.

“Baiklah, meski aku mempunyai penilaian tertentu tentang kewajaran.” Resi Gajahyana diam sejenak.

Dia meneruskan, “Sertakan Kao Sie Liong dalam barisan kalian. Dan aku minta kalian memberi kelapangan padanya untuk berperan penuh. Dia seorang prajurit berpangkat tinggi dan mempunyai kecakapan dalam barisan prajurit.”

Bhre Pajang berpaling pada Ki Banyak Abang tanpa kata-kata.

“Kao Sie Liong akan menjadi seorang senapati di jajaran Ki Nagapati.” Ki Banyak Abang membuat keputusan awal. Dia tidak mendahului Bhatara Pajang karena tatap mata panglima Pajang itu merupakan tanda baginya. “Saya tidak dapat memasukkan Kao Sie Liong dan Zhe Rho Pan di dalam barisan prajurit Pajang. Itu akan membuat kita terlihat lemah. Orang-orang kotaraja akan dengan mudah mengoyak ketenangan Pajang jika mereka tahu ada orang asing berada di dalam barisan prajurit.”

Angling Dhyaksa atau Bhatara Pajang itu lantas mengangguk. Dia setuju dengan keputusan Ki Banyak Abang, lantas berpaling pada Resi Gajahyana, katanya, “Apakah Eyang masih menyimpan rencana?”

Resi Gajahyana menggeleng. “Kita lakukan secepatnya dalam keadaan terbaik.”

“Baiklah!” Bhre Pajang pun kemudian menggelar sebuah rencana perang. Siasat yang tidak terpikirkan oleh Ki Banyak Abang, namun senapati kawasan itu memahami wawasan Bhatara Pajang yang sedemikian luas dan sering membuatnya kagum.

Sebuah harapan dikatakan oleh Resi Gajahyana untuk mengakhiri pertemuan. Maka selepas itu, Ki Banyak Abang bergegas memacu kuda menuju pemukiman yang dihuni oleh Ki Nagapati.

“Dendam masa lalu memicu bara di Tanah Menoreh. Kitab legendaris kini menjadi incaran para pemangsa kekuasaan.”

Ketentraman keluarga Ki Rangga Agung Sedayu terusik oleh kehadiran Ki Garu Wesi yang membawa ancaman maut. Namun, ini bukan sekadar urusan nyawa dibayar nyawa. Di balik bayang-bayang, Raden Atmandaru tengah menyusun siasat besar untuk mengguncang Mataram melalui penguasaan atas Kitab Kiai Gringsing.

Agung Sedayu terjebak dalam pusaran konflik yang melibatkan pengkhianatan, penculikan, dan pengepungan pedukuhan. Di saat Sekar Mirah tengah menanti detik-detik persalinan, sang Senapati harus memilih: bertahan melindungi keluarga, atau maju ke garis depan demi keselamatan Tanah Perdikan.

Baca di SINI

Barisan bintang telah bergeser, sinar bulan tidak begitu terang menyinari Pajang di pertengahan bulan. Hembus angin yang datang dari puncak Merapi begitu lembut dan mengelus lembut orang-orang Pajang. Tidak begitu banyak orang berlalu lalang di jalanan, tidak seperti biasanya. Jalan-jalan di kota begitu lengang. Kota Pajang seolah sedang beristirahat.

Pada waktu itu, Ki Banyak Abang dan seorang pendampingannya tidak banyak bercakap. Mereka tidak kencang memacu kuda meski lorong-lorong begitu sepi, hanya kelompok prajurit ronda yang mereka temui. Kadang ada sebuah kerumunan kecil ketika kelompok peronda itu bertemu di sebuah bagian.

Namun Pajang tidak pernah lengah! Gardu-gardu jaga masih ditempati oleh para pengawal pedukuhan atau kademangan. Sudut-sudut persimpangan masih terlihat satu dua orang duduk berdekatan. Para petugas sandi telah disebar oleh Ki Banyak Abang. Mereka banyak menyamar sebagai pedagang yang kemalaman di jalan atau sebagai petani yang akan menuju ke persawahan.

Pajang sedang menyamarkan semua kegiatan keprajuritan!

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.