Padepokan Witasem
Prosa Liris

Aku, Nasi Pecel, dan Kenangan

Arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul  delapan pagi. Berarti sudah lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan Arman. Berulang kali aku menatap tikungan jalan, mengharapkan seseorang yang aku tunggu segera menghapus keresahan. Hari ini, satu windu setelah perpisahan kami, Arman mengajakku menyusuri kembali  trotoar di sepanjang tepi jalan kota tua ini. Mengenang masa sekolah dulu. Masa ketika kami masih berseragam putih biru.

Ya, putih biru.

Warna seragam yang mengingatkan betapa sangat mudanya usia kami saat cinta menyapa kami berdua. Perkenalan yang awalnya tak sengaja karena sekolah kami bersisian, lama-kelamaan menjadikan kami sulit dipisahkan. Masih aku ingat jelas, setiap pagi dengan gembira aku berangkat sekolah berjalan kaki bersama dia. Anak laki-laki bertubuh tinggi dengan gaya sisiran rambut model belah pinggir, yang menjadi cinta pertamaku. Pulang pergi menempuh jarak satu kilo meter tidak terasa melelahkan karena sepanjang jalan kami sibuk bercanda. Menertawakan seragamku yang kedodoran atau tingkahnya yang jenaka. Bila jalanan agak sepi, Arman akan meraih lantas menggandeng tanganku.  Lalu cepat-cepat melepaskannya ketika jalanan mulai ramai oleh teman-teman kami yang datang dari berbagai penjuru.

Resah, aku mengembuskan napas dengan kasar. Bangkit dari tempat duduk dan mengentak-entakkan kaki di sekitar tempatku menunggu, mengusir pegal. Waktu telah bergeser satu setengah jam tetapi Arman belum juga datang. Kucoba bersabar dan menghibur diriku sendiri. Bahwa nanti kami akan merangkai keping-keping kenangan yang tertinggal di sepanjang trotoar. Atau singgah di warung pecel langganan kami dulu, yang kabarnya masih buka sampai sekarang. Ketika itu saat beberapa kali rasa lapar tak tertahankan, kami jajan di  warung pecel yang terletak di depan sebuah gang. Mengantre nasi pecel dengan penuh kesabaran.

Pecel dengan sayur-sayuran seperti daun semanggi, daun bayam, tauge, kacang panjang, daun kutha-kuthi, daun turi, dan mie kuning, menjadi menu andalan. Siraman sambal kacang buatan sendiri yang diwariskan secara turun temurun, memiliki cita rasa yang menurutku memang berbeda dengan pecel yang lain, membuat warung selalu dibanjiri pelanggan.

Bisa jadi nanti kami akan memesan nasi pecel lengkap dengan lauk-lauk yang dulu menurut kami harganya mahal. Aku berjanji akan mencicipi semuanya karena isi dompetku sekarang tebal. Lalu kami akan duduk bersisian di bangku panjang, menikmati sesendok demi sesendok cita rasa pecel yang penuh kenangan. Tak akan aku dengar lagi percakapan yang membuatku geli, seperti saat kami singgah di sana dulu.

“Mau sama pecel saja atau tambah lauk yang lain, Mas? Ada sate telur, sate keong, telur ceplok, telur dadar, dan gorengan,” tawar Mbak Sri, anak pemilik warung.

“Dua-duanya sama gorengan saja, Mbak,” sahut Arman sambil  tersenyum lebar.  Aku tahu ia menertawakan  isi kantongnya sendiri yang tidak akan cukup untuk membayar dua pincuk nasi pecel dengan lauk yang mahal.

Ah, kebersamaan yang sederhana dan mengesankan!

Sayang sekali selulus SMP kami bersilang jalan. Aku tak mengerti alasan yang menyebabkan Arman pindah ke Bali tanpa kata perpisahan.  Barangkali karena saat itu kami masih sama-sama polos dan belum berpengalaman. Sesudahnya berbilang tahun seorang diri aku menyembuhkan luka akibat kehilangan. Susah payah berjuang sampai akhirnya aku benar-benar bisa memaafkan.

Lalu saat hidupku baik-baik saja, saat aku sibuk mengejar karir, tiba-tiba setengah tahun yang lalu, tanpa sengaja kami dipertemukan kembali oleh sosial media.  Sulit aku menerjemahkan rasa yang berkecamuk di dadaku, saat ia berulang kali mengucapkan permintaan maafnya. Rasa yang pernah aku kubur dalam-dalam, seketika terbangkit kembali ketika  ia mengatakan masih menyimpan rasa sayang dan rindu padaku. Ranting-ranting yang mengering layu kembali bertunas melenyapkan kemarau hatiku.

“Desember nanti aku akan pulang. Ayo, kita ketemu dan  bernostalgia di sepanjang jalan itu.” Terngiang ajakannya – yang anehnya tak mampu aku abaikan.

Karena itu di sinilah aku sekarang. Mengusap peluh yang bercucuran membasahi dahi. Mengipasi badan dengan secarik kertas yang aku pungut dari dekat kaki. Langit di atasku membara, jenuh melihat aku begitu sabar menantinya. Lima jam telah berlalu dan ia begitu mudahnya mengabaikan janji temu. Aku merasa deja vu. Persis seperti saat ia meninggalkanku tanpa sepatah pun kata.

“Ternyata kamu tidak berubah. Kamu tetap menganggapku tidak berharga untukmu. Cukup sudah!” desisku kecewa. Namun, aku tak sudi meneteskan air mata.

Bergegas aku melangkah pulang, kemudian sekali lagi menghapusnya dari hati dan ingatan.

Ungaran, 07/04/22

Related posts

Namaku Naya. Aku adalah Pejuang!

kibanjarasman

Menulis Prosa Liris Bareng KSA

kibanjarasman

Dia Bukan Ayunda

kibanjarasman

Cinta Nabi

kibanjarasman

2 comments

Junggul Kuncoro 09/04/2022 at 10:27

Serasa aku yang di tunggu…

Di warung nasi pecel kita…

Reply
kibanjarasman 11/04/2022 at 23:02

ini apa bisa dianggap sebagai undangan singgah di warung pecel jenengan?

Reply

Leave a Comment