Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 26

Jumlah lawan lebih banyak dari keseluruhan pengawal pedukuhan, tetapi tantang itu dijawab oleh Pangeran Purbaya serta Pandan Wangi dengan cara membagi pengawal menjadi banyak sayap yang terpisah. Pergerakan maju pasukan lawan akan menemui jaring nelayan berupa gugus pengawal yang dapat menyesuaikan setiap perubahan pada garis depan lawan. Setiap serangan akan dapat terjerat dalam banyak ragam jebakan yang dirancang Agung Sedayu lalu dimatangkan Pangeran Purbaya. Sukra berada di dalam satu bagian jaring nelayan bersama tujuh atau delapan pengawal yang berada di garis depan pertahanan Gondang Wates.

Meski hanya sembilan orang, atas perintah pemimpin sayap, Sukra bersama pengawal lainnya menyusun gelar Jurang Grawah ketika lawan semakin dekat. Beberapa orang tampak terpancing unutk menyerang sayap Sukra lebih cepat dari perintah pemimpinnya. Namun, aba-aba agar menahan diri segera menggaung lalu mereka mengurungkan niat. Seperti yang dikatakan oleh Pangeran Purbaya sebelumnya bahwa Sukra mempunyai tata gerak yang lebih mirip dengan belalang tempur, maka itulah yang dilakukannya di depan mata pasukan lawan. Sukra meloncat keluar dari gelar lalu berloncatan, berjingkrak dengan gerak kaki dan tangan yang benar-benar membakar perasaan lawan.

“Persetan!” geram seorang pengikut Raden Atmandaru. Penuh percaya diri dan mengabaikan perintah pemimpinnya, orang ini meluncur lebih cepat dari laju pasukan induk.  Ia menerjang angin dengan semangat membadai, lalu berteriak kesetanan menantang dan menghina Sukra!

“Sukra! Tetap di barisan!” perintah pemimpin sayap pedukuhan.

Sukra menggeram, menahan diri atas ejekan lawan yang mengatakan ada monyet kurap yang berteman dengan kutu yang menggatalkan. Walau begitu, Sukra tetap menggerakkan sepasang kaki dan tangan seperti sedang berperang.

“Cah edan! Siapa yang menyuruhnya menari-nari seperti permainan perang yang menjadi dolanan bocah wayah terang bulan?” desis pemimpin sayap. Pengawal lain yang mendengar pun tersenyum masam. Bagaimana Sukra dapat bermain-main di bawah udara yang menebar bau darah?

“Marilah, mari, kita bermain-main sebentar!” seru Sukra pada lawannya. Mendadak Sukra tidak lagi bergerak. Ia tegak, berpandangan lurus dengan sorot mata seolah ingin menguntal bulat-bulat orang yang berada di depannya. Dengan suara lebih dingin dan menggetarkan, Sukra berkata, “Majulah agar seekor monyet dapat menunjukkan padamu bahwa ia lebih tampan dan berkulit halus. Mendekatlah.”

“Lambemu! Jancok!” umpat anak buah Ki Sor Dondong itu. Ia pun menerkam Sukra sambil mencabut senjata yang berkilau tertimpa setitik cahaya matahari.

Mereka berdua memang mempunyai jarak yang lebih dekat daripada yang sedang berkembang di tempat lain. Maka dalam sekejap mereka terlibat dalam perkelahian. Sukra tidak berlama-lama melayani lawan dengan tangan kosong. Senjata yang dirampasnya dari seorang prajurit Ki Sor Dondong pun berayun, membelah udara, mengeluarkan suara yang menyusupkan jerih pada hati lawannya.  Perkelahian cepat meningkat sangat sengit.

Benturan di garis depan pun terjadi karena Sukra berhasil mengoyak ketahanan jiwani lawan. Bentrokan itu menjadi api yang segera menyulut perkelahian di tempat lain. Sungguh, dua pihak seolah mendapat jalan keluar dari keinginan yang tersumbat perintah agar menahan diri.

Sukra membakar padang perang dengan gaya berkelahi seperti belalang tempur!

Pertempuran pecah di segala penjuru!

Pada bagian sayap kanan pasukan Ki Sor Dondong, Sabungsari semakin menggila ketika dikeroyok banyak orang. Ia bertempur seperti baling-baling lalu  melemparkan banyak lawan dari lingkar perkelahiannya. Dari jarak terukur, sejumlah pemanah lawan melepaskan anak panah, tetapi yang mereka bidik adalah angin yang berputar-putar dahsyat! Banyak anak panah yang terlempar liar dan tidak mengenai sasaran.

Sejumlah orang yang memegang kendali kelompok-kelompok kecil di dalam pasukan induk menyadari, bahwa serangan pada lambung kanan hanya dapat diredam bila mereka mempunyai orang yang sepadan. Namun, siapakah orang itu? Sedangkan mereka sendiri tenggelam dalam kesibukan meladeni sabetan-sabetan tajam dari gelar yang diarahkan oleh Sabungsari sendiri. Sabungsari tidak dapat dibiarkan bertarung tanpa lawan. Itu jelas merusak barisan dan semangat pasukan, demikian pikir mereka. Meski berat untuk melepaskan kendali, namun mereka seolah sepakat akan bertempur berkelompok untuk menghentikan tandang Sabungsari. Sejurus kemudian, keseimbangan dapat dikendalikan oleh para pemimpin pasukan Ki Sor Dondong. Namun, seperti itu sulit bertahan lama. Sabungsari bukan seekor ayam yang hanya bisa berkokok tanpa mengibaskan jalu. Kerja sama antar pengawal kademangan dalam gelar Emprit Neba justru semakin berkembang. Mereka benar-benar berdaya rusak sangat hebat!

Sepasang mata tajam sedang menatap lekat pertempuran di bagian kiri pasukan induk Ki Sor Dondong. “Inilah orang yang dimaksud oleh Ki Sor Dondong!” kata Ki Arung Bedander dalam hati. Orang ini dapat merasakan sengitnya pertempuran yang terjadi di bagian sayap utara pasukannya. Ia sadar kekuatan senapati lawan pada bagian itu memang luar biasa, tidak mudah untuk meredam walau ia berkelahi seorang diri. Dan yang menjadikan pasukannya lebih buruk adalah Sabungsari tidak selalu berada di depan gelar Emprit Neba maupun Wowor Sambu. Sabungsari berloncatan menyambar dari segala arah ke segala arah. Sepintas Sabungsari benar-benar terlihat ngawur dan semaunya sendiri.

Namun tidak demikian dalam penilaian Ki Arung Bedander. Ia sadar, bahwa kemampuan dan kecerdasan lawan tidak dapat diabaikan. Ketika Sabungsari berada di ujung ekor Emprit Neba, seketika pasukannya berubah arah dengan cara luar biasa dan sulit diduga. Maka, pikir Ki Arung Bedander, ia harus dapat mencapai dinding terluar bila Sabungsari memeragakan gelar Wawor Sambu. Bila ia berhasil dalam rencananya, Ki Arung Bedander akan langsung beradu muka dengan Sabungsari. Ia menyibak kerumunan orang-orang yang deras mengayun senjata. Ki Arung Bedander harus cepat menghadang lalu memukul mundur Sabungsari agar pasukan induk mendapatkan dukungan dari sayap kanan. Dengan demikian, jalur perintah terputus dan keseimbangan bagian sayap segera dapat diambil alih oleh para pemimpin kelompok pasukan Ki Sor Dondong.

Tidak sedikit pengikut Raden Atmandaru yang tiba-tiba merasa tenang melihat kehadiran Ki Arung Bedander di antara mereka. Bahwa lelaki yang berasal dari pesisir utara itu akan menjadi lawan yang seimbang untuk senapati lawan, pikiran mereka disergap dengan pendapat seperti itu.

Beberapa pengawal mencoba menutup jalur yang tersibak dengan serangan tajam yang menggelora. Namun, Ki Arung Bedander bukanlah lawan mereka. Dengan mudah, Ki Arung Bedander mematahkan serangan yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan tidak berada di bawah perintah Sabungsari.

“Jaga barisan! Jaga barisan!” perintah Sabungsari ketika melihat para pengawal sedang melangkah keluar dari siasat.

Dan, sekarang, Sabungsari dapat melihat jelas orang yang membuat pengawal kademangan terpelanting dengan sapuan tangan yang ringan. “Sungguh hebat kemampuan orang ini,” desis Sabungsari dalam hati.

Pada sisi seberang, Ki Arung Bedander memandang Sabungsari dari bawah hingga ke atas. “Masih muda dengan tandang yang luar biasa. Namun…,” kata Ki Arung Bedander lalu bertanya-tanya dalam hatinya. Ia ingin mengingatnya tetapi waktu yang tersedia ternyata tidak cukup baginya. Maka ia mengeraskan suara, “JIka aku tidak salah, apakah engkau anak lelaki Ki Gede Telengan?”

Jantung Sabungsari mendesir. Ia terkesiap dengan pertanyaan yang menyebut nama ayahnya. “Siapakah Ki Sanak dengan bertanya seperti itu?”

“Jawab saja, benar atau tidak? Tidak penting bagimu untuk mengetahui jati diriku. Nanti pun engkau akan tahu.”

“Baiklah. Benar, aku adalah anak Ki Gede Telengan.”

Ki Arung Bedander bertepuk tangan pelan. “Bukan suatu kebetulan kita berjumpa di tempat ini. Nasib orang, siapa yang tahu? Senapati, Ki Gede Telengan bertanggung jawab atas kegagalan Ki Wanakerti ketika mereka bergabung sebagai sekutu di mulut lembah antara Merapi dan Merbabu.”

“Hmm… Itu adalah riwayat yang sangat lama dan Ki Sanak ternyata menyimpan dendam,” kata Sabungsari. “Aku ingin tahu, apa hubungan Ki Sanak dengan Ki Wanakerti?”

“Tidak ada, tapi dapat diadakan ketika seseorang menolak tunduk pada Sutawijaya.”

“Ki Sanak, itu adalah waktu yang begitu lama, sangat lama. Aku tidak dapat berpikir mengenai itu.”

“Memang tidak perlu kau pikirkan. Aku pun demikian. Hanya saja, kenyataan hari ini adalah aku mendukung penuh cita-cita Raden Atmandaru.”

“Begitu pula aku yang tegak berdiri di samping Panembahan Hanykrawati!”

Mereka pun saling menerjang! Mereka saling serang dengan tata gerak yang sederhana namun berlambar kekuatan yang cukup besar.

Related posts

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 8

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

Leave a Comment