Padepokan Witasem
Bab 2 Benih

Benih 1

Pada saat pertemuan di rumah Ki Bekel dimulai, seorang wanita muda yang berusia sebaya dengan Sayoga berkata, ”Saya merasa kedatangan orang asing itu dapat menambah keributan yang mulai sering terjadi di sini, Ayah.”

Perempuan cantik dengan rambut tergelung indah itu bangkit berdiri dan mengintip keadaan di luar melalui pintu yang sedikit terbuka. Kain panjang berwarna putih itu tidak dapat menutup kulitnya yang bersih dan lembut. Ia kemudian berkata lagi, ”Sekelompok peronda itu bukan lawan yang sebanding dengan orang yang sering datang kemari, tetapi tampaknya orang asing itu dapat memberi bantuan pada Ki Jagabaya untuk memecahkan masalah ini.”

“Lalu apa yang kau rencanakan?” orang yang dipanggil ayah itu bertanya.

“Aku ingin Ayah pindah ke pedukuhan induk,” jawab perempuan yang bermata bening itu membalikkan badannya. Ia menatap lurus wajah ayahnya yang menggambarkan ketegasan di masa muda.

“Tetapi kepindahan itu dapat mengundang kecurigaan Ki Jagabaya dan Ki Bekel. Jika kita harus pindah ke pedukuhan induk, sebenarnya baru dapat kita lakukan sekitar lima pekan ke depan. Rumah yang akan kita tempati di pedukuhan induk ternyata belum disiapkan sama sekali. Orang itu masih terlihat sibuk dengan persoalan-persoalan yang terjadi di pedukuhan ini,” kata lelaki yang berusia lebih dari setengah abad itu. Ia kemudian berkata lebih jauh, ”Sebenarnya aku sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Kita terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan rasa tenteram yang semakin jauh dari kita.”

Perempuan muda itu terdiam mendengar penuturan ayahnya.

“Kau tentu masih ingat ketika aku membawamu keluar dari lingkaran pertempuran yang terjadi di Mataram. Raden Andum Pamuji, Ki Blarak Amukti dan kau sendiri tidak berdaya menghadapi seorang senopati Mataram,” kata orang tua itu mengenang saat ia menolong anak perempuannya dari kepungan prajurit Mataram.

“Belasan prajurit Mataram itu mengepung rapat kami bertiga. Dan saya harus akui ilmu senapati Mataram itu memang jauh berada di atas kami bertiga.” Sambil berkata seperti itu, perempuan muda itu berjalan mendekati jendela. Agaknya ia tertarik dengan langkah-langkah kaki para peronda yang berjalan melintas di depan rumah mereka. Dengan jarinya ia menghitung para peronda yang dapat dilihatnya dari celah jendela kayu.

“Saya sama sekali tidak menduga ia dapat membuat dirinya menjadi tiga dalam pandangan.” Perempuan muda itu menarik nafas panjang mengingat perkelahian yang terjadi saat Agung Sedayu mengepung rumah yang disewanya bersama dua kawannya.

Perempuan muda itu menambahkan ucapannya, “Saat itu, Ki Blarak Mukti sebenarnya sedang dalam keadaan seimbang dengan lawannya, namun kemudian sekelompok peronda datang membantu prajurit yang lain. Sehingga aku dan Raden Andum Pamuji harus mengetatkan pertahanan dan melepaskan Ki Blarak Mukti berhadapan seorang diri dengan lawannya yang ternyata sangat tangguh.”

“Senapati itu menjadi dua bayangan? Apakah ia bernama Agung Sedayu?” lelaki separuh baya itu bertanya.

“Ya. Ki Rangga Agung Sedayu. Saya mendengar seorang prajurit menyebut namanya dengan jelas. Ayah, saat ia membuat bayangan dirinya, saya dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi  tetapi kedatangan bala bantuan sungguh membahayakan keadaan Raden Andum Pamuji,” jawab perempuan cantik itu dengan dagu terangkat.

Memang seperti itulah yang terjadi. Ki Rangga Agung Sedayu yang mendapatkan berita tentang penyamaran sekawanan orang yang membahayakan Ki Patih Mandaraka segera melakukan tindakan cepat. Ia membawa belasan prajurit untuk mengepung rumah yang disewa oleh Raden Andum Pamuji. Mungkin sebuah kebetulan jika peristiwa itu bersamaan dengan hari kedatangannya di ibukota Mataram.

Perempuan muda itu menceritakan, ”Pertempuran kecil segera terjadi di halaman rumah. Saat itu Agung Sedayu melepaskan terjangan pada Raden Andum Pamuji, tetapi saya tidak dapat membiarkan Raden Andum Pamuji menghadapi lawan yang terlalu tangguh baginya. Segera saya memotong arah serangan Agung Sedayu yang ternyata masih menggunakan selapis kekuatannya. Beberapa lama kemudian saya dan senapati itu terlibat dalam pusaran yang sengit. Kami meningkatkan selapis demi selapis setiap bagian kekuatan yang kami miliki. Meski begitu, akhirnya saya putuskan untuk menggunakan senjata.”

Related posts

Leave a Comment